Pacarku bukan manusia...
Dia seorang...
Pernahkan kalian membayangkan tinggal disebuah hunian yang sudah lama tidak tersentuh oleh nafas manusia?
Aroma pekat lembab dan apak berbaur menyapa hidung. Tidak ada yang lebih menyiksa paru-paru dari dua jenis aroma itu. Neha, harus menerima ajakan sang ayah untuk meninggalkan tempat tinggal lama mereka sebab ayahnya berpisah dengan sang ibu. Neha memilih hidup tenang ditengah hutan bersama ayahnya yang membeli rumah baru dikawasan pedalaman hutan hujan Amazon yang lembab.
Selama perjalanan menuju rumah baru mereka, baik Neha dan sang ayah lebih banyak diam. Hanya sesekali membuat topik yang berakhir canggung. Entah mengapa, perpisahan kedua orang tuanya itu membuat Neha terpukul dalam keterpurukan yang begitu menyakitkan.
Dia hanya gadis remaja yang masih menginginkan kasih sayang kedua orang tua, dan perhatian lebih untuk sikap manjanya.
“Ayah sudah membereskan rumah itu. Jadi kamu tidak perlu lagi merasa tidak nyaman disana.”
Satu topik lain yang menarik perhatian Neha untuk menatap fitur ayahnya dari arah samping.
Laki-laki itu terlihat lelah, karena harus mengemudi selama beberapa jam tanpa orang lain yang menggantikan. Neha, sebenarnya dia bisa mengemudi jika medannya hanya lurus, tidak seperti jalanan yang sedang mereka lewati sekarang.
Jalanan sepi berkelok berpagar pohon tinggi menjulang seperti hendak menyentuh langit, kabut dingin yang tebal dan bisa ditembus oleh pandangan dengan jarak pandang tidak lebih dari lima meter, dan juga sesekali hewan liar yang berlarian lepas dari dalam hutan yang membuat terkejut. Neha tidak yakin mengambil keputusan mengemudi yang mungkin akan berakibat fatal untuk ia dan ayahnya.
“Ayah juga sudah membelikan ranjang baru untukmu.”
Padahal, Neha masih bisa menggunakan matras lama yang biasa ia gunakan ketika hidup di rumah lamanya dulu. Tapi ayahnya begitu perhatian. Dia tidak ingin Neha merasa tidak nyaman ditempat baru, yang mungkin lebih tepat disebut tidak baru.
“Kamu akan menyukai suasana rumah baru kita, sayang. Percayakan semuanya pada ayah.”
Neha yang semula hanya diam, kini mengangguk. Lantas kembali menatap lurus kedepan, kearah bentangan alam yang terlihat semakin gelap.
***
Malam hari di tempat ini terasa sunyi. Suara derik hewan dari arah hutan juga berefek menenangkan dan membuat takut secara bersamaan. Disana, disatu titik tengah hutan yang gelap, ada sebuah cahaya bulan yang menyorot. Neha merogoh ponsel, berniat memotret dan mengirimnya pada Talia, sahabatnya. Namun, sebuah pemandangan ganjil justru tertangkap mata Neha sebelum berhasil mengabadikan momen Beauty Moonlight yang menyita seluruh atensinya.
Seperti sesuatu yang sedang melayang, berjubah hitam dan menggenggam sesuatu seperti tongkat yang menyala merah membentuk bulan sabit di ujungnya.
Neha terkejut bukan main ketika sosok itu menangkap basah dirinya yang sedang melihat hal tersebut. Ponsel Neha terjun bebas ke lantai ketika manik mereka bertemu. Dan dengan gerakan cepat, Neha menarik tirai dan menuju ranjang, lalu menutup sekujur tubuhnya dengan selimut.
Perasaan takut begitu menguasai pribadi berwajah cantik dan bermata indah itu tanpa izin. Seluruh tubuhnya seperti menggigil kedinginan dan bergetar ketakutan. Ya, Neha sedang ketakutan dan tidak ada orang yang bisa ia mintai pertolongan. Ayahnya sedang bekerja shift malam, dan ia tinggal seorang diri di bangunan tua yang sempat tidak dihuni selama sepuluh tahun.
