Pagi ini, Selena pergi ke kota untuk mencari pekerjaan baru setelah di pecat dari bar tempat ia bekerja sebelumnya.
Berkali kali Selena pergi ke sebuah perusahaan besar untuk melamar pekerjaan. Namun yang didapatnya hanyalah omongan pedas dari pemilik perusahaan masing masing.
"Aku harus melamar pekerjaan dimana lagi? Aku sangat lelah." batinnya sambil mengusap keringat keringat yang muncul di keningnya.
Selena adalah gadis lulusan S3. Ia sengaja mengambil jurusan MIPA. Karena itulah mata pelajaran yang sangat disukainya.
Tapi entah kenapa setiap kali Selena melamar pekerjaan, seluruh pekerjaan selalu menolak bakatnya itu.
Sampai akhirnya ia melamar di sebuah bar yang cukup besar. Tetapi tak lama ia bekerja di bar, pemilik bar itu memecatnya karena Selena melakukan kesalahan dengan seorang pelanggan.
Kini Selena benar benar sedang berusaha agar ia bisa mendapatkan pekerjaan yang layak baginya.
Tak lama kemudian, Selena melihat sebuah perusahaan bernama TM Entertainment. Tak diragukan lagi, Selena langsung memasuki perusahaan itu dengan wajah senangnya.
"Permisi Nona.., saya ingin melamar pekerjaan di sini. Apa masih ada lowongan?" tanya Selena gugup.
"Bos kami sedang mencari asisten pribadi. Mungkin jika Nona ingin, saya akan mengantar Nona ke ruangan Tuan Leonard." cakap Nona itu sambil menunjukkan senyum lebarnya pada Selena.
Selena pun mengangguk. Ia sangat senang akhirnya bisa mendapat pekerjaan setelah berusaha mencarinya sepanjang hari.
Sampai di depan ruangan yang dimaksud oleh Nona tadi, Selena pun masuk dan langsung duduk di kursi yang disediakan.
"Tuan, perkenalan nama saya Selena. Apa Tuan sedang membutuhkan asisten pribadi?" tanya Selena merasa tidak nyaman karena hanya berdua saja dengan Tuan Leonard. Apalagi Tuan Leonard memiliki wajah yang benar benar tidak bisa ditolaknya.
"Kau lulusan kuliah?" Tuan Leonard kemudian membuka mulutnya dan bertanya pada Selena.
"Iya. Saya lulusan kuliah S3. Dan saya mengambil jurusan MIPA." jawabnya sambil memberikan berkas berkas yang cukup penting.
Tuan Leonard pun membuka satu demi satu lembaran itu dan membacanya dengan sangat teliti.
Tak lama kemudian, Tuan Leonard pun mengembalikan berkas itu pada Selena. Hanya rasa takut yang muncul di benak Selena.
"Kau bisa menjadi asistenku, asalkan kau memenuhi semua kewajiban mu sebagai asisten pribadi." ucap Tuan Leonard sambil berdiri meninggalkan kursinya.
Selena terkejut. Dia merasa sangat bangga bisa bekerja sebagai asisten pribadi. Yang lebih menyenangkan nya lagi, Selena bisa terus bertemu dengan Tuan Leonard.
Dua hari kemudian, Selena sudah bisa bekerja di perusahaan TM Entertainment. Ini adalah hari pertama Selena bekerja di perusahaan besar seperti ini.
Ia perlahan memasuki ruangan kerjanya dan mengambil beberapa lembaran kertas untuk dibawanya ke ruangan Tuan Leonard.
Tap tap tap...
Selena memasuki ruangan Tuan Leonard dengan tangannya yang terus gemetaran.
"Aku tidak boleh takut. Dia adalah bos ku. Dan aku adalah asisten pribadi nya," gumamnya sambil memberi semangat pada dirinya sendiri.
Sampai didalam ruangan, ia menaruh lembaran kertas itu di atas meja Tuan Leonard.
Selena kemudian memutar badannya dan kemudian, BRUK! Selena tak sengaja menabrak Tuan Leonard. Ia terkejut ketika Tuan Leonard tiba tiba berada dibelakangnya.
Jantungnya berdegup kencang. Pipinya memerah dan rasanya ingin sesekali memeluk Tuan Leonard.
"Ma.. maaf Tuan, saya tidak sengaja." kata Selena sambil manatap pandangannya ke bawah.
"Tidak apa apa. Lain kali kau lebih hati hati." balas Tuan Leonard yang masih berdiri di tempat itu.
"Kenapa aku merasa nyaman berada di dekatnya?" batin Tuan Leonard sambil sesekali memandang wajah Selana.
Selena yang mengetahui itupun jadi tersipu malu dan salah tingkah.
"Apa ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Selena.
"Tidak perlu. Nanti jika ada yang harus kau kerjakan, aku akan memanggilmu." cakap Tuan Leonard. Kemudian ia berjalan pelan dan duduk di kursinya.
Selena pun akhirnya keluar dari ruangan itu dan kembali ke ruangannya.
"Entah kenapa aku jadi menyukainya..." Selena berucap dalam hati sambil tersenyum senyum sendiri.
Hari sudah sangat gelap. Waktu menunjukkan pukul 11 malam. Akhirnya Selena pun sudah bisa pulang karena jam bekerjanya sudah selesai.
Ia beranjak memasuki lift yang terlihat gelap. Ditambah lagi dengan suasana perusahaan yang sudah sepi dan beberapa lampu di ruangan lain sudah dimatikan.
Selena berulang kali menelan ludahnya karena merasa takut. Tetapi ia terpaksa untuk tetap memasuki lift tersebut daripada harus bersusah payah melewati tangga.
Ketika ia menginjakkan kakinya kedalam lift, aura didalam lift sudah terasa tidak jelas. Selena benar benar takut dengan suasana itu.
Saat ia menoleh pandangannya ke belakang, deg?!!! Ia sangat terkejut. Ternyata Tuan Leonard sedang berdiri dibelakangnya sambil terus menatap wajah cantik Selena.
"Tu... Tuan?"
"Kau takut?" tanya Tuan Leonard. Dia menunjukkan senyuman tipisnya itu pada Selena. Wajah Selena kian memerah dan keningnya mulai mengeluarkan keringat.
"Ti... tidak. Aku tidak takut sama sekali." jawab Selena. Ia sengaja berpura pura pada Tuan Leonard bahwa dirinya sama sekali tidak takut dengan kegelapan.
Tak lama setelah itu, Tuan Leonard tiba tiba mendekat ke arah Selena. Jantung Selena rasanya benar benar ingin copot saat itu.
"Kau mau melakukan apa, Tuan?" tanya Selena ketakutan.
Hmppp!!! Tuan Leonard mencium bibir Selena. Selena terkejut. Namun ia sama sekali tidak berkeinginan melepas ciuman pertamanya itu.
"Ternyata seperti inilah rasanya dicium oleh pria tampan dan kaya!"
"Aku mencintaimu." ucap Tuan Leonard sambil melepas ciumannya itu.
Selena hanya terdiam dan menunjukkan senyuman lebar menandakan bahwa dirinya juga sangat mencintai Tuan Leonard.