Pacarku Bukan Manusia,
Sekelebat bayangan melintas dari arah samping Dara yang sedang berjalan menyusuri jalan menuju rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Dara baru saja pulang dari bekerja.
Dara mempercepat langkahnya karena takut pada bayangan yang terus berkelebatan.
"Akh!" Dara memekik saat seseorang menangkapnya dari arah belakang.
"Jangan berteriak, atau aku akan menghabisimu!" Ancam seseorang yang tidak terlihat wajahnya. Dia memakai masker dan topi.
"Siapa kamu?" tanya Dara dengan suara gemetar.
"Aku adalah orang yang akan membuatmu tidur selamanya," jawab orang itu.
Cling ... terlihat sinar menerpa gigi runcing orang itu, dua taring yang panjang dan menyeramkan.
"Kau!" Seru Dara yang tidak percaya, di jaman modern seperti ini masih ada makhluk yang pernah menjadi cerita di jaman dulu. Yah, benar, dia adalah seorang vampir.
Aaauuuu ... laki-laki itu membuat suara yang bikin bulu kuduk merinding. Dia mulai mendekatkan wajahnya ke leher Dara.
"Toloong!!" Dara mencoba berteriak, siapa tahu saja ada yang mendengar teriakannya.
Wushh ... Sesosok bayangan datang menghampiri Dara dan menolong Dara.
"Siapa kau? Berani-beraninya kau mengganggu kesenanganku." Teriak sang Vampir.
"Dia kekasihku," jawab pria bayangan.
Hiyaaa .... Mereka pun bertarung dengan sangat dahsyat. Dara sudah terjatuh ke tanah dan pingsan.
Beberapa saat kemudian,
Dara membuka matanya dengan perlahan, dia menyipitkan matanya yang silau karena terkena sinar lampu.
"Kamu sudah sadar?" tanya pria tampan yang sedang duduk di samping kasur Dara.
Dara mendudukkan tubuhnya di tepi kasur.
"Aku tidak tahu di mana rumahmu, jadi aku terpaksa membawamu kemari." Tambah pria tampan itu.
"Kamu siapa?" tanya Dara.
"Namaku, Morgan." Pria berwajah tampan itu menatap tajam ke arah Dara.
"Terima kasih karena sudah menolongku. Aku harus pulang," ujar Dara lalu turun dari kasurnya.
Morgan bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Dara.
"Ini masih terlalu larut untuk kamu pulang. Tinggalah di sini sampai besok pagi!" Dara seakan terhipnotis oleh ucapan yang ke luar dari mulut Morgan. Dia hanya mengangguk patuh tanpa protes.
Morgan terus menatap mata Dara dan gadis itu pun membalasnya.
Cup ... Morgan mencium bibir Dara sekilas.
"Mulai malam ini, kamu adalah kekasihku. Apa kau mengerti?" Pertanyaan Morgan dijawab anggukan kepala oleh Dara.
"Gadis pintar," puji Morgan sambil tersenyum.
Malam panjang pun mereka lalui berdua, dan setelah malam itu mereka pun sering bertemu dan hubungan mereka semakin dekat.
Beberapa minggu kemudian,
Seperti pesan Morgan pada Dara, dia tidak boleh pulang dari tempat kerjanya sebelum Morgan datang menjemputnya.
Sebuah mobil terparkir tepat di hadapan Dara. Kaca mobil terbuka dan Morgan menyembulkan kepalanya ke arah luar.
"Butuh tumpangan, Nona?" tanya Morgan sambil tersenyum.
"Ah kamu, aku pikir siapa," ujar Dara sembari tersenyum.
"Ayo naik!" Morgan turun dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
Morgan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia mengarahkan mobilnya ke arah taman yang ada di kota itu.
"Sayang, kita mau ke mana?" tanya Dara.
"Kita duduk santai sebentar ya, aku merindukanmu." Jawab Morgan lalu memarkirkan mobilnya.
"Di sini sangat sepi, bagaimana kalo vampir itu datang dan menyerang kita?" Dara terlihat ketakutan, dia sangat trauma sejak kejadian malam itu.
"Ada aku, kenapa harus takut? Aku akan menjagamu dengan nyawaku." Morgan mencoba membuat Dara merasa nyaman.
Mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam taman yang sepi, hanya ada beberapa pasangan muda-mudi yang sedang dimabuk cinta.
Morgan membawa Dara menjauh dari pandangan orang-orang di sekitarnya. Sebuah kursi panjang yang berada di bawah pohon rindang menjadi pilihan Morgan untuk mereka duduk.
"Awh!" pekik Dara, tiba-tiba saja jari tangannya terkena sesuatu dan berdarah.
