Bully, satu kata dengan satu jalan cerita, yaitu derita.
Ahh! Aku ingat waktu mereka menyorakiku ketika aku maju ke depan kelas untuk mencoba mengerjakan soal di papan tulis, atau menyorakiku ketika aku memakai sesuatu yang baru, atau memandang sinis padaku ketika aku bertanya tentang suatu hal yang tidak ku pahami pada guru, dan atau, atau, lainnya.
"Apa ayam yang ngerjain PR loe? Tulisan loe nggak bisa dibaca, tau!" Tio menghampiri mejaku dan berucap demikian, ketika pak guru baru saja meninggalkan ruangan.
Buku pekerjaan rumah telah melayang dari tangannya dan mendarat secara kasar di atas mejaku. Ternyata dialah yang mendapat bagian untuk memeriksa PRku setelah tadi pak guru menitahkan untuk membagikannya secara acak.
Ku lihat coretan abstrak dengan tinta berwarna biru dihampir seluruh pekerjaan rumah yang ku kerjakan semalaman. Coretan yang sepertinya dilakukan dengan kekuatan penuh hingga menjiplak ke lembar selanjutnya.
"Loe periksa aja sendiri!" Salaknya, lalu pergi dengan tak lupa melayangkan lirikan sinis.
Semua siswa sudah mengumpulkan buku PRnya lagi pada pak guru. Hanya aku .... Hanya punyaku saja yang dikembalikan oleh teman yang seharusnya memeriksa PR berdasarkan petunjuk yang diberikan pak guru tadi. Dan sekarang, aku meraih buku itu, lantas memasukkannya kembali ke dalam tas.
Tak ada pukulan atau tindak kekerasan, memang. Tapi, ada bagian kecil di dalam dadaku yang terasa begitu perih, hingga terkadang membuat air mataku menetes begitu saja.
***
"Nggak pak! Saya udah punya teman kelompok sendiri," Hendri yang duduk di deretan paling akhir berseru.
"Kelompok kami udah kebanyakkan anggota, pak," sahut Nafiza, ikut menolak keberadaanku dalam kelompok kerjanya.
Kelas sempat riuh, ketika pak guru tetap bersikeras memasukkanku ke salah satu kelompok kerja, dengan tak lupa memberikan beberapa nasihat yang aku yakini justru menambah kadar kebencian mereka padaku.
"Parasit."
"Nyusahin aja jadi orang."
"Nggak tau malu, masuk-masuk kelompok orang."
"Belagak jadi anak emas pak guru, cih!"
"Dasar kemayu!"
Itulah kalimat-kalimat yang terlontar sesaat setelah pak guru meninggalkan kelas. Kerongkonganku pahit sekali. Perih yang benar-benar menyiksa itu datang lagi. Aku sendirian. Aku takut. Bahkan, kini air mataku juga merasa takut untuk sekadar menetes.
Ingin sekali rasanya mengadu pada pak guru atau guru lainnya, tapi setelah itu neraka akan semakin menjadi nyata. Mengadu pada Ibu, lebih tidak mungkin. Memiliki banyak teman adalah kebanggaan tersendiri setiap orangtua, jadi akan sangat menyedihkan, bila aku menceritakan keadaanku yang sendirian dan selalu sendirian ini.
Bully, satu kata, satu jalan cerita, dengan inti yang sama. Tapi, bagaimana dengan akhirnya? Apakah juga sama?
Diam, dendam, hancur sendirian, atau lupakan dan tetap jalan?
***
Aku berjalan sendirian menyusuri gang dengan membawa tentengan belanjaan perlengkapan ibu untuk jualan gorengan besok.
Sore, sepulang sekolah memang sudah menjadi rutinitasku membantu ibu berbelanja di pasar.
Langkah kakiku terhenti, ketika melihat seorang lelaki paruh baya menendang seorang anak lelaki seusiaku. Tubuhku meremang. Ini kali pertama aku melihat kekerasan secara langsung.
Si anak laki-laki hanya melindungi wajahnya dengan kedua tangan, sedangkan si pria tua terus saja melayangkan tendangan dan pukulan secara brutal. Baju si anak bahkan koyak. Ya Allah, tubuhku gemetar melihatnya.
Aku merasa ngeri ketika melihat si anak terjungkal akibat didorong. Si pria tidak peduli, dia mengambil balok kayu dan akan memukulnya.
"TOLONG! TOLONG! TOLONG!" Aku berteriak sekuat yang aku bisa. Tidak peduli akan seperti apa jadinya, aku terus berteriak.
