Ana,usianya 25 tahun. Dia janda mempunyai seorang putri yang cantik, setelah berpisah dengan suaminya ana menjadi sosok ayah sekaligus tulang punggung bagi anaknya.
"Sayang,, bunda boleh kerja nggak" aku meminta ijin pada anakku sambil tersenyum
"Boleh bunda, tapi nanti kalau udah dapat uang banyak buat beli ayah ya. Anita pengen punya ayah kayak temen temen anita bunda hihi" polosnya anakku berbicara sambil tersenyum manis padaku
"Iya sayang, yang penting inget kata bunda apa nak"
" Harus rajin sholat dan berdo'a supaya Anita di kasih ayah yang baik. dan bunda selalu di kasih bahagiaan dan selalu di berikan kesehatan"
"Amin,, pinter anak bunda ya"
Aku tersenyum dan sesekali menyeka air mata yang jatuh ke pipi sambil mencium kening putriku. keesokan harinya, aku berangkat ke terminal bis dan mencari tiket menuju ke sebuah kota untuk mencari pekerjaan.
'Apapun akan aku kerjakan asalkan halal' ucapku dalam hati
baru dua hari aku di kota, aku mendapat pekerjaan meskipun dengan gaji yang kecil tapi tetap aku syukuri.
"Alhamdulillah" ucapku mensyukuri nikmat yang maha kuasa lalu aku menuju bank untuk mentransfer sebagian uang itu.
Setelah pulang dari ATM aku langsung pulang ke rumah bosku, ya aku bekerja menjadi ART tapi aku tidak malu karena uang yang ku dapatkan adalah halal
" kamu sudah pulang mbk" tanya ibu bos ku dengan senyum ramah. nama nya ibu natali dia baik dan juga dermawan dia bos sekaligus teman curhat bagiku
" iya sudah barusan pulang bu" jawabku yang langsung pergi ke dapur untuk memasak makan siang, aku selalu senang mengerjakan pekerjaan ini semua ku lakukan untuk putriku
Setelah malam hp ku bergetar aku segera melihatnya, ternyata ada sebuah notifikasi di facebook ku yang masuk. aku melihat satu persatu aku baca
'tidak perlu mewah untuk bahagia, jika dia tidak bisa di pertahankan maka ku lepaskan, lebih baik aku bersenang" dengan teman yang selalu setia menemaniku' itulah notifikasi yang d bagikan ke facebook ku dari facebook lain. lalu tanganku menekan kolom komentar dan kami saling berkomentar, saling berbagi nomer hp
"ping" sebuah pesan whatsap masuk
"pong" aku membalasnya
"Aku fa'i, siapa namamu" begitulah pesan yang ia kirimkan
"Aku ana"
"Salam kenal ya semoga kita bisa jadi teman baik, itupun kalau tidak ada yang marah"
aku tersipu dan tersenyum" sendiri membaca pesan itu. kami terus berbalas pesan dan akhirnya dia menanyakan dimana aku bekerja.
"aku akan datang ke batam untuk mengantarkan saudaraku bekrja, apakah kita bisa bertemu?"
pesan itu baru ku buka setelah pagi hari karena semalaman entah sampai jam berapa kami berbalas pesan
" insyaalloh jika aku di izinkan oleh bos ku maka kita bisa bertemu"
dan alhamdulillah bos ku sangat sayang padaku beliau mengijinkan aku pergi dengan pesan
'jaga diri baik" jangan sampek kena tipu"
aku cuma tersenyum lalu pergi keluar setelah tiba d tempat kami berjanji maka kami saling bertatap muka.
'ya alloh apakah benar orang yang d depanku saat ini adalah orang yang sama d whatsap itu' ucapku dalam hati karen awal kami bertemu dia seperti tidak d urus, dia hitam berambut panjang dan dekil. ckk hahaha
hujan pun mulai turun, setelah lama kami mengobrol dan saling berbagi cerita aku pun pamit untuk pulang karena hari sudah sore, takutnya bos kawatir. dia mengangguk mengerti
" lain kali kita bisa bertemu lagi" tanya nya sambil melempar senyum yang d buat manis pada ku hahaha
aku cuma mengangguk lalu berjalan menuju angkutan umum
"ping"
"Bisa kita bertemu, ada hal penting yang harus aku katakan padamu" pesan masuk dari mas fa'i
" iya bisa, nanti jam 2 siang insyaalloh" balasan whatsapku dengan emoji tersenyum
"terimakasih" balasnya lagi
tidak aku hiraukan, lalu siangnya aku meminta ijin kembali pada bos ku untuk keluar. untung saja bosku pengertian, dia mengerti jika ada seseorang yang sedang berjuang ckk
"assalamualaikum" aku menyapanya dengan ramah
"waalaikumsalam calon istri ku" cetolehnya aku hanya tersenyum malu
"Aku ingin membawamu kerumah ku untuk bertemu orang tuaku, apakah kamu mau ikut denganku" seketika jantungku berdegub kencang tidak terlintas di pikiranku untuk kenal lebih dekat bahkan sampai bertemu orang tuanya.
" Apa maksutmu menanyakan seperti ini"
" jika kamu mau bilang iya jika tidak katakan saja tidak" hanya itu jawabannya.
