"Mas, besok kamu libur kan? Kita jadi kan ke tempat ibu! sudah lama kita gak jenguk ibu." Aku memperingatkan Mas Angga bahwa besok adalah kunjungan ke rumah ibunya di puncak. Karena kami sudah lama tak pergi kesana. Lagipula Mas Angga juga sudah janji.
"Aduh, maaf sayang, Mas besok ada janji sama orang. Mas lupa kalau ada janji sama kamu dan Raisa. Maunya juga Mas batalkan saja meetingnya, tapi gak bisa sayang. Ini klien penting soalnya. Nanti Mas gak enak kalau tiba-tiba membatalkan janji." Panjang lebar ia menjelaskan padaku. Sudah ku duga, pasti ia akan ingkar janji lagi pada kami.
"Yah ... sayang sekali ya, Mas. Padahal aku sudah kangen banget sama ibu."
Aku memang sangat dekat dengan ibu mertuaku. Beliau sudah ku anggap seperti ibuku sendiri. Karena ibuku sudah lama meninggal dunia, dari aku masih sekolah SMP. Sedangkan Ayahku menikah lagi dan tinggal bersama istri barunya. Ibu mertuaku juga sangat menyayangi kami. Dia juga sudah menganggap aku sebagai putrinya.
Dulu, aku menerima Mas Angga karena melihat ada ketulusan dari ibunya. Benar saja beliau adalah orang yang sangat baik.
"Iya, Mas ngerti. Lain kali deh kalau Mas ada waktu, kita kesana lagi, ya." Ujarnya.
Padahal sudah dua bulan kami tidak mengunjungi ibu. Beliau juga sudah kangen katanya mau ketemu sama aku dan cucunya, Raisa.
Aku tak tahu, kenapa sekarang Mas Angga sibuk terus. Biasanya kami akan pergi seminggu atau dua minggu sekali ke rumah ibu. Tapi kali ini Mas Angga sibuk terus.
Aku jadi curiga sama Mas Angga, kok setiap kali ku ajak liburan ataupun ke rumah ibunya, ia akan beralasan menemui klien.
❤❤❤
Sampai pada esok harinya, ku lihat Mas Angga sudah berpakaian rapi. Kemeja kotak-kotak dan celana jeans memang sangat pas di badannya yang tinggi dan atletis.
"Ayah, Ayah mau kemana? Katanya hari ini Ayah libur. Kita ke rumah Nenek yuk, Yah. Raisa sudah kangen nih sama Nenek." Ujar anakku saat kami sedang sarapan. Sedangkan ayahnya terlihat buru-buru mau pergi.
"Maaf ya, anak Ayah. Hari ini kita batal dulu ya perginya. Nanti deh minggu depan kita ke rumah Nenek,"
"Ya... Ayah, selalu ingkar janji terus." Raisa mulai ngambek dan melipat kedua tanggannya di perut.
"Sudah ya, sayang. Nanti Ayah telat loh. Kamu sarapan yang banyak, ya." Ujarnya lalu mencium pipi gembil Raisa.
Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Kasihan Raisa, kena php ayahnya terus. Walaupun Raisa baru berumur lima tahun, dia sudah bisa mengeluhkan sikap ayahnya kepadaku.
"Mas, apa kamu gak sarapan dulu?" Ujarku.
"Gak, Mas buru-buru nih," Mas Angga lalu mencium keningku. Walaupun akhir-akhir ini Mas Angga berubah, tapi ia selalu tak lupa kebiasaannya itu.
Ya, akhir-akhir ini Mas Angga memang banyak berubah. Dia suka senyum-senyum sendiri kalau melihat handphonenya. Setiap ku tanya bilangnya dia senyum karena melihat video lucu di hpnya. Padahal aku tahu, ia tak sedang menonton video.
❤❤❤
[Sekarang Pak Angga lagi menuju ke sebuah mall, Bu. Nanti akan saya kabari lagi perkembangannya.]
