"Liburan disebuah pulau yang tidak berpenghuni? tidak.... tidak.... ini ide gila dan aku ngak setuju sama sekali." tolak Rara saat teman-temannya merencanakan liburan sekolah mereka dengan suasana yang berbeda.
"Yah, penakut Lo. kita itu harus mencoba sesuatu yang berbeda dari liburan kita yang sebelum-sebelumnya, kali ini harus ada tantangan dan kita juga bisa berbaur dengan alam lepas." Aldo berusaha sebisa mungkin untuk membujuk sahabat baiknya Rara, gadis cantik yang sejatinya sangat manja dan penakut.
"Iya, Ra. disana juga sudah ada villa yang menghadap langsung kelautan lepas. paling tidak kejenuhan kita pada pelajaran yang membosankan dan hiruk-pikuk kehidupan perkotaan ini akan terasa lebih tenang dan nyaman. jika kita menghabiskan waktu beberapa hari ditempat itu." Sinta ikut menyemangati.
" Baiklah."
Rara hanya bisa pasrah, saat ke-dua sahabatnya ngotot ingin mengajaknya. meskipun begitu dia terus berdoa dalam hati semoga tidak terjadi sesuatu yang membahayakan mereka nantinya.
***
Minggu pagi yang cerah, seperti senyum kedua sahabatnya Sinta dan Aldo yang begitu antusias memilih tempat ini sebagai target kuburan mereka. sedangkan Rara lebih memilih diam selama perjalanan jauh. pandangan nya fokus menatap kearah luar jendela kaca mobil mereka yang melaju tenang membelah jalanan yang mulai sepi penduduk.
Berhubung sekarang musim penghujan, membuat jalanan berkabut. sehingga membuat Aldo harus lebih hati-hati dan tidak bisa melaju dengan kecepatan tinggi.
"Udara disini dingin banget, ya." Sinta merapatkan jaket kulitnya, begitu juga dengan Rara mengikuti hal yang sama.
"Ya, maklum saja mengingat kita sekarang melewati kawasan puncak." balas Aldo sambil tersenyum senang, mengingat dia sudah tidak sabaran bisa segera sampai yang dikatakan orang-orang tempat paling indah. namun dia sendiri tidak tahu pasti kebenarannya.
"Apa perjalanan kita ini masih jauh." Rara tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran dan keraguan nya. apalagi jalan yang mereka lalui sangat sepi.
"Lumayan, lagian sekarang udara sudah kembali bersih dari kabut. lihatlah disekelilingmu. indah dan bersih banget kan udaranya dengan pemandangan alam yang begitu indah."
Sinta dan Aldo begitu senang, sambil memutar musik dengan lagu-lagu yang romantis. namun tidak dengan Rara. dari semula dia benar-benar tidak nyaman. dia hanya diam sedangkan Sinta dan Aldo, sepanjang perjalanan mereka berdua selalu bercerita tentang budaya dan kebiasaan masyarakat setempat yang hanya mereka dengar dari orang ke orang.
"Capek juga ya, gimana jika kita istrahat ditempat itu."
" Boleh juga, sepertinya tempat nya juga bagus untuk kita sekedar melepaskan rasa lelah."
Aldo membelokkan mobilnya dan berhenti dekat perbukitan, perkebunan teh yang sangat indah. mereka berdua turun dan duduk didepan mobil. sambil menikmati udara sejuk yang berhembus namun terasa sangat dingin menyentuh kulit.
Sinta langsung mengeluarkan ponselnya, dia ingin mengabadikan momen indah kebersamaan liburan mereka itu.
"Ayo Ra, kita Selfi dulu."
Mereka bertiga berfose dengan berbagai gaya, tawa lepas tersungging dibibir tiga sahabat itu, sambil menatap keindahan alam yang membuat mereka tidak pernah merasa bosan.
Sinta langsung memfosting, foto-foto indah mereka keakun media sosial nya.
"Aku yakin, teman-teman yang nolak ikut liburan ketempat ini pasti bakal iri dan nyesal."
Tidak begitu lama, foto unggahan Sinta langsung banjir like dan komen dari teman-temannya, termasuk teman-teman sekolah mereka yang kebetulan lebih memilih untuk liburan ketempat lain.
"Aldo, kamu masih capek ya, biar kita gantian aja untuk nyetir mobilnya." tawar Sinta.
"Baiklah, aku mau tiduran habis ini."
"Kok tidur sih, sayang Lo tempat indah seperti ini dilewati begitu saja." Sinta menatap Aldo cemberut.
"Baiklah, aku janji nggak bakal tidur. dan menemani kalian sampai di villa yang sudah kita sewa."
"Nah gitu dong."
