Celana jeans usang, kaos longgar dan sendal butut. Rambut asal ikat, wajah polos tanpa bedak. Di bilang cantik tidak, dibilang jelek juga tidak, pokoknya menarik lah.
Dia bernama Raya, gadis berumur 15 tahun itu berjalan mengendap-endap di balik pagar, tidak tahu sebenarnya apa yang dia intai, tapi tetap saja mencurigakan.
"Raya, apa yang kamu lakukan disitu?", tanya Nina, kakaknya Raya.
"Ssst, Kakak itu diam sajalah, hush..hush masuk sana", jawabnya.
"Duh , apalagi yang dia lakukan kali ini", gumam Nina, sambil menutup pintu rumahnya.
"Raya, jangan lupa kasih makan ayam ya, nanti kalau lupa lagi seperti kemarin, kamu bakal kena marah Ibu lagi loh". Nina memperingatkan Raya.
"Iya, iya, huh cerewet sekali sih kak Nina ini, kalau cerewet terus entar nanti malam bakalan didatangi nenek gayung baru tahu", gerutu Raya ,(eh kok aku tiba-tiba merinding ya), Raya bergidik ngeri.
"Kamu bilang apa, adikku yang cantik?", sambil menjewer kuping Raya.
"Aduh, aduh , sakit Kak, tuh kan sompel kuping Rayanya", mengelus-elus kupingnya.
"Tidak usah berlebihan deh, ya sudah Kakak pergi dulu, jaga rumah baik-baik", kata Nina sambil berlalu.
Nina masih sembunyi dibalik pagar. "Hari ini rasakan pembalasan dendam ku", bisik Raya. Tak berapa lama targetnya terlihat.
Seorang remaja laki-laki keluar dari rumahnya, namanya Gio. Berperawakan tinggi, rambut lurus, berkulit hitam manis. Dia seusia dengan Raya
Sebenarnya Gio ini teman satu kelas Raya, hanya saja mereka berdua ini seperti anjing dan kucing. Tidak pernah tidak ribut. Seringnya Gio yang selalu mengusili Raya dan hal itulah yang membuat mereka sering bertengkar.
Hari ini Raya berniat membalas dendam. Hari ini ia berniat membuat ban sepeda Gio Kempes, sehingga Gio tidak bisa datang ke acara kerja kelompok nanti.
Raya paling malas satu kelompok dengan yang Gio, karena sudah pasti kerja kelompok itu tidak akan berhasil dengan baik. Ia melihat Gio sedang pergi ke warung. Dengan cepat ia mengempeskan sepeda Gio. Tak menunggu lama tugasnya terselesaikan juga.
Raya dengan hati berdebar kembali bersembunyi di balik pagar. Benar saja, Gio datang dari warung dengan membawa satu kantung plastik berisi dua bungkus mie instan.
Ketika melihat Gio telah memasuki rumahnya, barulah Ia bergegas masuk kerumahnya, bersiap-siap untuk pergi. Kak Nina baru saja pulang, jadi inilah kesempatannya untuk pergi.
Rumah temannya cukup jauh , entah mengapa Gio mengusulkan kerja kelompoknya di rumah Mira, alasannya sih karena di rumah Mira lebih sejuk, dan banyak pohon buahnya.
Selama ini Raya tahu kalau Gio kemana-mana pasti menggunakan sepedanya sejauh apapun itu. Oleh karena itulah mengapa Raya punya ide seperti itu.
Raya pergi dengan naik angkot, agar tidak terlambat.
Sementara itu, Gio tidak menyadari kalau sepedanya bermasalah, ia dengan santainya membaca komik dan tidak sadar tertidur. Ketika terbangun, ia melihat jam, ternyata ia terlambat 15 menit dari waktu yang ditentukan.
Ia lalu mencuci muka mengganti baju lalu dengan santainya menuju ke sepedanya, betapa terkejutnya ia ,ban sepedanya dua-duanya kempes, mana tempat pompa ban jauh lagi.
Sudah jelas ia pasti terlambat, ia pun pergi naik angkot.
Raya dengan teman-teman sedang mengerjakan tugas, sebentar lagi selesai, dalam hati Raya bersorak dengan gembira, akhirnya kerja kelompok ini berhasil dalam keadaan tenang dan damai.
