Setelah, Di tinggalkan oleh pacar, Ku. Aku, Menjadi Bosnya.
Yang benar saja?! Dan Apa yang harus, Aku lakukan?
Anita Syahputri Adigunawan, Adalah nama lengkap, Ku. Wanita muda yang sukses, Menjadi CEO, di perusahaan Adiguna. Aku, Sengaja membuat nama perusahaan dengan nama, Papa. Perusahan yang menjadi Mimpi, Ku yang kini telah menjadi karir, Ku yang semakin berkembang pesat. Orang-orang sudah mengenal, Ku sebagai Wanita muda yang sukses, Dingin dan sangat pandai berbisnis. Namun, Kehadiran seseorang dari masa lalu. Mengusik, Pikiran dan Hati, Ku beberapa hari belakangan ini!
Tok tok tok
Suara ketukan pintu yang terbuat dari kaca tidak transparan. Menyadarkan, Ku dari lamunan panjang.
" Masuk " Ucap Ku. Mempersilahkan seorang Wanita yang merupakan asisten pribadi, Ke dalam ruangan, Ku.
" Nona, Di depan ada keributan. Dua orang Pria yang sedang bertengkar dan Ke amanan sedikit sulit untuk melerai keduanya dan... Kedua Pria itu, Terus saja menyebut Nama, Nona " Kata Siska, Dengan tertunduk kepala. Menghormati dan yang selalu patuh dengan perintah, Ku. Karena itu, Sudah memang tugasnya. Hanya kali ini saja, Siska, Tertunduk kepala dengan rasa takut yang terlihat jelas, Di wajahnya.
Aku, Tentunya terkejut dan panik, Mendengar yang, Siska katakan. Dengan langkah sedikit cepat, Aku pergi meninggalkan ruangan, Ku dan ingin melihat apa yang, Di maksud, Siska, Asisten pribadi, Ku.
" Kurang ajar! Kamu, Hanya mantan, Anita! Sialan! dan Aku, Adalah calon suaminya! " Hardik Kevin marah. Sambil terus menghajar, Pria yang seumuran dengannya itu.
" Walau begitu, Aku cinta pertamanya dan Kamu, Belum ada apa-apa dengan, Nita kan?! " Tukas Rio, Sambil terus membalas pukulan dan serangan, Pria yang mengaku calon suaminya, Ku.
Aku, Sangat terkejut. Ketika, Aku, Baru saja keluar dari lift, Indra pendengaran, Ku, Di sambut suara berat dan sarkastik, Dua Pria yang berhubungan dengan kehidupan, Ku.
" Berhenti! " Seru Aku, Tegas dan penuh penekanan, Dengan nada perintah yang seketika mampu menghentikan pertengkaran dua Pria yang saling menahan kepalan tangan dari lawannya.
" Nita " Uca Rio, memanggil nama, Ku. Bersamaan dengan, Kevin yang juga, Menyebutkan nama, Ku. " Anita "
Seketika, Rio dan Kevin, Saling menatap tajam dan tidak senang. Suasana yang begitu panas dan menegangkan, Di lantai perusahaan, Aku. Perlahan hilang, Di bawa angin dalam keheningan sebentar saja.
Mungkin, Jika Wanita lain, Melihat dua Pria bertengkar saling adu pukulan untuk memperebutkannya. Wanita lain, Pasti akan merasa bangga, bahagia dan terharu, Karena ada Pria yang sangat menginginkan, Dirinya. Tapi, Tidak dengan, Ku. Bagiku, Pria, Hanyalah pengganggu hidup tenang, Ku. Namun, Aku juga tidak bisa menghindari suatu kenyataan. Bila kala pada saatnya, Suatu saat, Aku harus memiliki pendamping hidup yang memahami, Mengerti dan menerima, Ku apa adanya. Tanpa memandang, Aku yang merupakan seorang CEO, Di perusahaan Nomor tiga, Di ibu kota.
