Setelah ditinggalkan oleh pacarku, aku menjadi bos nya.
Aku tidak menyangka bertemu kembali dengan Benny dalam keadaan seperti ini.
Setahuku Benny adalah anak orang kaya, tapi mengapa hari ini. dia melamar pekerjaan di perusahaan tempat ku bekerja.
"Hah, pucuk dicinta ulam pun tiba! Hari yang kutunggu akhir nya tiba juga!", pikir ku kesenangan dalam hati.
"Tunggu tanggal main nya, akan ku buat kamu menyesal, sudah menyakiti hati ku dan mempermainkan ku. Biasanya pembalasan lebih kejam", ujar ku dalam hati penuh dendam.
********
Waktu aku kuliah semester 5, Benny dan aku menjalin kasih.
Aku masih ingat waktu itu, kalau Benny cukup menjadi idola di kampus kami. Bagaimana tidak?
Memiliki fisik oke, wajahnya yang tampan dan memiliki tubuh tinggi, merupakan kriteria gadis-gadis jaman sekarang. Apalagi kalau dilihat dari penampilan nya seperti orang kaya, ke kampus saja membawa mobil Fortuner.
Aku begitu bahagia ketika Benny menjatuhkan pilihan nya padaku. Teman-teman kampus mengucapkan selamat pada ku, tetapi memandang iri pada ku.
Aku termasuk mahasiswi yang berotak encer, setiap ada kesulitan pelajaran Benny sering meminta bantuan ku. Kalau bukan karena otak ku ini, aku tidak mungkin bisa kuliah. Karena keluarga ku termasuk keluarga menengah ke bawah, hanya sanggup menyekolahkan ku sampai SMA saja. Untung saja aku mendapat beasiswa.
Bahkan saat semester 3 saja, aku sudah bekerja memberi les pada anak-anak sekolah.
Tapi setelah menjalin kasih selama 2 tahun, mendekati wisuda, Benny memutuskan hubungan dengan ku.
"Maaf, keluarga ku ingin aku menikah dengan Rita. Aku tidak berani melawan kehendak orang tua ku, Mawar", ujar Benny dengan wajah datar tanpa perasaan bersalah.
Akhir nya dari yang kudengar, Benny hanya memanfaatkan kepintaran ku, agar cepat lulus dan diwisuda.
Entah benar atau tidak gosip itu, yang jelas hati ku benar-benar sakit saat itu, dan benih-benih dendam pun tumbuh dalam hati ku.
Aku tidak pernah menyangka akan ada hari di mana aku diberi kesempatan untuk membalas kan dendam ku yang langsung membara, begitu bertemu dengan Benny
********
Kulihat data Benny di meja ku, status beristri dengan dua anak.
"Huh sudah menikah juga, aku yang masih sakit hati sampai sekarang saja trauma untuk menjalin kasih", pikirku dalam hati semakin dendam.
Padahal Heri anak ketiga dari pemilik perusahaan tempat ku bekerja menyukai ku saja, sudah ku tolak, karena aku trauma dengan pria kaya.
"Baik, kamu bisa mulai bekerja besok dengan masa training 3 bulan, ketika sudah menjadi karyawan resmi kau akan mengalami kenaikan gaji sebesar 50%", ujar ku tegas meyakinkan.
"Jangan pernah berharap menjadi karyawan resmi di perusahaan ini selama ada aku!", pikir ku dalam hati, dengan perasaan puas.
"Kau akan merasakan bagaimana sakit hati nya kalau ditolak!", pikir ku semakin senang menjalan kan rencana yang sudah berputar di otak ku.
"Terimakasih Mawar, kupikir kau dendam pada ku. Kupikir kau akan menolak lamaran pekerjaan ku. Kau memang orang yang berhati besar, aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Sekali lagi aku ucap kan terimakasih", ujar Benny memandang tidak percaya ke aku dengan rasa bersyukur.
"Aku adalah orang yang bisa memisahkan pekerjaan dan masalah pribadi. Di sini aku adalah manager, jangan pernah memanggilku dengan sebutan nama, itu tidak sopan. Anggap saja kita pertama bertemu di sini!", ujar ku tegas.
"Baik Bu, mulai besok saya akan mulai bekerja dengan tekun", ujar Benny yang dengan fasih segera merubah panggilan, sesudah itu berjalan keluar dari ruangan ku.
