Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bosnya di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan, properti dan real estate. Sejak keputusan itu keluar dari mulutnya, aku benar-benar tidak bisa menerima kenyataan itu. Tidak ada alasan yang masuk akal kenapa Leo memutuskan hubungan yang sudah berjalan lima tahun ini denganku.
"Maaf mengangetkanmu, Nona Tasya. Ada berita penting yang ingin aku sampaikan."
Seorang pria mengenakan setelan berwarna hitam, rambutnya ditata rapi dan tubuh tegapnya membuatku tergoda saat pria itu berjalan ke arahku.
"Kau.. Keluar!! Bagimana bisa ayahku menjadikanmu sekretarisku, mengetuk pintu saja kau tidak mahir. Keluar!"
"Aku tidak akan keluar sebelum kau mendengar berita baru dariku. Kau tahu mantan kekasihmu sekarang melamar pekerjaan di perusahaanmu ini. Dia sedang menunggu gilirannya untuk di interview pihak HRD."
"Dia di PHK dari tempat kerjanya. Sekarang keputusan ada ditanganmu, Tasya."
"Bawa dia kemari. Aku yang akan menentukan nasib pria tidak berperasaan itu. Cepat sana!"
Aku terduduk di kursi kebesarannku sembari menunggu pria brengsek itu datang kemari. Pembalasan ini akan membuatnya berpikir seribu kali karena telah berani meninggalkanku.
Aku menarik napas dalam saat pintu ruangan kerjaku diketok beberapa kali. Derap langkah kaki memasuki ruangan membuatku kian gugup di tempat.
"Silahkan duduk, Pak Leo," Suara itu adalah suara sekretarisku dan nama yang baru ia sebutkan adalah mantan kekasihku yang meninggalkanku dua minggu lalu. Entah karena apa dia mengambil keputusan seperti itu.
"Jadi kenapa saya harus menerima kamu bekerja di perusahaan ini?"
"Karena saya butuh uang untuk kelahiran putri saya. Lusa istri saya akan melahirkan. Mohon terima saya berkerja di perusahaan ini."
Dengan cepat, aku memutar kursi menghadap Leo yang tertunduk di depan meja kerjaku. "Jadi kau meninggalkan ku karena kau sudah menikah dan sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Benar begitu? Ternyata selama ini kau mengkhianatiku, Leo!!"
Leo mendongak menatapku dengan mulut sedikit terbuka. Entah karena ia panik atau tidak menyangka kalau aku seorang CEO perusahaan ini.
"Tasya .. kau.."
"Seret dia keluar, Theo! Pria pembohong sepertinya tidak pantas bekerja di perusahaanku!"
"Tasya.. Dengarkan aku aku. Aku bisa menjelaskan semuanya tapi kumohon jangan seperti ini," Leo bertekuk lutut di hadapanku saat aku bersikeras menolak dia bekerja di perusahaan ini.
"Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun lagi, Leo. Kau sudah mempermainkan perasaanku. Kau berani menutup rapat-rapat masalah sebesar ini padaku dan sekarang kau datang dengan alasan butuh uang. Tidak lagi, Leo."
"Bawa dia keluar, Theo! Dan pastikan jangan ada satu perusahaan manapun yang menerima dia bekerja, jika ada langsung saja putuskan hubungan perusahaan kita dengan mereka."
TAMAT.