Sangat sulit bagi Chalik untuk menghapus kenangan sore itu bersama Weli di Saung Restoran. Masih terbayang dengan jelas bagaimana senyum Weli terlihat begitu lembut ketika tatapannya terlalu sering menyapu wajah Chalik.
Dan yang paling membuat terkejut adalah ketika Weli mencondongkan tubuhnya mendekat dan bibirnya menyentuh bibir Chalik dengan ringan. Kecupan itu hanya berlangsung sekejap, tetapi cukup membuat tubuhnya menggelanyar dan jantungnya berpacu cepat. Lalu Weli meraih tangannya lagi, tersenyum percaya diri dan bertanya: “Bagaimana kalau kita mulai berpacaran?”
***
Chalik membawa mangkuk popcorn-nya ke dalam kamar dan duduk di depan laptop-nya pada meja belajarnya. Menarik selimut dari tempat tidurnya dan mulai memilih-milih film yang akan ia tonton.
Abah dan Nyak lagi nonton berita di ruang keluarga. Biasanya Abah, yang selalu tampak galak dan kaku, hanya akan menunjukkan sisi romantisnya kalau tidak ada orang di sekitar mereka berdua. Maka sebisa mungkin kedua putrinya memberikan waktu berduaan saja kepada kedua orang tuanya. Chalik tidak mau menjadi obat nyamuk dalam kemesraan mereka berdua. Dan untuk menghalau pemikiran-pemikiran tentang Weli, Chalik mencari film horor dan menontonnya.
Malam-malam liburan biasanya akan ia habiskan bergelung dalam selimut di atas tempat tidurnya, kebiasaan menonton film dan menyiksa diri sendiri dengan genangan air mata untuk film-film drama atau ketakutan sendirian sehabis menonton film horor sepanjang malam, terutama pada malam-malam musim hujan yang dingin.
Chalik menghela nafasnya panjang. Entah sudah berapa banyak malam libur yang sudah ia habiskan dengan cara ini, tidak yakin ingin menanggungnya lebih lama lagi. Dengan sengaja seolah ingin semakin menyiksa diri memilih untuk menonton film horor.
Ia melihat thriller sebuah film tentang monster rawa dan merasa tertarik untuk menontonnya.
Dikisahkan seorang anak yang berjalan dalam gelap malam dan melewati sebuah rawa. Anak tersebut membawa sebuah bungkusan berisi berbagai jenis sabun, sabun cair untuk mandi dan sabun cuci piring serta diterjen pencuci pakaian.
Anak tersebut berjalan dengan ketakutan karena baru saja mendengar kisah-kisah seram sebelumnya dari teman-temannya. Tiba-tiba ia mendengar suara lumpur yang tersedot dan tumbuhan hijau tampak sudah melingkar mengelilinginya. Membuatnya sulit untuk berjalan.
Tapi ternyata bukan rumput yang membuat anak tersebut susah melangkah, melainkan ikatan pada pergelangan kakinya yang semakin mengencang dan seakan menariknya ke tengah rawa.
Anak tersebut berteriak-teriak histeris, ia berusaha membebaskan dirinya dari genggaman monster rawa tersebut, namun makin banyak ia memberontak, makin kuat monster tersebut membelit. Monster itu membawa anak tersebut semakin dekat ke mulutnya yang besar, licin dan bau.
Chalik melihat ke jam dinding di tengah kamar-nya. Waktu telah menunjukkan 24.00 WIB dan Chalik mulai merasa sedikit ketakutan akan kelanjutan film yang ia tonton.
Tiba-tiba terdengar suara ‘KRAK..’
Monster itu telah memecahkan botol-botol sabun dalam bungkusan si anak tadi dan dalam sekejap mata, monster rawa itu berubah menjadi sekumpulan busa yang harum sabun.
Monster itu tenggelam dalam air bersabun. Anak tersebut pun langsung membebaskan diri dari genggaman si-monster yang licin. Mereka berdua akhirnya berendam dalam air penuh busa sabun.
Saat itu, beberapa orang yang mendengar teriakan si-anak datang mendekat dan berusaha untuk menolong anak itu. Mereka melihat monster rawa yang telah berubah bentuk menjadi sosok yang bersih dan tidak lagi menakutkan. Mereka langsung tertawa terbahak-bahak dan si-monster yang menjadi sangat malu, kembali masuk ke dalam rawa dan tidak pernah memperlihatkan dirinya lagi.
Film bergendre horor yang tidak terlalu menakutkan buat Chalik. Malah terkesan lucu karena pada akhirnya si-monster dapat dikalahkan dengan sesuatu yang sederhana, yaitu sabun.
Chalik kembali teringat kepada kekhawatiran akan penerimaan keluarganya terhadap sosok Weli. ‘Apakah ada penyelesaian yang bisa ia terapkan dalam menghadapi ketakutannya tersebut? Bisakah mereka melewati tantangan ini dan keluar sebagai pemenang?’ Chalik kembali membatin sendiri.
***