Cring … Cring ….
Bunyi gemerincing lonceng di kaki dan juga perut membuat semua mata terpana ke tengah area tari. Seorang wanita cantik dengan tubuh gemulai terlihat mahir menarikan tarian perut khas Timur Tengah itu. Melenggok luwes sembari sesekali menghentakan kaki untuk membuat gemerincingnya semakin keras. Pinggul dan perut yang bergoyang seirama dengan musik rebana terlihat sangat sensual.
“Cirara … Cirara!!” Semua penonton yang rata-rata pria itu menyoraki sang wanita penghibur dengan memanggil namanya. Cirara Anastasia, seorang pengamen jalanan yang terbiasa mencari uang dengan menjual kemampuannya menarinya. Berrambut emas, tubuh molek, paras elok dengan hidung mancung, mata berbinar lebar, dan bibir yang sensual.
Semua boleh melihat, namun tak ada yang boleh menyentuhnya. Begitulah pedoman sang bunga cantik ini. Bak mawar, indah namun berduri. Siap menyentuh Cirara, maka mereka akan berurusan dengan tiga orang kakaknya yang saat ini bermain kendang, seruling, dan rebana.
Malam itu bulan bersinar bergitu terang. Obor-obor api masih menyala terang di seluruh tembok istana. Pesta dua puluh empat jam di dalam dan di luar istana. Perayaan penobatan sang putra mahkota Darius Von Xiriane. Pasar malam di tengah ibu kota kerajaan Xirian dipenuhi dengan para pelancong dan juga rakyat yang ikut bahagia.
Pesta besar itu menguntungkan banyak orang. Tak terkecuali rombongan pengamen Cirara. Gadis itu tak kenal lelah menghibur semua manusia demi recehan dinar yang dilemparkan tiap kali ia memutar gaun-gaun linennya yang indah. Semakin sensual ia bergoyang semakin banyak koin dinar yang dilemparkan ke bawah kakinya.
Cirara berkayang ke belakang sembari menggoyangkan pinggul. Membuat bunyi gemerincing yang mampu membut tiap pria menelan ludah karena melihat tubuh moleknya. Mereka pasti membayangkan bagaimana rasanya bila Cirara bergoyang di atas tubuh mereka.
“MINGGIR!! BERI JALAN!!” Suara teriakan membuat musik berhenti. Rombongan prajurit berjajar rapi berjalan sembari menghentakkan kaki menuju ke arah rombongan pengamen.
Cirara dan ketiga kakaknya beradu tatap seakan bertanya apa yang telah terjadi. Mereka tak tahu, sama sekali tak tahu. Beberapa tahun mereka mengamen dan tak pernah ada masalah dengan pemerintah setempat, apa lagi anggota kerajaan.
Rombongan pasukan bersenjata itu mau tidak mau membuat para penonton menyingkir memberi jalan. Cirara langsung memeluk lengan kakak tertuanya karena takut. Ketiga pria berbadan kekar itu menyembunyikan Cirara, si bungsu ke belakang tubuh tegap mereka.
“Ada apa ini, Tuan?” tanyanya dengan sopan.
Tak lama, seorang pria paruh baya bersahaja dengan sorban merah bertahtakan berlian safir keluar dari balik pasukan.
“Nama saya, Delfi, penasehat langsung putra mahkota Darius,” ucapannya membuat semua penonton berkasak kusuk. Mendengar nama besar putra mahkota membuat mereka ketakutan. Tak terkecuali rombongan pengamen itu.
“A … ada apa, Tuan?? Ada urusan apa Putra Mahkota dengan kami?” Dengan takut-takut Kakak tertua Cirara bertanya. Mereka bisa menghajar pria kurang ajar yang mengganggu sang adik, namun, mereka tentu saja tak berdaya bila diperhadapkan dengan nama calon pemilik negeri ini. Pria yang tinggal di dalam megah dan tebalnya dinding istana.
Delfi memberi kode, semua pasukan langsung bergerak mengelilingi rombongan, menyusun brikade agar semua penonton tak bisa mendengar ucapan atasannya. Cirara semakin menggenggam erat tubuh kakaknya karena takut.