Si pria menoleh dan aku bersiap kabur kalau dia mengejar, tapi syukurlah si pria membuang balok kayunya dan berlari menjauh.
Napasku tersengal, takut sekaligus lega. Kuletakkan belanjaanku, kemudian menghampiri si anak lelaki.
"Kamu nggak apa-apa, kan?" Ku sentuh tubuhnya yang bergetar hebat. Dia menurunkan tangannya yang penuh dengan kulit yang mengelupas merah dan aku terhenyak ketika tau bahwa itu .... Tio.
***
"Awas, loe sampai cerita ke orang-orang," Tio mengancam dengan suara pelan. Aku diam saja.
Anehnya, meski tidak ada ucapan terimakasih sekali pun, dan bahkan sempat-sempatnya dia mengancamku, tapi sikapnya sedikit berubah. Dia diam saja ketika teman-teman lain menyorakiku, tak ikut serta seperti biasa.
Jam istirahat, ku lihat jalannya agak kepayahan. Meski wajahnya aman, aku yakin banyak lebam di bagian tubuhnya yang lain.
Aku membuka kotak bekal yang selalu disiapkan ibu. Melahapnya sendiri karena memang tidak ada teman berbagi.
***
Pagi-pagi sekali, sudah kutemukan Tio duduk sendiri di dalam kelas. Meski badung, Tio memang selalu datang paling pagi.
Aku melewatinya pelan dengan membawa sapu lantai karena hari ini aku piket. Pelan, ku ansurkan sebuah salep yang kubeli pulang sekolah kemarin ke atas meja. Dia yang sedang menidurkan kepala di meja langsung mencampakkan salep itu tanpa mau repot-repot mengangkat kepala.
Aku menarik napas pelan, kemudian mengutip kembali si salep dan meletakkannya lagi ke atas meja. Kali ini aku langsung kabur, takut Tio mengamuk.
Bel berbunyi dan aku masuk kelas kembali setelah selesai membuang sampah. Aku mendesah karena kursiku tidak aku temukan. Aku bertanya pada Vita, teman di belakangku, dan dia hanya mengangkat bahu.
Riska menatapku kasihan, mungkin bisa dikatakan dia versi perempuan yang mendapat nasib sama sepertiku. Jadi, aku tidak berani bertanya padanya. Salah-salah malah nanti dia yang dirundung.
Sembari menunggu guru datang, ku putuskan untuk berdiri saja. Sambil memeriksa tugas yang dikerjakan semalam.
Brak!
Aku sontak menoleh dan mendapati Tio menendang kursi Meldi dan berkata, "Kembaliin."
Perdebatan para gangster, pikirku.
Meldi tak terima, ia menggebrak meja Tio. Membuat Tio mengangkat kepala membalas tatapan Meldi dengan bengis.
Fatur datang dan menahan Meldi sambil membisikkan sesuatu yang sukses membuat Meldi mundur.
Beberapa menit kemudian, Meldi datang menenteng kursi dan meletakkannya secara kasar di dekatku.
Aku terhenyak. Kemudian menoleh pada Tio dan tersenyum tipis, meski si target cuek-cuek saja.
***
Sabtu, 04.00 WIB
Aku sudah bangun. Tidak ada waktu untuk bangun siang, meski hari libur. Justru hari libur begini adalah waktu membantu ibu berjualan.
Kami sudah tiba di lapak pukul 06.00 WIB dengan sebaskom besar adonan tepung, tahu, ubi rambat, pisang, dan sebagainya.
Ibu membentuk pisang berbentuk kipas, dan bagianku untuk menggorengnya.
"Semoga laris, ya, Bu," ucapku sambil memasukkan pisang pertama yang sudah dilumuri tepung ke minyak panas setelah terlebih dahulu mengucapkan bismillah.
"Aamiin. Semoga banyak yang mampir," balas ibu mengulum senyum sambil memperhatikan pengunjung pasar.
Pukul 08.00 WIB Alhamdulillah gorengan sudah mulai tak seberapa. Adonan pun sudah hampir habis membuat ibu tersenyum manis. "Rezeki kamu," bisik ibu padaku.
Aku balas tersenyum.
Seorang ibu-ibu datang tergopoh menghampiri lapak kami.
"Sudah habis, Bu?" Dia bertanya dari kejauhan.
"Masih ada sedikit lagi," balas ibu.
Si ibu tersenyum, kemudian memilih beberapa gorengan. "Laper," ucapnya malu-malu.
Di belakangnya mengekor seorang anak laki-laki dengan menenteng tas belanjaan dan .... Tio, lagi.
