Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya ...
––––––––––––––––––––––––––––––––
Aku tertawa kecil setelah membaca salah satu berkas lamaran kerja milik seseorang. Awalnya aku tak yakin apakah benar itu adalah milik seseorang yang aku kenal sepuluh tahun lalu, tetapi begitu kulihat fotonya, aku yakin seratus persen bahwa itu adalah Zain.
Wajah tampannya sama sekali belum berubah selain hanya garis rahangnya yang semakin tegas. Harus kuakui, satu kelebihan yang ia miliki memang parasnya. Namun, tidak sejalan dengan hatinya.
Zain adalah adalah pria brengsek yang pernah meninggalkanku sepuluh tahun silam hanya demi seorang wanita berpenampilan seronok, yang selalu berusaha menyita perhatiannya.
Dibandingkan dengan wanita itu, fisikku dulu memang terlihat sangat menyedihkan. Bagaimana tidak, aku hanya seorang gadis kutu buku yang sedang berusaha merintis karir sebagai karyawan magang di salah satu perusahaan terbaik di negeri ini.
Berdalih ingin memiliki istri cantik dengan karir yang gemilang agar bisa dibanggakan di khalayak ramai, dia enggan berjalan bersisian denganku menuju puncak kesuksesan. Maklum saja, keluarga Zain merupakan pebisnis yang bergerak di bidang otomotif, jadi dia tidak perlu harus bersusah payah untuk meraih kesuksesan.
Setelah selesai menempuh pendidikan sarjananya, Zain langsung menduduki kursi direktur di salah satu perusahaan milik keluarga yang berada di luar kota. Namun, dia lupa jika bukan karena aku yang dengan keras mendukung, serta setia mendampinginya saat sedang menempuh pendidikan, dia tidak akan mungkin dapat menyandang gelar tersebut.
Selain kesuksesan ayah Zain membangun perusahaan, ibunya pun sukses menjadi seorang desainer yang cukup punya nama. Dia juga adalah orang yang paling menentang hubungan kami berdua hanya karena aku tidak terlihat selevel dengan mereka. Di depan orang-orang, wanita itu bahkan pernah memaki dan menamparku sambil berkata, bahwa aku adalah wanita jalang yang rela mengorbankan kesuciannya demi menjerat sang anak semata wayang, padahal jelas-jelas dia tahu kalau selama kami berpacaran, Zain sama sekali tidak pernah menyentuhku.
Berbekal rasa sakit hati yang mendalam aku pun berjanji pada diri sendiri untuk meraih kesuksesan agar bisa melampaui mereka.
Kini di sinilah diriku sekarang, menjabat sebagai CEO sebuah perusahaan besar di bidang teknologi. Kupikir, setelah kami berpisah ia telah hidup bahagia dengan perempuan seronok yang telah berhasil merebutnya dariku. Namun, apa yang terjadi sekarang? Seorang Zain tiba-tiba mengajukan lamaran kerja sebagai karyawan biasa di perusahaan yang aku pimpin.
"Bu!" Panggilan Anita membuat lamunanku buyar seketika. Dia adalah sekretaris pribadiku yang cerdas dan berdedikasi. "Ibu kenapa?" tanya wanita itu.
Aku menggelengkan kepala. Berkas lamaran kerja milik Zain langsung kuberikan pada Anita. "Terima dia bekerja di sini," titahku.
"Loh, saya pikir Ibu hanya ingin melihat-lihat saja seperti biasa." Wajahnya mengerut. Mungkin heran dengan keputusanku yang tiba-tiba. Terlebih, dia tahu benar kalau aku tidak pernah ikut campur dalam hal perekrutan karyawan. Aku hanya senang memeriksa berkas-berkas mereka sesekali.
"Sudah, katakan pada Pak Anas untuk menerima orang ini."
Anita menganggukkan kepalanya dan pamit undur diri dari ruanganku.
––––––––––––––––––––––––––––––––
Dari ratusan para pekerja yang melamar di perusahaan ini, hanya sembilan orang pelamar saja yang berhasil lolos seleksi. Dan hari ini kesembilan orang pelamar tersebut tengah disambut hangat oleh beberapa karyawan perusahaan.
