Haikal dan Mahen adalah dua sahabat yang terkenal dengan kejahilannya. Mereka sering kena hukuman karena hobi melanggar aturan sekolah dan bertindak seenaknya.
Kali ini mereka berencana ingin kabur dari sekolah ditengah pelajaran. Mereka sekarang sudah ada di belakang sekolah hendak memanjat tembok.
"Hey!"
Teriakan itu mengejutkan mereka.
"Apaan sih? Ganggu aja!" omel Haikal saat tau sang pemilik suara ialah Fiona, ketua kelas mereka.
"Mau kemana kalian?" Fiona mendekati dua makhluk yang sedang bantu-membantu untuk memanjat tembok itu.
"Hotel", sahut Haikal asal.
"Pak Dika nyuruh gue buat nyariin kalian. Cepetan balik ke kelas", titah Fiona tanpa basa-basi.
"Males", sahut Mahen yang tetap melancarkan aksinya tanpa menggubris perintah gadis itu.
Fiona mendengus kesal. Tangannya menjulur ke arah Haikal dan Mahen yang sudah berhasil memanjat tembok. Matanya memicing untuk membidik target, kemudian dengan lompatan yang mantap--
Hap!
Sret!
Gubrakkk!
"Aduuh!!"
"Cewek sialan! " umpat Haikal saat merasakan punggungnya seperti remuk karena membentur tanah dengan keras.
Fiona menarik baju belakang Haikal dan Mahen sebelum mereka berhasil melompat keluar. Sekarang mereka berdua sedang terkapar di atas tanah. Untung saja gadis itu bisa segera menghindar sebelum tertimpa dua karung beras sekaligus.
"Tega amat lu, Fi", Mahen berdiri memegangi pinggangnya seperti orang terkena encok.
"Siapa suruh jadi orang bandelnya gak ada obeng!" kali ini Fiona sudah berkacak pinggang.
Tidak salah pak Dika memilih gadis itu menjadi ketua kelas. Selain pandai bela diri, gadis itu juga tegas dan pantang mundur. Apalagi untuk mengurusi dua murid biang kerok itu. Tanpa bantuan Fiona, pak Dika mungkin akan lebih kewalahan.
"Apa sih mau lu?" tantang Haikal.
"Masuk kelas!"
"Kalau gak mau?"
"Ke ruang BK"
"Gak mau juga", timpal Mahen.
"Kalian ish, mau jadi objek latihan gue lu pada?" kesabaran Fiona mulai mencapai batasnya.
"2 lawan 1", tawar Haikal.
"Cemen amat. Kalian laki apa bukan?"
"Kalau pagi laki, kalau malem--emm" Haikal menjeda ucapannya, ia menaikturunkan alisnya dengan senyuman yang sulit diartikan sambil berpandangan dengan Mahen yang juga melakukan hal yang sama.
"Bisa gila gua deket kalian lama-lama", ujar Fiona sambil geleng-geleng kepala.
"Dah ah, males ladenin cewek bar-bar kek lu. Mending cabut", cibir Mahen yang berniat kembali ke niat awal.
Tanpa berkata apa-apa lagi Fiona yang memang sudah kehabisan stok kesabaran segera menarik telinga Haikal dan Mahen. Meski tinggi badan kedua lelaki itu melebihi dirinya namun tak menyurutkan nyalinya untuk berlaku tegas. Tak peduli mereka sampai berjalan tertunduk-tunduk karena ulahnya.
Ketika ucapan tidak didengar, tindakanlah solusinya.
"Akh! Sakit, Fi!" gerutu Mahen sambil memegangi telinganya yang mulai panas karena jeweran Fiona yang tak kunjung dilepas.
"Tau nih, lepas gak?!" sungut Haikal tak terima.
Bukannya menggubris dua cowok dalam jewerannya, Fiona malah menyeret mereka menuju ruang BK.
"Ampun, bu ketua. Sakit nih", rengek Haikal dengan nada manja yang terdengar tidak etis untuk seorang lelaki.
"Jangan ruang BK juga dong", protes Mahen.
"Terlambat", ketus Fiona yang sudah menggiring dua siswa itu masuk ruang BK.
Di sana sudah ada pak Toni yang siap untuk memberi pencerahan dan hukuman yang setimpal tentunya.
Haikal dan Mahen duduk bersebelahan di bangku depan meja pak Toni. Wajah dan telinga mereka terlihat memerah.
Sedangkan Fiona duduk di belakang tak jauh dari mereka. Karena pak Dika tadi menyuruhnya untuk masuk kelas bersama dua spesies itu, dengan terpaksa ia harus menunggu keduanya selesai diberi ceramah.
Tak sengaja pandangan Fiona menangkap momen janggal. Disaat kata-kata mutiara pak Toni masih berlanjut, diam-diam Mahen dan Haikal malah berpegangan tangan di bawah meja. Sesekali ibu jari Haikal mengelus lembut punggung tangan Mahen.
Walaupun itu hanya hal sederhana, namun Fiona jadi over thinking saat melihat keduanya sesekali juga melakukan kontak mata dengan sorot yang aneh lalu saling melempar senyum. Apa maksudnya ini?
Fiona sampai bergidik ngeri memandangi keduanya. Apakah pak Toni menyadari hal itu? Entahlah.
"Kuatkan jiwa jomblo hamba ya Tuhan", doa Fiona dalam hati.