Aku menyapa Tio dan dia tampak terkejut begitu pula dengan si ibu.
"Loh, teman Tio, toh?"
"Iya," jawabku sembari mengangguk.
"Berarti masih sekolah?" Tanyanya antusias.
"Masih Bu, teman sekelas," aku menjelaskan.
"Wah, keren, ya. Masih mau bantu ibu," puji si ibu tulus.
"Kalau bukan dia, siapa lagi, Bu? Dia anak saya satu-satunya," Ibu menimpali sambil tersenyum.
"Bapaknya?" Tanya ibu Tio hati-hati.
"Bapaknya Surya meninggal dari Surya masih TK," jelas ibu masih tersenyum. Tak ada raut sedih di wajahnya. Mungkin karena sudah terlalu lama.
Ibu Tio menggeleng takjub, lalu berkata, "Ternyata anak hebat itu, terlahir dari ibu yang hebat, ya."
Kemudian keduanya tertawa bersama.
Ibu Tio ini berbeda. Dia lembut dan terkesan rapuh dimataku.
Setelah membayar, dan ibu memberi beberapa potong gorengan sebagai bonus untuk teman anaknya, mereka pun pamit.
***
Menunggu bell masuk, aku putuskan untuk membaca materi Bahasa Indonesia untuk pelajaran nanti, hingga tiba-tiba sebuah kotak makan melayang ke atas mejaku. Membuat aku terlonjak kaget.
"Dari ibu, buat balas kemarin," cetus Tio.
Aku melongo.
Hari-hariku kini berjalan lancar. Selalu ada Tio yang berdeham kalau ada yang mencoba mengganguku. Selalu ada Tio yang masuk kelompokku setiap pembagian kelompok belajar, ya walau pun semua tugas aku kerjakan mandiri dan dia cuma numpang nama saja. Tapi, ini jauh lebih baik ketimbang aku dilempar sana sini waktu pembagian kelompok seperti dulu.
Dia sudah seperti pahlawan saja, bagiku.
Sebentar lagi UN dan kami akan segera berpisah. Padahal aku baru mulai menikmati statusku sebagai siswa SMA.
Semua teman asik membicarakan universitas yang mereka incar. Begitu pula aku, aku punya target universitasku sendiri.
Iseng, aku bertanya pada Tio tentang rencana pasca lulus nanti dan dia tidak menjawab seperti biasa, wkwkwk.
Ada hal yang membuatku penasaran, apa Tio masih dipukuli pria tempo lalu setelah kejadian terakhir?
Tapi, aku tak berani bertanya.
Hari kelulusan tiba, semua bergembira. Beberapa teman mendatangiku dan meminta maaf secara malu-malu. Sudah kumaafkan, jawabku.
Aku mendatangi Tio dan mengucapkan terimakasih untuk semuanya. Seperti biasa, dia cuma diam.
Aku tersenyum. Tio memanglah Tio.
***
Enam tahun berlalu.
Alhamdulillah aku sudah bekerja sebagai seorang guru merangkap Kepala Jurusan di salah satu SMK Negeri berkat doa ibu.
Ibu juga sudah bisa duduk di rumah dengan tenang, tanpa repot-repot memikirkan biaya hidup lagi.
Bulan lalu aku menikah, dan sekarang ibu sedang asyik-asyiknya menggodaku agar segera punya anak. Agar nggak bosan di rumah, kilahnya. Aku tersenyum saja.
Selain mengajar, aku juga berinvestasi di bidang lain. Ada sebuah bengkel yang kupunya. Awalnya bengkel kecil, dan Alhamdulillah sekarang sudah mulai berkembang. Ada niat mau mengundurkan diri dari sekolah, tapi pihak sekolah belum mengizinkan dan lagi ibu serta istriku tidak setuju. Sayang ilmunya, kata mereka.
Akhirnya bengkel aku percayakan kepada orang, meski sering kali aku berkunjung memastikan semuanya berjalan lancar.
Seperti hari ini, sepulang sekolah dengan mobil APV hitam ku putuskan untuk mampir kesana. Lelah sebenarnya, tapi sudah seminggu aku tidak kesana.
Brak!
Astaghfirullah. Aku keluar dan melihat kondisi ojek online yang tak sengaja ku tabrak.
"Mas, baik-baik aja?" Tanyaku khawatir.
Di pria berjaket hijau meringis, namun kemudian mengangguk.
"Tio?" Spontan ku sebut nama itu.
Yang mendengar ikut menoleh. Kami saling menatap memastikan jika kami memang teman lama.
