_Anda bisa mengutuk kegelapan atau menyalakan lilin. Pilihan ada padamu_
Raka memandang ke luar jendela kamar. Pandangannya terhenti saat menemukan seorang gadis dengan memakai gaun putih seperti abad pertengahan pada era Victoria yang sedikit kusam, sedang duduk sendiri di bangku belakang rumahnya.
"Eh ada cewek. Ngapain malam-malam begini malah main diluar?" gumamnya.
"Samperin ah.. "
Raka langsung melesat menuju taman belakang rumahnya. Dasar jomblo akut, baru liat cewek sendirian saja jiwa kejombloannya langsung bergejolak.
Saat Raka semakin dekat dengan gadis itu, tiba-tiba hawa dingin merasuk ke dalam kulitnya. Bau melati pun mulai menyeruak ke dalam hidung.
"Mau hujan kali ya, " lirihnya.
"Permisi... Kok sendirian aja mbak? Mau hujan hlo , " ujar Raka membuka percakapan.
Yang diajak bicara pun menoleh.
Mulut Raka langsung ternganga saat memandangi wajah cantik, mulus, putih namun pucat milik gadis itu. Sangat ketara jika ia bukan warga komplek sini. Bahkan ia lebih mirip orang bule.
"Mampir ke rumah yuk? Disini dingin," ajak Raka yang tubuhnya mulai menggigil. Entah karena auranya yang aneh atau memang udaranya yang kelewat dingin.
Gadis itu mengangguk lalu berdiri. Raka baru menyadari sesuatu. Ternyata gadis itu memegangi sebuah lilin yang ditaruh di atas tatakan. Raka jadi teringat figur bayangan yang melesat ketika listrik padam tempo hari.
'Mungkinkah dia yang terbang dengan membawa lilin itu? ' batinnya bertanya-tanya.
Raka buru-buru membuang pikiran mistis-nya. Mana mungkin ada hantu secantik ini? Bahkan hantu yang ia temui tempo hari mukanya sudah tidak berbentuk.
Gadis itu mengekori Raka dari belakang tanpa mengucap sepatah kata pun.
"Silahkan duduk, mbak. Mau minum apa?" tawar Raka.
Gadis itu menggeleng.
"Oh, enggak haus ya. Namamu siapa kalau boleh tau? "
Gadis itu diam sejenak dengan ekspresi dingin.
"Raka, kamu lagi ngobrol sama siapa? " tanya Dina, mama Raka yang tiba-tiba datang dari arah belakang.
"Eh, mama! Bikin jantung aja. Kalo mau muncul itu pake aba-aba dong. Jangan kek setan, " omel Raka sambil memegangi dadanya.
"Hus, kalo ngomong suka sembarangan. Kamu ngapain ngomong sendiri? Udah kurang waras? "
"Si mama ni kalo ngomong suka bener. Ehh, enggak ding. Ini hlo ma, ada tamu. Dia tadi duduk di taman belakang rumah sendirian. Kan kasihan. Mana mau ujan," jelas Raka yang disambut kernyitan di dahi oleh mama Dina.
"Mana? Kok mama gak liat siapa-siapa? " Mama Dina celingukan mencari tamu yang dimaksud anak sulungnya.
"Lah?! Masa mama gak liat dia duduk di sofa depan aku?"
Raka melongo. Suhu ruangan tiba-tiba berubah drastis. Dingin menusuk. Membuat bulu kuduk berdiri. Nafasnya pun tiba-tiba saja menjadi sesak.
" Tau ah, anak mama aneh. Cepetan tidur, udah malem ini. Besok kerja kan? " tanya mama Dina.
Tak menunggu jawaban dari putranya, mama Dina pun melangkah kembali menuju kamarnya sambil geleng-geleng kepala.
Raka sebenarnya ingin menghentikan langkah mamanya. Namun untuk berteriak saja ia tak mampu. Seluruh organ tubuhnya menjadi tak sinkron dengan otaknya.
Gadis itu menatap lekat netra Raka. Lalu tersenyum menampakkan deretan gigi putihnya.
"K-k.. Ka-kamu siapa? " kalimat itu seperti sulit untuk diucapkan karena tubuh Raka yang sudah merinding disko.
"Mona."
Suara lembut gadis itu membuat hati Raka berdesir. Rasanya ia ingin membelah diri saja sekarang ini.
"Ap-apa kamu.. H-hantu? " Lagi-lagi Raka harus berusaha merangkai kata, walau itu adalah kosa kata sehari-harinya.
Mona mengangguk ala slow motion.
"Aaaaa... Mamaaaa.. !" jerit Raka.
Dengan segenap kewarasan jiwa dan raga serta dibantu dengan kekuatan bulan yang berusaha dikumpulkan, Raka berniat mengeluarkan jurus kabur andalannya. Jurus lari dari kenyataan.
Namun tangan Mona yang dingin, sedingin es di Kutub Utara sudah terlebih dahulu mencekal pergelangan tangannya.
"Aku hanya ingin berteman, " tutur Mona.
"Pait.. Pait.. Pait..." mulut Raka komat-kamit.
"Jangan ganggu gue plisss.. Plis ya mbak Kunti cantik, mulus, bohay.. " racau Raka yang masih belum berani membuka matanya.
"Aku butuh teman, " ucap Mona lagi.
"Aduh, gue belom mau mati. Mana belom nikah. Gue juga belum pernah ngerasain skidipapap.. Ampun deh mbak Kunti jangan bunuh gue," rengek Raka.
"Akh, itu.. Cakar lu kena kulit gue! " pekik Raka saat merasakan kuku Mona yang kelewat panjang tak sengaja menggores kulitnya.
"Oh maaf, " Mona melepas cengkraman tangannya.
Raka mengatur nafasnya. Ia menarik nafas pelan kemudian menghembuskannya. Menarik nafas lagi lalu menghembuskannya pelan.
"Oke, kalo lu mau jadi teman gue, jawab dulu pertanyaan gue, " tawar Raka akhirnya.
"Apa? " Mona mengerjapkan mata. Ekspresi wajahnya terlihat imut.
Namun Raka segera menggelengkan kepala. Menyadarkan hati nuraninya bahwa gadis imut di depannya adalah hantu.
"Kenapa lu ikutin gue? "
"Karena kamu sudah memadamkan lilinku. Sedangkan lilin ini adalah satu-satunya temanku. " Mona menunjukkan lilin yang ada ditangannya.
"Oh, itu kan lilin di kamar mama. Lu nyolong ya? " tuduh Raka.
"Ini milikku. " tegas Mona.
"Oke, oke, jadi lu nampakin diri ke gue cuma karena ni lilin? "
Mona mengangguk.
Raka pun mengambil korek gas yang selalu ia simpan di saku celana.
Jresss..
"Noh udah gue nyalain. Sekarang mending lu pulang. Sebelum gue pingsan. "
Mona tersenyum lebar saat melihat lilinnya kembali menyala. Hantu cantik itupun melesat menembus tembok menuju halaman belakang lalu terbang ke atas pohon.
"Dasar hantu gak modal. Kerja dong cari duit buat beli korek api," ujar Raka dengan tampang sok berani.
"Cantik sih, tapi hantu. Hiii.... " Raka mengendikkan bahunya ngeri sambil ngibrit ke kamarnya.