Nala sedang buru-buru bersiap untuk berangkat ke kantor pagi ini karena ada meeting dengan manager. Meski sedang terburu-buru, dia tidak lupa merias wajahnya agar tetap tampil cantik dan tidak kusam. Sebisa mungkin perlengkapan riasan itu tidak tinggal di dalam tas kecil miliknya.
"Ma, Pa, aku pergi dulu." Nala mencium pipi kedua orang tuanya saat tiba di ruang makan.
"Loh! Nggak sarapan dulu, sayang?" tanya mama Mery.
"Nggak keburu lagi, Ma! Bye-bye." Nala melambaikan tangan sembari melangkah menuju ke garasi untuk menyalakan motor kesayangannya.
Tak butuh waktu lama, Nala telah tiba di kantor dan terlihat semua teman-temannya sudah mulai berkumpul di ruang meeting. Jantung Nala sudah berdebar tak menentu menanti sang manager untuk memasuki ruangan tersebut. Pasalnya, orang yang sedang ditunggu-tunggu adalah laki-laki yang selama ini menjadi pengusik hati Nala. Dia pun berharap suatu hari nanti bisa mengarungi hidup bersama seseorang itu.
Derap langkah kaki mulai terdengar menuju ke ruangan tersebut dan pintu pun terbuka. Nampaklah lelaki yang selalu berkharisma dengan senyum tipis menghias wajah tampannya. Semua staff pun kompak berdiri dari duduknya menyambut kedatangan Deon yang menjabat sebagai manager di kantor ini.
"Selamat pagi semuanya." Deon dengan tegas menyapa semua staff yang sudah berkumpul di ruang meeting tersebut. Para staff pun menjawab dengan penuh semangat sapaan dari pimpinan mereka.
Meeting pun dimulai dan berlangsung kurang lebih sekitar dua jam. Nala yang sangat antusias menyimak serta memberikan ide-ide yang ada di benaknya membuat Deon terkagum pada gadis berlesung pipi yang sebentar lagi usianya akan mencapai dua puluh lima tahun. Meeting pagi ini pun usai dan semua staff membubarkan diri menuju meja kerja masing-masing.
"Gila, Na. Lu keren banget sampai pak Deon kagum sama ide-ide brilian lu itu." May dengan antusias memuji kehebatan Nala.
"Gue sebenarnya nervous banget tau nggak, sih!" Nala memegang kedua pipinya yang terasa dingin.
"Hahaha, ya iyalah. Secara, lu kan suka sama pak De .... " ucapan May terhenti karena mulutnya dibekap oleh Nala.
"Ni bibir ada filternya nggak, sih! Nggak pakek rem kalau ngomong." Nala menarik bibir May hingga mengerucut.
"Swakik, Na. Ihhh!'' Gerutu May. Dia menepis tangan Nala yang merusak riasan bibirnya. "Luntur dong lipstik mahal gue gara-gara tangan lu ini, Na." May langsung meraih cermin kecil di meja kerjanya.
"Biarin!" Nala pun melengos dan kembali pada tugasnya.
***
Sore hari, suasana kantor sudah terlihat sepi. Nala pun keluar dari ruang kerjanya lalu menutup pintu. Saat tubuhnya berbalik malah menabrak seseorang yang selalu ada dalam pikiran Nala selama ini.
"Upss! Kamu nggak apa-apa?" tanya Deon.
"Eng-enggak pa-pa, Pak." Jantung Nala berdegup semakin kencang karena jarak wajahnya yang begitu dekat dengan wajah Deon. Tatapan mata mereka beradu membuat atmosfer di ruangan tersebut terasa begitu dingin. Nala menjadi sangat gugup sekali ditatap seperti itu oleh Deon.
Deon tersenyum melihat wajah Nala yang berada tepat dihadapannya nampak begitu merona. "Saya duluan, Na," pamit Deon.
Nala hanya bisa mengerjapkan mata mendengar suara merdu dari Deon, hingga managernya itu hilang dari pandangan. Setelah itu, Nala pun keluar menuju ke basement di mana tempat kendaraannya terparkir.
Dalam perjalanan menuju pulang ke rumah, Nala selalu terbayang senyum manis Deon dan juga suara merdu sang manager yang terngiang-ngiang ditelinganya. Nala tersenyum-senyum sendiri memikirkan kejadian yang baru beberapa saat terjadi.
Suara decitan rem kendaraan dari arah jalur kanan mengagetkan Nala yang sedang melamun dan dia pun reflek menarik tuas rem motor maticnya hingga hampir terjungkal.
Seseorang keluar dari dalam mobil dan menghampiri Nala. Wanita berambut pirang dan matanya hijau menatap tajam pada Nala yang masih shock dengan kejadian barusan.
"Heh! Lu bisa bawa kendaraan nggak, sih!" Wanita itu berkacak pinggang dan membentak Nala.
"Maaf, saya nggak .... " ucapan Nala terhenti saat melihat orang yang sangat dia kenal keluar dari balik kemudi mobil di depannya.
"Sayang, ayo buruan! Katanya tadi udah kangen banget sama mama di rumah." Deon menghampiri wanita yang sedang berkacak pinggang dan merangkul pundaknya dengan mesra.
Hati Nala mencelos melihat sesuatu yang selama ini tidak dia ketahui tentang Deon. Deon merupakan laki-laki yang penuh perhatian dan juga berkharisma hingga membuat Nala merasa berbunga-bunga jika dekat dengan Deon meski hanya saat urusan pekerjaan. Dia pun tidak pernah melihat bahwa lelaki yang dia sukai ini membawa seorang wanita ke kantor di tempatnya bekerja.
"Maaf ya, Na. Saya sedang buru-buru, kamu hati-hati bawa motornya dan jangan melamun lagi." Pesan Deon pada Nala dan berlalu pergi bersama wanita yang merupakan kekasih Deon. Wanita itu baru pulang dari luar negeri karena urusan pekerjaannya hingga lama baru bisa berjumpa dengan Deon saat ini.
Tubuh Nala menjadi lunglai mengetahui bahwa Deon sudah mempunyai kekasih yang berkelas dan juga sangat cantik. Tanpa terasa, mata Nala mengembun dan dadanya terasa sesak. Panas dan juga perih begitu mengetahui jika seseorang yang dia sukai ternyata memiliki pasangan.
Harapan Nala pun pupus bersama deraian air mata yang mengalir membasahi pipinya. Tanpa pikir panjang, Nala pun menarik tuas gas motor dengan kuat dan mengendarai motornya ugal-ugalan. Nala tidak melihat kanan kiri jalan saat lampu merah dan terdengar suara klakson yang sangat nyaring memekakkan telinga dari banyak kendaraan.
Braakkkk
Motor Nala menghantam pembatas jalan sedangkan tubuhnya terpental ke trotoar. Banyak pengendara lain langsung berkerumun dan menghampiri Nala yang sudah tidak sadarkan diri dan tubuhnya bersimbah cairan kental berwarna merah. Darah segar keluar dari lubang hidung dan juga telinga Nala.
Seseorang dari pengendara lain langsung menghubungi ambulans agar korban cepat mendapat pertolongan. Suara sirine pun berbunyi nyaring membuat kerumunan para orang-orang itu perlahan membubarkan diri.
__Tamat__