"Dok detak jantungnya mulai melemah." Seorang terbaring dengan banyak alat di tubuhnya.
"Cepat siap kan alat kejut jantung! Sekarang!" Dengan sigap dokter bergegas menjalankan tugasnya.
"Siap! Satu dua tiga" dokter dengan alat kejut di tangannya mulai mengarahkannya ke dada pasien wanita yang terbaring lemah.
***
"Darla cepat sayang." Darla sedang menggulung rambutnya. Melihat pada cermin, dengan senyuman mengembangnya. Ia ingin tampil mempesona karena hari ini sangat spesial baginya.
Kencan pertamanya
"Ya Mom" ia menjawab ibunya dengan teriakaan. Sekali lagi mematutkan dirinya dicermin. Tersenyum lebar.
"Pagi sayangnya aku" Darla mendekat pada sudut kamarnya. Ia meraih pundak yang tinggi itu dan berjinjit, dikecupnya pipi sang kekasih.
Sosok hitam tinggi dengan tudung menutupi kepala hingga seluruh badannya, terlihat tajam, sorot matanya, dagu tegas, ekspresi yang selalu sama. Datar.
Juga sabit panjang ditangan kanannya. Tak membuat takut Darla. Sosok yang setia menemaninya ketika ia menjalani oprasi di rumah sakit.
"Yuk" ya sosok itu tak pernah meninggalakannya. Sampai nanti waktunya datang.
Darla menggandeng sosok itu. Mengikuti Darla. Itu tugasnya.
Ia tak akan meninggalkan tugasnya. Karena itu perintah langsung dari yang diatas.
Mengikuti mahkluk lemah. Yang sudah memiliki waktunya masing-masing kapan ia bisa membawa mereka. Menuju tempat kekekalan.
Tapi seiring ia mengikuti mahkluk didepannya ini yang di sapa Darla oleh orang sekitarnya.
Ia merasa penciptanya menciptakan sosok yang sangat berisik. Banyak dari golongannya, meremehkan mahkluk lemah didepannya ini.
***
"Hei Elmet, kau mendengarku, kukatakan tadi bahwa Haris si anak menyebalkan itu, ia menyatakan cinta padaku" bisik Darla. Saat berjalan disamping Elmet.
Elmet nama sosok itu. Darla menyebutnya si datar yang tampan. Sejak ia melihat tubuhnya saat di ruang oprasi. Sosok ini selalu ada disampingnya.
Flashback
"Wah itu aku" ucap Darla kagum. Ia melayang sekarang diatas. Melihat dokter sedang mengupayakan kehidupannya.
"Kau siapa?" Darla melihat sosok di sebelahnya. Tak ada jawaban.
"Siapa namamu hey grim reaper?" Darla tahu sosok itu dinamai Grim reaper. Pada film horor yang pernah ia tonton. Tak mengira ia akan bertemu langsung dengannya. Ia mengikuti sosok itu, keluar ruang oprasinya.
"Kau akan membawaku kemana, eemm.. aku memanggilmu apa? Mr. Grim? Mr Reaper? Mr.Reap? Mr.Per? Yang mana yang kau suka?" Hah! Mahkluk ini sangat berisik, batinnya. Dengan datar sosok itu menjawab.
"Elmet" Suara dalam dan kaku.
"Oh Elmet, kau mau bawa aku ke surga?" Polos Darla. Masih mengikuti Elmet. Ia menuju keruangan kosong. Dan berhenti didekat jendela. Diam disana. Darla hanya mengikuti saja. Tak lama. Dokter dan beberapa suster mendorong brangkar yang berisikan tubuhnya.
"Ah oprasinya selesai dan sepertinya aku masih selamat." Celetuk Darla. Aneh sekali mahkluk lemah ini, ia mengomentari tubuhnya sendiri. Pikir Elmet.
"Hei Elmet kau tahu aku belum pernah pacaran" Elmet melirik sekilas, ia melihat sendu bergelayut di wajah Darla.
"Aku belum merasakan rasanya, berpeganggan tangan, berjalan berdua menyusuri taman saat musim gugur pasti romantis.... aah.." Darla mendesah.
"AAAH! jangan! Jangan ketaman saat musim gugur! Banyak serangga yang akan membuat tubuhmu gatal-gatal" Darla bergidik sendiri.
Membayangkan kejadian yang menimpanya musim gugur lalu, ia nekat bergulung-gulung diatas tumpukan daun kering. Dan keesokannya seluruh tubuhnya memerah, sangat gatal.
"Iihhhh... sangat gatal" Darla memeluk dirinya sendiri dengan mengelus tubuhnya yang tiba-tiba saja menjadi gatal. Sugesti yang menyebalkan!
Flasback off
Darla berpikir saat itu, ia mati. Tapi ternyata ruhnya tersedot masuk ke raganya kembali. Dan Darla siuman sejak ia koma selama 6 bulan akibat kecelakaan yang menimpanya.
Dan ia masih bisa melihat sosok itu. Elmet. Hingga sekarang. Dan saat ia tahu ajalnya semakin dekat, ia membuat satu permohonan pada Elmet.
"Berdoalah dan meminta padanya, karna aku mengikuti permintaannya saja." Itu jawaban Elmet dari situ Darla terus berdoa memohon dengan rajin.
"Kau boleh menganggapku pacarmu" Kemarin, Dan itu membuat Darla senang. Walau ia tahu hari ini ajal akan menjemputnya.
"Ya Tuhanku yang Maha mengabulkan, tolong, bolehkan aku merasakan pacaran sehari sebelum ajalku." Doa yang selalu Darla panjatkan setiap detiknya.
Darla mengandeng lengan Elmet mengantarkannya menuju cahaya putih. "Terima kasih Elmet" Senyum yang yang membuat dada Elmet menghangat. Sebelum Darla melangkah masuk dalam cahaya.
Elmet melirik tubuh yang sedang diangkat dalam mobil ambulan, terlihat tangan putih yang terkulai, menjatuhkan seikat bunga daisy dari genggamannya.
Mobil ambulan menjauh. Elmet mendekat, berdiri, menatap datar seikat bunga daisy yang tadi ia berikan pada Darla, teronggok di lantai aspal. Warnanya sangat kontras. Putih kuning dengan sedikit cipratan merah.
*****
TerSAD
lazyafternoon