"iya" jawabku sambil mengangguk
dua hari kemudian dia membawaku ke rumah orang tuanya, jauh dari kota tempat itu sepi tapi penuh kenyamanan
"kamu suka desa ini? memang sepi tapi terasa sejuk di hati apalagi d saat pagi hari, begitu indah"
aku hanya diam memandangi setiap jalan yang kami lewati, dua jam perjalanan akhirnya sampai juga d rumah orang tuanya. aku di persilahkan masuk dan mandi lalu mereka mengajakku makan siang trus menyuruhku istirahat.
'keluarga yang baik, penyayang dan penuh kasih sayang' ucapku dalam hati
setelah merasa cukup istirahat aku keluar kamar dan duduk di sebelah ibu mas fa'i
"kamu kerjanya apa di sana nduk" bapak udin memulai pembicaraan. iya itu nama ayah mas fa'i beliau seorang imam masjid dan sudah haji. beliau bertanya padaku dengan senyuman ramah
"Saya hanya bekerja jadi ART pak" jawabku dengan tersenyum kecil d bibir
" tidak masalah apapun pekerjaanmu yang penting halal" sambung ibu umi sambil memegangi bahu ku.
dan mereka semua menyampaikan pesan
'dimanapun kamu berada jangan pernah melupakan kewajibanmu pada alloh, aku hanya mengangguk dan tersenyum, ketika kembali ke batam. sepanjang prjalanan kami hanya terdiam dan aku juga masih tidak menyangka jika lelaki di depanku benar" serius ingin meminangku, namun di hati masih tersimpan rasa tak percaya
" Aku tau kamu sedang memikirkan semua ini terlalu cepat bagimu kan? Tapi satu hal yang harus kamu tau apapun yang terjadi nanti aku akan selalu ada di sampingmu, aku mohon jangan ragukan aku. aku tidak ingin berpacaran karena takut dosa, maka aku ingin kita menikah"
aku hanya terdiam dan tersenyum, dia mendekatiku dan bercerita banyak tentang keluarganya. namun di hati masih saja sulit mengartikan semuanya
sebulan berlalu aku dan mas fa'i kembali kerumah orang tuanya kami menikah secara sirih, karena statusku belum cerai dan masih d gantung oleh mantan suamiku.
acara pernikahan d gelar dengan sederhana,hanya ada anggota keluarga yang datang. orang tua ku pun tak datang karena jauh tetapi mereka menyaksikan pernikahanku di vidio call.
setelah satu jam ijab kabul kami makan bersama dengan penuh bahagia, akhirnya apa yang d inginkan putri ku untuk bisa mempunyai ayah terwujud. aku bersyukur padamu ya alloh berulang kali ku sebut nama alloh. Namun tiba"
" Pernikahan sudah selesai dengan acara seadanya namun saya mewakili suami saya untuk menyampaikan pesan ini" semua orang terdiam saat ibu mertua ku ingin menyampaikan sesuatu
" Setelah pernikahan kalian d larang datang ke rumah dan tidak d ijinkan tinggal bersama kami, tapi kami sudah menyiapkan rumah untuk kalian tempati" aku sangat terkejut saat mendengar semuanya mata ku mulai berkaca" namun aku berusaha untuk tetap tegar
setelah satu minggu pernikahan aku di bawa suamiku meninggalkan rumah tantenya, kami pindah ke rumah yang di maksut mertuaku waktu itu
"Dek maafkan mas, mas hanya bisa memberimu tempat tinggal sederhana ini, tapi mas janji mas akan bekerja dan berusaha agar bisa membahagiakanmu" ucap suami ku sambil meneteskan air mata
aku menghela nafas kasar namun aku tau hati suamiku juga hancur tapi aku belum tau apa alasannya.
" tidak apa mas, aku percaya suatu saat nanti kamu bisa membahagiakan aku dan anak" kita nanti" aku berusaha tenang dan tetap tegar
"Mas, bolehkah aku menanyakan sesuatu?"
"hmm, iya katakanlah sayang" suamiku begitu sangat menyayangiku sampai sore dia masih saja menyibukkan untuk bekerja
" Kenapa kita tidak tinggal dengan orang tuamu,? apakah aku membuat kesalahan pada mereka sehingga mereka marah?" aku terus bertanya karena pikiran yang mengusikku
" maaf sebelumnya dek,mas cuma tidak ingin kamu mendengarnya karena mas takut kamu kecewa"
aku tersenyum dan berusaha meyakinkan suamiku
" apapun yang akan kamu katakan meskipun akan membuatku kecewa namun aku akan ikhlas menerimanya mas. tolong katakanlah"
kami terdiam dan hening sesaat
" orang tuaku sebenarnya tidak setuju jika aku menikahimu, karena kamu mempunyai anak dan statusmu masih tergantung. belum resmi berpisah dengan suamimu dulu, itulah sebabnya orang tuaku tidak mengijinkan kita tinggal dengan mereka"
Kecewa tentu saja hatiku kecewa, kenapa baru sekarang mereka mengatakannya kenapa tidak dari awal. pikiranku terusik di hatiku ingin pergi dari kehidupannya jika memang mereka tidak merestui untuk apa mereka menikahkan kami, hanya itu yang selalu aku pikirkan
"Dek aku tau kamu pasti kecewa, tapi percayalah aku akan selalu ada untukmu, aku akan terus di sampingmu sampai maut memisahkan kita" suami ku memelukku erat perlahan dia melepaskan pelukannya. dia mencium keningku lalu menatapku penuh dengan harapan. aku hanya mengangguk
perasaan sedih yang melanda di hatiku sangat kecewa dan perih mendengar semuanya namun suami ku sangat menyayangiku, dia membuatku hanyut dalam belaiannya, sentuhan tangannya perlahan mencium bibirku dengan lembut lalu tangannya bermain" dari bawah sampai menenggelamkanku dalam kasih sayang. membuat aku lupa akan masalah yang sedang kami hadapi, perlahan dia membaringkanku dengan lembut dia membisikkan do'a" di telinga dan ubun" ku lalu kami memulai indahnya surga dunia
"pagi sayank" ucap suamiku sambil terus memelukku erat
aku hanya tersenyum
"ayo bangun kita mandi dan sholat subuh dulu, baru setelah itu aku akan menjemput rejeki" ucapnya lagi sambil bergegas mengambil handuk lalu mandi.