Begitu pesan masuk dari orang suruhanku, Siska. Dia adalah orang yang ku bayar untuk mengikuti Mas Angga.
[Baik, terus kamu awasi dia] Balasku.
Setelah beberapa menit, ada pesan baru lagi dari Siska. Kali ini sebuah video yang memperlihatkan Mas Angga dan Chika, mantan istrinya, mereka lagi cipika-cipiki dan duduk di sebuah restoran di mall itu. Aku menyuruh Siska untuk tetap mengawasi mereka dari kejauhan.
Ya, Mas Angga adalah seorang duda tanpa anak sebelum menikah denganku. Dulu ia berpisah dengan Chika karena Chika selingkuh dengan lelaki lain.
Ternyata benar dugaanku selama ini, Mas Angga sudah membohongi kami. Tega-teganya ia bermain api di belakangku.
Hampir satu jam aku menunggu, akhirnya ada lagi pesan foto dan video masuk dari Siska. Terlihat Mas Angga dan Chika sedang menuju ke sebuah hotel.
"Kali ini sudah keterlaluan, Awas saja nanti kamu, Mas. Akan ku buat kamu menyesal karena sudah menyakitiku."
-------
Malam harinya, Mas Angga pulang dengan wajah yang berseri-seri. Aku sudah bersiap-siap menyambut kedatangannya di rumah dengan tas besar berisi pakaian miliknya.
Begitu ia masuk, ia nampak terkejut melihatku sedang duduk di ruang tamu dalam keadaan gelap dan aku memakai baju putih. Sengaja tak ku kunci pintunya supaya ia langsung masuk saja.
Ku sambut kedatangannya dengan tepuk tangan. Kini ia sudah menyalakan lampu kembali.
"Apa-apaan ini, Dian? Kamu mau kemana malam-malam begini?" Tampak keningnya berkerut melihat tas besar disampingku. Dia pikir, akulah yang akan pergi dari rumah ini.
"Kamu salah, Mas! kamulah yang pergi dari rumah ini. Aku tak mau memelihara orang yang sudah berkhianat seperti kamu."
"Maksud kamu apa, sayang? Aku tak mengerti, kamu jangan sembarangan menuduhku." Enak saja menuduh katanya.
Tanpa banyak bicara, aku langsung menunjukkan bukti perselingkuhannya. Mulutnya ternganga dan matanya melotot.
"Aku bisa jelaskan, sayang. Ini semua tidak seperti yang kamu kira." Ujarnya mencoba mendekat kepadaku.
Dengan sigap orang-orang suruhanku menangkap dan membawanya keluar dari rumah ini.
Ya, dari tadi mereka bersembunyi di kamar utama.
"Sayang, tolong, Mas! Mas janji gak akan begitu lagi. Dia yang menggodaku selama ini." Terdengar teriakan Mas Angga dari luar.
"Pergilah, Mas! jangan pernah kamu menemui kami lagi. Tunggu saja surat cerai dari pengadilan."
Kemudian aku menutup pintu itu rapat-rapat. Untung saja Raisa sudah tidur pulas di kamar tadi. Biarlah nanti suatu saat dia akan mengerti sendiri bahwa ayahnya seorang pengkhianat.
Setelah lama menungguku, akhirnya Mas Angga pergi juga. Mungkin dia tak tahan, karena banyak nyamuk di luar sana.
Malam ini rencananya aku dan anakku akan menginap di rumah seseorang. Rencananya rumah ini akan ku jual, karena rumah ini semua atas namaku. Perusahaan tempat Mas Angga bekerja juga adalah milik ayahku.
Mas Angga selama ini hanya numpang bekerja saja pada perusahaan ayah. Sebenarnya akulah yang kaya, Mas Angga hanya lah orang miskin tapi bertingkah seperti punya banyak duit. Mungkin itulah yang membuat mantan istrinya menggoda Mas Angga lagi.
Biarlah dia kembali bersama mantan istrinya itu. Aku juga akan bahagia bersama selingkuhanku.