Sepulang dari kampus, Mira nampak lesu dirasakannya badannya begitu pegal pegal .
" Jangan jangan aku masuk angin," sambil menggeliatkan bagian tubuhnya yang dirasanya sedikit saki. Dirinya langsung memasuki kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas kasur sebentar. Selanjutnya dirinya beranjak ke kamar mandi sekedar membersihkan diri setelah seharian bergelut dengan waktu yang menguras keringatnya, setelah dirasa tubuhnya sedikit segar, kembali dirinya merebahkan tubuhnya menyambut sang malam dan menenggelamkannya dalam mimpi yang panjang.
Saat mata hendak terpejamkan tiba tiba saja pintu kamarnya di ketuknya.
" Mira apakah kamu sudah tidur Nak?," tanya ibunya. Mira terperanjat dan bangun dari tidurnya, di bukanya pintu kamarnya, di lihatnya Ibunya tersenyum padanya.
" Mama tadi sempat liat sepertinya kamu begitu lelahnya, dan Mama tidak juga melihatmu makan malam," tanyanya lagi. " Apa kamu tidak merasa lapar sayang?",seru ibunya.
Mira hanya menggaruk kepalanya, dirinya hampir melewatkan makan malam, badan yang dirasanya sakit sakit membuatnya hanya berpikir untuk tidur.
" Mira tidak enak badan Ma, Mira tidak napsu makan, besok ada mata kuliah dan tugas pagi di kampus jadi Mira butuh istrhat Ma biar besok Mira merasa segeran," terang Mira.
" Tapi sayang sebaiknya kamu makan dulu, takutnya Mama kamu malah sakit, nanti masuk angin loh, tadi pagi kan tidak sarapan," seloroh ibunya yang begitu memperdulikan putrinya.
" Iya Ma, bentar lagi Mira makan," jawabnya singkat.
" Ya sudah Mama tunggu ya, Mama temenin, Mama yakin di kampus kamu tidak menyempatkan sarapan itu sebabnya kamu jadi kurang sehat," jelas ibunya.
"Iya,, Ma," ucapku.
Bagaimana bisa tadi pagi sarapan, orang Mira datang ke kampus terlambat, begitu sampai langsung mengasah otaknya, ditambah lagi Mira kurang tidur.
" Ayo sayang jangan lama lama," perintah ibunya.
Mira mau tidak mau memaksakan diri, tuk mengikuti perintah ibunya menuju dapur, benar saja makanan masih tersaji, Mira dengan malasnya duduk di kursi meja makan, di ambilnya sedikit nasi dan lauk pauknya, begitu nasi masuk mulutnya, Mira merasakan rasa enek, hampir mau muntah, namun di tahannya, makanpun terhenti, di rasakannya kepalanya sedikit pusing.
" Kenapa Nak, kamu sakit?", tanya ibunya panik.
" Mira tidak selera makan Ma, Mira sudah makan sedikit, dan sekarang Mira istirahat dulu ya?," ucapku.
" Ya sudah sana, di istrhatkan biar besok kamu baikan!, titah ibunya.
"Iya Ma, Mira masuk kamar duli ya Ma, selamat malam Ma".
" Selamat malam sayang," balas ibunya.
Mira berlalu menuju kamarnya dan meninggalkan ibunya di dapur. Setelah sampai ke kamar, dirinya sudah tidak sabar lagi untuk melanjutkan keinginannya tuk tertidur , kali ini dirinya tidak mau memikirkan sesuatu apalagi harus memikirkan Vino seperti halnya kemarin malam yang membuatnya tidak bisa tertidur. Kali ini Mira mencoba untuk tidak terpengaruh dengan rasa penasarannya mengenai Vino, meski bayangan semu nampak melintasi pikirannya, untuk kali ini dirinya mampu menyingkirkan bayang bayang Vino dan tidak terpengaruh. Rasa lelahnya kini menghayutkannya dalam mimpi panjang.
Dipagi hari yang dingin, Mira terbangun, mengingat dirinya semalam tidak menyempatkan diri untuk mengecek jadwal kuliah hari ini, namun begitu hendak beranjak dari tidur, kepalanya terasa berat, badannya terasa remuk redam, namun di paksakannya langkah kaki tuk berjalan menuju kamar mandi, begitu berada di kamar mandi tiba tiba " Hueek huekkk huekk," Mira seperti ingin memutahkan sesuatu, dirasakannya rasa mual yang menyeruak dalam dadanya di tambahnya beban kepalanya terasa berat hingga tubuhnya sempoyongan.
Diluar sana, Ibunya nampak khawatir mendengar suara " Huek huek huek,".
Dengan rasa penasaran Ibunya Mira bergegas menghampiri putrinya di kamar.
