Ah... itu dia, lelaki berkulit putih itu baru saja keluar dari kelasnya. Aku selalu disini, duduk dibangku yang tidak jauh dari kelas pemuda itu, menanti wajah asia dengan mata sipitnya untuk berharap sekali saja menatap ke arahku.
"Gita!, Ngapain sih setiap hari duduk disini mulu? Yuk buruan, kita udah di tungguin di lab?!!"
Indri menarik lenganku agar aku beranjak dari bangku itu. Mau tidak mau kakiku melangkah, tapi sesekali mataku selalu menatap ke arahnya.
Kaca mataku tebal, rambutku bergelombang dan berantakan. Bintik hitam di wajahku terlihat jelas karena aku tidak pernah berdandan. Pernah aku berdandan, bukan pujian dan tatapan suka yang aku dapatkan, melainkan bisikan dan kerlingan mata orang-orang yang melihat ku aneh.
Hari ke hari, bulan ke bulan. Tidak ada yang berubah, tetap saja aku ditempat semula. Tidak maju atau pun mundur untuk cintaku yang bertepuk sebelah tangan.
Kenapa aku harus jatuh cinta padanya? Kenapa harus ada cinta di dunia ini? Kata orang cinta itu membawa kedamaian, lalu bagaimana denganku?
Cinta yang aku rasakan hanya bisa menyesakkan dadaku. Melihat dia di dekati mahasiswi lain aku cemburu. Melihat dia pulang berboncengan dengan gadis lain aku menangis. Lalu bagaimana cinta bisa membuat damai hatiku? Tidak melihatnya aku rindu. Tidak mendengar kabar tentangnya aku frustasi.
Setiap malam bulan menemaniku melamun, berkhayal dia mengetuk pintu rumahku dan mengucapkan kata cinta untukku. Mulailah pikiran gila merasuki otakku. Berangan ia memeluk tubuh ku dari belakang dan mencium pipiku dengan penuh kasih sayang. Aaarrrrrghhh.... bisa gila aku!
Lalu di hari itu, seakan mimpi dia menghampiriku. Menatap mataku yang selama ini menunggu tatapan matanya. Aku berdebar, nyaris tak bisa bernapas. Dadaku sesak karena perasaan yang nyaris meledak.
"Gita kan?"
Oh God, dia tahu namaku. Harum wangi tubuhnya membiusku Hingga aku tak mampu berkata apa-apa.
"Aku tahu selama ini kamu selalu memperhatikanku"
Ya Tuhan, dia sadar. Apa selama ini dia juga sama seperti ku?
"Maaf, aku harap kamu menepis semua perasaanmu untukku. Sebelum kamu terluka lebih jauh..."
Oh.. Tidak!! Kenapa ada cincin di jari manisnya. Pemuda itu menunjukan cincin itu padaku.
"Kita berteman saja, oke?"
Hiks... batinku menangis. Setiap kalimat yang dia ucapkan aku tak mampu menjawabnya. Jangankan bertepuk sebelah tangan, bermimpi saja aku dilarang karena ternyata dia sudah menjadi milik wanita lain.
Aku tertunduk, air mataku jatuh tanpa ijin dariku. Uluran tangannya mengajak ku berteman tak sanggup aku raih. Kecewa tanpa sebab menyiksaku dan membawa kakiku berlari menjauh dari dia yang aku cintai.
Sakit.... ini sungguh sakit. Kenapa aku harus merasakan cinta seperti ini. Aku hanya berlari dan terus berlari meninggalkan dia cinta pertama ku yang menatap punggungku dari jauh.
End