“Saya akan meminta nona Cirara untuk menjadi Solace bagi Putra Mahkota malam ini.” Delfi menyatakan maksudnya. Meminta Cirara menjadi penghibur bagi sang pangeran di malam pelantikannya. Mungkin kecantikan Cirara mulai menyebar, dan bahkan sampai ke telinga sang Pangeran.
“Apa?!” seru Cirara kaget.
“Kalian akan mendapatkan imbalan yang setimpal. Nona Cirara juga bisa menikmati kekayaan dan hidup mewah di dalam istana.” Delfi menjentikkan jari, memamerkan satu peti uang emas dan juga kain-kain lenan mahal yang hanya bisa Cirara lihat dalam mimpi.
“Kami tidak menjual tubuh adik kami, Tuan. Meski itu kepada pangeran sekalipun.”
“Pangeran bilang harus membawa Nona Cirara malam ini juga. Bahkan saya diberi ijin untuk membunuh dan menyingkirkan siapa pun yang menghalanginya.” Delfi menjentikan jari dan sekelompok prajurit mengeluarkan senjata tajam.
Cirara menengguk saliva dengan berat. Para saudaranya akan dibantai bila ia tak mau menuruti kehendak sang pangeran..
“Baiklah, saya akan ikut Anda, Tuan.” Cirara maju ke depan. Dengan tubuh gemetaran ia melangkah, bunyi gemerincing lonceng terdengar tiap kali Cirara melangkah. Delfi menyelimutkan mantel bulu tebal pada tubuh Cirara. Gadis itu sesekali menoleh ke arah saudaranya. Mata Cirara berair namun tetap tersenyum. Ketiga kakak lelakinya hanya bisa tertunduk karena tak punya kekuatan untuk melawan kehendak sang penguasa.
Delfi membawa Cirara menaiki kereta. Kuda-kuda perang yang gagah menarik kereta menuju ke dalam istana. Cirara melihat ke arah Bulan, begitu besar dan bulat, bersinar sangat terang. Cirara mencoba menenangkan hatinya yang gundah, sampai perjalanan jauh itu terasa begitu singkat.
“Kita sampai Nona. Para dayang akan membantu Anda membersihkan diri dan juga berganti pakaian. Lalu saya akan mengantar Anda ke kamar Putra Mahkota.” Delfi meninggalkan Cirara yang mematung di tengah pintu masuk ke kolam permandian istana.
Kolam air hangat besar dengan aroma bunga semerbak. Berhiaskan batu pualam dan juga patung singa yang terus menuangkan air dari mulutnya.
“Mari Nona.” Ajak seorang dayang. Cirara pasrah, ia menurut saja saat pra dayang membantunya mandi dan bersiap. Mereka menuang buli-buli minyak katsuri dan zaitun agar kulitnya lembut bercahaya, wewangian mahal, dan juga kain kermisi halus. Terakhir mereka menyematkan riasan wajah pada wajah cantik Cirara.
“Tuan Delfi, Nona Cirara sudah siap.”
“Baiklah.”
Delfi mengantar Cirara. Sepajang jalan Cirara melihat kesekeliling koridor istana. Luar biasa indah, megah. Lapisan emas, batu lazuli, rubi, permata berlimpah ruah di dalam sana konstras sekali dengan kehidupannya di jalanan. Tiap beberapa meter ada prajurit yang berjaga, mereka memberi hormat tiap kali Delfi lewat di depan mereka. Delfi masuk ke dalam dan membungkukan badannya memberi hormat. Ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya sebelum Darius memberi ijin. Delfi menarik tangan kurus Cirara agar ikut membungkuk. Cirara gemetaran namun tetap nekat mencuri pandang.
Pandangan Cirara terhalang tirai kain hitam. Namun bisa ia lihat mata merah yang menyala di kegelapan malam. Putra mahkota Darius menatapnya balik. Cirara langsung membungkuk takut. Namun matanya yang terpejam langsung membuka begitu lebar saat yang terdengar bukanlah suara manusia namun geraman hewan buas.
