Sengaja aku menyibukkan diriku. Di kantor Daddy. Hari bergerak lambat. Sekarang aku berkutat dengan para ulat yang berusaha menggerogoti perusahaan ini.
Gita menyerahkan laporan, aku baca... ah ini... alasan mengapa Kala sebegitunya membujukku. Orang dengan gengsi tinggi itu harus merendahkan diri pada orang yang tak ia suka.
Aku mendengus. Apa Tuhan diarahku. Tanpa aku bertindak Tuhan yang membalaskannya. Ku bolak balik terus kubaca. Perusahaan Kala bukan lagi diujung tanduk. Tetapi sudah lebur.
Tak akan ada satu pun investor yang akan membantunya. Teman dekat pun akan pikir-pikir lagi. Aku melemparnya ke kotak dokumen dibuang.
Menghela nafasku berat. Setiap detik aku berhenti dari kegiatan. Kilasan gambar Cayden melintas. Kenapa harus aku?
Sudah lima hari dari kejadian. Kubiarkan teleponku bersuara tanpa sekalipun kuangkat. Kutinggalkan dikamar.
Dua hari satu malam kemarin, kuhabiskan berlibur. Ke Montserrat. Berkeliling pegunungan yang sejuk. Aku bertemu dengan Braham. Tour guideku. Aku mengambil wisata dengan rombongan.
Braham, menjelaskan, Barcelona memang menjaga gedung-gedung ratusan tahun dengan baik. Banyak dari rancangan karya arsitek besar, seperti, Antoni Gaudi.
Braham membawa kami ke gereja Santa Maria de Montserrat terdapat patung Black Maddona di sana, patung yang terkenal menjadi tujuan ziarah orang katolik.
Bentuk bangunan gereja merupakan perpaduan gaya gothic yang memukau.
Hari kedua Braham mengajak rombongan menuju Oller del Mas, salah satu pabrik pengolahan anggur yang terkenal di Barcelona,
Pabriknya menggunakan bangunan kastil yang berumur ratusan tahun lalu. Di sana kami mempelajari bagaimana pembuatan anggur.
Braham juga mengajari kami bagaimana membedakan kualitas dan usia wine secara dasar. Dan yang pasti kami boleh icip-icip. Menyenangkan.
Hari ini kami beranjak balik ke tempat masing-masing. Pengetahuan baru. Sekarang apa yang harus aku lakukan.
Dan ya karena ternyata tugas menjelang rapat besar sudah menumpuk. Aku bersyukur tak ada jeda memikirkannya.
BRAK!!
"Arn! Ke mana saja kamu, susah sekali kamu dihubungi. Bahkan dua hari yang lalu kamu tak ada di apartemen"
"Aku kira kamu diculik si Kala Kala itu buat balik ke indonesia"
"Aku panik! Kamu enggak apa-apa kan?" Cerocosan Alia tak menghentikanku membolak balik laporan.
"Udah? Duduk dulu" aku menyodorkan segelas air. "Minum dulu" Alia menegaknya hingga tandas.
"Jawab" Sorot mata tajam menuntut jawabanku.
"Aku jalan-jalan, healing-healing, sekarang sibuk-sibuk" Jayuskan.
"Bunda cerita, aku kira kamu down lagi." Alia mendekat ia memelukku.
"Maunya apa itu orang, datang ke sarang musuh, beneran minta di katapel zaitun busuk!"
Aku hanya tertawa. Senang rasanya diperhatikan seperti ini.
"Oh iya sabtu besok kamu ada acara?"
Aku menggeleng.
"Ikut aku yuk, Me time!"
"Please, ayuk, pegel-pegel badan ini, mau juga healing-healing"
"Okay" Jawabku.
"Janji lho"
"Hmmmm"
"Yaudah aku pulang udah dicari in sama buntut" Seperti badai, berisiknya, aku berkutat lagi dengan kertas.
*****
TING TONG... TING TONG... TING TONG...