" Kalian berdua, Ikut, Aku dan Semuanya, Kembali bekerja " Sesudah mengucapkan perintah, Ku. Aku, Pun melangkah pergi meninggalkan kedua Pria yang mematung menatap, Ku. Di ikuti, Siska, Di samping, Ku.
Semua karyawan yang merupakan anak perusahaan, Ku. Kembali pada kegiatan mereka Masing-masing. Melupakan apa yang baru saja terjadi, Karena sudah sesuai aturan. Tidak memperbolehkan rahasia atau apa yang terjadi, Di perusahaan, Di ketahui orang luar. Jika, Ada yang melanggarnya, Maka akan, Di pencat dan Juga membayar kompensasi. Tentunya, Karyawan, Ku lebih memilih melupakan dan tidak mengumbarnya.
Kevin dan Rio, Saling menjauhi diri mereka berdua. Ketika, Aku, Tidak ada lagi, Di hadapan mereka berdua. Tapi, tidak dengan Tatapan mata keduanya, Yang saling mengunus dengan menatap tajam dan Marah. Aku, Bisa melihatnya. Di saat, Aku, Berada Di dalam lift sampai akhirnya kemarahan yang masih mereka rasakan, Harus di tahan untuk sementara. Demi Wanita yang sama, Yaitu Diriku. Aku, Tersenyum kecut, Ketika, Pintu besi lift tertutup sepenuhnya.
-------------------------------------------
Keheningan melanda, Hanya ada, Aku, Kevin dan Rio, Di ruangan, Ku. Kini, Mereka berdua hanya diam, Di hadapan, Ku. dengan saling, Menatap tajam dan tidak suka. Kemudian, Bergantian menatap, Ku dengan tatapan mata yang berbeda. Aku, Berdiri dengan, Di Melipat kedua tangan, Di atas perut, Ku. Layaknya bos besar yang sangat berkuasa, Sedangkan dua Pria, Di depan, Ku. Layaknya bawahan, Ku yang tertangkap basah, Karena berbuat salah. Aku, Tertawa bahagia, Di dalam hati, Melihat wajah bersalah, Pria yang berhubungan dengan masa lalu, Ku.
" Apa gunanya kalian membuat keributan, Di perusahaan, Ku? Apa ingin menghancurkan reputasi, Ku? Atau ingin menarik perhatian, Ku? " Cecar Aku serius, Dengan wajah dingin. Menatap keduanya yang juga, Menatap, Ku.
" Aku, Memang ingin menarik perhatian, Mu selama inikan. Tapi, Aku tidak akan mungkin menghancurkan reputasi dan membuat keributan, Nita. Jika, Bukan karena, Pria ini yang mengaku dirinya, Calon Suami, Mu. Aku, Tidak akan percaya! Karena, Aku tahu, Kamu-- " Perkataan Rio langsung, Di potong oleh, Kevin.
" Diam, Bajingan! " Bentak Kevin.
" Aku, Memang calon suaminya dan orang tua, Kami berdua sudah berencana ingin menikah, Aku dan Anita bulan depan. Kamu, Hanya mantan dan Kamu, Tidak ada hak apa pun mengatakan Cinta pada, Anita, Dengan mulut Bajingan, Kamu itu! " Jelas Kevin.
" Sudah, Sudah. Jangan ribut, Di ruangan, Ku! Sedangkan, Kamu, Tuan Rio! Aku, Bos, Mu. Seharusnya, Kamu tidak memanggil, Ku dengan nama, Ku! " Ketus ku dengan kesal.
Aku, Menghela nafas kasar. Di dalam hati, Aku tidak sepenuhnya membenarkan apa yang, Kevin katakan. Kevin, Memang calon suami dan pendampingan hidup yang, Di pilihkan orang tua, Ku. Perjodohan, Aku dan Kevin, Di jodohkan sejak kecil dan lima bulan lalu, Aku baru mengetahuinya. Aku, Dan Kevin, Sangat jarang ada waktu bertemu, Karena setiap kali, Kevin atau kedua orang tua, ingin mempertemukan, Aku dengan Kevin.