" Kenapa Nak kamu sakit?," sebaiknya untuk hari ini kamu tidak usah berangkat ke kampus dulu, kamu izin saja dan beristirahat dirumah, nanti siang kamu priksakan kesehatanmu, mungkin lambungmu bermasalah," printah ibunya.
" Iya Mah, badanku pegel pegel Ma, kepalaku sakit, juga mual, mungkin Mira kena masuk angin Ma, Mama tidak usah khawatir nanti Mira mau istirahat kembali kali aja cepet baikan," lirihku.
" Itu bisa jadi akibat pagi kemarin kamu tidak sarapan dulu, pas mau ke kampus sayang," terang ibunya. " Iya Ma," singkatku.
" Sekarang kamu sarapan dulu setelah sarapan baru istirahat lagi, nanti agak siangan Mama antar kamu ke dokter, jangan lupa kabarin teman kampus, kalao hari ini kamu tidak enak badan," tegas Ibunya sambil kemudian meninggalkan putrinya.
" Iya Ma,,, ," kali ini dirinya tidak mau membatah titah Ibunya, dan segera mengikuti Ibunya ke dapur, di paksakannya dirinya untuk sarapan pagi meski sedikit saja, dirinya sendiri tidak ingin sampai berlama lama sakit.
Usai sarapan Mira kembali ke kamarnya hendak beristirahat barang sebentar, di ambilnya ponsel di ketiknya sebuah pesan, " Sorry hari ini aku tidak masuk kampus, aku lagi tidak enak badan, bantu aku ya," tulisnya. Dikirimnya pesan tersebut kepada orang yang dirinya percaya yaitu Defaz dan Rima.
" Tinggg,,," bunyi notifikasi terkirim terdengar, di simpannya kembali ponselnya, di baringkannya tubuhnya di atas kasur, di pejamkannya matanya, di lepaskannya semua penat yang dirasa.
*Dikediaman Defaz.
Defaz dengan semangatnya bergegas keluar rumah, hendak berangkat ke kampus karena hari ini ada dosen yang masuk di jam pertamanya.
Di hidupkannya terlebih dulu motornya kesayangannya, setelah dirasa mesinnya sudah panas di cobanya di gas " Grenggg greng greng,". Dinaikinya motor tersebut, saat hendak mau melaju tiba tiba ponsel di dalam satunya terasa bergetar, dilihatnya pesan masuk dari Mirawati, hatinya luar biasa kegirangan, di sepagi ini dirinya menerima pesan dari wanita yang jadi pujaan hatinya, dengan cepatnya dibuka pesan masuknya itu.
" Sorry,, hari ini aku tidak masuk kampus, aku lagi tidak enak badan, bantu aku ya!".
Sejenak Defaz tertegun, dirinya teringat dari waktu kemaren Mira memang tidak begitu semangat, keadaannya terlihat kurang baik. Prasaan khawatir menghampiri hatinya, di balasnya pesan Mira," Tinggg," bunyi pesan terkerim. " Kamu tidak enak badan kenapa?". Namun pesan yang di tunggu ada balasan tak juga kunjung Defaz terima, beberapa menit dirinya memutuskan untuk melihat terlebih dulu kondisi Mira.
Defaz menggas motornya yang kemudian melaju dengan cepatnya ke rumah Mira, sebelum memutuskan untuk kerumah Mira, terlebih dulu Defaz berkirim pesan ke Rima sahabat dekat Rima.
" Rima,, Mira sepertinya lagi sakit, aku akan melihat kondisinya sekarang, kalao nanti aku terlambat ke kampus, dan ada dosen yang masuk, tolong sampaikan kalao aku izin,". " Derrr Drrr ponsel Defaz berdering, " Ok, tadi Mira juga kasih tahu aku kalao dirinya kurang sehat," balasan dari Rima.
" Baguslah kalau begitu," kali ini dia cuman berbicara pada dirinya sendiri. Dimasukannya lagi ponselnya kedalam saku, selanjutnya dia menuju kerumah Mirawati.
*Dikediaman Mira.
Defaz menghentikan motornya tepat di pekarangan rumah Mira. Setelah memarkirkan motornya dengan aman, Defaz berjalan menuju pintu depan rumah Mira, di ketuknya pintu," Assalamu alaikum," ucapnya.
" Wa alaikum salam," dari dalam rumah ibu merawati menyahut ucapan salam Defaz, dibukanya pintu rumah, nampak ibu Mira tersenyum ramah.
" Ehhh Nsk Defaz, mari masuk, silahkan duduk, sebentar ibu panggilkan Mira dikamarnya, hari ini ini kesehatannya kurang baik," terang ibunya.
" Oh iya Bu, makanya saya kesini, ingin memastikan kondisinya, sebenarnya tadi Mira sempet kasih kabar, cuman saya penasarn z Bu khawatir Mira kenapa kenapa," jawab Defaz.
" Trimakasih Nak Defaz, sebentar ya Ibu panggil dulu," sahut Ibunya sambil berjalan meninggalkan Defaz di ruang tamu.
