“Hati-hati ya Weli, tetep sering-sering kasih kabar, trus kalau sudah sampe Banyuwangi nanti, tolong sampaikan salam hormat saya buat Ibu dan Bapak dikau ya!” pesan-pesan yang Chalik sampaikan tadi ketika melepas kepergiannya kembali menyemburatkan senyum senang di wajah Weli.
Weli memang harus kembali pulang ke rumah dulu sebelum nanti balik lagi ke Ksatrian, karena cuti semesteran sudah hampir habis dan ia harus membawa sejumlah bekal terutama surat keterangan cuti dari pemda setempat. Waktu yang lalu Weli terburu-buru ke Jakarta, ia melupakan hal ini.
Dengan bantuan Ian, Weli telah membeli tiket kereta Argo Bromo Anggrek dengan tujuan Jakarta Gambir – Surabaya Pasar Turi. Dari Surabaya nanti, ia akan langsung menyambung dengan rangkaian kereta Mutiara Timur Siang menuju stasiun Banyuwangibaru, dengan total perjalanan yang akan memakan waktu 16-17 jam.
Weli duduk di samping seorang bapak paruh baya yang tampak serius membaca sebuah buku. Tadi mereka hanya sempat bertukar sapa sopan. Lalu Weli memasang bantal leher dari Chalik, ada aroma samar pengharum pakaian Chalik tercium, belum ada beberapa jam mereka berpisah, tapi Weli sudah merindukannya. ‘Haish.. cinta memang memabukkan.’ batin Weli sambil mulai menutup matanya dengan tas rangsel dalam pelukan.
DUUUAAARRR!!!
Tiba-tiba hantaman keras Weli rasakan. Ia terbangun dengan jantung yang berdegub lebih cepat dari biasanya. Di otaknya terbayang sedang terjadi kecelakaan, kereta yang ia tumpangi ini telah menabrak mobil atau truk. Tapi hantaman yang ia rasakan tadi sangat kencang, sampai-sampai membuat lampu kereta padam. Semua orang dalam gerbong ini terlihat panik, walau beberapa detik kemudian, lampu kembali menyala kembali, memperlihatkan barang-barang yang telah berserakan sangat tidak beraturan.
Weli melirik jam tangannya dan melihat saat itu pukul 02.48 WIB. Penumpang lainnya banyak yang berhamburan keluar, mungkin mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun beberapa orang terlihat tetap duduk di kursinya masing-masing, mungkin karena syok dan tidak percaya.
‘Ya Tuhan, ini bukan kecelakaan biasa’ batin Weli ketika melihat pemandangan yang tertangkap matanya. Ia melihat plang biru di depan stasiun kecil, bertuliskan PETARUKAN, lalu ada beberapa gerbong yang keluar dari rel, dengan posisi telah terguling. Stasiun kecil ini terlihat semakin semerawut dengan turunnya ratusan penumpang, yang membawa barangnya masing-masing belum lagi ditambah dengan beberapa warga sekitar yang datang entah untuk menolong atau sekedar menjadi penonton saja.
Weli pun mengikuti arus penumpang kereta tersebut, mereka berjalan ke arah bangunan terdekat dan menjauhi lokasi kecelakaan. Weli mendengar beberapa desas-desus di antara para penumpang yang aga mengacaukan hatinya. Lokomotif kereta api yang ditumpanginya konon tidak mengalami kerusakan berarti, namun 3 gerbong kereta yang mereka tabrak katanya hancur: 1 gerbong paling belakang infonya telah remuk berantakan.
Lalu Weli mendengar teriakan orang yang minta tolong. Tangisan dan jeritan perempuan dan anak-anak yang berteriak-teriak, mungkin saja karena terkejut bukan kepalang dan bahkan karena kesakitan yang amat sangat. Kakinya dengan tergesa melangkah menuju ke arah sumber suara dan ia semakin dikagetkan dengan banyaknya penumpang yang terjepit dalam kereta yang remuk. Dengan segera dan segenap kekuatannya Weli membantu mengevakuasi para korban. Tidak dipedulikannya peluh kelelahan dan kotornya badan serta baju yang ia kenakan akibat ceceran darah korban dan entah kotoran apa lagi. Yang jelas Weli ingin melakukan semaksimal mungkin upaya untuk menolong sebanyak mungkin korban.
Tiba-tiba bahunya diguncang seseorang, ternyata oleh si-Bapak yang tadi duduk di sebelahnya. “Nak, bangun! Kamu sedang bermimpi buruk sepertinya.. Ini ada air mineral, coba kamu minum dulu, lalu berdoa kalau mau tidur lagi.” Ucap si-Bapak lagi sambil menyerahkan sebotol air mineral yang masih disegel.
Weli membuka matanya dan melihat ia masih berada di kereta yang berjalan dengan perlahan dan semua tampak baik-baik saja. Ternyata ia telah berminpi, namun mimpinya terasa sangat nyata dan ia dapat merasakan peluh telah membasahi tubuhnya. “Oh ya ampun, mohon maaf pak dan terima kasih..” jawab Weli lemah menerima air, membuka segel botolnya dan segera meminum air yang tidak hanya melegakan tenggorokannya namun juga menjernihkan pikirannya.
Tak dapat menahan diri, setelahnya Weli membuka HP dan mencari berita tentang kecelakaan kereta api selama ini dan ia melihat ada kejadian pada tanggal 2 Oktober 2010.
Sebuah kecelakaan telah menimpa Kereta Api Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya, yang menabrak Kereta api Senja Utama Semarang jurusan Jakarta-Semarang. Diperkirakan terjadi pada pukul 02:48 WIB, berlokasi di Pemalang, Jawa Tengah. Kecelakaan ini mengakibatkan 36 penumpang tewas dan 50 penumpang lainnya luka-luka. Korban luka dan meninggal di evakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah Hasyim Ashari, Pemalang dan RSU Santa Maria.
Seharusnya kereta api Argo Bromo Anggrek melewati jalur 2 untuk menyalip kereta api Senja Utama, tetapi kereta tersebut melaju dari arah yang sama, menabrak bagian belakang kereta api Senja Utama. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengirim tim investigasi untuk menyelidiki penyebab kecelakaan kereta api dan membutuhkan waktu hingga 3 bulan penyelidikan. Laporan akhir KNKT adalah REPORT KNKT-10-10-08-02-A, dengan hasil investigasi INSTRAN, kesalahan atas kecelakaan tersebut tidak hanya pada masinis Argo Bromo saja (yang ternyata tertidur sebelum kecelakaan), tapi juga pada petugas pengatur perjalanan kereta api yang tidak memerintahkan KA Senja Utama untuk parkir di jalur satu.
Proses evakuasi dipusatkan pada tiga gerbong terguling dan dua gerbong lainnya hancur dari kereta api Senja Utama, petugas evakuasi mengutamakan untuk menemukan korban yang masih hidup maupun mengevakuasi korban yang telah meninggal dunia. Anehnya lokomotif CC203 dengan nomor urut 40 (CC 203 02 03) yang menarik KA Argo Bromo Anggrek tidak mengalami kerusakan apapun, hanya lampunya yang pecah dan catnya mengelupas di beberapa bagian, sedangkan lokomotif KA Senja Utama Semarang nasib nya berbeda.”
Weli juga melihat beberapa images peristiwa dan seakan dibawa kembali ke dalam mimpi yang terasa nyata itu. Dalam diam, Weli berdoa memohon perlindungan dan juga mendoakan para korban yang meninggal agar dapat tenang di sisi Tuhan.
***