Setelah ditinggalkan Pacarku, aku menjadi Bos nya...
.
.
Plaakkk...!
"Dasya!, Berani Lo tampar gue!" Bentak Fano. Kedua adalah sepasang kekasih yang tengah bertengkar di sebuah tempat. Untungnya tidak seorangpun yang melihat mereka bercekcok.
"Kenapa?!, Mau marah!. Fan justru gue yang seharusnya marah sama Lo!" Tunjuk Dasya.
"Marah kenapa!" Muka Fano memerah tandanya dia sedang sangat marah.
"Lo tau?, Dagangan nyokap gue hancur! Karena siapa? Karena bokap Lo!"
"Bokap Lo gak hargain nyokap gue!, Gue tau gue sama nyokap gue punya utang sama bokap Lo. Tapi setidaknya hargain dikit nyokap gue, kalau dagangannya hancur gimana gue sama nyokap gue mau bayar!" Lanjut Dasya.
"Gue gak tau kalau itu nyokap Lo." Fano berusaha membujuk Dasya yang kecewa kepadanya, memperlakukan ibunya seperti itu. Saat ayah Fano menghancurkan dagangan ibu Dasya dia bersama Fano. Tapi Fano tidak tau kepada sosok ibu Dasya karena memang saat Fano mengantar Dasya kerumah untuk pulang dia selalu tidak bertemu dengan ibu Dasya.
"Gue kecewa sama Lo. Dan ya Lo gausah cari alasan apapun untuk bela bokap lo, karena nyokap gue lebih berharga dari Lo!"
Plakkk..
Fano menampar Dasya.
"Tau apa Lo hemm?!" Tanya Fano.
"Ckk, beraninya sama perempuan mental tahu Lo!"
"Gue tau, selama ini Lo selingkuh dibelakang gue. Tapi gue masih sabar, nunggu Lo biar berubah. Tapi ternyata Lo tetep gak berubah."
"Bacot Lo das, sekarang kita putus. Gue gak mau punya cewek kayak Lo! Miskin. Dan ya alasan gue selingkuh ya karena Lo miskin. Malu gue mau bawa Lo."
"Ckkk, tanpa Lo minta gue udah mau putusin Lo."
Dasya menarik kerah baju Fano, "Buka kuping Lo, gue akan bayar hutang nyokap Lo 5 kali lipat. Dan gue akan sumbat mulut Lo pakai uang, dan ya nanti gue belikan otak. Biar Lo bisa mikir jangan pernah aniaya orang kecil, karena orang yang tinggi tidak akan selamanya tinggi." Ucap Dasya penuh penekanan.
"Air laut yang pasang pada saatnya juga akan surut. Camkan itu." Lanjut Dasya kemudian pergi dari hadapan Fano.
.
.
.
Dasya adalah seorang yatim sejak kecil, ia dibesarkan dengan didikan ibunya. Seorang gadis sederhana yang selalu baik dan ramah kepada semua orang, itu yang menarik perhatian Fano, tapi setelah mengetahui Dasya anak orang miskin dia kemudian menghianati Dasya.
Dasya yang pandai setelah lulus SMA dia langsung bekerja di sebuah perusahaan. Dia sangat pandai dalam hal marketing, dan dari hasil keringatnya ia membuatkan ibunya toko yang bisa dibilang cukup besar. Toko itu menjual segala kebutuhan mulai dari sayur, beras minyak dan lainnya.
"Dasya, Lo dipanggil bos." Ucap salah satu rekan kerja Dasya. Dasya yang tengah sibuk menyusun sesuatu akhirnya bangkit dari duduknya dan segera menuju ruangan bos nya. Bisa dibilang bos muda.
"Permisi."
"Masuk." Jawab Rival.
"Bapak panggil saya?" Tanya Dasya.
"Iya, sebentar lagi kamu ikut saya fitting baju." Dasya melotot kan matanya, apa fitting?
"Maaf fitting baju siapa yang akan menikah pak?" Tanya Dasya.
"Saya sama kamu." Jawaban rival membuat Dasya langsung melototkan matanya.
"Pak Sirius deh pak."
