Gemerlap cahaya berwarna klasik dengan sayupnya suara bisik-bisik para pelanggan di sebuah Cafe, cafe tersebut bernama Musicfood.
Bukan tanpa alasan nama cafe tersebut bernama Musicfood, karena memang cafe tersebut memiliki tema musik yang sangat kental, setiap harinya cafe tersebut menampilkan sebuah Lifemusic dengan para penyanyi dari kalangan mahasiswa disejumlah Universitas.
Terlihat Zahra seorang mahasiswi dari universitas Vox bersama teman-teman kelompoknya berada di cafe tersebut, suara tawa dan candaan mereka ikut meramaikan cafe itu, namun tiba-tiba suara tawa Zahra seketika terhenti ketika dirinya mendengar seorang pria telah memainkan sebuah gitar dan melakukan humming dari atas panggung pada cafe tersebut.
Terpaku Zahra menatapi pria itu dengan tersenyum karna mendengar pria itu memetik lembut gitar yang ada ditangannya.
Tak lama pria tersebut pun mengeluarkan suaranya yang merdu dan penuh penghayatan, menyanyikan sebuah lagu yang terdengar asing dipendengaran Zahra.
Senyuman dan tatapan Zahra tak terhenti mengarah pria itu yang masih bernyanyi dengan gitar yang mengiringi nyanyian pria tersebut.
Ketika nyanyian pria tersebut telah selesai, seketika Zahra terbangun dari duduknya dan menepuk tangannya dengan antusias.
Sontak para teman-teman Zahra yang melihat ia melakukan hal itu, terkejut dan menatap aneh kearah Zahra yang masih saja tersenyum dan menepuk tangannya.
"Apa yang dia lakukan?" (Bisik salah satu teman Zahra)
"Entah!" (Bisik yang lainnya)
Perlahan Zahra melangkahkan kakinya mengarah panggung, sambil tersenyum dan masih bertepuk tangan.
Pria itu pun terkejut melihat ekspresi seorang wanita tersenyum dan bertepuk tangan sangat keras kepadanya, karna untuk pertama kalinya seseorang dengan kerasnya bertepuk tangan untuknya.
"Bisakah kau menyanyikan 1 lagu lagi?" (Ujar Zahra dengan tersenyum dan menatapi pria tersebut yang tampak terkejut menatapi Zahra)
"Te..tentu..." (Jawab pria tersebut dengan terheran-heran menatap Zahra)
Sebuah lagu yang manis dan dipadupadankan dengan petikan gitar yang sangat lembut, membuat senyum Zahra kembali hadir menatapi pria tersebut.
Tatapan keduanya saling bertemu, penghayatan dari nyanyian pria tersebut membuat Zahra terpukau dan meleleh mendengarnya.
Tak lama nyanyian itu pun telah selesai dibawakan oleh pria itu, tak lupa Zahra kembali bertepuk tangan dengan tersenyum menatapi pria itu yang kini melangkah mendekat kearah dirinya.
"Terima kasih" (Tersenyum pria tersebut menatap Zahra dengan dekat)
Pria itu pun pergi meninggalkan cafe tersebut dengan gitarnya yang ia pikul didalam tasnya.
"Zahra!!!" (Ujar teman-teman Zahra yang memanggil Zahra dari meja mereka)
Tatapan dan senyuman Zahra seketika tersadar dan menoleh kearah teman-temannya.
Berhari-hari lamanya Zahra memikirkan pria tersebut, hingga dirinya sengaja datang ke cafe itu setiap hari hanya untuk melihat pria tersebut menyanyi kembali.
Dengan penyamaran yang ia pakai setiap harinya, agar pria tersebut tidak menyadari kedatangannya, Zahra selalu datang di cafe itu dan merekam semua penampilan pria tersebut ketika ia bernyanyi.
Hingga suatu hari, dengan percaya dirinya Zahra datang pada cafe itu tanpa penyamaran, dan berniat untuk berkenalan dengan pria tersebut.
