"Jika aku mendapat 200 Milyar, iya.... dua... ratus....
Milyar...akan aku lunasi utang utang mu Mak, utangmu yang sudah membengkak menjadi 4 Milyar itu, utang di kantor, utang di pinjol,utang di bank, pak kepala kantor sudah memblacklistmu Mak, udah ngga boleh utang lagi, kerja sudah ngga dapat gaji buat potongan hutang tok, hadehhh mak mak...tobat mak... jangan ambil utang lagi.." gerutu Nanang melihat tagihan utang di meja nya.
Keluarga Nanang sedang terlilit hutang milyaran.
Keluarganya sebenarnya juga bukan pengangguran. Ayahnya pedagang dan emaknya adalah orang kantoran, dan Nanang yang baru lulus SMA adalah anak lelaki kesayangan satu satunya.
Normalnya keluarga mereka berkecukupan, tapi ternyata enggak.
Gaya hidup emaknya yang selangit dan ketidakmampuan mengelola keuangan dengan baik, membuat utang semakin menumpuk. Bagaimana tidak, menyelesaikan utang dengan utang, ibarat terjebak lingkaran setan.
Awalnya, emaknya mengambil utang dari kantor dengan jaminan uang gajinya dipotong tiap bulan untuk membuat rumah tinggalnya. Karena merasa tidak cukup, dia menggadaikan sertifikat tanah untuk mendapatkan tambahan hutang dari Bank. Belum lagi lunas, emaknya sudah kepingin membeli mobil baru. Jadilah hutang lagi.
Emaknya juga memiliki lingkaran sosial yang gaya hidupnya tinggi. Lingkaran sosial emak emak yang suka senam awalnya, lalu berkumpul arisan, lalu semua memakai barang barang bermerek yang harganya aduhai, lalu jalan jalan wisata. Orang bilang emak emak sosialita. Jika tidak bisa mengikuti gaya hidup mereka, otomatis akan disingkirkan.
Dan emak Nanang tidak bisa bilang tidak, jika sudah ngumpul sama bestie bestinya itu, begitu emaknya menyebut mereka.
"Lalu bagaimana Nang, kalo tidak Utang lagi, bagaimana kita membayar tagihan tagihan itu" seru ibunya.
Bapak si Nanang geleng geleng kepala.
"Bapak ngga mau ikut ikutan, penghasilan bapak dari berdagang untuk kehidupan sehari hari kita!!! Bisa bisa kita ngga makan batu nanti" bapak menimbrung pembicaraan anak dan emaknya.
"Tiap hari ada saja DC yang datang, DC senin dari bank Anu, DC selasa dari bank ono, DC Rabu, kamis, jum'at sabtuuu dihari mingguu hari ku kelabuu... " lantun bapak sambil ngeloyor pergi.
Emak memukul pantat bapak sambil menggerutu.
"Dasar, ngga kasih solusi malah ngece tok isane (menghina saja bisanya)"
"Huuu huuu huu gimana nih Nanang putra kesayangan emak, emak bingung Nang, huu huu.huu, pak kepala kantor udah ngga mengijinkan hutang... hu. huu hiks hiks" tangis Emak si Nanang.
Nanang si anak kesayangan tentu tidak tega melihat emaknya menangis seperti itu.
Nanang mencoba mencari solusi.
"Mak mak Nanang coba cari solusinya, tapi janji emak ngga hutang lagi ok"
"Ya sayang .." Emak menyeka air matanya.
"Sini ponsel emak"
"Buat apa Nang"
"Udah sini" lanjut nanang.
Ia lalu menghapus grup sosialita emaknya, mengeluarkan segala akun media sosialnya.
"Eh eh... kok dihapus... ah.. Nanag jangan dihapus lah... lah ini juga... aduh Nang..." rengek Emaknya.
"Emak mau lepas hutang ngga, ini salah satu sumber masalah kita mak, kehidupan sosialita emak. Buat apa berpura pura kaya dari hasil ngutang Mak. Nanang sayang emak apa adanya mak, banyak duit ngga banyak duit, emak tetap ibu yang paling Nanag sayangi sedunia mak" kata Nanang lembut mencoba menenangkan Emaknya yang panik.
"Emak sangat berarti bagi Nanang, bukan para Bestie itu, Bapak dan Nanang adalah keluarga satu satunya Emak, ketika udah terlilit hutang seperti ini, coba, mana bestie bestie emak, ngga ada kan, mereka ngga akan membantu melunasi hutang emak, ya kan mak" lanjutnya lagi.
