setelah di tinggalkan pacar ku, aku menjadi bos nya.
tiga tahun lalu Nina menjalin hubungan dengan seorang pria, dan entah karena apa pria itu meninggalkannya begitu saja tanpa alasan.
flash back
pagi itu seperti biasa Nina menjalani rutinitas di sebuah pabrik spare part motor sebagai tenaga borongan produksi.
di pabrik itu juga ia menjalin sebuah hubungan dengan teman satu profesinya dia adalah adji. hubungan mereka baik-baik saja tidak ada yang tidak suka dengan hubungan mereka semua teman satu pabrik menyukai hubungan mereka berdua.
hingga tiba satu hari adji bersikap aneh pada Nina,Adji seperti menghindar dari Nina.
Nina pun cemas dengan hubungannya hingga ia menceritakan hal ini kepada Wawa sahabat nya di pabrik.
"Wa... ko akhir-akhir ini sikap Adji aga aneh ya?"Nina bercerita dengan wajah sedikit muram.
Wawa yang memang sudah tau perasaan sahabatnya berusaha menenangkannya.
Wawa menepuk bahu sahabatnya dan berkata.
"aneh gimana Nin?"
"aneh Wa..."mimik wajah nina polos"dia kaya ngindarin aku gitu"kali ini terlihat sedih.
"kamu sudah coba bicara belum sama dia"kata Wawa
"belum"masih dengan wajah polosnya.
"hadeuh..."kata Wawa sambil menggaruk kepalanya"coba kamu bicara sama dia nanti sepulang dari pabrik"saran Wawa.
"aku malu dan takut Wa..."
"malu?takut?kenapa? kan dia pacar mu sendiri bukan pacar orang lain Nina..."Wawa tak habis fikir dengan sahabatnya itu.
"kamu bisa ga nanti temani aku bicara sama dia?"
"ya nanti aku temani"Wawa hanya mengiyakan sahabtnya agar pembicaraan mereka cepat selesai karena supervisor mereka melihat kearah mereka terus.
sepulang bekerja Nina dan Wawa menunggu Adji di pintu luar pabrik.Nina terlihat celingungkan kedalam pabrik dan yang ia tunggu akhirnya muncul juga,tapi Adji tidak menghampiri Nina dia malah menghampiri Iwan dan berboncengan motor dengannya.
Adji melihat Nina menunggu di depan gerbang tapi tak menghiraukannya,Iwan sempat menghentikan motornya di depan gerbang tapi Adji menepuk punggung Iwan mengisyaratkan untuk lanjut berjalan,Adji sama sekali tak menghiraukan Nina yang berdiri menatapnya dengan air muka sedih.
setelah kejadian itu Adji tak pernah menampakan diri di pabrik ia tak lagi bekerja bersama.
semua teman satu pabrik bertanya perihal menghilangnya Adji pada Nina ia pun bingung harus menjawab pertanyaan teman-temannya.hingga ia pun memutuskan untuk keluar pabrik juga dan bekerja di tempat lain yang penghasilannya lebih besar.
***
"bu hari ini ada supir baru "kata asisten Nina.
"oh... kamu sudah dapat orangnya?"kata Nina sambil melihat laptop nya.Dalam tiga tahun ia bekerja keras agar sukses dan itu pun akhirnya terbukti berkat kerja keras dan bakatnya akirnya ia bisa mendirikan usaha mandiri.
"apa orangnya sudah datang?"tanya Nina masih dengan menatap layar laptopnya.
"sudah bu apa ibu mau melihat cv nya dulu?"tanya asistennya.
"tidak usah saya percaya pilihan kamu"masih menatap layar lap topnya.
"saya bawa menghadap ibu ya bu"kata asistennya Nina pun hanya mengangguk dan asisten pun meninggalkan ruang kerjanya.
Nina masih sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba ada suara ketukan pintu.
"ya masuk"Nina memberi arahan untuk masuk.
asisten Nina pun masuk bersama seorang pria,tapi Nina masih sibuk dengan pekerjaannya di depan laptopnya.
"bu ini supir ibu yang baru"asisten memperkenalkan Nina kepada supirnya yang baru.
"oh... ya maaf saya dari tadi ga merhatiin kamu"Nina akhirnya menurunkan layar laptopnya."mana orangnya?"tanya Nina pada asistennya.
