"Valir."
"Ya, Aurora? "
"Kenapa negaraku dengan negaramu saling berperang? "
"Entahlah."
"Orang dewasa selalu bertindak seenaknya."
"Mungkin kalau kita sudah dewasa kita akan tau penyebabnya. "
"Suatu hari nanti kalau aku menjadi ratu di Nostward aku tidak akan membiarkan adanya peperangan. "
"Aku juga ingin menjadi seorang raja di Westernia untuk menghentikan perang ini."
*
Nostward terletak di titik paling utara. Daerah dimana seluruh permukaannya dilapisi oleh es. Di tempat tersebut berdiri sebuah kerajaan yang dipimpin oleh raja bernama Olwen Dey. Sang raja memiliki seorang putri bernama Aurora Olwen yang terlahir dengan kemampuan dalam mengendalikan salju dan angin. Sang ratu Nostward sudah meninggal saat melahirkan putri mereka.
Westernia adalah negara bagian barat yang terdapat banyak gunung berapi. Disana berdiri kerajaan api yang dipimpin oleh raja Blaze. Pangeran Valir adalah satu-satunya putra dari raja Blaze yang memiliki bakat luar biasa dalam menguasai mantra api. Hingga ia mendapat julukan Son of Flames di negaranya.
Suatu hari raja Blaze mengirimkan surat perdamaian namun dengan syarat putri Aurora bersedia dinikahkan dengan putranya, pangeran Valir. Namun raja Olwen menolak permintaan itu.
Bagaimana bisa putrinya, seorang putri es menikah dengan putra dari negara api?
Belakangan raja Olwen mengetahui alasan dibalik raja Blaze ingin menikahkan pangeran Valir dengan putri Aurora. Raja Blaze berniat untuk menguasai negara Nostward dan meruntuhkan kerajaan es. Ia menjadikan pernikahan putranya sebagian alibi.
Karena penolakan yang dilakukan raja Olwen dianggap sebagai penghinaan oleh raja Blaze, maka peperangan sengit antara negara es dan api tidak dapat terhindarkan.
Perang yang memakan banyak korban itu pun akhirnya juga menewaskan sang raja dari kedua belah pihak. Raja Olwen dan raja Blaze gugur dalam pertempuran.
Hal itu membuat putri Aurora harus mengambil alih kedudukan sang ayah sebagai pemimpin negara Nostward yang baru.
Begitu pula dengan pangeran Valir yang langsung dilantik menjadi raja di negara Westernia.
Pangeran Valir dan putri Aurora akhirnya dipertemukan kembali dalam sebuah medan pertempuran setelah sekian lama. Terakhir mereka bertemu ketika mereka masih sama-sama berusia 5 tahun.
"Hai Aurora, lama tidak berjumpa, " sapa Valir.
"Bagaimana kabarmu, Valir? "
"Aku baik. Sekarang kau sudah menjadi ratu dari negara Nostward. Apakah kau masih ingat dengan ucapanmu waktu itu? "
"Tentu aku ingat. Bagaimana denganmu? "
Valir nampak berfikir sejenak.
"Maaf, aku tidak bisa mengampuni keluarga dari pembunuh ayahku. BURST FIRE! " Valir mengucapkan mantra apinya.
Duarrr!
Valir meluluh lantahkan bangunan es dibelakang Aurora dengan sekali ledakan. Bahkan sebagian prajurit yang terkena api langsung tewas terbakar.
Aurora sangat terkejut dengan tindakan sahabat masa kecilnya itu. Dia seperti bukan Valir yang ia kenal.
"Beraninya kau.. GIANT ICE ROCK! "
Blarrrr!
Bongkahan batu es raksasa mendarat di atas para prajurit api. Aurora yang tidak bisa menahan amarahnya tak segan membekukan para musuh hingga mati. Para ksatria pelindung yang dipimpin Aurora dengan segera menyerang pasukan musuh tanpa ampun.
Namun nyatanya mereka kewalahan akibat jumlah pasukan musuh yang begitu banyak. Akibatnya, para ksatria pelindung pun satu-satu harus berguguran. Hal tersebut membuat Aurora sangat marah dan mengeluarkan seluruh kemampuannya sehingga badai salju besar berhasil meratakan pasukan musuh dengan seketika.
Pasukan Valir yang tersisa pun harus mundur dengan terpaksa untuk mengatur strategi baru. Ternyata mengalahkan Aurora tidak semudah yang ia kira.
"Valir, kenapa kau mengingkari ucapanmu.." lirih Aurora. "Padahal aku juga sudah kehilangan ayahku karena ayahmu. "
*
Tak perlu waktu lama, Valir akhirnya mengirimkan surat kepada Aurora untuk mengajaknya berduel. Dengan kesepakatan, siapa yang kalah harus bersedia menyerahkan kerajaannya kepada sang pemenang. Aurora setuju, namun dengan catatan, duel akan berakhir jika salah satu diantara mereka menyerah dan dilarang saling bunuh. Valir pun menyetujuinya.
Tibalah saat duel berlangsung. Valir dan Aurora bertemu di perbatasan masing-masing negara. Pertarungan sengit pun dimulai. Sepertinya Valir sudah menyiapkan dirinya dengan sangat baik. Ia terlihat menguasai pertarungan sekarang.