"Aku ikut, aku ingin tau caranya mengambil getah pohon karet" ya suami ku bekerja nderes karet. tidak banyak tapi insyaalloh cukup untuk kebutuhan kami sehari"
"Baiklah ayo, tapi kamu pakai dulu anti nyamuk nya supaya gak di gigit nyamuk nakal, hihihi biar aku saja yang menggigitmu lagi nanti malam"
Setelah siang hari akhirnya kami pulang ke gubuk kecil sederhana, gubuk penuh dengan cerita kami
"kalian baru pulang ya, ini ibu bawain lauk untuk kalian makan siang" ucap ibu mertuaku sambil memberikan bingkisan d tangannya
" terimakasih ibu, merepotkan ibu saja main ke sini bawa oleh oleh. mari bu silahkan masuk" jawabku sembari membukakan pintu
sore hari suamiku mengajak untuk datang kerumah mertuaku. namun aku masih berpikir yang tidak tidak, aku takut mereka akan lebih membenciku karena kedatanganku
"tidak apa ayo kita bersilaturahim dengan orang tuaku, jangan pikirkan yang aneh aneh aku akan selalu ada untukmu" lalu kami berangkat dengan mengendarai motor kebun yang seadanya
sekitar dua puluh menit kami tiba d halaman rumah orang tua suamiku
"Assalamualaikum" sapa kami bersamaan
"waalaikumsalam"mereka pun menjawab dengan bersama
aku memdekati ibu mertuaku dan memberikan salam, beliau menerima dengan senyuman yang ramah. namun ketika aku ingin mencium punggung tangan ayah mertuaku
"Sudah tidak usah, nanti air wudhu saya batal"
Deg
seketika air mataku ingin tumpah, namun aku berusaha menahannya. hingga saat malam hari aku mengajak suamiku pulang kerumah karena tidak nyaman
dia hanya mengangguk, mengerti dengan keinginanku. kami pun pamit pulang
"Ada apa sayang" tanya suamiku dengan mengerutkan kening
"tidak apa aku hanya lelah saja" aku tersenyum sinis
dia mendekatiku dan memelukku dari belakang,begitu nyaman saat berada di pelukannya
"Aku tau kamu tersinggung dengan ucapan ayahku tadi kan?"
aku hanya tersenyum
" percayalah jika kamu terus mendekati orang tuaku dan bisa mengambil hatinya maka kamu akan menjadi menantu kesayangannya" ucapnya lagi
" sudahlah entah sampai kapan aku akan bisa bertahan dengan sikap mereka yang dingin itu" aku pergi ke dapur dengan perasaan yang begitu kesal
"sayang percayalah padaku, mereka tak akan lama bersikap seperti itu padamu. jika kamu terus sabar menghadapinya"
"hhmm" hanya itu yang ku ucapkan
Tiga bulan membina rumah tangga dengan kesabaran dan ikhlas, akhirnya kami bisa membangun rumah sendiri. ya meskipun kecil namun begitu berarti untuk kami, suamiku sendiri yang mengerjakan semuanya di bantu dengan tukang bangunan yang sudah ahli
Satu bulan akhirnya rumah kami selesai di bangun, dan kami langsung menempati rumah
Namun masih gelap. karena belum ada lampu KHW sendiri
"Nggak usah pasang lampu dulu lebih baik kamu ambil arus listriknya dari rumahku" ucap bang ifsa membuka pembicaraan dengan suamiku
"tapi bang aku bisanya ngisi pulsa token sebulan sekali karena aku cuma menggunakan lampu 2, itupun entah kalau tidak nambah lampu lagi"
"iya nggak apa lagian aku mintanya kamu kasih uang saja kan lumayan bisa buat tambahan jajan ayu" lanjut abang ifsa
kami menyetujui nya dan keesokan paginya suamiku memasang arus listrik dari rumahnya
Satu bulan kami menumpang listrik dengan abang suamiku, kakak ipar sedang ke luar kota karena ada urusan
" bang maaf kami telat memberi uang listrik soalnya uangnya kami pakai dulu untuk kondangan d rumah mbk nur" aku memulai pembicaraan saat tau abang ipar ku baru pulang dari masjid
ya, saudara suamiku berlima dan suamiku anak ke empat. sudah satu minggu lamanya suamiku tidak bekerja karena harus membantu kakak nya pesta,namanya mbak nur dia anak ke tiga mertuaku
"iya nggak apa nduk nanti kalau udah punya uang baru kamu kasih ke saya" jawabnya dengan wajah tidak suka
Namun yang di ucapkan tidak sama dengan yang di hati, abang ifsa membicarakan masalah uang lampu yang tidak seberapa kepada orang lain
"huu cuma bayar listrik 25000 saja tidak mampu, nggak mungkin mereka gak punya uang kalau fa'i kerja. terus kemana uangnya,?" ucapan suamiku dengan seseorang yang tak lain adalah kakak iparku, kakak perempuan suamiku yang ke dua
