Kiara mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal. Ia hampir saja terlambat masuk kuliah. Padahal hari ini adalah jadwal kuliah dosen paling killer di kampusnya. Ini semua karena ibunya yang memaksa dirinya lembur di warung mie ayam. Semalam warung mie ayam mereka laris manis, karena itu sang ibu membutuhkan bantuan.
"Kia, sini!" panggil Inge, sahabat kental Kiara.
Kiara melihat kedua sahabatnya, Inge dan Raya duduk di deretan bangku nomor dua. Tanpa pikir panjang Kiara menghampiri mereka. Namun sayangnya kursi di bagian itu telah penuh. Dengan jari telunjuknya Inge menunjuk bangku kosong yang masih tersedia di deretan paling depan.
Kiara berdesis pelan. Terpaksa ia harus duduk sendirian di bangku itu tanpa teman.
"Untung Pak Charles belum datang. Dari mana saja sih, kamu?" tanya Inge setengah berbisik dari balik bahu Kiara.
"Aku bangun kesiangan. Tapi kenapa kalian tidak menyisakan kursi kosong untukku?" tanya Kiara sedikit kesal
"Sorry, Beb. Kursinya tinggal sisa dua. Eh, kamu sudah dengar gosip terbaru?"
"Belum," jawab Kiara menggeleng.
"Hari ini kita akan sekelas dengan mahasiswa baru yang paling ganteng di kampus, Raven Dirgantara."
Kiara mengerutkan dahinya. Ia memang sempat mendengar nama Raven yang sedang ramai diperbincangkan para gadis. Namun jujur ia tidak tertarik sama sekali. Bahkan wajah pemuda itu pun dia belum pernah melihatnya.
"Sssst, Pak Charles datang," bisik Raya. Spontan mata mereka semua tertuju ke pintu.
Tampaklah seorang pria berbadan besar dan berkepala botak memasuki ruangan. Siapa lagi kalau bukan Pak Charles. Namun pandangan para mahasiswa teralihkan ke sosok pemuda di belakang Pak Charles. Pemuda berpostur tinggi dengan kulit putih gading, dilengkapi sepasang alis tebal, hidung mancung dan mata yang setajam burung elang. Sungguh pemuda itu adalah perwujudan lelaki tampan yang keluar dari cerita komik.
"Apakah dia Raven?" batin Kiara tersihir oleh ketampanan pemuda itu
"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Charles.
Kiara masih termangu dalam lamunan, ketika pemuda itu berjalan menghampirinya. Ia meletakkan tasnya lalu duduk tepat di samping Kiara. Membuat irama jantung Kiara naik turun tak beraturan.
Pak Charles menulis beberapa pokok pembahasan di white board dan menyuruh para mahasiswa untuk mencatatnya.
Kiara berusaha fokus pada materi yang diajarkan dosennya, tapi mendadak terdengar suara bariton yang menyapanya.
"Nona, bisa aku pinjam pulpenmu?"
Kiara menengok ke samping. Tak sengaja matanya beradu pandang dengan bola mata abu-abu gelap milik pemuda itu. Membuatnya seolah-olah tersesat di dalamnya.
"Nona, apa kamu mendengarku?"
"I...iya, ada," jawab Kiara gugup. Ia menyerahkan pulpen berwarna hitam kepada pemuda itu dengan tangan gemetar. Bukannya mengambil pulpen, pemuda itu justru sengaja menyentuh telapak tangan Kiara. Senyuman tersungging di bibirnya.
"Perkenalkan aku Raven. Setelah ini kita akan sering bertemu, Zelina," ucap Raven dengan tatapan penuh arti.
"Sorry, namaku Kiara, bukan Zelina," jawab Kiara menjelaskan namanya.
"Benarkah? Tapi aku tidak mungkin salah. Kita lihat saja nanti apakah kamu Kiara atau Zelina," jawab Raven kembali fokus menatap white board.
Bersambung. Yang mau baca cerpen sembarangan ini, saya ucapkan terima kasih. Yang mau cerita ini dilanjutkan silakan komen ya.