Perjalanan hidup seseorang tidak terlepas dari proses up and down . Sangat banyak keputusan yang akan di sesali di kemudian hari . Entah itu keputusan yang di ambil dalam keadaan baik mau pun dalam keadaan terdesak .
Apa pun yang melatarbelakangi tujuan pengambilan keputusan itu , keputusan tetap lah harus di ambil dan di terima segala konsekuensi nya . Lalu di jalani dengan sepenuh hati .
Aku yang hari ini berada di posisi seperti sekarang , dengan segala kondisi ku saat ini , tidak lah terlepas dari proses benar salahnya diri ini di masa lalu .
Ketika sebuah keputusan ku pilih tanpa berpikir panjang mengenai konsekuensi nya, menjadikan siksa yang nyata yang harus ku terima sepanjang hidup ku , sampai saat ini .
Saat itu aku yang memendam rasa sakit hati atas pengkhianatan mantan ku , hubungan kami sudah berjalan hampir lima tahun . Namun tiba-tiba saja ia berkhianat di belakang ku . Aku yang pada akhir nya mengetahui pun hanya diam menunggu waktu yang tepat untuk membalas dendam .
Hingga pada suatu hari aku bertemu teman dari mantan ku , kemudian kami sering saling menghubungi untuk berdiskusi tentang project yang kami kerjakan bersama . Awal nya aku tidak ada kepikiran apa-apa , ketika bayangan mantan ku muncul ke dalam pikiran ku , rasa sakit itu juga ikut muncul .
Sampai pada akhir nya terbesit ide untuk mendekati teman nya mantan ku ini , yang bernama Ridwan . Ternyata gayung bersambut . Ridwan yang masih single , dan belum pernah pacaran pun termakan umpan ku .
Kedekatan ku dengan nya tanpa sepengetahuan mantan ku . Meski pun saat itu aku dan mantan ku masih berhubungan baik dan status kami masih sepasang kekasih , namun di belakang itu kami saling menusuk .
Ridwan yang tidak tahu kalau aku dan teman nya sebenar nya berpacaran itu akhirnya melamar ku . Dan aku pun menerima . Semua persiapan aku lakukan secara diam-diam , sampai tiba hari H nya aku membagikan undangan .
Aku pun membagikan undangan ke mantan ku . Kaget ? iyaa , Shock ? jelas terlihat , namun aku tidak peduli . Meski pun rasa sakit nya tidak sebanding dengan rasa sakit ku , aku pun sedikit puas bisa membalas nya .
Kamu pikir aku tidak laku lagi ? hahh lihat !!, teman mu aja bisa dengan mudah nya ku pikat , batin ku sambil tersenyum sinis .
Hari pernikahan ku pun berlangsung lancar , ada sedikit keraguan di hati ku dan juga rasa sedih . Sulit sekali memaksakan bibir ini untuk tersenyum di hari yang bahagia ini , namun aku harus bisa ber acting .
Di awal pernikahan aku sering meminta untuk bercerai , namun suamiku berusaha mempertahan kan pernikahan ini . Sampai aku tidak punya alasan lagi untuk melakukan permintaan itu , karena suami ku itu ternyata sangat baik , ia membimbing ku dengan sabar dan lembut , ia mencoba memahami sifat-sifat ku , ia pun memanjakan ku .
Dan aku tidak pernah memberi tahu suami ku tentang perasaan ku terhadap nya mau pun niat awal ku dalam pernikahan ini .
Aku tidak tega untuk melukai hati suami ku lebih dalam lagi , jadi cukup ku simpan sendiri sampai nanti tiba waktu nya aku akan berhasil memperbaiki niat ku dan bahagia lahir batin bersama nya dalam pernikahan ini .
Pernikahan tanpa keturunan , tanpa cinta ini membuat ku tersiksa . Meski pun suami ku tidak pernah menuntut , tapi aku sebagai perempuan sangat menginginkan bisa hamil dan mempunyai keturunan .
Akhir nya kami pun berobat ke berbagai rumahsakit dan dokter kandungan , dan hasil nya kami berdua di nyatakan sehat .
Karena kondisi finansial kami yang terbilang pas-pas an , kami tidak dapat melanjutkan ke program bayi tabung .
Suami ku selalu berkata bahwa ia menikahi ku karena mencintai ku , meski pun tidak memiliki keturunan , ia akan selalu mencintai dan menghargai ku . Kalau pun nanti di berikan keturunan oleh Tuhan , ia anggap itu sebagai bonus terindah .