Aku, Selalu beralasan dan menghindari pertemuan dengan, Kevin. Namun, Aku tidak menduga, Hari ini, Kevin datang dan Mala membuat Keributan dengan bertengkar bersama, Rio, Mantan pacar, Ku dan Merupakan karyawan baru, Di perusahaan, Ku. Di bagian manajemen keuangan.
Aku, Akui... Perasaan itu, Masih ada. Tapi, Aku tidak ingin mengulang masa lalu dan mungkin akan mengingatkan, Ku pada keadaan yang begitu menyakiti hati, Ku. Tapi, Aku juga belum mengenal betul seperti apa, Kevin. Aku, Hanya tahu, Dia Pria berwibawa dan bijaksana, Dan Aku, Belum menemukan sifat buruknya. Karena, Aku pun yakin, Seorang Pria tidak mungkin tidak memiliki sifat atau kelakuan buruk yang mungkin, Di rahasiakan olehnya. karena Kevin, Adalah seorang pengusaha muda Nomor dua, Di ibu kota.
" Kalian berdua pergilah. Aku, Sangat sibuk, Dan tidak ingin, Di ganggu " Kata ku, Tanpa ada keinginan membela, Di antara keduanya. Walau, Aku bisa melihat, Di dua pasang mata yang tengah menatap, Ku dalam diam. Berharap mendapatkan pembela dari, Ku.
Aku, Berbalik badan, Membelakangi Dua Pria yang masih diam menatap, Ku.
" Nita... " Terdengar suara lembut yang mengusik Indra pendengaran, Ku.
" Rio, Pergi dan jangan menggangu, Ku. Aku, Bos, Mu dan Kamu, Hanya karyawan, Yaitu bawahan, Ku " Bentak Ku, tanpa berbalik badan dan hanya menatap langit biru, Di Angkasa, Lewat lapisan dinding kaca ruangan, Ku. Tapi, Kemudian, Aku sadar, Aku membuat ke salahan...
" Walau, Kita sudah tidak bertemu selama enam tahun. Kamu, Masih mengenal suara, Ku, Tanpa kamu melihat, Aku, Nita. Aku, Masih punya harapan memiliki, Mu, Nita. Di hati, Mu, Pasti masih ada nama, Ku " Kata Rio lembut dengan senyuman cerah, Dan binar mata bahagia menatap punggung belakang, Ku. Aku, masih dapat merasakannya dan Aku, Membenci sisi hati, Ku yang seperti ini.
" He! Sialan, Berhenti berbicara omong kosong, Mu! Anita, Tidak lagi mencintai, Mu. Lihat saja, Bulan depan, Anita sudah berada dalam pelukan, Ku. Menjadi istriku! " Ujar Kevin Penuh penekanan, Merasa tidak senang dan terpancing amarahnya. Mendengar perkataan, Rio.
" Diam! " Hardik Ku, Penuh ketegasan dan Tajam. Membuat, Kedua Pria, Di hadapan, Ku, Kembali diam seribu bahasa. Dengan sedikit menundukkan kepala, Mereka.
" Siska! " Seru Ku dengan suara cukup keras. Hingga di detik kemudian, Asisten pribadi, Ku itu, Sudah ada, Di hadapan, Ku.
" Iya, Nona " Ucap Siska, Sambil Berdiri, Di samping Kevin dengan jarak dua meter, Sambil menatap, Ku.
" Usir ke dua orang ini pergi, Tambahkan keamanan dan Jangan biarkan mereka masuk. Kamu, Mengertikan, Siska?! "
" Baiklah, Nona. Aku, Mengerti " Jawab Siska patuh.
Mau tidak mau, Kevin dan Rio, Pergi meninggalkan ruangan dan Diriku, Sendirian.
" Kenapa... Begitu sulit melupakan Cinta pertama, Ku? Padahal, Dia yang sudah menyakiti dan mempermainkan hatiku... " Gumam Ku sedih.