Suara dering pintu. Aku menendang bantal. Kesal.
Aku bangun, lalu berjalan cepat kearah pintu, akan aku maki orang dibalik pintu.
"Pagi darliiiiiing" si emak muda.
"Me time ready!?"
"Enggak jadi, aku mau tidur lagi" aku sudah melangkah ke kamar.
"Enggak bisa udah janji"
"Iyaa Aliaaaa tapi enggak sepagi ini dong" kesalku
"Matahari aja belom nonggol" ocehku
"Kan mau joging, pagi gini bagus tau untuk melancarkan asi" Itu bagus buay lau.
"Iya buat kamu, bukan aku yang masih single, dan rapet"
"Ck! Iyaaaaa makanya temenin, udah cuci muka, gosok gigi sana" Alia mendorongku kekamar mandi, menepuk pantatku.
Dia menyamakan aku dengan Druwdut.
Aku mengeringkan wajahku dengan handuk. Menatap wajahku. Jika kau tanya tentang Cayden. Aku menghindarinya.
Dan dia tak ada usaha lebih. Mungkin dia sama saja dengan Kala. Tapi kamu rela Arn. Tidak! Cukup dulu nanti aku pikir lagi.
Bukannya joging, ia membawaku ke hotel katanya ia berubah pikiran ia ingin spa dengan perawatan tubuh lain, aku nurut aja.
Alia mengiringku ke salah satu kamar dihotel ini. “aku ingin memompa asiku Arn, tak mau ditoilet banyak kumannya”
Ya aku ikut saja pokoknya hari ini aku temenin si ibuk dua anak ini me time.
Ketukan pintu, “Arn tolong bukakan”
Kubukan pintu, melihat wanita muda yang modis dengan satu kotak besar ditangannya.
“Permisi, aku Lena, Alianya ada?”
“Lena ya Arn? Suruh masuk” teriakan Alia dari dalam.
Alia memegang bahuku, “kupercayakan dia padamu” Lena hanya mengangguk. Mulai membuka kotak besar misterius itu.
Dengan gaun pilihan Alia yang dibelinya. Riasan Lena, membuatku sampai tak mengenali diriku sendiri. Ini aku.
"Cantik banget"
"Makasi" aku tersenyum Alia melihat jam tangannya.
"Udah waktunya"
"Kemana?" wajahku mengkerut bingung juga takut.
"Kau mau menjualku?"
"Iya aku menjualmu sekarang" cengiran yang membuatku ngeri.
"Al"
"Udah ikut aja"
"Alia" aku berhenti. Menahan tarikan Alia.
"Kamu percaya akukan Arn, please bantu aku"
Apa ini, jangan lagi, apa Alia juga memanfaatkan aku?
Terkejut, membuat Alia menarikku dengan gampang.
Sampai didepan pintu kayu, kokoh dan tinggi.
"Buka" perintah Alia entah pada siapa.
Pintu itu terbuka,
"HAPPY BIRTHDAY"
Ctarrr...
Ctarrr...
Sorak sorai memenuhi ruangan. Banyak orang, ada Mommy, Daddy, Bunda, Ayah, Keluarga Martines lengkap.
Aku menengok ke Alia berkata tanpa suara, "Apa ini?" Alia hanya menyentak dagunya ke depan.
Cayden berjalan mendekat. Ia memberikan tangannya. Rasa kangen juga marah bergumul menjadi satu didadaku.
Lama aku mematung, Alia menyenggolku. Untuk meraih tangan Cayden. Ah rasa kangenku menang.
Aku meraihnya. Cayden menarik dengan lembut. Ke meja dengan banyak kado dan kue ulang tahun.
Meriah, hangat dengan candaan.
Perbincangan hangat, aku mengendong Bonbul.
"Lucunya anak moma ini"
"Niup niup bubble yaa... yaaa..." kugoda Bonita kecil dengan menguyel perutnya, ia kegelian heboh. Healing sebenarnya.