“Apa itu?” bisiknya pelan kepada dirinya sendiri. Dia tidak menyangka jika efek dari rasa takutnya sekarang berubah menjadi rasa dingin yang menusuk hingga tulang.
“Aku? Aku adalah pemilik benang jiwamu.”
Seketika itu, Neha seperti membeku. Dia terdiam tanpa pergerakan apapun setelah mendengar suara seperti bisikan ditelinganya. Suara Husky dan dalam. Namun mengundang rasa penasaran dalam benak Neha.
Perlahan, ia menurunkan selimut. Mencoba melihat sekitar dan ingin tau apa suara yang ia dengar baru saja hanya sebuah ilusi atau nyata.
Tidak. Itu semua nyata. Neha bisa melihat sosok yang tadi berada di tengah hutan dan melayang itu kini berada didalam kamarnya. Remang dalam tubuhnya semakin membuat darahnya mengalir deras. Nafasnya memburu seolah berlari ribuan kilo, dan kakinya tidak bisa berkutik seperti kehilangan pasokan energi.
“Si-siapa kamu?” tanyanya, dengan suara bergetar dan tubuh yang semakin ia tarik mundur dan membentur tembok.
Sosok berambut sebahu yang diikat disatu titik belakang kepala, sepasang mata elang berwarna emas yang sangatlah indah, alis tebal, hidung mancung, bibir berisi, dan bahkan Neha bisa melihat kulit milik sosok berjenis laki-laki itu sangat pucat meskipun tertutup jubah besar dan bertudung. Dan jangan lupakan, sebuah tongkat bergagang hitam, memiliki rantai menggantung dibawah sikle berbentuk bulan sabit yang kini justru terlihat berkilat, tidak lagi menyala merah seperti bara api.
“Sudah aku katakan, aku adalah pemilik benang jiwamu. Dan aku adalah bagian dari dirimu.”
Gila.
Katakan semuanya itu hanya halusinasi, atau mimpi. Mimpi buruk yang akan hilang setelah mata terbuka.
“A-apa maksudmu?”
Mendengar pertanyaan itu, sosok itu berjalan mendekat. Dari tempatnya meringkuk, Neha tidak bisa memastikan apakah kaki laki-laki itu menapak pada lantai atau tidak, karena jubah yang digunakan terlalu besar hingga menyapu lantai.
“Kamu adalah Soul, dan aku adalah Mate. Kita satu, dan tidak akan bisa berpisah sampai benang yang berada dalam genggamanku putus.”
”Benang? Putus? Sebenarnya apa yang sedang makhluk ini bicarakan?” batin Neha. Dia tidak mengerti maksud dari ucapan sosok laki-laki yang kini menaikkan tudung keatas kepalanya hingga warna cerah seindah bulan purnama muncul dari pupil matanya.
“Aku tidak mengerti.” tegas Neha, lalu mengambil nafas dalam dan kembali berkata, “Jangan ganggu aku. Pergi dan tinggalkan aku sekarang. Kau membuatku ketakutan.”
Sosok itu tersenyum lembut dan terasa teduh. Lantas dia memangkas jaraknya untuk Neha dengan cara mencondongkan tubuh dan wajah mereka berhadapan langsung.
Aroma segar yang belum pernah Neha temukan di manapun menguar dari sosok ini dan menyapa penghirupnya. Neha mengerjap cepat kala manik seindah siraman cahaya bulan yang dimiliki sosok ini menyorotnya penuh.
“Kamu tidak perlu takut,” ucapan sosok itu sengaja dijeda, kemudian hal selanjutnya yang semakin membuat Neha bergetar dalam debaran jantungnya sendiri adalah, sebuah kecupan singkat yang mendarat dibibirnya. “Panggil aku Resmyro. Dan mulai dari sekarang, kamu adalah milikku, Nehara.”
—Tamat—
Beri dukungan ♥️ yang banyak jika kalian suka.
Jangan lupa juga mampir di lapak Vi's dan baca-baca novel gratis yang tidak kalah seru disana.
terima kasih.
See you...