"Saya sepuluh rius, gak percaya nih." Rival memberikan sebuah undangan dengan desain yang sangat elegan itu.
Rivaldi Johnatha Dan Dasya Fellycia
Akad tanggal 10 Oktober 2022
"Bapak, kapan bapak lamar saya? Saya bahkan gak tau kalau mau nikah sama bapak."
"Jangan panggil bapak saya masih muda, soal itu saya sudah mendatangi ibu kamu, dan ibu kamu setuju." Jawaban rival tidak bisa Dasya cerna. Syokkk itu yang mewakili Dasya saat ini, kenapa ibunya tidak memberitahu nya.
Rival mengambil sebuah Tote bag hitam disampingnya dan memberikannya kepada dasya.
"Pakai, masa calon istri saya berpakaian karyawan."
"Jangan bengong ini bukan mimpi." Ucapan rival menyadarkan Dasya, gadis cantik dengan hijab yang selalu melekat di kepalanya.
"Baik."
Tak lama kemudian Dasya datang dengan pakaian yang rival beri tadi, Dasya terlihat begitu cantik dengan gaun Sky blue yang ia pakai dilengkapi hijab senada hiasan mutiara dikepalanya, serta sepatu kaca berwarna biru yang ia pakai. Brilian Persis dengan Cinderella.
"Ayo." Ajak rival dan mengisyaratkan untuk mengandeng tangannya.
Dasya menggandeng tangan rival, dan berjalan melewati seluruh karyawan. Dasya malu semua mata tertuju padanya. Jangan tanya bagaimana suasana hati Dasya saat ini, terkejut ayokk dan bahagia menjadi satu, pasalnya ia memang diam diam suka dengan bos mudanya. Tak ia sangka bos mudanya juga suka dengannya, dan surpise yang ia berikan tak tanggung tanggung langsung ingin menikahinya.
Sampai ditempat fitting mereka berdua langsung memilih tema pakaian yang akan mereka berdua kenakan, Dasya memilih warna sky blue karena ia memang sangat suka warna itu. Sedangkan rival memilih tema silver karena itu warna kesukaannya.
Akhirnya kedua warna itu digunakan untuk acara pernikahan mereka nanti, perpaduan tema pernikahan silver dan aku blue pasti akan sangat bagus.
.
Hari pernikahan tiba Dasya yang menunggu didalam ikut grogi.
"SAHH!!!"
Beberapa saat kemudian setelah rival mengucap ijab kobul, terdengar suara sahhhhh yang sangat lantang. Dasya pun dibawa ketempat dimana rival berada.
Dasya mengenakan gaun Cinderella berwarna silver dengan kerudung panjang, dihiasi dengan mahkota dirinya yang cantik menambah kesan seperti seorang putri.
Beberapa bulan mengarungi bahtera rumah tangga dengan rival, rival yang manja selalu saja mengusili Dasya. Hati ini mereka berdua akan pergi ke perusahaan Dasya mahar yang diberikan papah rival untuknya, karena kepandaian Dasya papah rival percaya kalau Dasya akan menjalankan perusahaannya dengan baik.
"Sayang." Panggil rival.
"Hmmm."
"Kita nanti berangkat bareng yah kekantor kamu." Ajak rival.
"Iya sayang."
"Oh iya, nanti kalau ada karyawan baru apalagi cowok plus ganteng jangan kepincut ya. Inget kamu udah punya rival." Peringatan rival yang sudah ke empat kali dari tadi.
"Iya sayang, rival aku kan baik, dermawan ganteng lagi. Dasya gak akan berpaling dari rival."
"Hmm. Yaudah saran dulu ayo." Mereka berdua sarapan bersama. Kemudian menuju kantor Dasya bersama sama.
Mereka berdua memasuki kantor itu, dan rival menunjukkan ruang kerja istrinya.
Rival mengecup kening istrinya, "saya tinggal pergi dulu, jangan lupa nanti siang makannya harus tepat waktu jangan telat." Ucap rival.
"Iya sayang, kamu hati hati."
Selang beberapa hari waktu untuk meng interview karyawan tiba, Dasya sudah bersiap di tempatnya. Dari urutan pertama hingga urutan terakhir.