***
"Ayo, kerumah. Ibu pasti senang ketemu kamu lagi." Aku menyodorkan sebotol minuman pada Tio.
Tio mengangguk. Menerima minuman dengan sungkan. Dia jauh berbeda.
"Nggak usah, Sur. Salam aja," jawabnya kemudian setelah meminum air mineral hingga tandas.
Aku menggeleng, "Ayo! Masa sama kawan lama begitu, sih."
Tio menatapku dalam. Entah apa yang dipikirkannya.
Sesampainya di rumah, aku memperkenalkan Tio pada Astika, istriku. Ibu menyambutnya hangat dan segera mengajaknya makan. Bagi ibu, tamu wajib makan. Begitulah caranya menyambut tamu.
Aku tersenyum.
"Surya dulu sering banget nyeritain Tio," cerita ibu di sela makan.
Tio mendongak penasaran.
Ibu terkekeh. Dari pada Tio salah paham, ibu melanjutkan, "Katanya, nak Tio baik sama dia."
Sekarang aku yang terkekeh.
Selesai makan, kubawa Tio merokok di teras depan.
"Gue baik apanya?" Tanyanya tiba-tiba.
Aku tersenyum. "Saya bisa melewati masa SMA itu karena kamu," jawabku.
Tio menoleh.
"Karena kamu, saya nggak punya perasaan dendam kalau mengingat itu semua."
Air mata Tio menetes dan aku jadi panik. Aku salah ngomong?
Tio menghapus air matanya cepat, kemudian tersenyum hambar. "Gue nggak sebaik itu," ucapnya.
Aku tidak menanggapi dan mengganti topik lain. "Udah lama jadi ojol?"
"Setahun," jawab Tio pelan.
"Kerja di bengkel saya gimana?" Tawarku.
Tio menoleh. Memandangku tak percaya.
"Mana paham gue bengkel-bengkelan," ucap Tio hambar.
Aku tidak sengaja mendecih. "Bohong banget. Dulu pas SMA bukannya nyambi?"
Tio melotot.
Aku tertawa. "Saya pernah nggak sengaja lihat. Di bengkel pengkolan bang Asmad, kan?"
Kali ini Tio yang tertawa.
"Yaudah resign dulu dari ojol, nanti langsung masuk bengkel. Nanti dianterin, deh."
"Sur," panggilan Tio terputus. Dia terlihat ragu. "Mending nggak usah, deh. Tapi, makasih tawarannya."
Aku mengernyit. "Kenapa? Gajinya lumayan. Bengkelnya juga nggak kecil-kecil amat."
"Bukan itu," balas Tio. Dia kembali ragu, tapi kemudian melanjutkan, "Gue mantan narapidana."
Deg.
"Kasus?" Tanyaku hati-hati.
"Penganiayaan berat," jawabnya sambil menunduk.
Aku meneguk ludah.
"Kapan?" Tanyaku lagi.
"Lima tahun yang lalu."
Berarti setahun setelah kelulusan, pikirku.
"Gue motong tangan orang yang loe lihat waktu itu mukul gue," jelasnya kemudian. "Dia bokap gue," lanjutnya getir.
Jantungku mencelos. "Dia masih mukulin kamu setelah kejadian itu?"
"Sering."
Aku meremang. Ternyata itu bukan kejadian terakhir.
"Tapi, penyebabnya bukan gara-gara mukulin gue."
"Terus?" Tanyaku pelan.
"Mukulin nyokap." Tio menangis lagi.
Ya Allah. Ibunya yang waktu itu tampak ramah dan lemah.
"Gue nggak tahan lihat nyokap dianiaya terus. Tiap pulang subuh, selalu ngamuk-ngamuk."
Jadi ini sebabnya Tio selalu datang paling pagi ke sekolah.
Aku diam mendengarkan.
"Ibu sehat?" Tanyaku hati-hati.
Tio mengangguk.
Tidak disangka ibu keluar dan menginterupsi percakapan kami. "Ambil, Nak. Ambil kesempatan ini."
Napasnya tersengal. "Ini jalan Allah untuk kamu biar jadi lebih baik. Biar bisa bahagiain ibu kamu."
Aku mengangguk.
Tio menangis lagi. Ibu segera memeluknya, membuat Tio semakin terisak.
Astika ikut keluar, kemudian meremas pundaku sembari tersenyum simpul.
***
"Gimana Yo?" Aku berseru sesampainya di bengkel.
"Aman, bos. Kayaknya musti lebarin bengkel nih... Udah nggak muat sama pelanggan." Tio terkekeh.
Aku menepuk pundaknya dan ikut tertawa.
-tamat-