Hidupnya berubah tiga ratus enam puluh derajat, gadis berusia tujuh belas tahun itu menjadi dingin, jarang bicara dan senang menyendiri.
Tentu saja hal itu terjadi setelah kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya, hingga mereka tewas di tempat kejadian.
Namun, menurut Aleika kematian kedua orang tuanya sangat janggal. Herannya pihak kepolisian menyatakan jika kecelakaan yang menimpa kedua orang tuanya murni kecelakaan.
"Aku harus menyelidikinya sendiri," ucap Aleika lirih.
Aleika yang kini tinggal bersama adik dari almarhumah Ibundanya langsung turun dari dalam kamarnya, dia ingin mencoba berbicara dengan Auntynya.
"Bi, di mana Aunty?" tanya Aleika.
"Sepertinya di ruang baca, Non," jawab Bi Neti.
"Terima kasih," ucap Aleika dengan wajah datarnya.
Perlahan Aleika melangkahkan kakinya menuju ruang baca, tiba di depan ruang baca Aleika pun melihat pintunya tak tertutup dengan rapat.
Dia pun jadi menyangka, jika benar adanya Aunty Mila sedang berada di sana. Dengan gerakan perlahan, Aleika membuka pintu ruang baca tersebut.
Namun, tangannya terhenti kala dia mendengar ucapan dari Auntynya yang sedang berbicara dengan seorang pria.
"Sudah kukatakan jika menyingkirkan kedua manusia itu sangatlah mudah," ucap Aunty Mila.
"Kau benar, Sayang. Rencanamu sangatlah bagus, sehingga pihak kepolisian saja tidak bisa mendeteksinya," kata pria tersebut.
"Tentu saja aku sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, sekarang tugas kita hanya satu," ucap Aunty Mila.
"Apa lagi, Sayang?" tanya lelaki itu.
"Kita harus menyingkirkan Aleika, si putri dingin yang sudah membeku seperti kutub es itu," ucap Aunty Mila.
Lelaki yang sedang berbicara dengan Aunty Mila terlihat tertawa, dia merasa lucu dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya itu.
"Hentikan tawamu, Angga!"
Angga pun berhenti tertawa.
"Kau itu sangat lucu, Sayang. Mudah sekali menyebut keponakanmu sendiri sebagai putri es," ucap Angga.
"Iya dia memang dingin, sepertinya hatinya sudah membeku ketika melihat kepergian kedua orang tuanya," ucap Aunty Mila.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Aunty Mila, Aleika terlihat memundurkan langkahnya. Batinnya menjerit karena ternyata yang membunuh kedua orang tuanya adalah Auntynya sendiri.
"Aku akan membuktikan ucapanmu, Aunty. Aku putri es yang sudah membeku dan aku akan membekukanmu," ucap Aleika.
Keesokan harinya, Aleika meminta Aunty Mila untuk pergi ke Resto milik almarhum ayahnya. Awalnya Aunty Mila berkata sedang sibuk, namun karena rengekkan dari Aleika, dia pun menurut.
Saat malam tiba, di mana semua karyawan telah pulang. Aleika meminta Aunty Mila untuk menunjukkan ruang penyimpanan daging, tentu saja dengan senang hati Aunty Mila mengantarkan Aleika ke dalam ruangan tersebut.
Tanpa Aunty Mila duga, Aleika langsung berlari dari ruangan tersebut dan mengunci tempat penyimpanan daging segar itu.
Tentunya di dalam sana sangatlah dingin, bahkan Aleika sengaja menurunkan suhunya agar lebih dingin lagi.
"Membekulah bersama daging segar itu, Aunty," kata Aleika.
Setelah mengatakan hal itu, Aleika nampak masuk ke ruang CCTV dan merusak semua jaringan CCTV di Resto tersebut.