Seorang murid perempuan duduk di bangku taman sekolah. Dia sedang makan bekalnya sendirian. Sikapnya yang cuek dan perkataannya yang ketus membuat dia dijauhi oleh teman-temannya. Bahkan dia dijuluki "Putri es" oleh teman-temannya. Hanya otak pintarnya yang dikagumi oleh teman dan guru di sekolah itu.
"Putri, lagi-lagi kamu makan sendirian." Seorang murid laki-laki menyapa dirinya dan hanya ditanggapi dengan lirikan matanya saja karena mulutnya penuh dengan makanan.
"Nanti malam akan ada pesta kembang api di pinggir pantai Bahari. Apa kamu mau ikut?"
"Dewa, bisakah kamu jangan janggu aku setiap hari?"
"Sepetinya itu tidak bisa. Aku mengajak kamu bicara agar kamu tidak lupa kalau salah satu fungsi mulut adalah untuk bicara bukan hanya untuk makan saja."
Dewa adalah satu-satunya orang yang selalu mengajak Putri bicara. Awalnya dia juga nggak pernah mengajak bicara. Sifat Putri yang menutup diri dari orang sekitar, tidak peduli dengan keadaan teman-temannya, bila ditanya jawabannya singkat dan nada datar dan ketus seakan terkesan tidak mau bergaul dengan orang lain.
Sampai setengah tahun yang lalu saat Dewa pergi ke rumah sakit mengantar Ibunya untuk menjenguk Bu RT. Dia melihat Putri memasuki sebuah ruangan di rumah sakit itu. Ruangan itu adalah tempat cuci darah. Dengan rasa penasaran dia bertanya kepada salah seorang perawat yang hendak masuk ke ruangan itu, ternyata Putri harus melakukan cuci darah dua Minggu sekali.
***
Divonis punya penyakit gagal ginjal semenjak umur 12 tahun. Setelah itu saat usianya beranjak 15 tahun harus rutin melakukan cuci darah karena penyakitnya semakin parah. Membuat Putri menjadi pemurung dan tidak mau bergaul dengan orang lain. Dia takut membuat orang-orang yang sayang kepadanya nanti merasa sedih atas kehilangan dirinya.
Bagi Putri ditinggalkan oleh orang yang dia sayangi itu membuatnya sedih dan terluka. Saat masih kecil dia kehilangan Ayahnya, 2 tahun kemudian Ibunya menyusul. Kehilangan kedua orang tua membuat Putri di asuh oleh Kakek dan Neneknya. Lagi-lagi dia merasa takdir tidak berpihak kepadanya. Kakeknya meninggal 3 tahun yang lalu, kini Neneknya juga sudah uzur.
Biaya pengobatan yang harus dia jalani selama ini mengandalkan bantuan dari pemerintah. Hanya sedikit uang yang harus dia keluarkan. Putri sudah pasrah dengan kehidupannya karena bisa saja sewaktu-waktu malaikat maut menjemputnya.
***
Dewa yang tahu kebenaran itu ingin membuat kenangan indah untuk Putri selagi masih hidup. Setiap hari dia selalu berusaha agar temannya itu mau tersenyum atau tertawa.
"Kenapa kamu selalu menggangguku?" tanya Putri dengan ketus.
"Karena ingin melihat kamu tertawa dan tahu menikmati masa muda," jawab Dewa sambil tersenyum menggoda.
Putri yang selesai makan langsung beranjak dari sana. Ketika dia berdiri tiba-tiba saja pandangannya menjadi kabur dan badannya terasa melayang tidak berpijak pada bumi sehingga jatuh tak sadarkan diri.
***
Hal pertama yang Putri lihat ketika membuka matanya adalah ruang kesehatan yang ada di sekolahnya. Dia pun bangun dan melihat jam menunjukan pukul 10.30 itu berarti dia pingsan hanya 15 menit.
"Kamu sudah sadar?" Tiba-tiba Dewa masuk ke dalam ruang itu.
Putri tidak menjawab atau memberi gerakan isyarat apapun sebagai jawaban dari perkataan Dewa. Dia berpikir itu hal yang tidak perlu jawaban karena sudah kelihatan kalau dirinya sudah bangun dan duduk di atas brankar.
"Aku sudah izin ke guru piket kita bisa pergi ke rumah sakit. Aku juga sudah menghubungi Dokter yang selalu menangani penyakitmu dan dia menyuruh kamu untuk segera ke rumah sakit."
"Bagaimana kamu tahu aku punya penyakit?"
"Itu kebetulan saja, saat pergi ke rumah sakit aku melihat kamu masuk ke ruang cuci darah," jawab Dewa dan itu membuat Putri terkejut.
"Jadi, selama ini kamu baik dan terus mendekatiku karena merasa kasihan kepadaku?" Putri merasa sedikit kecewa.
"Tidak! Karena sudah sejak dari dulu aku menyukaimu," jawab Dewa dengan jujur.
Perkataan Dewa barusan membuat Putri berdebar-debar. Terasa ada banyak bunga bermekaran di dalam hatinya juga ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya.
"Kamu tidak bohong 'kan?" tanya Putri tidak percaya.
"Aku mencintaimu Putri." Dewa berkata dengan tegas dan itu membuatnya tersenyum karena bahagia.
Untuk pertama kalinya Dewa melihat senyum cantik milik Putri. Dia terpesona akan bertambahnya kadar kecantikan si Putri Es.
***
Putri dan Dewa pergi ke rumah sakit dan dokter meminta untuk melakukan cuci darah. Kali ini Putri tidak sendirian, ada Dewa yang menemani.
Lagi-lagi Putri tidak bersahabat dengan keberuntungan. Satu bulan setelah janjian dengan Dewa, Neneknya sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit.
"Nenek senang sekarang kamu tidak sendirian. Sudah punya teman tempat berbagi. Dengan begini Nenek bisa pergi untuk menemui Kakek dan kedua orang tuamu," ucap Nenek dengan nada lemah.
Putri hanya menangis tergugu. "Nenek akan sehat kembali! Jangan bilang seperti itu," kata Putri disela isak tangisnya.
"Nenek selama satu tahun ini sudah berusaha sekuat tenaga agar bisa bertahan hidup demi kamu, Putri. Karena kamu selalu sendirian dan tidak punya teman. Sekarang sudah ada Dewa, biarkan Nenek pergi dengan tenang."
"Tidak, Nek. Jangan tinggalkan aku!" Putri memeluk tubuh renta dan lemah itu dengan erat. "Aku takut sendirian."
Putri tidak merasakan gerakan atau hembusan napas milik Neneknya. Hari ini, lagi-lagi dia harus kehilangan orang yang menyayanginya. Tawa milik Putri hilang kembali dari wajah manisnya. Sehingga Dewa berusaha keras lagi agar tawa itu terukir lagi di wajah kekasihnya.