Di suatu tempat yang entah apa namanya. Di sana ada satu orang nenek tua dan anjing kecil. Tempat yang mereka tinggali sangat sempit dan di sana hanya ada rumah kecil dan satu buah pohon besar yang tingginya tidak di ketahui.
Seberapa lama mereka tinggal di sana tidak ada yang tahu. Puluhan tahu, ratusan tahun atau bahkan ribuan tahu, tidak ada yang tahu tepatnya.
“Tempat yang sangat membosankan,”
“Guk,”
“Kenapa kau berani bicara seperti itu? ini benar-benar membosankan. Bukankah kau juga merasakannya?”
Anjing kecil itu memalingkan kepalanya.
“Jangan sok kuat di hadapanku, seperti itu. Kita sudah bersama begitu lama dan aku tahu persis seperti apa dirimu itu.”
Ketika mereka sedang bertengkar tiba-tiba saja muncul sebuah lubang hitam di hadapan mereka. Lubang itu sangat mencurigakan. Meski begitu mereka tetap mendekati lubang hitam itu.
“Apa ini?”
Anjing kecil itu menatap nenek tua itu dengan tatapan dingin.
“Aku Cuma bercanda. Bukankah aneh kalau aku bertanya pada diriku sendiri.”
Mereka berdua berkeliling lubang hitam itu. lubang itu melayang di udara dan bagian belakang lubang tidak terdapat apa-apa. Lubang itu sangat tipis.
Sang nenek mengambil sebuah batu kecil dan melempar ke arah lubang hitam tersebut. Tetapi batu itu menghilang entah kemana.
Sang nenek melihat ke belakang lubang dan ia tidak menemukan batu yang tadi ia lemparkan. Sang nenek keheranan. Ia melihat ke arah anjing kecil tetapi anjing itu menggelengkan kepala.
“Aku coba sekali lagi.”
Setelah melempar batu itu sekali lagi. Tenyata apa yang terjadi sama persis seperti yang sebelumnya. Kemudian sang nenek mangambil buah yang tumbuh dari pohon besar. Sang nenek kemudian melemparkan buah yang ia petik dan yang terjadi sama persis seperti yang terjadi kepada kedua batu yang ia lempar sebelumnya.
Sang nenek melemparkan sekali lagi dan terjadi hal yang sama. Melihat itu anjing kecil tidak mau kalah dan akhirnya ia memungut buah yang jatuh dan memberikannya kepada sang nenek untuk di lemparkan.
Setelah beberapa menit mereka sudah melempar puluhan buah dan akhirnya mereka merasa kelelahan.
“Aku tahu!”
“Guk,”
“Ini adalah lubang yang kaparan,”
“Guk guk,”
“Benar. Puji aku lagi. berarti kita harus memberikan ia makan setiap hari.”
Setelah saat itu lubang hitam itu selalu di lemparkan buah-buahan ke dalamnya. Mereka berdua tidak tahu apa sebenanrya lubang yang mereka anggap sebagai lubang yang kelaparan itu.