Aku, Duduk, Di kursi hitam. Tepat, Ku berkuasa. Mata, Ku menatap Awan putih dan langit biru, Di Angkasa. Pandangan, Ku kosong, Mengingat kenangan manis dan pahit, yang tidak bisa, Aku lupa.
---------------------------------------
" Nita! Aku datang! " Seru Rio sambil berlari mendekati, Ku.
" Rio, Aku rindu! " Teriak, Ku manja, Sambil menggenggam erat tangannya. Rio, Duduk, Di samping, Ku. Kursi taman yang selalu menjadi tempat Janjian, Kami berdua bertemu.
" Benarkah? Aku, Juga rindu dan sangat kangen sekali dengan, Mu. Seminggu tidak berdua, Terasa berabad-abad lamanya. Aku, Ingin sekali memeluk dan Mencium, Mu. Bolehkah? " Mendengar perkataan, Rio, Aku merasa malu dengan sambil menggelengkan kepala, Ku.
" Maaf, Rio. Orang tua, Ku melarang jika melakukan hal yang, Kamu sebutkan. Maaf ya... " Jawab Ku, Terdengar lirik. Tapi, Masih dapat, Rio dengarkan dengan jelas, Di Indra pendengarannya.
Rio, Mendengus dan berdecak kesal, Atas penolakan, Ku. " Ya sudah, Kalo, Kamu tidak mau. Aku, Ingin tahu, Malam ini, Kamu jadi tidak? Datang pada acara festival, Di sekolah kita "
" Tidak mau, Rio. Aku, tidak menyukai kebisingan dan keramaian "
" Kamu, Selalu saja begitu! "
Langit biru yang terang benderang, Terganti dengan kegelapan malam yang telah tiba. Dengan tidak ada hiasan gemerlap bintang, Di Angkasa. Namun, Aku, Anita Syahputri Adigunawan, Duduk, Di dalam mobil. Dengan gaun putih turusan sebatas di bawa lutut, yang sangat pas, Melekat, Di tubuh, Ku.
Ya! Aku, Ingin datang ke acara festival, Di sekolah. Tanpa mengabari, Rio, Karena ku ingin memberikannya kejutan. Aku, Sangat tidak sabar, Bagaimana ekspresi wajah bahagia, Rio bila melihat, Ku? Sungguh, Aku menantikan saat-saat itu.
" Non, Uda sampai " Ucap pak sopir pribadi, Papa, Ku. Yang menyadarkan, Ku dari lamunan, Ku.
" Pak, langsung pulang ke rumah saja dan jangan menunggu, Ku. Jika, Nanti, Aku akan pulang bersama, Teman, Ku " Kata Ku, Pada pak sopir, Dengan sopan.
Walau, Pak sopir sedikit tidak setuju dengan perkataan, Ku. Tapi, Tetap saja, Pak sopir pribadi, Papa, pergi meninggalkan, Ku. Dengan sepatu yang tidak terlalu tinggi, Aku berpijak pada karpet merah dan melangkah memasuki pintu yang terbuka lebar, Mempersilahkan, Ku masuk.
Aku, Telah berada dalam ruangan yang, Di penuhi orang-orang yang sebagian seumuran dengan, Ku. Dengan pakaian mereka yang berbeda-beda. Namun, Tatapan mata mereka, Terlihat tidak senang, sinis, Meremehkan, Dan menghina, Menatap ke arah, Ku. Karena, Mereka belum tahu, Aku, Putri, Adigunawan. Aku, Sengaja merahasiakannya. Agar, Aku bisa memiliki teman yang tulus berteman dengan, Ku.
Aku, Tidak memperdulikan tatapan mata mereka, Yang aku perduli sekarang. Aku, Ingin segera bertemu dengan pacar, Ku, Rio. Ketika, Aku melangkah, Aku tidak sengaja mendengar suara yang tidak asing, Di Indra pendengaran, Ku.