Emaknya menunduk, air matanya menetes jatuh, dia mulai sadar bahwa apa yang dikatakan Nanang ada benarnya.
"Nang, maafkan emak ya sayang, selama ini emak telah egois, emak cuman memikirkan diri emak sendiri, ternyata hal itu membuat orang orang yang mencintai emak dengan tulus menderita, maafkan emak sayang" isak emaknya.
Nanang memeluk emaknya hangat.
"Nanang juga ngga perlu mobil mak, Nanang lebih suka memakai motor bebek butut warisan Bapak mak, lebih irit bbm, tidak membutuhkan biaya perawatan yang besar, tidak membutuhkan pajak yang besar pula, Nanang lebih suka tampil sederhana Mak."
"Jadi..." tatap emaknya
"Mobilnya dijual saja mak"
"ooh nanang..." Emak menutup mulutnya
"Mau lunas ngga mak, mau tidur tenang tanpa gangguan utang ataupun DC" kata Nanag lagi.
"He em" angguk emaknya nurut dan pasrah, mangingat Nanang sudah menghapus dan menlog out kan segala akun sosialitanya.
Bapak kemudian datang kembali.
"Bapak akan bantu menjualkan mobil itu, ada kenalan usaha bapak yang memerlukan mobil" kata bapak.
"Kita akan tinggal di desa saja, bapak tidak keberatan melanjutkan berdagang di desa, setelah hutang kantor lunas, emak resign saja, kita bisa hidup tenang di desa, bapak masih punya tanah tegal warisan orang tua bapak di desa, kita bisa bertani dan beternak di desa, rumah mewah ini kita jual saja Mak" lanjut bapaknya lagi.
"Tu kan mak, bapak aja ikhlas hidup seadanya" sambung Nanang.
Emaknya cuman bisa mengangguk anggukkan kepalanya.
*****
Dan akhirnya mobil dapat dijual, untuk menutup hutang emak di kantor.
Tidak berapa lama kemudian tanah beserta rumah keluarga Nanang laku terjual. Uang penjualannya pas buat nutup utang utang emak.
"Tinggal 500 ribu, buat mudik ok mak" kata bapak.
Meskipun sudah tidak tinggal di rumah mewah, tidak mempunyai mobil, tidak sosialita, namun mereka bahagia. karena tidak memiliki hutang.
Keluarga kecil itupun pulang ke desa menggarap tegal dan sawah hidup sederhana di desa.
Beberapa waktu kemudian, ada perusahaan BUMN di bidang energi yang akan membuka cabang baru dan sedang melakukan pemekaran lahan.
Kebetulan lahan keluarga Nanang termasuk ke dalam lahan yang digunakan perusahaan BUMN itu.
Hampir seluruh tegal keluarga Nanang digunakan, termasuk lahan gundul, gunung yang tidak bisa ditanami karena gersang pun turut digunakan. Katanya posisinya sangat strategis.
Pihak BUMN kemudian melakukan mediasi dengan masyarakat terdampak.
" Kami akan memberikan kompensasi penggantian lahan yang adil bagi bapak ibu warga kampung yang terdampak pemekaran lahan perusahaan kami, kami akan membayarkan secara tunai ke rekening bapak dan ibu masing masing" begitu penjelasan dari pihak humas perusahaan.
Bapak akhirnya memberi tahukan perihal itu pada keluarganya.
" Emang kita dapat kompensasi berapa pak 200 milyar, he he he..." gurau Nanang.
"Eh iya, bisa jadi Nang" timpal emaknya.
"Ngawur, mana ada 200 juta mak e, lahan kita ngga berhektar hektar, kebon kelapa sawit kali berhektar hektar," jawab Bapak.
"Ha ha ha, tapi emak sudah hidup kok di desa, disini damai, bisa petik sayur sendiri, mancing ikan sendiri, pingin ayam tinggal sembelih sendiri, urusan makan terpenuhi lah" kata emaknya
"Emak ngga rindu sosialita lagi mak" tanya bapak
Bapak kemudian mengeluarkan buku rekening yang telah ditransfer pihak perusahaan BUMN.
Disitu tertulis.
Rp. 2.000.000.000,00 rupiah.
"Alhamdulillah!!!!!" pekik Emak dan anak.
Mereka kemudian sujud syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.
Sekian.