Walau aku sadar sedari tadi mata tajam itu menatapku tak henti. Aku memang menghindarinya.
Aku marah.
Acara utama akan dimulai pukul 7. Aku melihat jam di ponsel masih setengah jam lagi.
"Malam" Wanita itu. Berjalan cepat kearah Cayden. Ia berbisik, Cayden mengelus rambutnya.
Ahh aku tak tahan. Dadaku nyeri melihat semua itu. Cemburu jelas.
Bila kemarin aku tak akan diam. Tidak untuk sekarang, Aku harus ke toilet, aku kudu mempersiapkan mental dulu hahaha...
Gak main-main sainganku ini lebih lebih dari Tiar.
Ku berikan Bonbul pada Mommy.
"Mau kemana?"
"Toilet"
*****
Mondar mandir aku menarik nafas, membuangnya berulang.
Doh Arn lau mau nyanyi, Pakai segala berlatih pernafasan segala. Cibirku.
Menatap diri ku sendiri menguatkan lewat cermin. Kamu bisa Arn, cowok seksi itu milikmu! Harus menjadi milikmu, jangan kasik kendor.
Keluar toilet. Berjalan dilorong,
Dengan kobaran tekat membara, berasa ada backsound tik tok,
"KESINI BAngS.@.D!" Tet~ tetot tet tet~ tetot tet tet~ tetot tet tet~~
Okay okay... cukup Arn! Mulai gila.
Tangan ku dicekal, Cayden. Gemuruh tekatku yang membara, meliuk mengecil. Menjadi debaran halus. Melihat sorot mata dingin dan tajam.
Ia menarikku untuk mengikutinya, berjalan di koridor kamar. Ia berhenti di pintu dan membukannya.
Aku menatapnya takut. Mendorong tubuhku masuk ke dalam. Was-was pasti. Mencoba tetap tenang. Walau tetap takut. Mengamati sekeliling dengan resah.
GREB!
Kurasakan hangat dari belakang, Cayden memelukku erat. Ia menenggelamkan kepalanya dilekuk leherku.
Nafas hangatnya menyentuh kulitku. Geli. Aku membatu ditempat, saat Cayden mulai mengecupi leherku.
"Sayang, jangan tinggal in aku"
"Aku tahu aku salah, maaf in aku"
"Maaf buat?" Ucap kesalku.
"Aku sengaja, enggak mengabari kamu soalnya bikin surprise ini"
"Ini ide Alia juga Mona"
"Katanya biar kamu makin cinta aku"
"Hubungan kita ini apa sebenarnya?" Pertanyaan yang membuat Cayden mengaruk kasar kepalanya. Frustasi.
"Pacaran, tunangan terserah kamu mau nyebutnya apa? Yang pasti kamu istri masa depanku!"
"Dari dulu sampai maut yang misahin kita, aku maunya sama kamu"
"Dari dulu? kapan?"
Kesal. Aku berbalik. Marah sudah enggak.
Aku menangkup wajahnya. Sayu. Ada kesedihan, ketakutan juga rindu.
"kita pernah ketemu dulu, tapi kamu enggak peduli sampai aku tahu kami tertarik sama orang lain" Mataku kenapa kau dulu!
"Masa?"
"Iya aku pernah kerumahmu, ikut Bunda liburan ke Indonesia"
"Serius?" Masih tak menyangka.
Cayden menarikku lalu memelukku erat.
"Makanya maaf in aku please, aku juga kesiksa cuma bisa ngeliatin dari jauh.”
"Enggak bisa sentuh, cium, kangen, Sayang"
Tumben banyak omongannya, Pakai segala gombal lagi. Manis banget.
"Bentar" aku mendorong dadanya waktu Cayden mengecup leherku. Ini orang keturunan vampire kali. Suka banget menciumi leher. Tau aja ini darah suci.
"Terus waktu di kafe kamu liat akukan?"