" Kalian jangan terus meledek, Ku! "
Suara itu, Adalah suara Rio. Seketika langkah, Ku terhenti. Aku, memutar tubuhku, Sekitar enam puluh derajat. Binar mata, Ku, Senang Melihat Rio ada, Di hadapan, Ku. Aku, Melangkah kedepan ingin mendekati, Pacar Ku itu.
" Biarin Napa? Kalo, Gue lihat ni, Ya?Lo, makin nempel Mulu sama, Si Bakpao itu " Ucap salah satu teman, Rio, Yaitu Febri.
" Betul, Gue juga lihat, Kalian berdua saling suka dan Cinta! Eaaa...! " Sahut Doni, Yang juga teman, Rio.
" Diam, Deh. Gue, Pacaran sama, Si bakpao, Kan juga karena taruhan dengan kalian. Kalau enggak! mana mau, Gue pacaran sama, Wanita kayak dia yang gempal dan jelek begitu " Perkataan Rio, Seketika menghentikan langkah, Ku. Aku, Menatap tidak percaya, Wajah tampan yang tersenyum mengejek mengatakan kata itu, Mengenai diriku.
" Iya si. Tapi, Lo sampe sekarang belum juga menang taruhan " Ujar Doni.
" Benar! Karena, Lo belum juga bisa mencium atau apa lagi memeluk pacar bakpao, Lo itu! Hanya, pegangan tangan doang " Seru Febri.
Doni dan Febri, Menertawakan, Rio. Rio, Merasa sangat kesal karena kedua temannya menertawakan, Dirinya. Tapi, mendengar perkataan, Doni dan Febri. membuat, Ku menyadari. Jika, Selama, Aku dan Rio, Bertemu. Kedua temannya, Mengawasi, Aku dan Rio. Sehingga, Mereka tahu, Apa saja yang, Aku lakukan dengan, Rio.
" Diam, Lihat aja! Bentar lagi, Gue pasti bisa melakukan yang, Lo mau! " Tukas Rio.
" Ingat, Bro! Waktu, Lo tinggal tiga hari lagi! "
Kala itu, Aku memiliki tubuh yang gemuk dan Orang sering memanggil, Ku bakpao. Namun, Karena Rio terlihat begitu mencintai, Ku. Aku, Tidak apa-apa, Bila orang lain merendahkan, Mengejek dan menghina, Diriku. Asal, Rio, Selalu ada untuk, Ku dan tidak memandang, Ku sebelah mata seperti orang lain. Namun, Malam ini, Rio, Yang memberikan, Ku kejutan yang menyakitkan dan menyadarkan, Ku. Jika, Seorang Pria sangat memandang Fisik, Dan sebelah mata.
Aku, Tidak ingin lagi bertemu dengan, Rio. aku, Pergi meninggalkan Acara festival dengan linangan air mata. Menerima kenyataan yang pahit dan menyakitkan hatiku.
Jedar!
Suara petir menggelegar, Aku yang biasanya merasa takut. Kini, Tidak memperdulikan apa pun, Di luar yang sepi. Aku, Memesan taksi dan Juga mengirimkan pesan Pada, Rio.
" Rio, Kita putus! " Kalimat yang Menyatakan, bila mulai malam itu, Rio Tidak lagi Menjadi pacar, Ku.
Kepala, Ku mendongak ke atas, Menatap langit gelap yang tengah menangis membasahi, Diriku. Aku, Berteriak dengan keras, Bersama suara gemuruh langit, Di Angkasa.
Jedar!
" Rio! Lihatlah, Suatu saat! Aku, Akan membuat, Mu menyesal karena telah mempermainkan, dan Menyakiti, Hariku! "
-----------------------------------------
Deringan ponsel, Ku. Menyadarkan, Ku dari kenangan manis dan berakhir pahit yang begitu sangat menyakiti hatiku.
" Halo, Ma " Jawab Ku lembut dengan tersenyum cerah, Ketika menerima telpon dari, Wanita yang telah melahirkan dan membesarkan, Ku dengan penuh Cinta dan kasih sayang. Tentunya, Aku sangat bersyukur, Ada, Mama, Di saat, Duka dan Suka, Bersama, Ku.