"ini bu"asisten itu menunjukan orang yang ada di bekang tubuhnya.
dan tiba-tiba matanya terbuka lebar melihat orang yang sekarang ada di hadapannya.
"Dinda maaf bisa kamu bilang sama dia untuk tunggu di luar ruangan dulu"kata Nina tergesa dan langsung memunggungi mereka.
"oh...iya bu"Dinda sang asisten pun menyuruh orang itu menunggu di luar ruangan.
"Din...bisa kamu perlihatkan cv orang itu?"kata Nina.
"ya bu kebetulan saya bawa"Dinda menyodorkan amplop coklat besar pada Nina.
Nina pun melihat cv orang tersebut dan kali ini dia benar-benar tidak bisa menhendalikan dirinya tangannya gemetar dan menjatuhkan cv yang dipegangnya ke lantai.Dinda yang melihat itu sektika panik.
"bu ibu kenapa?sakit?"tanyanya setengah berteriak.
"gak Din aku gak apa-apa"Nina berusaha menutupi perasaanya di hadapan Dinda.
"Adji..."dalam hatinya
"biarkan orang itu masuk,saya mau interview lagi Din"Nina sudah sedikit tenang.
saat Dinda membawa Adji masuk keruangannya,Nina meminta untuk di tinggalkan berdua saja dengan Adji. Dinda pun menuruti perintah atasannya.walau dia masih bingung dengan tingkah bos nya hari ini.
Adji masih berdiri terdiam di hadapan Nina,begitupun Nina dia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun pada Adji,perasaannya tidak karuan senang,sedih,kesal dan marah semuanya bercampur menjadi satu.tapi dia berusaha profesional.
"silahkan duduk"Nina baru bicara setelah beberapa menit terdiam.
Adji pun duduk di hadapannya.
"kamu yakin dengan pekerjaan mu sekarang?" tanya Nina.
"ya bu"jawab Adji singkat.
"apa kamu sanggup mengantar saya kemana saja dengan tepat waktu?"Nina mulai agak sombong.
"iya bu"jawab Adji.
"baiklah sekarang kita berangkat meeting"Nina langsung berdiri membawa laptopnya dan meninggalkan ruangannya bersama dengan Adji.
Nina pergi meeting bersama asistennya dan selama di dalam mobil Nina hanya terdiam yang banyak bicara dan memberikan arahan kemana mereka pergi adalah Dinda.
satu bulan berlalu.
sudah satu bulan Adji menjadi supir pribadi Nina tapi selama satu bulan itu Nina tidak pernah berbicara dengannya hanya Dinda saja begitu pun Adji dia tidak berani berbicara pada Nina.
Adji tau Nina marah padanya mangkanya dia tak pernah mau berbicara padanya.dia menyadari kesalahannya tiga tahun lalu di pabrik.
malam ini Nina masih meeting dengan rekan bisnisnya di sebuah restoran di hotel bintang lima.Adji masih setia menunggunya di lobi hotel.tiba-tina ada yang memanggilnya ketika dia sedang melamun menatap lampu-lampu di luar jendela.
"Dji...adji..."sapa orang itu mendekati Adji.
Adji pun menoleh kearah panggilan orang tersebut.
ia tersenyum lebar pada teman lamanya.
"Iwan...apa kabar bro..."katanya sambil mengulurkan tangan dan berjabat tangan.
Adji pun bercerita banyak pada Iwan tentang kepergiannya dan profesinya sekarang seperti apa.
"jadi lu sebenernya punya bisnis sendiri sekarang?"tanya Iwan dan Adji hanya mengangguk saja.
"lah terus sekarang kenapa lu mau jadi supirnya Nina?"tanya Iwan heran.
"jangan bilang untuk menebus kesalahan di masa lalu haha"Iwan tertawa lepas.
dan Adji pun hanya tersenyum.sebenarnya Adji pun seorang pengusaha yang cukup sukses dalam sebulan ini usahanya di percayakan pada adiknya karena dia ingin menyelesaikan masalah di masa lalunya.
ketika mereka sedang asik bicara ponsel Adji berdering melihat panggilan masuk dari Dinda asisten Nina.
mereka pun menyudahi pembicaraan.
"eh...tapi lu ngomong-ngomong ngapain ke hotel malam-malam begini?"tanya Adji pada Iwan.