omongan itu sampai ketelingaku, bahkan suamiku juga mengetahui. tapi kami hanya diam dan berusaha mencarikan uang untuk bayar listrik
"Mas, bagaimana udah dapat uangnya belum?" tanyaku
suamiku hanya menggeleng
hmmm
Aku pergi ke rumah mertua karena butuh uang aku pinjam pada mereka, dan alhamdulillah mereka memberikan pinjaman 50.000
"Bang maaf, ini uangnya sudah ada. maaf jika kami terlambat bayar listrik karena kami juga lagi gak ada kerjaan" ucapku sambil memberikan uang itu ke abang ipar ku
"tidak usah lah bawa aja uang itu. dan ya kamu laporkan semua ke ayah dan ibu mertuamu kan kamu suka mengadu"
Deg
begitu sakit ucapannya dengan melihat uang yang aku berikan. lalu d lempar ke tanah begitu hinanya diriku ya alloh
Aku pu berjalan pulang, namun suamiku mengetahui semuanya
"Sudah gak usah baikin mereka lagi, mulai sekarang anggap saja mereka tidak ada ikatan saudara dengan kita. kita harus sBar dan banyak sadar karen kita orang miskin, tentu mereka tidak akan melihat kita ada. bahkan mereka akan memandang kita rendah" ucapan suami ku terdengar kasar namun dalam hatiku membenarkan semua yang di katakan suamiku
akhirnya listrik kami matikan, kami menggunakan lilin untuk menerangi rumah kami. tidak ada satu pun keluarga yang mau melihat keadaan kami bahkan semua orang menjauh karena kemiskinan kami
aku mencoba menenangkan suamiku yang masih emosi, setelah wajahnya terlihat tenang , aku membuatkan kopi untuknya. baru sedikit iya menyeruput kopinya kakaknya datang kerumah dengan raut wajah yang tidak bisa di tebak
" Fa'i kenapa kamu jahat sama abangmu, kamu harusya inget dia abangku itu berarti dia abang kamu juga. kalau sampai kamu tadi main kasar kamu akan di laporkan ke pilisi" teriakan kakaknya membuat suamiku bertambah marah
" Aku tau dia abangmu, aku juga tau dia abangku tapi apakak sikapnya patut di contoh. apakah dia pantas di panggil seorang abang hanya karena uang yang tidak seberapa baginya, coba kamu fikir hanya karena uang 20 ribu dia menghinaku, bahkan istriku yang selama ini baik pada keluarganya dibalas seperti ini. apakah masih pabtas aku menhormatinya" jawab suami ku tegas
Bukannya diam tapi kak ita terus saja mengomel sampai 15 menit suamiku terdiam lalu
" Dek, ada orang di depan itu orangnya mau ke sini badannya besar tinggi. dia nggak pakek baju" suamiku kehilangan kesadaran pikirannya mulai berhalusinasi
" Tidak mas, nggak ada siapa siapa disini cuma ada aku, mama, dan kak ita.kamu sadar mas liat aku istrimu, jangan dengarkan yang lain cukup dengarkan aku" aku membawa suamiku kebelakang untuk berwudhu,tangannya kaku matanya hanya melihat kedepan
Aku panik namun mencoba tetap tenang lalu perlahan mama membasuhkan air wudhu ke setiap badan suamiku
" Alhamdulillah, kamu istirahat dulu mas jangan banyak pikiran. dan kamu kak tolong pulanglah, jika kamu tidak tau masalah yang sebenarnya tolong jangan ikut campur" jawabku tegas
Suamiku terus mencoba memberikan kekuatan padaku hingga suatu hari
"mas kamu kan hobi otomotif, kenapa kamu gak nyoba buka bengkel aja"
"aku siy ada kepikiran buka bengkel tapi modal nya darimana dek" suamiku tersenyum dan menatapku serius
"kita jual aja cincin ini dulu buat modal, nanti kalau udah ada rejeki kita beli lagi" aku tersenyum mencoba menunjukkan jika diriku baik baik saja
ia pun tersenyum dan mengangguk.
"alhamdulillah semoga lancar ya mas, dan semoga kita selalu di jadikan orang yang terus bersabar dengan ujian alloh"
"amin, semoga menjadi berkah ya dek"
Dua bulan di sibukkan dengan bengkelnya suamiku pamit untuk keluar rumah, tidak seperti biasanya dia rapih dan harum
'aku hanya berdo'a agar suamiku selalu engkau jaga hati dan cintanya untukku ya alloh' tambah ku dalam hati
" sayang aku pulang" jam sudah menunjukkan pukul 17.30 artinya suamiku pergi keluar dari pagi hingga jam segini.
kemanakah dia pergi? dan dengan siapa? pikiranku tidak tenang namun...