“A … apa itu?” Cirara bergetar hebat. Delfi menghela napas panjang dan menjawab, “beliau adalah Yang Mulia Darius.”
“Di … dia bukan manusia??”
“Lancang!!” Delfi membentak Cirara.
Geraman muncul kembali, seekor serigala besar dengan bulu hitam legam meloncat dari dalam tirai. Cirara terjerembab ke belakang sangking kagetnya. Wajahnya yang ayu pucat pasi. Tubuh Cirara bergetar hebat, sehebat jantungnya yang melaju tak terkendali. Serigala itu benar-benar besar dan sedang berjalan kearahnya. Cirara tak punya kekuatan untuk mundur, tubuhnya terlalu lemah karena syok.
Serigala itu mendenguskan napasnya sembari menggerakkan leher dan Delfi langsung bangkit seakan tahu kode yang diberikan oleh sang pangeran agar pergi meninggalkan mereka berdua.
“Baik, Yang Mulia.” Delfi undur diri.
“To … tolong jangan tinggakan aku, Tuan!” Cirara dengan gelagapan berusaha menahan Delfi agar tak meninggalkannya dengan hewan buas itu. Cirara masih tak percaya bahwa hewan buas itu adalah Putra Mahkota yang dielu-elukan seantero kerajaan Xirian. Pangeran yang terkenal tampan, kuat, dan seorang jendral perang yang disegani pihak lawan. Cirara tak menyangka kalau nyatanya pria itu adalah seekor serigala.
“To … tolong jangan makan saya, Yang Mulia.” Air mata Cirara menetes karena ketakutan. Serigala hitam besar itu semakin mendekat untuk mengikis jarak di antara mereka. Cirara ingin bangkit dan kabur, namun tubuhnya membeku, kakinya lemas tak bertulang.
Slurp!! Lidah serigala itu menjilat air mata Cirara, matanya yang merah itu menatap gadis cantik dengan lembut. Cirara membuka matanya perlahan, tubuhnya berhenti bergetar saat kepala sang hewan buas itu mengusap-usap kepalanya dan berakhir dengan tidur di pangkuan Cirara.
Cirara bingung, dengan ragu-ragu ia mengelus kepala sang Pangeran. Lembut sekali, bulunya lembut dan wangi, jauh berbeda dari bentuknya yang menakutkan. Mata Cirara mulai berbinar, tak lagi takut dan justru menikmati kelembutan bulunya, begitu pula Darius. Serigala itu mengdengus pelan sembari menjilat-jilat menikmati belaian tangan Cirara.
“Ee … apa yang harus aku lakukan?? Apa kita akan begini semalaman?” Cirara memberanikan diri bertanya, namun hanya dengusan napas yang ia dengar. Oh … memangnya apa yang bisa ia harapkan dari seekor binatang? Jawaban? Dasar konyol.
Cirara mengelus kepala Darius, namun justru ia yang mengantuk. Sepertinya gadis itu terlalu lelah, semalaman ia menari di tengah pasar selagi ada kesempatan. Bulu Darius yang lembut dan suhu tubuhnya yang hangat membuat Cirara mengantuk.
Bulan bersinar terang saat perlahan mata Cirara menutup dan tertidur. Aroma manis dari bulu-bulu Darius membuatnya tidur dengan sangat nyenyak.
.
.
.
Keesokan pagi, matahari seakan terbit lebih awal karena Cirara merasa baru sekejap saja tertidur. Kicauan burung yang bertengger di jandela batu istana membuat Cirara tersentak. Tangannya menggerayang sprei sutra yang sangat lembut dan dingin, nyaman. Sebagai pengamen jalanan tentu saja kemewahan itu tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Sudah pagi?! Dimana aku?? Kenapa berat sekali?? Cirara merasa ada sesuatu yang menahan tubuhnya. Sesuatu, yang hangat dan sedikit berkeringat.