Aku mengintip dengan saksama dari balik tirai jendela. Mataku fokus menatap tajam seorang pria berpenampilan sayu yang berdiri di paling ujung barisan. Gestur tubuhnya tampak sangat sopan dan sedikit pendiam. Ketika ditanya pria itu akan lebih sering menjawab dengan anggukan pelan seraya memasang senyum simpul.
Aku mengerutkan kening tanda tak percaya. Setahuku, Zain tidak pernah selembut itu. Zain yang aku kenal adalah pria brengsek berhati dingin yang sangat arogan.
Penampilannya pun terlihat sangat sederhana. Jas yang dia pakai bukanlah merk terkenal. Aku yakin jas tersebut banyak ditemukan di toko-toko pakaian kecil.
Anita mengetuk pintu ruanganku dan masuk ke dalam. "Ini laporan yang Ibu minta," katanya sembari menyerahkan sebuah map tebal padaku.
"PT. Owen Auto Otomotif mengalami kebangkrutan lima tahun lalu akibat penggelapan dana yang dilakukan orang kepercayaan direkturnya. Setahun setelah dinyatakan bangkrut, Zain Wyman Owen selaku direktur dari perusahaan tersebut digugat cerai oleh sang istri, sementara kedua orang tuanya jatuh sakit. Mereka kini hanya menggantungkan hidup dengan berjualan pakaian di toko pinggir jalan, harta satu-satunya yang tersisa."
Aku tertegun mendengar penjelasan Anita. Tak ingin tahu menahu soal Zain membuat diriku benar-benar menutup mata. Kesombongan ternyata telah membawa mereka jatuh ke dalam jurang kehancuran.
Iba? Tentu saja tidak. Katakanlah aku jahat, tetapi aku hanya manusia biasa yang memiliki hati dan harga diri.
Aku menutup map yang tadi diberikan Anita. Kubusungkan dadaku sebelum kemudian pergi ke luar dari ruangan dengan penuh percaya diri. Aku akan turut menyambut para karyawan baru tersebut.
Kesembilan orang yang tadinya sedang berbincang santai, kontan saja kembali berbaris rapi ketika melihat kedatanganku.
"Ini adalah CEO kita, Ibu Ameera Kyle," ucap Pak Anas selaku kepala HRD.
Para karyawan baru tersebut langsung membungkukkan tubuhnya penuh hormat dan menyapaku ramah, terkecuali seorang pria yang berdiri di barisan paling ujung.
Zain tampak terkejut bukan kepalang. Wajahnya mendadak pucat pasi, seolah darah baru saja terkuras habis dari sana.
Aku membalas tatapan Zain dan tersenyum ramahnya. Dia yang tampak menyadari, bahwa aku mengenal dirinya lantas berdiri dengan gelisah.
Aku tersenyum senang. Bayangan akan harga diriku yang pernah dihempaskan sepuluh tahun lalu seakan terbayar lunas hari ini. Dengan langkah mantap aku menghampiri mereka satu persatu untuk bersalaman. Bisa kulihat kegelisahan yang semakin nampak dari raut wajah Zain seiring langkah kakiku yang semakin dekat.
"Selamat bergabung Bapak Zain yang terhormat," ucapku sembari mengulurkan tangan pada pria itu.
Dia menatapku sendu. Perasaan bersalah yang tergambar di wajahnya tak akan mampu mengusik batinku yang sudah lama hancur.
Zain akhirnya menyambut uluran tanganku. Seperti halnya dengan yang lain, aku pun memeluk Zain ringan sembari menepuk-nepuk punggung lebarnya.
Tanpa didengar oleh siapapun, kubisikan sebuah kalimat yang langsung membuatnya diam tak berkutik.
"Akan kupastikan kau menerima kesakitan yang sama, seperti aku dulu!" bisikku sinis.
Katakanlah aku jahat, tetapi aku hanya ingin menutup sedikit lukaku meski tak akan pernah bisa sembuh.
––––––––––––––TAMAT––––––––––––––