" ini untukmu sayang,hadiah pertamaku dari hasil bengkel ini" dia memberikan sebuah kotak di tangannya, sambil tersenyum dia membuka perlahan kotak itu
" mas ini beneran untukku" dengan mata berkaca kaca, aku masih tidak percaya dia membelikan aku kalung yang cantik dan indah
"terimakasih mas, aku senang ini sangat indah"ucapku sambil memeluknya
"iya alhamdulillah dek,berkat do'a dan semangat darimu hasil bengkel ini bisa menggantikan cincin yang kamu berikan untul modal, dan ini masih ada beberapa uang lagi. besok kita akan memasang listrik sendiri biar kamu gak kegelapan terus kalau masak" kami menangis bersama, mengingat semua yang sudah terjadi. ujian dan cobaan itu seakan hilang saat kami memiliki penerangan d rumah
setelah semua masalah yang kami hadapi bersama, kami mencoba terus bangkit. setelah satu bulan, suami ku menekuni bengkelnya dia tetap bersemangat bekerja. tidak peduli malam pun masih terjaga untuk menyelesaikan pekerjaannya
ooeekk..ooekk
" Dek kamu kenapa?" tanya mas fa'i
" aku nggak apa apa mas, mungkin masuk angin kan dari kemarin aku nemenin mas terus sampai tengah malam" jawabku
" ya sudah kamu istirahat saja, biar mas sendiri gak apa kok"
aku hanya mengangguk, 'Apa aku hamil? bulan kemarin aku belum kedatangan tamu sampai bulan ini juga pun belum. apa aku beli tespek aja besok' ucapku dalam hati
Paginya aku segera pergi ke klinik dekat rumah untuk membeli tespek karena terburu buru aku membeli 3 sekalian. petugas klinik pun heran kenapa aku belu tespek sebanyak itu
sampai di rumah, aku langsung ke kamar mandi karena tidak sabar melihat hasilnya. hatiku berdegup kencang, mataku memandang alat tes itu masih tidak percaya dengan Dua garis merah di benda kecil itu. aku membuka tespek yang lainnya hasilnya tentu saja sama, aku duduk menangis bahagia. aku mendekati suamiku yang masih terlelap tidur, pukul 08.45 suamiku masih tidur pulas sebab semalam ia begadang sampai jam 03.00 pagi. aku juga tidak mempermasalahkannya karena dia terlalu lelah
" Mas bangun sudah siang, ayo kita sarapan" sambil mencium pipi tembem nya aku terus mencoba membangunkan suamiku karena sudah tak sabar memberikan berita baik ini, aku cium bibirnya yang manis supaya matanya terbuka. perlahan suamiku membuka matanya dan tersrnyum
" Masih pagi dek semalam mas mau terjang gol tapi melihat kamu nyenyak tidur mas nggak jadi" dia malah meledekku sambil terus menciumiku
" Aaww.. sakit dek, kok malah di cubit padahal lagi semangat semangatnya ckckk" tambah suamiku
aku hanya tersenyum dan menarik tangannya agar cepat beranjak dari tempat tidurnya. lalu ia ke kamar mandi untuk menyegarkan badan, setelah mandi ia duduk di kursi dengan menyeruput kopinya yang sudah aku siapkan
" Apa ini dek" tanyanya sambil menarik tanganku ke pangkuannya
" Benarkah ini aku nggak mimpi dek" dia masih memandangi benda kecil bergaris dua itu, dan menatapku seakan masih berada dalam tidurnya
" Iya mas, itu benar aku hamil" jawabku dengan mata berkaca kaca tanpa sadar air bening jatuh di pipiku
" Ya alloh terimakasih, engkau sudah mengabulkan do'a do'a kami" seketika suamiku bersujud di lantai. dia terus mengucap syukur
mengetahui kehamilanku, mas fa'i pun menghidupkan mesin motornya dan bergegas ke rumah orang tuanya untuk memberikan kabar bahagia ini
tidak lama ibu mertuaku datang dan menangis, namun tangisan itu adalah tangisan bahagia setelah mengetahui kehamilanku, beliau tidak mengijinkanku mengerjakan pekerjaan yang berat. aku hanya di ijinkan mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan saja, sudah seperti seorang putri yang kedua kalinya aku hanya menyapu rumah dan memasak. sedangkan tugas yang lainnya suamiku yang mengerjakan
suamiku laki laki yang bertanggung jawab, aku beruntung dan sangat beruntung menjadi istrinya
selama kemahilan, dia selalu sigap dan selalu mendampingiku hingga lahiran
" Dek kamu harus kuat, kamu pasti bisa ya percaya padaku. aku akan menemanimu di dalam" dia mengecup bibir ku dan memberikan semangat saat di dalam ruangan
hari ini sudah waktunya aku melahirkan, suamiku selalu setia menemaniku dan memberiku semangat. tidak perduli sesakit apa pun tangannya yang aku jadikan pegangan untuk mengumpulkan kekuatan saat itu sampai tangan suamiku terluka