Aurora terlihat kewalahan melawan Valir yang dengan beringas serius untuk membunuhnya. Padahal Aurora sudah berusaha untuk tidak mengerahkan kekuatan sepenuhnya. Ia takut menyakiti Valir atau bahkan membunuhnya-karena itulah aturannya.
"Tunjukkan kekuatanmu! Aku tidak berharap dikasihani! " ujar Valir ditengah serangannya.
"Ingat kesepakatan kita, Valir!"
"Dasar lemah! Nostward tidak butuh pemimpin lembek sepertimu."
"Diamlah! " Aurora mulai terpancing dengan ejekan Valir. Sang putri sangat sensitif jika berhubungan dengan negara kelahirannya.
Inilah peluang yang ditunggu-tunggu.
"SEARING TORRENT! "
DUUAARRR!!
"Kyaaa.... "
Valir melepaskan pusaran api ke depan, membuat tubuh Aurora terkena efek knockback dari serangan itu.
Brugghh
Aurora terjatuh, membentur tanah dengan sangat keras. Tangan kanannya terasa sangat sakit hingga tidak dapat digerakkan. Sejurus kemudian ia baru tersadar, tangan kanannya terbakar akibat serangan tadi.
Ternyata Valir sengaja mengincar bagian vital dari dirinya. Tangan kanannya adalah pusat dari kekuatan es miliknya. Aurora menyesal kenapa ia bisa seceroboh ini, mengabaikan keselamatan dengan tidak membentengi diri dengan atribut war karena mengingat ia akan melawan sahabat masa kecilnya.
"Ada permintaan terakhir sebelum kau menyerahkan negara Nostward-mu tercinta? " Valir sudah berdiri di samping tubuh Aurora yang sudah tergeletak tak berdaya.
"T-tunggu! Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak saling membunuh?! " Aurora berusaha bersuara dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
"Persetan dengan kesepakatan. Selamat tinggal, Aurora. BURST FIRE! "
Duarr!!
Bola api secepat kilat membakar target yang sudah terkunci. Kilatan api nampak jelas dari manik mata Valir.
Csssss....
"A-apa?! Tidak mungkin! " Valir terkejut saat api yang membakar Aurora lenyap dan menampakkan sebuah perisai es yang melindungi tubuh Aurora dari kobaran apinya.
"Bukankah kau sudah tidak mempunyai kekuatan?! " tanya Valir syok.
Aurora mulai membuka matanya, ia sama terkejut dengan Valir.
'Dari mana perisai ini berasal? ' batin Aurora.
Swoossss....
Perisai pelindung itu berubah menjadi aliran es yang menjalar menuju tangan Aurora yang hangus terbakar lalu menempatkan diri sesuai dengan bentuk tangannya. Aurora merasakan aura yang sangat ia kenal. Sejuk dan menenangkan. Ini es milik ibunya, ratu Cornelia.
'Bagaimana bisa? ' batin Aurora terkejut.
"Bunda.. " lirih Aurora.
Tiba-tiba air matanya menetes. Suasana hatinya mempengaruhi cuaca disekitarnya. Titik salju kecil tiba-tiba turun dengan lembut.
Aurora bangkit dengan kekuatan yang baru saja ia peroleh. Pandangannya langsung tertuju pada Valir yang masih pada mode terkejutnya.
"BITTER FROST.." Aurora melafalkan mantranya.
Zzhhhbbbb...
Aurora membekukan badan Valir hanya sebatas leher hingga kakinya.
"Dengarkanlah suara salju yang turun. Ikuti kata hatimu. " bisik Aurora tepat di telinga Valir.
"Arrrggghhh!! " Valir mengerang seolah ada sesuatu dari dalam tubuhnya yang memberontak ingin keluar.
Itulah Arcane Fire yang disegel di dalam tubuh Valir oleh Raja Blaze. Api misterius yang dapat keluar dan menguasai tubuh sang pemilik.
Bola mata Valir yang tadinya merah menyala perlahan berubah menjadi warna coklat hazel seperti saat Aurora bertemu dengan lelaki itu waktu kecil.
Perlahan es ditubuh Valir mencair karena suhu tubuhnya yang memanas.
Brugghh
Valir ambruk. Tubuhnya terasa sangat lemas.
"Valir! " panggil Aurora panik.
Namun ia tak berani menyentuh lelaki itu. Karena Aurora tahu sejak kemampuan mereka semakin kuat, sentuhan hanya akan menyakiti satu sama lain.
"Bangunlah kumohon! "
"Engghh... Kau menghawatirkanku? " Valir terbangun dengan seringai khasnya.
Aurora tersenyum. Ia merindukan lelaki dihadapannya. Sahabat kecilnya kini telah kembali.
*
Sejak saat itu penduduk negara Nostward dan Westernia hidup damai dan tidak pernah melangsungkan peperangan lagi. Karena pemimpin kerajaan sudah menandatangani surat perjanjian gencatan senjata.
Aurora dan Valir duduk di bukit yang terletak di ujung perbatasan. Mereka menikmati senja bersama. Sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan sejak belasan tahun belakangan ini.
Valir mencuri pandang ke arah Aurora yang duduk di sampingnya. Lelaki itu iseng menyentuh tangan Aurora yang bersebelahan dengan tangannya.
Csssss....
"Akh! " pekik Valir saat tangannya mengeluarkan asap.
"Kau semakin dingin, Aurora," celetuk Valir.
"Dan kau semakin panas, Valir, " Aurora pun merasakan punggung tangannya yang beruap.
END.
Inspired by : MLBB