| Yang sudah mengikuti kisah Leah x Xavier ini dari awal, Terimakasih ya! |
.
.
"Kau tidak masuk kerja hari ini?" tanya Leah saat bangun mendapati Xavier dipunggungnya masih memeluknya erat padahal sudah lewat jam 9.
"Aku libur hari ini."
"Begitu?"
"Ya, jadi lanjutkan saja tidurnya.."
Leah menggumam lalu berbalik dan memeluknya. Xavier tersenyum, dia merapatkan tubuhnya lalu menyisir rambut panjang cokelat terang milik Leah dengan tangannya.
"Aku belum keramas. Jangan pegang-pegang!" mendengar itu Xavier tertawa renyah.
"Masih wangi." gumamnya di pucuk kepala Leah.
"Ya!"
"Hahaha.."
***
Ponsel Leah yang berada di meja samping ranjang berbunyi. Dia mendesah kesal lalu mengangkatnya dengan tangan berkeringat.
Leah duduk dengan rautnya kesal sambil menyisir ramputnya yang lepek karna keringat.
"Ya! kenapa kau selalu mengganggu diakhir pekan!"
"Ini hari jumat, bodoh!" jawab si penelpon.
"Oh. Ada apa?- Hk!" Leah terkesiap saat telapak tangan besar milik Xavier terlihat mengusap leher dan bahunya yang berkeringat.
Leah menatap kebawah dan protes tanpa suara.
"Wah. Kau tega sekali." ucap si penelpon.
"Kenapa lagi kau? Aku sudah mengirimkan laporan pemantauan tadi. Apa kau tidak melihatnya?!" ucap Leah kesal.
"Kau tau kalau Clare masih belum mau bicara denganku. Dan kau! beraninya kau bermesraan di depan dihidungku!"
"Jadi apa? Ya! Aku punya pacar, kenapa aku tidak bisa melakukannya?! Kalau tidak penting aku tutup!"
"Rapat."
"Sial! Di saat seperti ini?!! Kenapa selalu mendadak? Auh! Menjengkelkan sekali."
"Cepat bersiap. Aku sudah ada dilobby."
Leah melempar ponselnya di kasur lalu menghela nafas berat. "Ayo selesaikan dengan cepat."
***
Xavier ikut turun ke bawah untuk menemui si penelpon. Dia William, kakak Leah. Pria yang memiliki rambut sedikit panjang itu melambai singkat pada adiknya yang memiliki raut gelap.
"Kau tampak tidak senang." ucapnya begitu mereka berdua sudah dihadapannya.
"Aku memang selalu tidak senang melihatmu."
"Oh ayolah, princess.. Kita sudah semakin tua. Setidaknya kita harus berdamai." Willian menengok melihat Xavier lalu menyapanya kemudian merangkul. "Yakin kau tidak menyesal memilihnya? Kau lihat sendiri. Dia sangat mudah marah.." ucapnya memprovokasi.
"Kak!"