ooek oek oek
" Anaknya perempuan pak, bu selamat ya. cantik seperti ibunya" dokter memberikan bayi mungil itu kepelukanku, suamiku menangis
" Terimakasih sayang, kamu sudah berjuang untuk melahirkannya. aku janji aku akan menjaga kalian berdua, aku nggak akan membiarkan kamu merasakan sakit lagi" suamiku memeluk kami berdua sambil mencium pipi putri kami
waktu begitu cepat berlalu kini usia anak kami 8 bulan, ia sudah mulai merangkak dan bermain. aku selalu mengawasinya sambil membereskan rumah
Ting
sebuah pesan notifikasi instagram masuk ke ponsel suamiku. aku langsung mengambil ponselnya karena suamiku sedang mandi
Deggg
hatiku terasa sakit setelah membaca isi pesan itu
' Mas fa'i udah minum kopi belum' isi pesan dari seorang wanita
'sudah tadi pagi' aku membalas pesannya
'mas beneran masih cinta sama aku. mas menikah karena di jodohkan sama orang tua mu mas, baiklah kalau begitu aku akan pulang ke indonesia untuk menagih janjimu' begitulah bunyi pesan yang di kirim wanita itu
suamiku keluar dari kamar mandi tersenyum dan menatapku, aku masih memandanginya dengan penuh benci dan
Praaakkkk
aku lempar handpone nya tepat di dedannya, ia masih diam
" Ada kamu seprti ini, kenapa" tanyanya
tanpa menhawab pertanyaanya aku langsung mengemasi bajuku dan baju anakku. kami pulang kerumah, karena semalam kami menginap di rumah mertua. suamiku yang bingung langsung lari mengejarku, namun aku tidak perduli aku terus melangkahkan kakiku untuk pulang. mertuaku juga ikut menyusul dari belakang
" Ada apa nak kenapa kamu begitu marah" tanya ibu mertua setelah sampai di rumahku
" Ibu tanya saja sama anak ibu" jawabku ketus
" Kenapa fa'i ada apa ini apa kamu membuat kesalahan" tanya ibu mertua yang serius
suamiku hanya menggelengkan kepala lalu melihatku lagi. tapi aku tidak perduli, aku terus mengemas barang barangku. aku sangat kecewa dan ingin pulang kerumah orangtua ku saat ini juga
" Ana katakan ada apa, kenapa kamu tiba tiba ingin pulang" tanya ibu mertua lagi
aku menghela nafas kasar dan duduk di sebelah ibu mertua. aku critakan semua yang aku lihat dan aku baca
plak
plak
plak
ibu mertua langsung menampar pipi suamiku. ia hanya terdiam dan menangis, matanya menatapku penuh penyesalan di matanya namun aku tidak perduli
" Maaf bu untuk sementara aku ingin ke rumah orangtuaku, aku ingin menenangkan hatiku dulu. aku akan membawa anita bersamaku" ucapku sambil bergegas menggendong anita putriku
" Maaf dek maafkan aku, aku salah dan aku..."
" sudahlah.. mas temui saja perempuan itu yang bisa membuat mas bahagia. toh pernikahan kita kan karena di jodohkan jadi kamu nggak salah kok. kamu sendiri yang bilang seperti itu ke perempuan itukan" jawabku sambil mendorong tubuh suamiku.
aku beranjak keluar tanpa menoleh aku langsung naik ke mobil yang sudah aku pesan untuk mengabtarku pulang ke kampung halaman, ibu mertua ku hanya menangis saat menyusulku ke dalam mobil
" tolong jangan pergi ana, biar kan fa'i yang pergi karena dia yang sudah membuat kesalahan. biar dia yang keluar dari rumah ini karena mulai hari ini dia bukan anakku lagi, dia sudah menyakitimu itu berarti dia juga menyakitiku" ucap ibu mertua sambil terus terisak karena tangisannya dari tadi
"Ibu, tolong jangan larang ana, ana hanya ingin menenangkan diri saja. sebelum mas fa'i menyesali perbuatannya dan meninggalkan perempuan itu, ana tidak akan kembali kerunah ini" jawabku tegas
aku pun meninggalkan halaman rumah dan di dalam mobil aku menangis sejadi jadinya. supir tidak banyak bertanya, aku merasakan sesak, sakit yang sangat dalam
aku mencium putriku
" kenapa seperti ini nak, bunda kira ayahmu lelaki yang setia. dan bunda adalah wanita yang paling beruntung karena memiliki suami seperti ayahmu, tetapi mengapa ayahmu memberikan luka sesakit ini pada bunda" aku terus menangis tanpa memperdulikan di dalam mobil banyak yang memperhatikanku
singkat cerita, suamiku menyusulku ke rumah orang tuaku ia berusaha dan berkali kali memohon agar aku ikut pulang dengannya
