"Ini Lo jeng yang aku ceritakan kemarin, kapan lagi ada kesempatan. Semua baru soal pembayaran gampang bisa di aturlah." Kata-katanya manis lemes banget kedengarannya. Wanita berbaju mencolok merah itu merayu ibu Sastra yang tak berkedip menatap barang-barang yang dibawa wanita itu di rumah nya.
Ayunda melihat dari balik dinding penyekat ruang tamu dan ruang tengah yang dibuat untuk bersantai menikmati TV hanya dapat menghela nafasnya. Ibu tirinya ini sudah berulangkali membuat dia harus ekstra keras mencari uang. Mau ditinggalkan ada rasa iba nya karena kenyataannya wanita itu tidak pernah kasar atau menyiksanya dan mereka hanya tinggal berdua. Ayahnya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dan wanita paruh baya itu hidup sebatang kara. Awalnya mereka baik-baik saja, Namun semenjak dia berkenalan tetangga baru dia mulai kerajinan ikutan sosialita, memperhatikan penampilannya padahal hanya arisan di komplek dan juga tidak pernah pergi keluar kecuali pasar tradisional, hanya pamer barang-barangnya di status sosialnya saja. Benar-benar bikin pusing, pikirnya.
Pagi yang indah sinarnya mentari menyinari, namun tak seindah hidupnya pikir Ayunda. Pagi-pagi si-Boss sudah bersuara lantang karena kesalahan rekannya yang menyusun laporan yang dibuat rapat pagi itu. Dan dia juga kena imbasnya karena tidak memeriksa hasil kerjanya karena itu merupakan tanggungjawab dirinya. Belum lagi ia lupa membuat kopi. Hampir setengah hari si Boss mengomeli dan berkomentar hasil kerjanya. Benar-benar hari yang buruk.
Di sela-sela kegiatannya dia merasakan pusing dan kurang enak badan. Segeralah dia berlari ke toilet kantor. Braakkk. Huek... Dia muntahkan semua isi perutnya. Bisik-bisik rekan kerjanya yang kebetulan ada di kantor pada saat itu. Dia tidak memperhatikan itu, Ayunda hanya memuntahkan cairan itu dari kerongkongan. Dan menekan tombol pembuangan. Kemudian dengan lemas dia ke wastafel mencuci muka dan berkumur-kumur.
"Kita jalan duluan Ayu." Pamit rekannya itu gadis itu mengangguk mengerti.
"Bagaimana caranya, dia kan singgel ? Masuk angin kali." Sanggah Dina.
"Dia kan selalu pulang paling akhir. Bisa kan dia mampir ke suatu tempat hangout with someone, terus check out ..." Sabrina berkata penuh semangat dan sinis.
"Dia gadis baik. Bukan type seperti itu" Sanggah Daniel. Ikutan nimbrung ngerumpi.
"Hiss kamu ! Justru depannya dia lugu sapa tahu belakangnya dia ... eheemm." Lanjutnya tidak mengalah.
"Aku sih, percaya Ayunda bukan seperti itu." Jawab Dina kekehnya.
"Terus aja bela. Seperti si Boss yang muji-muji dia." Sahut Sabrina sinis sambil melenggang ke mejanya saat menangkap sosok Ayunda dari jauh.
Baru saja ingin duduk Ayunda mendengar suaranya Si boss. "Iya pak. Ada apa?" Tanyanya.
"Ini laporan keuangan yang kamu susun kemarin. Makasih aku jadi mudah melihatnya. Seperti biasanya sempurna." Katanya lembut.
"Terimakasih, Pak". Jawabnya seraya merangkul badannya sendiri. Lelaki itu mengerutkan keningnya.
"Kamu sakit? Kenapa berkeringat begitu ?" Tanyanya.
"Iya pak. Sepertinya." Jawab Ayunda.
"Minum air hangat. Dan jari ini jangan lembur. Kerjakan besuk saja. Pakai ini, kamu kembalikan besuknya ". Katanya sambil mengulurkan Jaket yang sedari tadi tergantung di gantungan di samping kursinya.
"Terkadang pak", Ayunda mengundurkan diri kembali ke mejanya. Lirikan mata dari teman-temannya menambah kesan yang janggal di perasaannya Ayunda. Namun ia mencoba mengacuhkan. Gadis itu fokus pada pekerjaannya.