Tak lama nyanyian pria itu telah selesai, perlahan Zahra melangkah kearah pria tersebut yang sedang sibuknya merapikan gitar miliknya.
"Namaku Zahra!" (Ujar Zahra sambil mengulurkan tangannya dihadapan pria tersebut)
Tampak terkejut pria tersebut pun tertawa menatapi Zahra.
"Kenapa kau tertawa?...apakah ada yang aneh denganku?" (Tanya Zahra dengan bingungnya menatapi penampilan dirinya sendiri)
"Hahaha aku sudah tau namamu!" (Tertawa pria tersebut sambil mengusap kepala Zahra dengan ekspresi gemasnya)
Seketika detak jantung Zahra pun berdegub dengan kencang, suhu tubuhnya terasa panas dingin, dan salah tingkah.
"Namaku Farel Ardio...kau bisa memanggilku Farel...atau El jika kau mau" (Tersenyum ia menatap Zahra)
"Aah...hheemm ya tentu...El...na..nama yang bagus" (Gugup Zahra mengatakannya)
"Baiklah Zahra apakah kau ingin memintaku menyanyikan 1 lagu lagi?" (Tersenyum El menatap Zahra)
"Kau masih ingat??...dan bagaimana bisa kau tahu namaku??" (Tanya Zahra dengan terkejut)
"Tentu saja aku masih ingat...karna hari itu satu-satunya yang bertepuk tangan dan memintaku untuk menyanyikan 1 lagu lagi itu hanya kau...dan ya untuk namamu...aku tahu dari pelayan cafe ini...dan lagi pula kau baru saja menyebutkan namamu" (Tersenyum El menatap Zahra)
"Ah iya aku lupa...tu..tunggu...Pelayan cafe?"
"Setiap hari kau yang mengirimkanku minuman setelah aku tampil...pelayan itu menunjukmu saat kau baru masuk tadi" (Tersenyum El sambil menatapi Zahra dan seorang pelayan pria dikejauhan)
"[Ya tuhan!!...dia tahu kalau aku setiap hari datang dan memberikannya minum?!...apa yang harus aku lakukan sekarang?!...rasanya aku ingin menghilang dari sini!!!]" (Ujar Zahra didalam hatinya)
"Terimakasih!...karna sudah bertepuk tangan dan menikmati nyanyianku...dan ya tentu untuk minuman yang kau berikan" (Tersenyum El menatap Zahra)
El pun pergi sambil memberikan Zahra sebuah kertas kecil digenggaman tangannya, dengan Zahra yang tertunduk menahan rasa malu dan salah tingkahnya.
"Tu..tunggu ini apa??" (Tanya Zahra dengan menatapi El yang telah jauh dihadapannya)
El hanya melambaikan tangannya dengan tersenyum dari kejauhan menatapi Zahra, ternyata kertas kecil tersebut berisikan sebuah nomor ponsel yang tidak lain adalah milik Farel.
Hari berlalu dengan manisnya isi pesan keduanya, terkadang Farel menelphone Zahra dan menyanyikan beberapa lagu kepadanya, dengan kesibukkan Farel yang kini sedang menghadapi Ujian akhir semester, membuat mereka berdua tidak bertemu kembali, mereka hanya bertemu melalui panggilan telphone saat malam hari telah tiba.
Lama keduanya tak jumpa, rasa kerinduan yang Zahra rasakan semakin pekat dan membuat dirinya sangat ingin bertemu dengan Farel, yang kebetulan hari ini Farel akan tampil di pentas seni pada kampusnya sebagai bintang tamu.
Dengan antusiasnya Zahra berdandan dan memakai pakaian yang sangat cantik, tak lupa dirinya juga telah menyiapkan sebuah kado kecil yang akan ia berikan kepada Farel saat setelah tampil di acara pentas seni tersebut.
2 Jam kemudian...
Keramaian pentas seni dan pernak-pernik karnaval telah menaburkan Universitas Vox dengan keceriaannya, terlihat Zahra tertawa dan tersenyum manis menikmati acara tersebut bersama teman-temannya.