" Sayang, kapan, Kamu akan kembali pulang? " Tanya Mama, Ku. Suaranya terdengar begitu lembut, Di seberang telpon.
Aku, Menatap lagi, Langit biru dan Awan putih, Yang terlihat bersinar bersama, Matahari, Di Angkasa. Aku, Menarik nafas dan menghembuskannya perlahan. Menyakinkan hati, Keputusan yang, Aku ambil adalah pilihan yang benar untuk kehidupan, Di masa depan, Ku.
" Jam tujuh malam, Aku sudah akan ada, Di rumah, Ma " Jawab Ku.
" Ya sudah, Mama dan Papa, Menunggu, Mu, Sayang! "
" Iya, Ma. Kalo gitu... Aku, Tutup telponnya, ya? Masih ada yang ingin, Ku kerjakan, Ma "
" Ya sudah, Sayang. Jangan lupa makan siang, Mu, Ya Sayang "
" Iya, Ma, Iya "
Tut.
Sambungan telepon, Ku dengan, Mama pun terputus. Aku, Sungguh tahu, Apa yang orang tua, Ku renacanakan? Pasti masih ingin mempertemukan, Aku dengan, Kevin dan Kemudian, Mendengarkan jawaban, Ku dari sebuah perjodohan, Ku bersama, Kevin. Karena, Hingga sekarang, Aku belum juga memberikan persetujuan, Ku. Tapi, Walau pun begitu, Papa dan Mama, Sudah merencanakan pernikahan, Ku dengan Kevin.
Hati, Ku, Tiba saja kembali merasa sakit dan Marah. Ketika, Tanpa sengaja bayangan wajah, Rio tersenyum pada, Ku. Diriku sangat membenci suara lembut, Rio yang selalu menyebut nama, Ku dengan sebutan " Nita ". Terdengar indah dan Merdu. Tapi, Bagiku, Itu Hanyalah masa lalu. Masa sekarang, Aku akan membuat keputusan dan Aku, Pastikan, Tidak akan mengulangi apa yang terjadi, Di Masa lalu.
Karena, Ku bukan Wanita yang lemah. Bukan, Wanita gendut yang di sebut, Bakpao! Aku, Anita Syahputri Adigunawan, Wanita muda yang sukses, dan Dingin. Memiliki tubuh langsing, Dan wajah yang cantik menawan. Aku, Sangat bangga dengan, Diriku, Dulu dan Sekarang.
Sementara, Rio, Pria itu, Pergi ke suatu tempat. Perusahaan Terkenal Nomor satu, Di ibu kota.
" Bos, Tidak salah memberikan, Saya perintahkan? " Pertanyaan seorang Pria, Yang bernama, Ryan. Menyabut kedatangan, Rio, Yang memasuki ruangan paling atas. Ruangan, CEO.
" Jangan banyak bertanya! Aku, Tidak mau tahu! Besok, Nita harus jadi milik, Ku! mengerti, Kamu?! " Hardik Rio Dingin.
" Baik... Baiklah, Bos. Besok, Saya akan menyelesaikan tugas yang, Bos berikan " Ucap Ryan sedikit takut. Dirinya, adalah Asisten pribadi, Rio.
Setelah, Kepergian, Ryan. Rio, Duduk, Di kursi kebesarannya. Binar matanya, Menatap bingkai foto, Gambaran seorang Wanita bertubuh gempal dan menggemaskan, Dengan Wajahnya yang tengah tersenyum.
" Nita... Aku, Tidak tahu, Apa yang membuat, Mu putus hubungan dengan, Ku dan Meninggalkan, Ku? Tapi, Besok! Aku, Tidak akan melepaskan, Mu! Karena, Besok adalah hari di mana, Kamu telah menjadi istriku, Di mata hukum! Aku, Tidak akan marah, Jika Kamu membenci, Diriku karena telah membuat, Mu menjadi istriku, Tanpa persetujuan, Mu... "
TAMAT