" Kamu sudah menyakiti anakku, sekarang dengan mudahnya kamu meminta maaf. apa kamu nggak berfikir sebelum menyakitinya, apa kamu sudah tidak punya fikiran lagi sehingga kamu memberikan luka sangat dalam pada anakku" sambil terus memukuli suamiku yang seperti anak kecil ibu terus memberikan pertanyaan padanya
Aku hanya diam dan menatapnya tajam
" pulanglah mas sebelum kamu menyadari kesalahanmu jangan harap aku akan pulang" dengan tegas aku mengatakannya
" Tidak dek, aku sadar aku salah, aku sudah menyadari semuanya. aku minta maaf dek. tolong pulanglah aku nggak bisa hidup tanpa kalian, ayo pulang dek" dengan terus memohon, suamiku sampai bersimpuh meminta maaf padaku
aku menghela nafas kasar
" aku akan memberikanmu satu kesempatan mas, aku akan pulang ke rumah, tapi jika sekali lagi kamu melakukan kesalahan. aku tidak akan memberimu kesempatan lagi"
dia hanya mengangguk dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama
Kami pun pulang kerumah dan aku masih bersikap dingin karena belum bisa melupakan kejadian itu dengan mudah
" Nih gendong anita, aku mau istirahat. capek" aku berikan putriku dan aku juga tidak mengijinkan suamiku memegang hp
waktu terus berlalu, tak terasa sekarang putri kami berusia 1 tahun. di usianya yang baru genap 1 tahun kami terpaksa harus meninggalkannya bersama orang tuaku. karena kami harus bekerja
tiga tahun d kota orang, rindu yang selalu kami tahan akhirnya hari ini akan terlepaskan. sepanjang perjalanan pulang ke kota sendiri, kami banyak bercerita tentang banyak hal. hingga aku tertidur karena perasaan mual karena bau ac hiihii juga karena lelah
"Dek bangun kita sudah sampai" ucap suamiku setelah tiba di rumah
"hhmmm, sebentar lagi ya yang aku masih ngantuk" jawabku. ini mah nanya nya apa jabawnya kemana hahahaa
suami hanya tertawa kecil, lalu ia menggendong aku ke dalam rumah dan perlahan ia membaringkan tubuhku yang kecil, tapi imut...😅😅
"Bunda..." seorang anak kecil menghampiri dan memelukku
aku membuka mataku perlahan dan...
"sayang anak bunda, Anita " hanya itu kata yang aku ucapkan berulang kali
setelah tiga tahun tidak bertemu, kini putriku tumbuh menjadi seorang putri kecil yang lucu dan imut, kayak emaknya 😁
satu bulan di rumah rasanya sudah ingin beraktifitas bekerja kembali, namun kali ini aku yang bekerja kembali ke kota orang. sedangkan suamiku tinggal di rumah karena ingin fokus melanjutkan bengkelnya yang sekarang udah lumayan rame siy...
aku pun kembali bekerja, dengan bantuan adik aku satu-satunya yang udah lama d kota, maka aku pergi dan rencananya sebelum bekerja aku ingin tinggal d kos an bersama adikku. melepas rindu karena... sudah lama nggak ketemu
"Hallo, mbk kamu di mana? aku dari tadi muter-muter danau nyariin kamu" teriakan adek aku satu ini lewat ponsel hp bikin telingaku mau pecah
"Aku di danau deket aparteman xxxx..." jawabku santai dan lemah lembut hiiii
" itu mah bukan danau yang aku bilang mbak...??" tegasnya
"Ya udah buruan kesini, keburu gosong kulitku" jawabku lagi
setelah bertemu, kami saling memandang masih tidak percaya kalau kami akan berpeluk melepas rindu. delapan tahun lamanya kami berjauhan dan mengobrol hanya lewat sambungan vidio call
sesampai di kos an tempat ia berteduh kami berbagi cerita hingga tengah malam. pagi harinya vina bekerja, namun aku masih tidur karena belum masuk kerja. badan masih capek dan butuh istirahat
" Assalamualaikum sayangku, lagi apa udah makan belum?" tanyaku pada suami lewat panggilan telpon
"Wa'alaikumsalam, iya ini lagi mau makan dek" jawabnya
baru sehari kami LDR an kayak anak muda lah ya... rasa rindu ini udah kayak setahun aja😊namun aku harus tahan demi semua cita-cita yang belum tercapai....
tiga hari tinggal dengan vina rasanya menyenangkan dan serasa kami masih kecil seperti
saat ibu kami sedang menceritakan dongeng. begitulah selama 3 hari bersama kami mengingat masa kecil dan sampai masa remaja. sangat menyenangkan....setelah sore hari, aku di antarkannya kerumah bos yang akan aku tinggali
"Ini orang india ya " bisikku ke telinga vina
" iya mbk, kalau orangnya crewet keluar aja cari kerjaan lain" begitu jawabannya
aku hanya mengangguk saja, dalam hati kecil aku ngrasa udah nggak cocok krja dengan bos ini. namun dari pada cari kerjaan lain lagi nunggu lagi kan capek ya....
