Tak pernah terpikirkan bahwa ada saatnya aku sakit tanpa ada yang bisa mengobatinya. Mungkin ada kalanya aku sakit, namun tak pernah aku merasakan sakit yang seperti ini.
Yang aku pikirkan saat melihat teman-temanku begandengan tangan dengan kekasih masing-masing, itu adalah hal yang bahagia, suatu faktor yang dapat mempengaruhi seseorang untuk melupakan sejenak masalah hidupnya.
Tapi aku pikir pemikiranku salah. Tidak, bukan cara berpikirku yang salah, tapi aku yang terlalu bodoh. Aku yang selalu berhati-hati terhadap orang-orang di luar sana rela menurunkan kewaspadaanku demi membuka hati dan membangun kepercayaan.
Namun, apa yang aku dapat?. Hanya sebuah rasa sakit yang ditinggalkan olehnya. Bahkan jari yang teriris tidak sesakit ini.
Rintik hujan yang setia menemaniku malam ini. Mereka terasa ikut menangis denganku, kecewa. Atau mungkin mereka juga kecewa padaku. Kecewa karena aku tak lagi seperti dulu. Aku akui diri ini seperti bukan layaknya aku.
Aku tak pernah menangis, aku tak pernah frustasi. Diri yang ku kenal adalah seorang yang tenang, tidak gegabah dan selalu berfikir positif. Tapi sekarang, seakan lingkup cinta membuatku menyerah begitu saja. Senangkah bermain cinta?.
Kenapa aku sangat dramatis. Ini bukan diriku, sungguh. Aku mengusap sisa tetesan air mata di pipi. Meminum segelas susu lalu beranjak tidur menanti hari esok.
Yah, lupakan saja yang berlalu.
Seminggu berlalu dengan begitu cepat. Dan aku bersyukur karena hari-hariku sangat lancar. Aku seperti hidup normal, bukan aku yang kemarin rapuh bagai bunga tanpa sang mentari.
Pagi ini matahari lumayan menyengat. Di hari senin yang mengharuskan aku mengikuti upacara. "Sangat panas." keluhku dalam hati.
Walaupun mengeluh aku tetap berdiri dengan tenang, meski tetes demi tetes keringat mengalir di dahiku. Hingga tiba saatnya kembali ke kelas, seseorang menepuk bahuku.
Aku menorehkan kepala sedikit, "Siapa?" Tanyaku bingung.
"Alden, lo lupa?" Tanyanya balik.
Alisku mengernyit karena bertambah bingung, Alden? Batinku bertanya-tanya.
"Maaf, tapi gue gak kenal lo." Jawabku singkat dan berlalu pergi begitu saja.
Namun tak ku sangka dia berlari mengejarku. Sepatu yang ada pada kakinya bergesekan dengan lantai, menghasilkan suara yang jelas di pendengaranku.
Aku tak menghiraukannya, tetap berjalan dengan langkah santai. Tinggal selangkah aku masuk ke dalam kelas, pergelangan tanganku lebih dulu di sambar oleh pemuda bernama Alden itu.
Aku menaikkan alisku seoalah bertanya, "Apa lagi?" Namun tak di hiraukan olehnya.
Dia menarik pergelangan tanganku sedikit kencang. Saat penglihatanku bertubrukan dengan bunga warna-warni maka dapat aku simpulkan bahwa sekarang berada di taman belakang.
Aku tak terlalu memusingkan dan segera bertanya, "Butuh apa?"
Dia melirikku, "Butuh lo!" Kemudian menarikku untuk duduk di sampingnya, di atas rerumputan hijau yang menyejukkan mata.
Aku menepis tangannya pelan, "Gue gak kenal sama lo, lo siapa?, butuh apa sama gue?" Ujarku tetap tenang.
"Ternyata lo udah lupa sama gue ay." Gumamnya yang dapat aku dengar.
Ay? Batinku bertanya, lalu sekejap aku tersenyum masam. Ternyata dia, dia yang pernah membuatku menjadi orang lain. Kenapa aku bisa lupa dengannya, bahkan kejadian itu masih seminggu yang lalu.
"Anggara Alden Saputra, gue lupa karena gue kenalnya Gara,"
"Lucu ya, gue bisa berubah karena lo cuma lewat handphone. Modal chatingan lo udah bisa ngebuat hati gue sakit. Dan dengan gampangnya lo balik lagi ke hadapan gue. Muka lo bener-bener tebel Gar!"
Aku menatapnya dengan senyum pahit, sepehit harapan yang pernah ada pada diriku. Kopi yang ku kira manis ternyata pahit, karena sama sekali tidak ada gula di dalamnya.
"Gara makasih dan inget, karma itu ada. Jangan main-main lagi ya!"
Aku bangkit lalu berjalan dengan santai menuju ke kelas.
"Karma itu sekarang terjadi dan semua karena adanya lo, Fara."
Aku terhenti saat mendengar suara bas khasnya berteriak. Aku berbalik menatapnya dari kejauhan. Aku dan dia saling diam tanpa ada suara sedikitpun, hingga angin semilir berhembus di sekitar aku dan dia.
"Kenapa?" Tanyaku.
"Kenapa?" Ulangnya.
Tiba-tiba dia terkekeh, "Lo yang kenapa?, kenapa lo muncul di hati gue saat gue udah ninggalin lo."
Aku ikut terkekeh merasa lucu, "Itu derita lo, Aggara!" Sahutku dan kini benar-benar berlalu pergi meninggalkan pemuda itu sendiri.
Biarkan penyesalan menggerogotinya, aku pikir itu adalah akibat dari apa yang dia perbuat.