Cayden mengangguk.
"Kenapa enggak nyamperin!"
"Aku kesal kamu ketemu dia" Rajuknya, Ya Lord Manisnya. Ku kecup kilat pipinya.
"Kamu cemburu??" Godaku
"Iya, aku enggak suka kamu ketemu dia, ataupun sama laki-laki lain" ia membalas mencium pipiku juga kepalaku, memelukku.
"Ini juga kenapa bajunya gini. Kamu mau jadi wewe gombel, bolong punggungnya"
"Ck! Kok kamu tau wewe gombel?" Aku berdecak, Matanya melotot tajam. Menyegir manis adalah jalan ninjaku agar ia tak marah.
"Bunda dulu kalo ngedongeng suka benget pake cerita horor indonesia. Katanya biar aku tahan banting,"
"Emang Bundaku itu paling keren"
"Kalau Mommy?"
"Juga Keren dong, Madre juga" lanjutku
"Ish... belum selesai, terus perempuan itu siapa, kamu elus-elus udah kayak pacaran?!" Kesalku.
"Cemburu" Cayden menjepit pipiku hingga membuat mulutku mengerucut.
"Ihya cembhuruh" Ngambek ah kesel.
Cayden mengecupi bibirku. "Gemes"
"Dia itu EO yang ngerjain dekor ulang tahunnya. Juga sepupuku, kuanggap adikku." Jelas Cayden yang belum aku terima.
"Lepas ah" tak percaya. Aku mencoba melepas rangkulannya yang tambah mengerat.
"Enggak mau, kangen kamu" Cayden menciumi kepalaku.
"Kamu memperlakuin lembut banget. Kayak pacaran" Cecarku.
"Iya harus lembut sayang, ibu hamil itu sensitif, ngomel mulu kerjaannya, capek aku, mana liat kamu sama laki lain, bikin makin stres, mau pecah ini kepalaku" Jelasnya, kukecupi pipinya.
"Dia hamil kok bisa"
"Ya bisa, kan ada suaminya"
"Udah nikah dia" Cayden hanya mengangguk.
"Jadi selama ini aku galau sendirian"
"Kamu enggak galau sendirian sayang, aku juga, bolak balik tunggu di parkiran apartemenmu, cuma buat liatin kamu"
Cayden mendusel wajahnya pada punggungku yang terbuka.
"Katanya enggak suka" dengusku karna kelakuannya.
"Suka, cuma aku yang boleh liat" mengecupinya.
"Ish geli Cayden!" Menjauh, geli beneran.
"Kok Cayden?!" Protesnya. Menarikku merapat padanya.
"Terus?"
"Sayang"
"Sayang?"
"Iya sayang"
Aku mendengus. Cayden terkekeh.
"Oh iya itu gimana, acaranya?"
"Udah lupain aja, aku maunya ngabisin hari spesial cuma sama kamu"
"Dih makin pintar gombalnya." Ku elus rambutnya.
"Sebenernya aku lupa kalo hari ini ulang tahun."
"Enggak kepikiran, rapat perusahaan, kamu yang ngilang eh taunya aku liat sama cewek, mesrah pula, udah galau tambah galau, terus ketemu sama manusia itu, bikin tambah pusing"
Kami menghabiskan waktu bersama, aku sudah mengganti gaunku dengan hoodie Cayden yang sangat besar, over over over size. Cayden juga hanya mengenakan kaos dan celana pendek.
Cayden menghubungi Alia dan terdengar teriakan keras dari sebrang, Alia mengomeli Cayden yang tak sabaran, membawaku pergi sebelum pesta selesai, dimulai aja belum.
Aku hanya tertawa melihat Cayden memelas meminta bantuanku. Sayang sama ini orang pokoknya.
Aku mengecup bibirnya, tak lama Cayden melempar ponselnya dan merengkuhku. Biarlah besok saja kami dengarkan omelan Alia.