Dasya meregangkan ototnya kali ini adalah interview calon karyawan terakhir.
"Permisi."
"Masuk." Dasya tak melihat siapa yang datang karena dia sedang mengambil sesuatu dibelakangnya.
"Langsung saja say-" ucapan Dasya terhenti mendapati calon karyawan yang merasa didepannya.
Dasya tersenyum, "Fano."
"Dasya, gue gak nyangka Lo bisa berubah."
"3 tahun lalu sudah saya bilang, air laut yang pasang saja akan surut pada waktunya, jadi jangan menyombongkan diri. Karena apa yang kita miliki hanya titipan sang ilahi."
"Setelah kita putus gue sadar dan gue ngaku salah das, gue cari Lo. Tapi gue gak nemuin Lo. Rasa ini masih sama das sama seperti waktu gue mutusin Lo. Gue masih cinta sama Lo."
"Simpan kata cinta anda, saya tidak membutuhkannya."
"Kenapa das, dulu Lo cinta sama gue. Dan gue juga sangat cinta sama Lo tapi sekarang kenapa Lo gak mau?"
"Apa karena Lo udah sukses? Apa kerena gue udah miskin? Apa karena-"
"Karena dia sudah mencintai saya, suaminya." Dasya langsung menoleh kearah pintu, disitu rival sedang berdiri dengan handphone ditangannya. Sebenarnya ia tadi ingin mengajak istri nya untuk makan siang ia takut istrinya akan melupakan makan siang karena interview, ia tau jika istrinya adalah seorang pekerja yang tidak akan berhenti setelah kerjaannya selesai.
Fano sontak menolehkan kepalanya. "Gak mungkin Lo bercanda kan?"
Rival berjalan menuju Dasya dan memperlihatkan foto pernikahannya dengan Dasya, "bagaimana sudah percaya tuan Fano?"
"Apa masih kurang. Sayangnya saya gak bawa buku nikah."
"Gak ini gak bener." Fano masih tak percaya, kalau Dasya sudah menikah dengan pria disampingnya ini.
"Saya tidak ingin istri saya terganggu karena anda, jadi keluarlah."
"Ckk, sama aja Lo das kayak dulu. Gak tau diri, dulu gue udah bantu Lo tapi apa balasan Lo!"
Rival menggebrak meja kaca itu hingga pecah.
"Atas dasar apa anda memaki istri saya!"
"Diem Lo!" Bentak Fano.
"Kalian seenaknya, mentang mentang sudah kaya. Gak mentingin orang kecil."
"Anda ngaca, bagaimana dulu dengan anda?, Jangankan dulu saya tebak sampai sekarang pasti anda masih seperti itu. Tidak punya tata Krama." Ucap rival.
"Awas Lo das, kalau gue gak bisa dapetin Lo begitu juga pria ini." Fano keluar dari ruangan itu dengan rasa marahnya. Ide buruk kemudian muncul di otaknya.
Ia mengotak Atik mobil Dasya yang berada ditempat khusus, hingga akhirnya. "Lo gak bisa gue milikin, dan gak ada yang bisa milikin Lo Dasya." Fano kemudian pergi mengendap ngendap bersembunyi saat ada pengawas rencananya berhasil.
Saat setelah seharian lelah bekerja Dasya ingin pulang dan menuju mobilnya, dilihat ban mobilnya kempes jadi ia urungkan untuk mengendarai mobilnya, ia menelfon suaminya.
"Hallo, jemput saya dikantor bisa? Mobil saya kempes."
"Iya tunggu ya sayang, saya kesana sekarang. Jangan kemana mana." Rival mengendarai mobilnya dan melakukannya dengan sangat cepat.
Citttttt...
Decitan ban dan batako berbunyi membuat Dasya menutup telinganya.
"Pelan pelan sayang." Tegur Dasya.
Diperjalanan mereka berdua melewati ramainya kendaraan, tiba tiba mereka berdua dihentikan oleh kerumunan orang orang yang sedang berada dipinggir jalan, rival penasaran dan meminggirkan mobilnya.