Sinta tersenyum, mulai melanjutkan kembali perjalanan mereka. Aldo menguap beberapa kali mengingat tempat mereka yang rindang dan hembusan angin membuat dia benar-benar mersa ngantuk. Aldo merebahkan kepalanya di sandaran kursi, hingga tanpa sadar dia tertidur pulas.
"Dah molor dia, katanya udah janji nggak bakal tidur." goda Sinta.
"Iya ni Aldo, udah dipanggil-panggilpun ngak bangun-bangun juga."
Tengah asyik melamun nasib nya yang jomblo akut, mengingat Rara tidak mudah jatuh cinta, tiba-tiba Rara sekilas seperti melihat sebuah bayangan hitam mengikuti mobil mereka dari belakang.
"Astagfirullah."
"Ada apa Ra, kamu terlihat kaget gitu"
"Ngak papa kok." jawab Rara setelah memastikan penglihatan nya, bayangan itu tidak terlihat lagi. topi tidak dengan mobil mereka.
"Bruuuaggkkk...." Sinta rem mendadak, sehingga semua terkaget.
"Ada apa Sinta?" tanya Aldo terbangun, sambil memperbaiki posisi duduknya.
"Gawat, seperti aku telah menabrak sesuatu binatang atau makhluk apa itu? yang jelas kejadian nya sangat cepat dan tiba-tiba?" terang Sinta panik.
"Oke, kamu ngak boleh panik. tetap tenang....dan tarik nafas perlahan." ucap Aldo, Sinta mengikuti instruksi Aldo tersebut.
"Ya Allah lindungilah perjalanan kami ini." doa Rara, berusaha menyingkirkan rasa takut tentang kejadian aneh yang mulai dirasakannya setelah mereka berhenti untuk istrahat barusan.
Wajah ketiganya terlihat tegang, Sinta itu dan Rara saling berpegangan, sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling luar mobil yang terlihat sangat sepi tanpa ada orang ataupun mobil lainya yang melintas. Rara memegang tengkuk nya yang tiba-tiba tersa dingin seperti ditiup-tiup seseorang.
"Bagaimana ini Al, apa sebaiknya kita langsung kabur saja mengingat tempat ini begitu sepi. aku takut terjadi sesuatu pada kita bertiga, bahkan tidak ada satupun rumah penduduk disekitar inj." ucap Sinta sambil menahan tubuh Aldo yang hendak keluar dari mobil.
"Kalian berdua, jangan terlalu takut seperti ini. kalau kita pergi begitu saja. sapa tahu kita sudah menabrak seseorang dan dia terluka dan sangat membutuhkan pertolongan kita." bujuk Aldo berusaha menenangkan ke-dua sahabatnya Rara dan Sinta. meskipun dia sendiri merasa ketakutan juga mengingat angin yang semakin kencang dan gerimis yang mulai turun. membasahi tubuh Aldo yang memberanikan diri melangkah turun.
Aldo langsung menghampiri seekor kucing hitam, yang sedang terluka. dia mengusap pelan kucing itu. Sinta dan Rara memberanikan dirinya ikut turun dan melangkah berjalan mendekati Aldo. sambil sesekali melirik kiri dan kanan nya.
"Kita ternyata menabrak kucing hitam ini."
"Aldo, ayok kita segera pergi saja aku takut." ucap Rara sambil terus bergelayut ketakutan dilengan Sinta.
"Kita harus mengobati kucing ini terlebih dahulu." ucap Aldo sambil mengolesi obat merah. untuk dibalutkan pada tubuh kucing yang terluka. dengan mengunakan alat seadanya, Aldo memindahkan kucing itu dibawah pohon beringin besar yang terdapat di pinggir jalan itu.
"Maafkan kami kucing, kami tidak bermaksud membuatmu terluka."
Setelah selesai mereka langsung menuju mobil, terlebih dahulu Aldo membersihkan tangan nya dengan air mineral yang mereka bawa. setelah itu mobil dikendarai oleh Aldo langsung meluncur meninggalkan tempat itu.
Mereka bertiga sudah bisa bernafas lega setelah mobil mereka sudah menjauh, berbaur dengan kendaraan lainnya. meskipun mereka merasa ada keanehan dengan perjalanan yang mereka tempuh, mengingat sekarang sudah banyak rumah-rumah, orang serta kendaraan yang lalu lintas.
"Kalian mersa aneh ngak dengan perjalanan kita barusan?" tanya Rara was-was.
"Iya, tapi sebaiknya kita lupakan saja mengingat tujuan dan niat baik kita, toh kita juga sudah mengobati kucing yang tertabrak tidak sengaja itu." ucap Aldo yang terus membaca salawat dalam hatinya.
***
"Villa ini benar-benar nyaman, meskipun tidak terlalu mewah namun aku menyukainya." teriak Sinta.
