Aku masih terdiam menatap foto kebersamaan kami. Dia yg selalu ada untukku, yg melindungi ku dari panas dan hujan, dari awan hitam dan dinginnya angin, ternyata sanggup mengkhianati hubungan kami.
Aku tak pernah menyangka akan melihat hari itu, dengan penuh semangat aku berjalan tergesa menuju apartemen nya, untuk memberikan dia kejutan di hari jadi kebersamaan kami. jam tangan yg sudah lama dia idamkan sudah kubungkus rapi di kotak kecil yang manis
Dia pasti bahagia, itu yang ada dalam pikiran ku.
aku terus melangkah dan segera masuk diam diam, dia pasti masih tidur di jam sepagi ini. aku memang tahu password apartemen nya dari dia
sampai di dalam aku sedikit heran dengan keadaan yg sedikit berantakan, pakaian berceceran di lantai, dan ada juga pakaian wanita. aku segera naik kelantai atas di mana kamarnya berada. aku berdiri sejenak di depan pintu. ku usap dadaku untuk menyiapkan hati ku, tak terdengar suara apapun dari dalam. kubuka pintu perlahan yang ternyata tidak terkunci. luruh sudah air mata ku, di atas ranjang dia berselimut dengan sosok yang aku kenal, sahabat ku sendiri.
Rupanya aku tak sadar kalau aku menangis dengan suara yang keras dan itu membuat pasangan mesum itu terbangun. aku segera berlari meninggalkan tempat itu, tak ku pedulikan teriakan mas Ardi .
Hari ini setelah berlalu selama tiga tahun, aku tak menyangka akan bertemu lagi dengan nya. aku baru saja tiba di lobby perusahaan tadi saat tanpa sengaja menabrak seorang OB,
"Laras .. kamu..??!!" dia terbelalak melihat ku. aku diam mencoba menguasai gejolak hati ku, rasa sakit itu masih ada.
aku segera berlalu, tak ingin air mata ku tumpah di hadapan nya
Aku masih duduk terdiam di kursi kebersaranku. ingatan ku kembali menerawang di masa itu
"Laras, maafkan aku...!" ucap mas Ardi setelah bisa mengejar ku
"Aku bisa jelaskan semuanya, itu tidak seperti yang kau lihat, dia yang menjebak ku" lanjutnya
Aku berbalik menatapnya , ku hapus sisa air mataku,
"Di jebak katamu mas..?? apa kau yakin..? dan apa kau pikir aku begitu bodoh..? " sanggah ku, aku tertawa getir, alasan macam apa itu. mana ada di jebak di tempat nya sendiri ? dan yang kulihat dengan mataku, mereka berpelukan dengan sangat intim hanya dengan terbungkus selimut. mas Ardi tetap berusaha membujuk ku, tapi hati ku tak bisa berkompromi, sampai akhirnya keluar kalimat kalimat menyakitkan itu dari mulut nya
"Apa kau tau kenapa aku bersilingkuh,..?? coba lihat dirimu di cermin, dengan wajah mu yang jelek itu, dan dengan penampilan mu yang norak, apa kau merasa pantas berjalan di samping ku, kalo bukan karena kau bisa kumanfaatkan untuk membuat kan ku makanan, dan membersihkan apartemen ku, juga mencuci pakaian ku, apa kau pikir aku Sudi dekat dengan mu..?! seharusnya kau bersyukur bisa bersamaku.!!"
Air mata yang tadinya mengering kembali mengalir deras. tak ku sangka seperti itu lah arti hadirku untuk nya. lalu apa arti dari semua sikap baik dan juga perhatian nya selama ini ? apa hanya sebagai upah atas segala yg telah kulakukan untuk nya.??
Aku terduduk di tepi jalan dengan segala kepedihan ku, bahkan tak sadar kalau dia sudah pergi meninggalkan ku.
Aku begitu terpuruk, terpukul dengan kejadian itu, hingga seorang wanita paruh baya membantu ku berdiri, dia membawa ku pergi dari tempat itu, dan dia Juga yg menjadi ku sebagai diriku yang sekarang. seorang boss di perusahaan miliknya
Sudah berlalu tiga tahun kenapa sakit itu tak jua hilang. kembali ku tatap gambar di tangan ku, kenapa aku tak ikut membakarnya dulu bersama dengan lbarang pemberian dia yang lain.??
Aku tak boleh seperti ini, aku harus bangkit, aku harus bisa melupakan lhal buruk itu, agar aku bisa bahagia dengan hidupku. kurobek gambar itu lalu ku masukkan tempat sampah.
Aku bukan Laras yang dulu, dan Ardi juga bukan si anak konglomerat lagi, aku mendengar berita kebangkrutan keluarga nya setahun yang lalu.
aku tersenyum miring, bagaimana kalau aku beri dia balasan sedikit saja...???