Rival dan Dasya keluar, melihat ada apa dikerumunan itu.
"Permisi buk, ini ada apa ya?" Tanya Dasya.
"Orang kelahi nduk, terus mereka terluka satu sama lain. Satunya ada yang tertancap pecahan botol miras, dan satunya tertusuk benda tajam nduk." Mendengar itu Dasya bergidik.
"Oh gitu buk, korbannya laki laki perempuan?"
"Laki laki nduk."
"Makasih ya buk."
Rival dan Dasya masih penasaran, mereka melihat korban yang masih terkulai lemas di trotoar dan hampir meninggal. Karena darah mereka berdua sudah bercucuran.
"Fano?" Dasya tak percaya, Fano seorang mantan pacarnya, yang tadi melamar kerja dengan tubuh yang masih sehat kini sudah sekarat?.
"Yaallah. Sayang Fano." Ucap dasya.
"Iya sayang, umur gaada yang tau. Makanya kita harus selalu berbuat baik, biar nantinya kebaikan itu kembali lagi ke kita."
Fano yang sekarat bisa melihat orang mengerumuni nya, dibawah pengaruh alkohol Fano menjadi emosi tak karuan dan menyerang orang orang disekitarnya. Dan terjadilah perkelahian berujung naas seperti ini. Samar samar matanya menangkap kehadiran Dasya dan rival.
'lo menang das, bukan Lo yang pergi tapi gue.' batin Fano, setelah mengatakan itu pandangannya buram, dan nafasnya tersengal senggal. Detik berikutnya ia sudah tak bernafas, bertepatan dengan itu polisi datang dan membubarkan kerumunan.
Kini Dasya dan rival berada didalam mobil, "aku masih bisa bersyukur karena Allah sudah buat hidup aku jauh lebih baik dari sebelumnya, dan aku banyak belajar. Jangan mencela dan menghina orang dibawah kita, karena kita tidak tau beberapa menit, jam, hari, Minggu, bulan atau tahun berikutnya dia akan menjadi lebih baik dari kita."
"Benar, jadi jangan mengecilkan orang lain dan jangan berbuat seenaknya terhadap orang lain." Lanjut rival.
"Aku bersyukur bisa nikah sama kamu sayang, kalau tidak aku akan terjerumus lagi ke yang namanya pacaran, setelah putus dari Fano aku sudah tidak pernah berpacaran lagi. Walaupun aku masih belum berhijab, tapi setelah aku menikah denganmu aku mulai berhijab dan akan menjadi lebih baik dari sebelumnya."
"Kita sama sama perbaiki diri yah." Keduanya pun saling berpegangan tangan, banyak hal yang bisa Dasya jadikan pelajaran.
hukum karma pasti datang jadi jangan buat hati orang lain sakit, karena sekecil apapun kita menyakiti orang lain pasti akan ada balasannya.
Buat kita yang belum bisa sukses kunci utamanya adalah berbakti kepada orang tua, setelah itu belajarlah karena walau kita sudah belajar tapi kita tidak berbakti kepada orang tua kita. Itu bagaikan menuang air di wadah yang bocor. Tertampung tapi lama kelamaan akan hilang.
Doa orang tua, apalagi seorang ibu sangatlah mustajab tak ada selain ibu yang doa nya se mustajab seorang ibu, Dasya sangat berbakti kepada orang tuanya. Oleh karena itu Allah jauhkan dia dari Fano yang sebenarnya jahat, Dasya memakai hijab karena ia ingin merubah dirinya lebih baik dari sebelumnya.
Semua hal yang ia berikan kepada ibunya adalah bentuk kerja kerasnya sebelum ia menjadi istri rival, bersungguh sungguh mengabdi kepada ibunya rela meninggalkan segalanya demi sosok ibunya. kecuali Dasya disuruh untuk keluar Islam, maka ia akan membantah dan mempertahankan iman nya Sampai ia wafat.
Jangankan ditinggal Pacar, jika Dasya diberi pilihan menjadi orang kaya namun ibunya tidak bahagia, lebih baik hidup sederhana dan ibunya selalu berlinang bahagia.
Tamatt!!