Tiba-tiba si Boss keluar dari ruangan dan menuju ke mejanya. "Ayu, coba minum ini. Semoga lekas sembuh." Di ulurkan sekotak minuman kemasan siap seduh bertuliskan Jahe merah. di mejanya. " Terimakasih pak.' Ucapnya membungkuk hormat dari tempat duduknya. Karena dia dilarang untuk berdiri, lelaki itu pun kembali ke ruangannya.
Kesannya seperti dia sangat peduli sekali seolah Ayunda begitu spesial.
Keesokannya gosipnya bertambah semerbak dan hinggap di telinga Bagaskara. Bahkan lelaki itu juga digosipkan menjadi ayah janinnya Ayunda. Kesal, mau marah namun tak bisa karena dia tidak mengetahui siapa biang gosipnya.
Seusai jam istirahat karena Bagaskara yakin Ayunda gadis baik-baik maka ia akan membantu klarifikasi tentang hal itu. Dia pernah memergoki Ayunda di Minimarket 24 jam bekerja part time. Atau di Starbucks salah satu tempat favoritnya.
"Ayu bangunlah.! Segera lakukan test! " Titahnya dengan menyodorkan sebuah bungkusan. Mereka yang di ruangan itu terdiam. Ayunda bingung saat membuka plastik yang membungkus barang tersebut. "Ada oknum yang menyebarkan rumors bahwa kamu sedang hamil. Dan kita ada hubungan. Buktikan saja Ayu!'" Katanya lagi dengan nada dingin. Matanya menatap menyapukan seluruh ruangan. Hening. Ya ruangan kerjanya nya hanya sekatan antar meja, dan saling membelakangi. Sedangkan Si boss ada ruangan khususnya disekat dengan kaca transparan tanpa tirai jadi dapat saling melihat ekspresi wajah masing-masing.
Ayunda langsung bergegas menuju toilet melaksanakan perintah dan kemudian kembali sesudahnya. Membersihkan hasil nya NEGATIF.
Ya iyalah, Secara dia kan tidak pernah melakukan hubungan seks jadi mana mungkin?
"Kalian lihat itu ! Jika aku memuji maka orang itu pantas untuk di puji. Karena kenyataannya hasil kerjanya bagus. Dan jika tidak maka pantaslah di maki. Beraninya bergosib bahwa aku dan Ayunda mempunyai skandal ! Atas dasar apa? Jelaskan !" Sambil meletakkan hasilnya di meja sebelah kanan dia berdiri dan diterima oleh Rasyid. Mata pemuda itu terbelalak dan tersenyum sinis ke arah Rasyia.
"Dialah pelaku penyebar gosipnya Pak" Tunjuk Cintya ke arah Rasyia. Semua bersorak Huuu..
"Kalian harus meminta maaf. Dan klarifikasi jika ada rumor yang tidak jelas!" Bagaskara pun berlalu masuk ke ruangan dia.
Rasyia di dorong oleh Cintya maju ke tengah -tengah ruangan kantor. " Ayo bicara yang keras !" Katanya. "Maafkan aku Ayunda. Aku hanya mengiranya saja dari gejalanya. Kupikir kamu melakukan hubungan dengan boss. Karena kalian sering bersamanya. Maafkan aku." Rasyia mengulurkan tangannya meminta maaf.
Ayunda yang tidak mengetahui gosipnya hanya tersenyum dan menyalaminya. "Aku maafkan. " Katanya.
"Aku mewakili semua orang disini. Memohon maaf padamu Ayunda. Dua hari ini bergunjing yang tidak benar padamu ". Kata Cintya dengan memeluk Ayunda dan gadis itu mengangguk setuju.
Karena pada dasarnya gadis itu bukanlah suka ribut-ribut sesuatu hal yang tidak jelas. Dan suka menolong, karenanya ia sering lembur membantu Bagaskara di kantor disela-sela pekerjaan dan kewajibannya sebagai karyawan. Selain itu Bagaskara juga royal rupanya si Boss mengetahui kesulitan ekonomi yang dialaminya. Sebenarnya jika ibunya tidak tergoda hal-hal yang tidak penting baginya itu maka segi ekonomi mereka sudah berkecukupan, karena ayahnya meninggalkan pensiunan berupa investasi jangka panjang.
Jadi guys janganlah suka menyimpulkan segalanya dengan cepat tanpa mengetahui akan kebenaran, dan juga pintar lah dalam memilih teman.