Mereka langsung istrahat, villa ini hanya dihuni oleh seorang pelayan. Aldo tidur dikamar nya sendiri. Rara dan Sinta tidur sekamar berdua.
Dalam tidur nya, Rara kembali ketempat mereka berhenti. dia melihat seorang laki-laki tampan tersenyum kearahnya. spontan Rara membalasnya.
"Kamu...kamu, siapa?"
"Aku seorang pangeran, yang datang untuk menolongmu, cantik." laki-laki tampan seperti keturunan Arab itu, tersenyum dan mengulurkan tangannya kearah Rara, yang masih menatapnya antara bingung dan tidak percaya jika ditempat seperti ini ada seorang pangeran yang sangat tampan.
"Mari ikut denganku?"
Rara hanya bisa pasrah lalu membalas uluran tangan sang pangeran yang membimbing nya, dia tidak ingat apapun lagi, dipikiranya saat ini adalah mengikuti laki-laki tampan itu, dia benar-benar telah jatuh cinta oleh ketampanan yang belum pernah dilihatnya selama ini.
Pangeran membawa Rara kesebuah mentions milik pribadinya, mereka disambut hormat para pelayan yang sudah menyiapkan beraneka macam makanan lezat yang menggugah selera makan Rara yang tengah lapar.
"Pangeran, dimanakah kita?"
"Kamu berada di mention milik ku, Jagan cemas cantik. kamu aman bersama ku, dari pada di pulau dengan teman-temanmu itu. yang jelas-jelas mereka tengah bermesraan dibelangkang mu saat ini."
Benar saja, Rara melihat Sinta masuk kedalam kamar Aldo, dan mereka melakukan hubungan yang tidak pernah dia sangka.
"Tidak mungkin Sinta dan Aldo serendah ini?"
"Tapi itulah kenyataannya Rara, agar kamu tidak kesepian. aku akan menemanimu juga."
"Apakah kamu hantu?"
"Ha...ha... memangnya ada hantu setampan aku?" pangeran yang mengaku bernama Alexand itu tertawa lepas.
"Ternyata laki-laki yang mengaku sebagai pangeran ini, sangat tampan.” Rara terpesona. Pandangan Rara seakan tidak bisa lepas, rahang yang kokoh dan terlihat jantan. Kedua alis tebal nya seakan menambah pesona yang dimiliki nya, sangat pas jika dia memang seorang pangeran yang sesungguhnya. dengan postur tubuhnya yang sangat mendukung. sehingga wanita manapun akan tergila-gila melihatnya.
“Sangat tampan.”
Rara tersenyum, dia benar-benar terpesona oleh ketampanan Alexand. dia lupa akan kedua sahabatnya Aldo dan Sinta.
"Makanlah cantik, aku tahu jika kamu saat ini sedang kelaparan."
Alexand mengambil makanan, perlahan tangannya terangkat menyuapi Rara. makanan yang lezat namun terlihat sedikit berbeda dengan makanan yang biasa dia lihat.
"Ini namanya rusa bakar, ayam hutan, dan buah-buahan ini juga alami diambil dari hutan liar. jadi kamu tidak perlu risau untuk memakanya."
Rara mulai memakan makanan yang sangat lezat, dia merasa belum pernah memakan makanan seperti ini sebelumnya, tiba-tiba dia mengerutkan keningnya bingung, ketika melihat pangeran makan dan minum yang berbeda dengan yang ada dihadapannya.
"Aku tahu kamu pasti bingung melihat makanan dipiring ku, karena kesukaan dan selera makan kita berbeda cantik." ucap pangeran yang bisa membaca isi pikiran Rara.
Selesai makan, Rara diperlakukan bak seorang putri raja oleh para dayang-dayang, dia dimandikan dan diberi pakaian indah oleh mereka.
"Putri begitu beruntung, karena berhasil meluluhkan hati pangeran kami, Karna sebelumnya dia belum pernah jatuh cinta." ucap salah seorang dayang.
Rara hanya membalas ucapan mereka dengan tersenyum, bahkan dia hanya menurut dan pasrah saat dirinya dituntun memasuki sebuah kamar yang sagat indah dan mewah.
"Masuklah putri, pangeran kami sudah menunggu mu dikamar."
Suasana kamar yang semula terang, berubah temaram saat pangeran naik keatas ranjang. merentangkan kedua tangannya menunggu Rara yang semakin mendekati nya. tidak ada keraguan dan ketakutan dihati gadis ini karena dia sudah terhipnotis oleh ketampanan pangeran kerajaan Bukit Alxepird.