Ketika akan pulang, Gio baru datang, ia membawa cemilan, tapi karena tugasnya sudah selesai, ia memberikannya kepada Mira.
(Huh pantas saja dia ngotot banget kerja kelompoknya di rumah Mira, ternyata mau pdkt). Raya pamit kepada teman-temannya dan berjalan pulang tanpa memperhatikan Gio. Hari ini hatinya sedang gembira. No Gio No trouble maker.
Tanpa ia sadari Gio berjalan dibelakangnya. Raya bersenandung dengan gembira. "Ekhm, merdu juga suaramu, kukira bunyinya akan seperti piring pecah", kata Gio.
Muka Raya memerah, (kenapa sih nih orang pasti saja cari gara-gara) pikirnya.
"Tutup saja telingamu bila tak suka", kata Raya
"Siapa bilang tidak suka, kan aku tadi memujimu", jawab Gio.
"Aaah, whatever", Raya mempercepat jalannya. Kebetulan ada angkot yang lagi ngetem, Raya dengan cepat menaikinya begitu juga Gio.
Raya duduk berdampingan dengan Gio, dengan sewotnya dia berkata kepada Gio untuk duduk agak jauh. Tapi Gio menolaknya, alasannya ia suka duduk ditempat banyak anginnya.
Jadilah keduanya angin-anginan, mana udara terasa dingin, sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. benar saja , begitu sampai di depan rumah, hujan deras turun.
Raya mengganti bajunya dan mandi. Lain halnya dengan Gio, ia tidak mandi dan mengganti bajunya. Ia sedang merenung menatap hujan dari jendela kamarnya.
Ia kesal sekali, padahal maksudnya sengaja kerja kelompok di rumah Mira adalah agar ia bisa mendekati Raya, tapi malah sebaliknya. Besok ia harus bisa bicara berdua dengan Raya setelah sepulang sekolah, itulah tekadnya.
Di sekolah, dalam kelas, Gio mendekati Raya sembari berkata, "aku mau bicara denganmu sepulang sekolah'. (Mau apa lagi ini orang) pikir Raya, " bicara apa? kenapa gak sekarang aja?, mau bicara kok repot banget nunggu pulang sekolah", ujar Raya.
Gio diam saja, ia duduk ditempat duduknya. Kalau ia jawab pertanyaan Raya tadi, bisa-bisa tidak akan selesai sampai sore. Raya memang cerewet, itulah yang ia suka darinya. Itulah sebabnya ia selalu menjahilinya.
Sepulang sekolah sesuai perkataannya, ia mengajak bicara Raya. Raya hanya mengikutinya saja, pikirnya biar cepat selesai.
Gio akhirnya menyatakan perasaan cintanya kepada Raya, alasan mengapa ia selalu membuat Raya kesal, dan juga alasan mengapa ia ngotot kerja kelompok di rumah Mira.
Raya menatap tak percaya, tanpa ia sadari mulutnya mangap dan tiba-tiba saja mulut dan giginya terasa kering. Ia tidak sadar kalau ia mengangguk ketika Gio menanyakan apakah Raya mau menjadi pacarnya. Ia tersadar ketika Gio memegang tangannya ketika mengajak dirinya pulang
Di angkot, Raya merasakan tubuhnya panas dingin, ia tak banyak bicara, hanya saja tangannya terasa dingin, begitu juga dengan tangan Gio. Sesampai didepan rumah masing-masing Gio mengatakan sesuatu padanya, dan ia hanya menjawab iya tanpa tahu apa yang dibicarakan.
Didalam rumah Raya cepat masuk ke kamarnya, tanpa ganti baju ia memakai selimut. Nina yang melihat tingkah adiknya yang tidak biasa itu menanyakan apakah Raya sakit. Raya hanya menjawab, "Sepertinya aku masuk angin, kak".
TAMAT
Penulis tuh sebenarnya bingung mau cerita tentang apa mengenai topik Tiba-Tiba Masuk Angin ini, penulis ingatnya sih tentang kerokan dan resep wedang jahe, tapi Alhamdulilah akhirnya terpikirkan juga alur ceritanya walau tidak sesuai dengan ekspektasi sih. Semoga pembaca bisa menikmati cerita ini ya. 😊