Tak lama seorang pembawa acara pentas seni pun mengungumkan bahwa yang akan tampil setelahnya adalah Farel Ardio dari Universitas Aford, tersenyum manis Zahra menatapi Farel yang naik keatas panggung tersebut dengan gitar khas berada dipundaknya.
"Selamat malam semuanya!...terima kasih karena sudah menyambut gua dengan antusias...terima kasih juga buat Universitas Vox yang telah mengundang gua diacara tahunan terbesar kalian...hari ini gua akan membawakan lagu yang gua ciptakan sendiri...untuk seseorang yang sangat special buat gua" (Tersenyum Farel mengatakannya)
Tersenyum malu Zahra mendengar itu, jantungnya berdegub dengan kencang, tangannya yang berubah menjadi dingin dan menahan rasa haru itu sendirian, ditengah-tengah para teman-temannya yang antusias menunggu penampilan Farel.
"[Ya tuhan!!...apa yang dia lakukan?!!]" (Ujar Zahra didalam hatinya dengan tersenyum haru)
"Orang special itu...saat ini ada diantara kalian...dan gua pengen dia tahu apa yang gua rasain kepadanya lewat lagu ini" (Tersenyum Farel sambil memainkan lembut gitarnya)
"Cieeeee!!! Siapa tuhhh???" (Sorak para mahasiswa dengan antusiasnya)
"Waaah beruntungnya cewek itu!!" (Saut mahasiswa lainnya)
Perasaan Zahra pun semakin mendebu-debu dengan keharuan menatapi teman-temannya dan Farel.
"Orang itu adalah...Raya!!...dia adalah seseorang yang sangat special buat gua!...Raya!!!...Lagu ini!...gua ciptain buat lo...gua harap lo paham apa yang ada didalam lirik lagu ini!!" (Tersenyum Farel dengan antusiasnya menatap seorang gadis diantara para mahasiswa)
Sontak Zahra pun menoleh kearah gadis itu yang ada dikejauhan sebelah kirinya, dengan terkejut dan lemas.
Dentingan lembut gitar dan lantunan nyanyian Farel pun dimulai dengan tersenyum menatapi gadis tersebut yang bernama Raya.
Seketika kado kecil yang ada ditangan Zahra pun terjatuh bersamaan dengan air matanya menatapi Farel dan gadis itu.
Suara lembut dan suara dentingan gitar Farel terdengar tak asing dipendengaran Zahra, dan mengingatkan ia hari dimana untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Farel, lagu yang sama saat ini Farel nyanyikan, rupanya lagu yang Farel ciptakan untuk gadis tersebut, seorang gadis yang ia katakan sangat special baginya.
Menangis Zahra menatapi Farel ditengah-tengah para mahasiswa yang kini menikmati nyanyian Farel tersebut.
Tanpa diduga disela-sela itu tiba-tiba Farel menemukan tatapan Zahra yang menangis menatap dirinya ditengah-tengah para mahasiswa yang menikmati nyanyiannya.
Tatapan dan ekspresi Zahra yang sebelumnya selalu tersenyum dan antusias menatapi penampilannya saat bernyanyi, kini berubah 180° derajat menjadi menangis dan alisnya yang mengkerut seperti membenci apa yang ia nyanyikan saat ini.
Nyanyian Farel pun terganggu dan terhenti karena dirinya terkejut dan merasa bingung dengan tatapan dan raut wajah Zahra yang sangat berbeda kali ini kepadanya.
Seluruh para mahasiswa pun bingung dan bertanya-tanya kenapa Farel menghentikan nyanyiannya.
"Ada apa kenapa Farel berhenti bernyanyi?"
"Aku tidak tahu!...ada apa dengannya??"
Bisik-bisik para mahasiswa menatapi Farel yang tampak sangat bingung menatapi Zahra.
Zahra pun mengusap air matanya dengan kasar dan menatap Farel.