"mau jemput tunangan gue dia lagi ada kerja sama bos nya disini"kata Iwan.
tak lama Dinda dan Nina pun tiba di lobi hotel. Adji pamit untuk mengambil mobil di parkiran.
Nina dan Iwan pun sempat berbincang sedikit,dan ketika mobil yang di kendarai Adji sudah muncul di hadapan mereka Adji pun membukakan pintu untuk Nina dan Dinda,tapi kali ini hanya Nina yang masuk kedalam mobil dan Dinda pergi bersama Iwan.
melihat itu Adji menjadi bingung.
"apa tunangannya Iwan itu Dinda?"tanya Adji pada Nina tiba-tiba.
"ya"jawab Nina singkat sambil melihat kearah luar jendela mobilnya.
Adji menatapnya dari kaca spion mobilnya menatap orang yang ia kasihi tapi dengan teganya ia campakan begitu saja.
"kita langsung pulang bu?"tanya Adji.
Nina terdiam sejenak dan hanya menganggukan kepalanya saja.
ditengah perjalanan Nina memasang headset di telinganya entah apa yang di dengarnya,tiba-tiba air matanya meleleh ia berusaha mengusap air yang menetes di ujung pelupuk matanya.
Adji yang melihat itu menepikan mobilnya dan menoleh ke arah Nina.
"anda baik-baik saja bu?"tanyanya ragu.
Nina mengangguk
"tolong bawa aku ke suatu tempat kamu mau?"tanya Nina tersedu dan menunduk tak menatap pada Adji.
"baiklah bu"Adji pun melajukan mobilnya kembali.
ia membawa Nina ke suatu tempat yang di arahkan oleh Nina.
mereka pun akhirnya berhenti di depan sebuah pabrik tua.Adji bingung kenapa Nina ingin datang ketempat mereka dulu pernah bekerja.
Nina turun dari mobil dan Adji pun mengikutinya dari belakang. tiba tiba Nina menheluarkan ponselnya dan menyalakan speaker nya hingga apa yang di dengar Nina terdengar juga oleh Adji.
Adji syok karena yang di dengarnya adalah percakapannya dengan Iwan tadi saat di hotel.yernyata Iwan merekam percakapan mereka dan mengirimnya pada Nina.
"bisa kamu jelaskan maksud mu ini?"kata Nina getir.
"maaf kan aku Neng" Adji tertunduk tak berani menatap Nina.karena ia menyebutkan panggilan sayang nya sewaktu mereka masih bersama.
"kamu tau betapa hancurnya hati ku saat kau pergi begitu saja?"Nina mulai meledak.
"aku tau Neng...aku tau cara ku salah"tatap Adji tajam pada Nina.
"kau fikir aku tidak bisa menunggu?"Nina masih meledak"kau fikir aku ini apa kang....?"air mata mulai membasahi pipi Nina
akang adalah panggilan sayang Nina pada Adji dan sekarang itu terlontar lagi dari bibirnya.
"maaf kan akang neng akang mencoba sukses dulu baru kembali sama eneng,akang ga ninggalin neng begitu ajah akang nitipin neng sama temen-temen akang buat jagain eneng"Adji mencoba menjelaskan pada Nina agar dia tenang.
"maafin akang neng Sekarang terserah eneng mau gimana akang mah pasrah" Adji pasrah dengan keputusan yang akan di ambil Nina.
"akang kan sudah sukses sebenernya sekarang apa akang akan ninggalin neng lagi nantinya?"Nina masih menangis tapi sudah agak tenang.
"ga neng justru akang mau nemuin kamu sekarang ini untuk ketemu sama orang tua kamu"
"cuma akang tuh nunggu kamu ga marah dulu sama akang"
"jadi itu semua alasan akang selama ini?"
"ya maafin akang pergi tanpa alasan tempo hari,tapi di balik itu semua ada alasan yang lebih penting yaitu alasan untuk menjadikan neng kekasih halal akang"
Adji pun memberanikan diri memegang bahu Nina
"neng mau kan jadi kekasih halal akang?"adji menatap serius Nina dan Nina pun menangguk.
karena di balik semuanya alasan yang sebenarnya adalah hati tak bisa berdusta bila masih ada cinta di antara dua anak manusia ini.
Tamat