nex
Bos Bawel
"Ini siapa yang beresin kulkas" tanya wanita paruh baya dengan mata melotot
"Saya nyonya, ada apa ya nyonya" tanya ku pelan
yah itulah laila yang tak lain adalah bos ana, meskipun perasaan ana takut karena matanya yang hampir copot karena teriakan sang nyonya sangat menguras tenaga sampai uratnya pun mau copot...haahaa
" kenapa di berantakin begini siy neng, kan ini salah semua naruhnya nggak begini, saya nggak suka lo" teriak laila lagi
Laila bos ana, orang india jawa yang sangat rewel. maklum kalau udah tua ya begitulah
Bugggg
Buggg
Bugggg
Suara langkah ana yang terlihat kesal dan jengkel karena makian si bos
" ooyy neng saya lagi ngomong kok malah di tinggal pergi, harusnya kan nanya dulu kalau beresin kulkas nya. jangan asal di beresin gitu, tolong dong neng you pakek otak you jangan bodo- banget" tanyanya tegas namun menyakitkan😓
Ana tak mendengarkan ocehannya, dia berlalu meninggalkan bos crewetnya itu
Braakkk
pintu di tutup kasar pertanda ana benar-benar sangat marah
Ceklekk
" Mbak, kata nyonya tadi kalau mbk salah harus minta maaf. tadi nyonya suruh saya buat bilangin mbak" ucap teman seperjuanganku
" Kapan dia ngomong gitu ci" tanyaku
cici adalah sahabat ana, meskipun usianya masih belia namun dia mempunyai pikiran yang dewasa. cici adalah patner kerja sekaligus adik buatku, dia sudah mengerti dan memahami ana. saat ana marah dan kesal cici lah yang selalu mendamaikan hatinya
"Permisi nyonya, saya mau bicara" ucapku ketus
"iya" hanya itu jawabannya
"Nyonya, maaf sebelumnya jika kata-kata saya ini akan menyinggung dan menyakiti nyonya" jawabku sinis
"Hhmmm,,, ada apa ana. ngomong aja langsung jangan berbelit-belit" tanyanya sok
" Begini nyonya, bukannya saya nggak tau caranya minta maaf. tapi sifat saya jika saya tidak salah maka pantang buat saya meminta maaf" ucaoku dengan kasar dan tegas
Hanya hening
masih hening
dan.....
" Iya, saya juga tau kalau kamu tadi marah sama saya. tapi kan saya cuma bilangin aja, supaya rapih dan bersih" begitu jawabnya
Namun seorang ana yang ngeyel nggak mau d kalahkan omongannya. dia masih menjawab terus menerus
" Ooo jadi saya beresin kulkasnya tadi kurang bersih ya nyah, trus saya juga yang di tuduh berantakin kulkas. coba nyonya cek cctv itu kan keliatan pastinya, saya juga nggak mau berdebat terus sama nyonya. apa gunanya cctv kalau saya lagi beresin nggak keliatan orang segede ini" jawab ana lagi
" Dari awal saya datang, keadaan kulkas udah kayak gini dalamnya kok nyalahin saya. ya saya nggak terima lah, saya juga nggak mau minta maaf" sahut ana lagi
" Ya udah saya yang minta maaf sama kamu, tadi saya udah marah-marah. tapi kamu jangan marah lagi dong neng sama saya" rayuan mautnya di mulai
Ana tak menjawab, dia berlalu pergi tanpa menghiraukan sang bos. ya bagi ana soal uang bisa di cari di mana aja asalkan halal namun harga diri jauh lebih penting dari segalanya
'Jangan marah dia bilang, memangnya hatiku ini terbuat dari baja apa. enak banget dia ngomong maaf kalau besok masih di ulangi lagi' Gerutu ana dalam hati
Bruukkk
Ana merebahkan badannya di kasur tanpa berkata sepatah pun dengan temannya, matanya terpejam namun hatinya masih tetap kesal
"Mbak, nyonya ngomong apa siy" tanya cici yang penasaran
" Aku lagi males bahas nyonya ci, hatiku masih kesel besok aja lah critanya kalau aku udah mood" ana menarik selimut dan meraih ponselnya
Ana telpon suaminya, namun my bojo nomor yang di simpan di kontak hp ana yang tak lain suaminya itu sedang sibuk dengan bengkelnya. ana semakin kesal ia berceloteh sendiri, lagi-lagi teman satu kamarnya tertawa melihat tingkah ana seperti anak kecil
Dua minggu bekerja, hari-hari ana haya mengumpat dalam hati karena ocehan sang bos yang pedes di dengar tapi masih pedesan cabe rawit heeheee....
"Mbak, cici mau pulang. cici nggak betah lagi kerja di sini semua serba salah mbak"
"haaahh.... apa ci, jangan bercanda dong ci. aku kan belum ngerti sepenuhnya kerjaan di rumah ini" jawab ana
" Kan ada mbak mira yang nemenin mbak, nanti kalau kerjaan yang belum mbak ngerti mbak bisa telpon cici" jawabnya lagi
" Cici beneran udah nggak kuat kerja di sini mbak, tiap hari nggak ada kerjaan yang bener. cici capek"
" Kamu beneran mau pulang ci, kamu serius" tanya ana berulang-ulang
cici hanya mengangguk matanya menggambarkan jika dia sudah lelah berada di rumah bos bawel plus crewet itu haaahaaaa
Setelah cici pulang, kini ans yang memegang tanggung jawab, semua pekerjaan yang dulu cici kerjakan sekarang ana lah yang menggantikan cici, namun ana tidak sendiri. ada teman yang menemani ana
apakah sahabat ana yang baru akan seperti cici yang menyenangkan dan perduli dengan teman?
yuk berikan like dan komen di bawah 👇
"Semua akan indah pada waktunya"
dukung novelku terus ya. Terimakasih