"[Aku bodoh!!!...bagaimana bisa aku menganggap diriku special baginya???...bagaimana bisa dengan percaya dirinya aku mengira kalau hubungan kita lebih dari sekedar teman???...dan bagaimana bisa aku terpukau dengannya dan langsung jatuh cinta padanya walau baru bertemu dan bahkan hanya mengenalnya dalam waktu yang singkat???]" (Ujar Zahra didalam hatinya dengan menangis menatapi Farel)
Seketika Zahra pun berlari meninggalkan acara tersebut dengan menangis, terlihat Farel seketika juga berdiri dari duduknya dan mengejar Zahra yang pergi dengan menangis.
"[Bodohnya aku menganggap semuanya special!!!...bodohnya aku bisa jatuh cinta padanya!!!...bodoh!!!...kau sangat bodoh Zahra!!!...kau sangat bodoh!!!]" (Teriak Zahra didalam hatinya sambil berlari dan menangis)
Saat Farel mengejar Zahra dirinya tertinggal jauh dan tak menemukan jejak Zahra dimanapun, ia terdiam dengan bingungnya mengingat ekspresi Zahra yang menangis menatapi dirinya dengan kecewa.
Tak lama seorang wanita datang menghampiri Farel dengan nafasnya yang terengah-engah karna juga mengejar Zahra.
"Huuuft huuf huft!!...astaga Zahra!!...apa yang dia lakukan kenapa dia berlari dan meninggalkan kado miliknya?!!" (Teriak seorang wanita disamping Farel)
Farel pun menatapi kado tersebut, dan menghampiri wanita itu.
"Aku akan memberikan kado itu kepadanya!" (Ujar Farel sambil menatap kado tersebut)
"A..apakah kau mengenal Zahra??"
"Aku temannya...dan kebetulan...aku akan menemuinya sekarang!"
"Astaga jangan bilang kau berhenti bernyanyi hanya untuk mengejar Zahra???"
"Ti..tidak!...aku..."
"Baiklah...berikan ini padanya...karna kado ini akan dia berikan untuk kekasihnya...kado ini pasti sangat berarti baginya!"
Wanita tersebut pun pergi setelah memberikan kado kecil itu kepada Farel.
Saat kado itu Farel pegang, dirinya terkejut melihat tulisan namanya tertulis diatas kotak kado tersebut, dengan berinisial EL.
Saat itu juga Farel pun tersadar akan tatapan dan ekspresi Zahra kepada dirinya malam ini, dirinya pun seketika menelphone Zahra, namun sayangnya ponsel Zahra tidak aktif, terus menerus dirinya mencoba untuk menelphone Zahra, namun usahanya gagal.
Kekhawatiran yang begitu besar pada raut wajah Farel kini menyelimuti dirinya.
Disisi lain Zahra yang tampak bersedih tersebut, dia pun menyalakan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada Farel.
Aku paham...
Aku mengerti...
Dan aku tahu kini...
Semua yang kita lewati...
Semua yang kurasakan dan kau rasakan...
Semua yang menjadi prasangka ku kepadamu...
Semua yang kukira tentangmu kepadaku...
Dan semua yang kufikirkan tentang hubungan kita...
Itu semua hanya paradox dan ilusi yang kubangun sendiri dengan kebodohanku...
Itu semua hanya keinginan diluar kepalaku dan menancapkannya kedalam hatiku...
Dan itu semua hanya prasangkaku, fikiranku, dan perasaanku yang mengira aku untukmu dan kau untukku...
Maaf, aku telah bodoh melakukan itu semua...
Maaf, aku telah bodoh merasakan itu semua...
Dan maaf aku telah bodoh menganggap itu semua nyata padahal hanya paradox dan ilusi yang kuciptakan...
Jangan hubungiku lagi...aku lemah dengan suaramu...
Jangan mengirimkan pesan lagi...aku takluk dengan pesanmu...
Dan jangan mencoba mencariku lagi...aku bodoh dalam membedakan mana yang nyata dan mana yang Paradox...
~END~