Aku memandang kepergian Benny dengan dendam,
"Silahkan bermimpi untuk menjadi pegawai tetap di sini, saat hari nya tiba kau akan merasakan apa yang pernah kurasakan", desah ku dalam hati.
********
Tidak terasa tiga bulan cepat berlalu, akhir nya hari yang ku tunggu tiba.
"Apa alasan nya aku tidak diterima sebagai pegawai tetap? Aku sudah bekerja dengan giat dan tidak pernah melakukan kesalahan besar selama bekerja. Mengapa aku tidak diterima sebagai pegawai tetap di sini?", tanya Benny gusar, padahal saat dia masuk ke ruangan ku wajah nya masih berseri penuh semangat.
"Tidak semua pertanyaan memerlukan jawaban. Aku tidak akan menjawab pertanyaan mu, semua merupakan privacy perusahaan. Aku berhak untuk tidak menjawab, kamu hanya pegawai training!", ujar ku dengan kejam, padahal dalam hati aku harus mengakui kalau pekerjaan Benny termasuk bagus.
"Aku mengerti, mungkin kau masih dendam pada ku. Mungkin ini akibat yang harus ku terima, akibat kesalahan yang pernah aku perbuat pada mu. Semoga sesudah ini kau bisa memaafkan aku yang pernah memanfaatkan mu dulu", ujar Benny dengan menyesal, setelah itu berjalan keluar.
Aku menatap kepergian Benny, terlihat bahu nya yang turun, seperti orang kalah perang.
"Kau tidak tahu, banyak orang bilang dendam seorang perempuan lebih berbahaya dari pada seorang laki-laki!", ujar ku dalam hati mengusir rasa tidak tega dalam hati ku.
********
Aku akhirnya menerima pernyataan cinta Heri, ketika Heri menyatakan rasa suka nya lagi padaku.
"Benny saja bisa dengan mudah berpindah hati sesudah putus dengan ku, mengapa aku begitu bodoh, hanya gara-gara dia aku trauma dengan cinta!", pikirku akhir nya membuka hati ku untuk pria lain.
Sewaktu aku dan Heri mengisi malam Minggu kami dengan menonton bioskop, aku bertemu dengan teman kuliah ku Mita.
"Aduh aku jadi pangling, kau tambah cantik saja Mawar", ujar Mita.
"Ah, bisa saja kau mit, kau juga tambah cantik", ujar ku balas memuji.
" Suami mu ya?", tanya Mita berbisik dan melirik ke Heri.
"Bukan, kekasih ku. Tapi 6 bulan lagi kami akan menikah. Kamu datang ya nanti!", ujar ku agak tersipu, karena untuk usia ku saat ini sudah termasuk kadaluarsa, baru mau mau menikah.
Sedangkan Mita saja anak nya yang paling besar sudah berusia 8 tahun.
Akhirnya kami jadi seru mengobrol, sedangkan mas Heri sengaja memberi kesempatan pada kami untuk mengobrol, dengan bermain game di handphone nya
Setelah bercerita panjang, sampailah Mita pada suatu topik yang membuat aku kaget.
"Kamu ingat Benny gak? Ah, kasihan sekali. Saat aku mengantar mertua ku cek rutin ke rumah sakit, aku bertemu dengan istri nya.
Anak nya yang paling besar meninggal hanya karena sakit malaria. Terlambat ditangani karena kekurangan biaya. Ternyata hidup seseorang seperti roda yang berputar. Aku tidak menyangka Benny yang dulu kaya, bisa menjadi hidup kekurangan!", ujar Mita prihatin.
Aku tertegun mendengar cerita Mita.
"Kapan kamu bertemu dengan mereka?", tanyaku akhir nya.
"Kira-kira 3 bulan yang lalu", ujar Mita.
Waktu yang kurang lebih bertepatan sebulan sesudah aku tidak menerima Vincent sebagai pegawai tetap.
Hati ku langsung terasa dingin.
"Apakah aku sekarang sudah puas? Atau jangan-jangan aku malah menyesal dan merasa bersalah?"
**TAMAT**
Buat yang suka dengan karya author pencet ❤️ nya buat mendukung author. Lebih senang lagi kalau dikasih bonus komentar.
Terimakasih buat yang sudah mampir dan mendukung🙏🙏
Love you All😘😘😘