" Mira sayang, ada Nak Defaz," bisik ibunya pelan.
" Siapa Ma,,, Defaz?," sahutnya agak kaget, keningnya mengkerut, matanya melongo.
" Iya sayang, Nak Defaz,, sana temuin dulu, lagi menunggu di ruang tamu !" perintah ibunya setengah berbisik pelan.
Dengan bermalas malasan Mira beranjak dari tempat tidurnya, dirasakannya kepalanya agak kenyut kenyut, dipaksakannya dirinya berjalan menemui Defaz diruang tamu.
" Haiii,,, kenapa kamu mesti kemari, apa kamu tidak kekampus, nanti kalao ke kampus bisa bisa kamu terlambat," selorohku sedikit meringis.
" Aku kesini karena khawatir sama kamu, apa tidak boleh kalao aku mengkhawatirkan kondisimu, ," terang Defaz.
" Aku antar kamu priksa yuk?, sebelum aku berangkat ke kampus," timpalnya lagi.
" Tidak usah, sepertinya aku cuman masuk angin biasa, dan takutnya nanti aku merepotkanmu?" jawabku.
" Tidak ada yang merepotkanku, kan aku sendiri yang mau nganterin kamu priksa heheheee," serunya ceungengesan.
" Aku bilang Mama dulu ya?" sambil ku beranjak dari tempat duduku dan menemui Mama untuk minta pendapatnya.
" Ma, Defaz mau nganterin aku ke dokter gimana?" pintaku.
" Terserah kamu sayang, kalao Nak Defaz tidak keberatan dan mau mengantarmu ke dokter, Mama ya boleh boleh saja, yang penting kamu mau brobat biar cepat sembuh, dan kembali bisa braktifitas, tidak membuat Mama khawatir," terang Ibunya sambil tersenyum.
" Kalao begitu Mira siap siap pergi ke dokter bareng Defaz ya Ma?" sahutku, dan Mama hanya tersenyum simpuh sambil menganggukan kepalanya.
Mira dan Defaz akhirnya pergi bareng mengunjungi dokter, setelah selesai dari dokter, diantarnya Mira pulang kerumahnya, sedangkan Defaz langsung menuju kampus, dirinya sudah merasa tenang.
*Di kampus.
Kabar mengenai kondisi kesehatan Mira menyebar dengan cepatnya, banyak diantara mereka kasak kusuk membicarakan hubungan Mira dan Defaz, bahkan kabar tentang Defaz yang mejadi sosok pahlawan bagi Mira menjadi topik hangat pagi itu, mereka semakin yakin kalau keduanya memang ada hubungan yang sangat serius, itu sebabnya Defaz harus bela belain diri meninggalkan pembelajaran saat dosennya hadir hanya untuk mengantar Mira ke dokter.
" Faz,,, Mira sakit apa?" tanya Vino yang sengaja menghampiri Defaz begitu melihat Defaz datang.
" Sakit hati," singkat Defaz.
"Jangan bercanda dong, yang serius?, aku ingin tahu Mira sakit apa?" ulang Vino.
" Aku serius, Mira memang lagi sakit hati,," Defaz memasang mimik dinginnya. Vino terdiam mematung.
" Maksudmu apaan sih Faz?, aku tidak paham maksudmu?" Vino benar benar merasa heran dengan jawaban Defaz.
" Rupanya kamu tidak tahu maksudku Vino, mulai sekarang kamu tidak usah lagi deketin Mira, tidak usah menghubunginya lagi, mau telepon atao sekedar berkirim pesan, tolong jauhi Mira,!" titah Defaz kali ini nampak sangat serius.
", Apa maksudmu melarangku?" hardik Vino.
" Maksudku, aku tidak mau Mira sampai jatuh ke perangkapmu, sebaiknya urusin saja cewek kamu Lisa!" tegas Defaz.
" Ohhh rupanya kamu cemburu, sekarang kamu berani mengakui kalau kamu suka sama Mira, dan kamu mau ikut campur, kamu harus tahu kalau aku sudah tidak ada lagi hubungan sama Lisa, kami sudah lama putus," jelas Vino.
"Apa katamu Vin, kamu sudah putus, kamu kira aku bodoh, kamu sering mojok berduaan dengannya, aku diam karena aku tidak mau Mira mengetahui kebusukanmu dari mulutku, makanya aku biarkan Mira cari tahu sendiri tentangmu," Defaz mulai kesal dan emosi, dirinya hanya tidak ingin Mira di permainkan oleh Vino.
" Jadi camkan kata kataku tadi," Defaz mendorong tubuh Vino, dan berlalu meninggalkan Vino.
Defaz memasuki ruang kelas, tanpa serta merta teman temannya menyoraki dirinya, ruangan kelaspun nampakmenjadi ramai.