Pangeran tersenyum, sambil membuka pakaian Rara yang pasrah, sehingga tinggal dalaman saja, ciuman tidak luput dari setiap lekuk tubuh Rara. pria dewasa itu langsung membulatkan matanya begitu disuguhi pemandangan yang sangat mengiurkan, saat penutup tubuh Rara terlepas sempurna. gairahnya seketika bangkit, meskipun selama ini, pangeran sangat menjaga dirinya dan tidak pernah menyentuh wanita sebangsa nya sembarangan, karena selama ini tidak ada satupun yang berhasil membuat pangeran jatuh cinta.
Walaupun banyak wanita bangsanya, yang tergila-gila bahkan rela dengan senang hati menyerahkan tubuhnya namun Alexand tidak pernah tergoda. karena menurut nya tubuhnya terlalu berharga untuk wanita semacam itu.
Tapi gadis bangsa manusia ini, yang sedang berada dalam dekapannya, meskipun dalam kondisi nya yang masih dalam pengaruh Alexand, membuat nya benar-benar jatuh cinta, perlahan Alexand menatap wajah yang sangat cantik dan Natural, kulitnya sangat putih mulus. hembusan nafas Rara tepat mengenai kulit wajah nya.
“Sangat cantik dan seksi,” gumam pangeran Alexand menarik salivanya, dan gairah yang sudah menguasai hati dan pikiran nya.
Alexand kembali mencium bibir Rara dan mulai mengecupnya dengan perlahan, sangat manis dan begitu memabukkan. Dia memperlakukan Rara dengan begitu lembut, pengalaman pertama bagi Alexand menyentuh tubuh wanita yang bukan gadis sebangsanya.
Selama ini Alexand selalu menolak wanita yang dianggap nya murahan yang rela menyerahkan diri padanya, tapi ini sangat beda. Alexand sangat tergoda tangannya terus menelusuri setiap lekuk tubuh Rara yang padat berisi. Seolah-olah tidak ingin terlewatkan sedikit pun dari setiap lekuk yang membuat gairah nya semakin menggebu-gebu.
Rara mengeliat pelan, ketika merasakan rabaan lembut dan sentuhan hangat bibir di lehernya.
"Ini pasti Cuma mimpi ku, tapi rasanya begitu indah dan nikmat. baru kali ini aku merasakan sensasi seperti ini?" Rara yang masih merasakan pusing dikepalanya, tidak ingin membuka mata. Dia seakan-akan tidak ingin terbangun dari mimpi indahnya.
Puas mencumbui yang tidak ada sedikit pun lekukan tubuh Rara yang luput dari rabaan dan kecupan panas sang pangeran kerajaan jin tersebut. hingga dia juga melepaskan semua yang masih melekat ditubuhnya dan mulai menuntaskan sesuatu yang terus mendesak dari dalam tubuhnya untuk segera dituntaskan pada gadis keturunan manusia biasa.
Rara sempat terpekik, air mata membasahi pipinya ketika merasakan sesuatu memaksa masuk dibagian tubuhnya, Rara juga ikut bermain membalas setiap sentuhan dan perlakuan pria yang belum dikenalnya itu apakah manusia atau makhluk astral, yang terpenting dia bisa ikut bersenang-senang dengan pria yang sangat tampan yang masih mencumbui nya.
"Tidak.... tidak...mungkin dia Monster yang menakutkan." teriak Rara seiring dengan kesadarannya yang hilang secara tiba-tiba.
Rara merasa, seperti sedang memasuki sebuah lorong panjang, tubuh meringan dan terus berputar-putar. hingga dia terhempas dikamarnya penginapannya bersama Sinta.
" Aaaagghhh....aahhh....ahhhh"
Rara terbangun, dengan nafas yang masih terengah-engah, keringat dingin membasahi wajah cantiknya. dia merasa sudah melewati sebuah mimpi panjang yang begitu mengerikan, dan benar-benar terasa sangat nyata.
Bahkan bagian bawahnya masih sangat perih, dan terdapat cairan bening dan kental.
"Mimpi sangat aneh, dan jika aku sekedar mimpi basah. tidak mungkin bisa mengeluarkan cairan sebanyak ini. bahkan bisa tembus seperti ini?" gumam Rara masih berusaha menerka-nerka mimpi buruknya barusan.
***
Diluar pintu kamar, penjaga villa langsung mengedor-ngedor pintu.
"Ada apa pak?"
"Kalian tidak punya banyak waktu, cepat tinggalkan pulau ini, aku akan membantu dan mengawasi kalian hingga pergi dari tempat ini, sekarang."
" Baik, Sinta, Rara cepat kita harus pergi meninggalkan tempat ini."
Aldo tiba-tiba memberi kode pada Sinta, mereka berdua bisa melihat banyak nya tanda merah bekas ciuman yang terdapat ditubuh Rara.
"Pak, kenapa seperti ini?"
" Nanti aku jelaskan, yang penting sekarang kalian Pulang. ayo cepat berkemas-kemas."
"Baiklah."