Akhir nya aku pasrah , jika takdir ku hidup tanpa keturunan aku terima . Dan aku pun mencoba menerima pernikahan ini .
Setelah mengetahui itu semua , aku pun mencari kesibukan dengan bekerja kembali . Namun itu tidak membuat hati ini tenang , selalu uring-uringan . Dan ada kata-kata yang selalu terngiang , bukan ini yang aku mau , namun aku berusaha meredam nya .
Tapi lagi-lagi aku tidak tahu harus berbuat apa , aku bingung , Hingga pada akhir nya aku memutuskan untuk berhenti kerja , dan mengikuti kegiatan religi di sekitar rumah ku . Harapan ku dengan mendekatkan diri kepada Tuhan bisa memberiku ketenangan batin , dan dengan melakukan hal-hal baik bisa menjadi kepuasan batin ku .
Namun ternyata itu semua tidak sampai lima puluh persen mengobati kekosongan dalam hati ku , ketika di setiap kegiatan selalu ada saja teman yang tidak bisa hadir tepat waktu karena harus mengurus anak-anak nya dulu .
Aku seratus persen mengerti dan memaklumi , walau pun ada rasa teriris dalam hati ku , Ya Tuhan giliran aku kapan ? batin ku . Dan semua itu harus aku tutup rapat-rapat dengan senyum yang terkadang harus aku paksakan .
Biarlah semua tahu nya aku yang selalu ceria , aku yang selalu tersenyum , aku yang selalu tepat waktu , aku yang selalu ramah merangkul , biarlah mereka berpikir bahwa hidupku tidak ada beban .
Setidak nya aku masih bisa terus melangkah sambil menanti datang nya kebahagian ku . Ku anggap ini semua penebusan dosa-dosa ku karena mempermain kan ikatan suci pernikahan dengan niat yang tidak baik di awal nya .
Dan kini aku berkali-kali memperbaiki niat ku , meluruskan nya lagi meski pun hukuman nya belum usai . Belum ada perubahan dalam pernikahan ku , keinginan ku untuk memiliki keturunan dan keluarga kecil belum di kabulkan , bahkan sampai usia pernikahan ku berjalan hampir tujuh belas tahun ini .
Aku mencoba ikhlas menjalani takdir ku , kini aku dan suami saling menguatkan , karena usia kami pun sudah tidak muda lagi . Bekal yang kami kumpulkan bukan hanya untuk bekal hidup , tapi juga untuk bekal mati , di mana kami akan kembali pulang ke haribaan Tuhan nanti .
Jikalau ada kesempatan , ingin rasa nya aku menyurati diri ku yang dulu . Dan seandai nya itu terjadi , mungkin seperti ini isi surat nya :
Dear aku yang dulu ,
Kamu dulu pernah melakukan kesalahan besar , its ok . Karena kamu manusia biasa .
Kamu pernah menyimpan dendam dan membalas nya dengan cara yang salah , its ok . Karena ego mu masih tinggi .
Sekarang kamu sudah tahu dan mengerti bahwa dendam itu merusak , dendam itu menyakitkan dan dendam itu menyiksa .
Kini , kau tebar aura positif , kau beri kenyamanan , kau simpan rapat – rapat setiap kata dari para sahabat mau pun keluarga yang mencurahkan isi hati nya , kau tutup aib-aib yang kau ketahui ada pada diri mereka .
Dan sekarang suara mu lah yang paling keras memperingati orang-orang di sekitar mu, jika mereka menaruh dendam , kamu lah yang pertama mengatakan bahwa itu semua akan berakhir tidak baik . Dan kamu pula lah yang menguatkan mereka untuk bisa ikhlas melepas kan .
Kamu akan merangkul mereka saat mereka tidak dapat bertahan , kamu yang paling depan membantu mereka agar mereka dapat melangkah lagi , dan kamu yang selalu mendampingi mereka saat mereka tertatih sampai mereka bisa berlari .
Semua itu karena pengalaman mu , dan kamu sudah menjadi kan aku yang sekarang , belajar untuk melepas semua hal-hal negative termasuk dendam .
Kini , yang harus aku lakukan adalah untuk tidak menyalahkan diri ini terus menerus , dan move on dengan kehidupan yang ada di depan mata .
Dear me, terimakasih untuk selalu berusaha , berjuang melawan ketidak baikkan dalam diri .
Terimakasih meski pun tersiksa namun kau masih mau bertahan berada di jalan yang benar .
Kuat lah selalu , dan jangan lupa tersenyum ..
Salam Hangat,
Aku yang sekarang