"Ahhhh, hemmmm." Morgan memejamkan matanya dan menggerakkan kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Dara yang bingung melihat sikap Morgan yang menurutnya aneh. Dia terlihat seperti orang yang sedang mencium aroma makanan favorit.
"Sshhh," desis Dara saat Morgan menghisap darah yang mengalir di jarinya.
"Kau!" Dara terkejut saat melihat taring yang panjang di mulut Morgan.
Morgan jadi salah tingkah saat identitas aslinya diketahui oleh sang kekasih.
"Iya sayang, aku seorang vampir. Tapi, aku bukan vampir yang jahat. Dan yang paling penting, aku sangat mencintaimu." Morgan takut jika Dara akan meninggalkannya.
"Aku berpacaran dengan seorang vampir?" Dara menggelengkan kepalanya tidak percaya.
Dia beranjak dari duduknya dan hendak meninggalkan Morgan, tapi lelaki itu menahan tangannya.
"Sayang, aku mohon. Aku ingin menjadi manusia normal, andai aku bisa. Tapi, aku tidak bisa sayang, aku tidak bisa." Morgan bersimpuh di kaki Dara, memohon agar gadis itu tidak memutuskan hubungan dengannya.
"Kita tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Morgan. Kita beda alam!" Dara memberi penegasan.
Morgan berdiri lalu menarik tengkuk Dara dan langsung menyesap bibir Dara. Awalnya gadis itu memberontak untuk menolak, tapi Morgan bisa membuatnya terbuai oleh permainan lidahnya.
"Hanya kamu yang bisa menerima aku di sini, aku tidak punya siapa-siapa lagi. Aku sudah di usir dari kelompokku karena aku lebih memilihmu." Tutur Morgan.
"Antar aku pulang," pinta Dara dengan tetesan air mata di pipinya.
Morgan memeluk Dara, dan hanya dalam satu kedipan mata mereka sudah berada di mobil. Morgan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Dara.
Seminggu berlalu,
Dara terus menghindar dari Morgan. Tapi, Morgan tetap berusaha menemui dan mencoba meyakinkan Dara jika dia benar-benar cinta padanya.
Malam harinya,
Tok
Tok
Tok
Bunyi ketukan di jendela kamar Dara.
"Siapa?" tanya Dara dengan suara pelan.
"Sayang buka dong jendelanya, aku kangen banget sama kamu." Ternyata Morgan yang mengetuk jendela.
Dara bimbang, dia tidak ingin bertemu dengan Morgan, tapi dia juga sangat merindukan kekasihnya itu.
"Pergi! Aku nggak mau lagi ketemu sama kamu." Seru Dara.
"Baiklah kalau kamu tidak mau bertemu aku lagi, aku bisa terima. Tapi, aku mohon ke luar sebentar, aku ingin melihatmu untuk terakhir kalinya." pinta Morgan.
"Apa maksud kamu?" tanya Dara, dia berdiri tepat di dekat jendela.
Sepi, tidak ada jawaban. Yang terdengar hanya keributan seperti suara orang sedang bertarung.
Dara mengintip lewat celah tirai, dia melihat Morgan sedang bertarung dengan seseorang yang memakai jubah berwarna hitam.
Dara membungkam mulutnya menggunakan kedua telapak tangannya saat melihat Morgan kalah dari lawannya.
Morgan tergeletak dengan tangan yang terjulur ke arah jendela kamarnya.
"Morgan!" Dara membuka jendela kamarnya dan tanpa sadar melompat ke luar jendela lalu berlari ke arah Morgan.
"Dara, jangan men-de-kat." Suara Morgan terbata-bata.
"Aku mencintaimu, tidak peduli kamu vampir atau bukan. Aku tetap mencintaimu." Teriak Dara.
Morgan bangkit lalu berjalan dengan langkah yang terseok-seok ke arah Dara.
"Benarkah apa yang kamu katakan?" tanya Morgan.
"Aku mencintaimu Morgan sang Vampir tampanku," ucap Dara sambil tersenyum.
"Aku juga mencintaimu," balas Morgan yang langsung memeluk tubuh sang kekasih.
Sejak kejadian malam itu, hubungan mereka semakin dekat. Dara sudah tidak mempermasalahkan siapa kekasihnya itu. Karena Morgan ingin berubah menjadi vampir baik, Dara meminta Morgan untuk tidak menghisap darah manusia lagi. Setiap hari Dara membeli burung, ayam, atau apa saja yang bisa dihisap darahnya oleh Morgan.
Dara juga mulai memperkenalkan makanan yang biasa dimakan oleh manusia. Dara berharap kekasihnya bisa berubah total, meskipun itu hal yang sangat mustahil.