“Ehh??” Cirara langsung membuka matanya lebar-lebar. Tubuh atletis seorang pria telan jang berada tepat di atas tubuhnya. Menindih Cirara tanpa sehelai benang pun. Wajahnya begitu rupawan, tanpa cacat cela, rambutnya coklat, garis wajahnya begitu tegas dan alisnya tebal. Sungguh pria yang sangat tampan.
Wajah Cirara memerah, ia tak pernah melihat tubuh telanjang pria lain selain para kakaknya. Dan kini pria itu berada tepat di atas tubuhnya, tidur dengan nyenyak di atas dada sintalnya. Cirara kebingungan, bukankah semalam ia tidur dengan seekor serigala??
“WAAA!!!” Cirara berteriak.
“Oh, kau sudah bangun, Sayang?” tanya pria itu sembari mengusap mata. Cirara menarik selimut sutra untuk menutupi tubuhnya, mata Cirara terpejam, ia malu sekaligus kikuk melihat pria bertubuh kekar itu bangkit dari tidurnya.
“Si … siapa??” tanya Cirara.
“Siapa? HAHAHA,” tawanya nyaring.
“Pa … pangeran?? Anda Pangeran Darius? putra mahkota Xirian?” Cirara membelalak.
“Memangnya siapa lagi??” Darius merangkak mendekati Cirara. Ranjangnya berderit, gelang kaki Cirara ikut bergemerincing.
Darius mengecup leher Cirara sebelum menatap kedua bola mata Cirara dengan mata emasnya. Tatapan mereka saling mengunci. Mata itu tak lagi merah membara seperti semalam. Mata itu kini tengah menatapnya dengan pandangan sendu penuh rasa sayang.
“Kau pasti kagetkan? Aku adalah seorang Lycan. Saat menyerang negara Zaram aku digigit oleh seorang Lycan dan berubah sepertinya saat bulan purnama bersinar terang.” Darius menaruh kepalanya di dada Cirara, gadis itu tersentak, tapi tak menghindar.
“Aku marah, aku benci diriku yang seperti monster. Setiap kali aku berubah aku akan mengamuk. Sampai suatu malam, saat bulan bersinar terang, aku melihatmu menari di sebuah pasar. Lengkap dengan suara gemerincing dan juga gerakan yang indah.” Darius mengusapkan wajahnya nyaman di tonjolan empuk itu.
“Aku??”
“Iya, Cirara. Melihatmu membuatku terhibur. Aku bersyukur bisa melihat tarian indah itu. Dan setelahnya aku melihatmu setiap kali kau menari. Sampai akhirnya aku memahami kalau ada ikatan di antara kita. Kau adalah mateku, Cirara.” Darius mengambil segenggam rambut emas gadis itu dan mencium aroma manisnya.
“Mate?”
“Jodohku, kau adalah penghiburku, Cirara. Satu-satunya yang bisa membuatku tenang dan tak mengamuk. Sekarang, hanya aku yang boleh melihatmu menari.” Darius tersenyum dan mengecup leher dan naik ke atas sampai berhenti di dagu.
Cirara menelan ludahnya dengan berat saat melihat mata jernih sang pangeran. Jantung Cirara seakan ingin meledak, wajahnya merona kemerahan, hangat sekali. Pangeran Lycan ini menggenggam tangan Cirara erat-erat, melipatnya bersama dengan kelima jemarinya.
Sekujur tubuh Cirara berdesir halus. Cahaya sinar mentari pagi keemasan menerpa mereka berdua saat bibir Darius mendarat mulus di atas bibir Cirara. Basah, kenyal, dan manis. Manis sekali, Cirara memejamkan mata menikmati denyutan pelan dibibirnya saat Darius me lu matnya dengan mesra.
“Yang Mulia.”
“Jangan panggil aku Yang Mulia, Cirara. Aku punya nama. Panggilah namaku, Sayang.”
“Darius.”
“Ya, Sayang, itu baru kesayanganku.” Darius mencubit dagu Cirara dan kembali menghujaninya dengan kasih sayang lewat alunan bibir yang saling beradu.
— END —