Wisnu Devansyah Putra dan Latisha Tzeneva Xaquille sudah lama berteman. Mereka sering jalan berdua, chattingan hingga larut malam dengan jeda waktu yang cukup lama. Mereka pernah videocall menggunakan video conference Z dan disana mereka bercanda, tertawa bahagia.
Dari awal aku yakin jika hubungan ini tidak akan berjalan dengan mudah karena perbedaan keyakinan diantara kita. Salib di leher mu tidak akan pernah mungkin bersatu dengan tasbih di tangan ku.
Aku tidak bisa menahan hati ku untuk mencintainya. Kelucuan dia sukses membuat ku jatuh cinta padanya, namun ia tidak mencintai ku, ia mencintai Anggi. Entah sejak kapan ia mengenal Anggi, namun mengapa ia harus bersikap manis pada ku jika di hatinya terdapat satu nama dan satu nama itu bukanlah diriku.
Jika aku bukanlah wanita yang ia inginkan, mengapa dia bersikap seolah ia ingin bersamaku. Ia selalu memberikan ku perhatian lebih. Sikapnya membuat ku merasa bahwa dia mencintai ku. Kebersamaan kami tidak seperti seorang teman biasa saja. Ia bahkan memanggil ku "BEB dan SAYANG". Bahkan setiap ia ingin pergi, ia selalu memberitahu ku.
Aku kira, aku adalah rumah untuknya yang akan menetap bersamanya kelak namun ternyata aku hanyalah charger yang mengisi kekosongan nya saja. Aku kira, aku adalah tulang rusuknya namun ternyata aku hanyalah butiran debu yang tidak pernah berarti di matanya.
Ternyata dia datang, hanya karena dia butuh bukan menetap. Dia datang hanya untuk singgah dan memberi luka bukan membawa ku ke pelaminan. Apakah aku yang terlalu cepat menilai seseorang ataukah dia yang tidak memiliki perasaan? dia hanya bertamu, seharusnya aku hanya memberikannya kopi bukan hati.
Hadirnya menghadirkan banyak pelangi di hidup ku namun juga badai. Kehadirannya memberi ku banyak perubahan. Aku menjadi orang yang lebih baik setelah mengenalnya. Mungkin Allah SWT, mengirimkan dia hanya untuk membuat ku menjadi orang yang lebih baik lagi, tidak untuk menjadi tulang punggung ku.
Pelajaran yang aku dapat adalah: menaruh hati pada manusia adalah seni terbaik untuk menderita. Kau boleh berteman dengan lawan jenis yang berbeda keyakinan dengan mu namun jangan sampai kamu terlalu larut di dalamnya.
Nyaman adalah awal dari boomerang yang akan menghancurkan suatu saat. Kenyamanan merupakan awal dari patah hati terbesar. Jangan terlalu mudah menaruh hati pada ciptaan-Nya, sebab jika ia pergi hati mu akan terasa perih.
Jika tidak bisa menahan perasaan atau mudah larut dengan perhatian yang seseorang berikan, ada baiknya menjaga jarak dengan lawan jenis terutama yang berbeda keyakinan dengan kita agar benih-benih cinta itu tidak tumbuh. Karena tembok penghalang itu sangat tinggi, tidak akan bisa kau menggapainya.