Ceklek
Dara terjaga saat seseorang membuka pintu kamarnya. Sekelebat bayangan melintasi tempat tidurnya lalu duduk di atas ranjang.
"Kak Dion?" tanya Dara dengan suara serak saat bayangan itu menyentuh kepalanya dengan memberikan sedikit pijatan.
"Kepala lo masih pusing?"
"Udah mendingan", jawab Dara yang terheran-heran.
Ada apa gerangan kakaknya tiba-tiba jadi perhatian seperti ini.
" Tidur lagi aja, gue pijitin sampe lo tidur nyenyak ", ujar Dion lembut sambil terus memijit kepala adiknya.
Dara mengerutkan alisnya, heran. Apakah ini strategi baru untuk memperdayainya?
" Gak usah curiga gitu, gue gak bakal macem-macem sama lo", sahut Dion yang paham dengan tatapan penuh selidik dari adiknya.
"Gak perlu kak, gue udah gapapa kok", balas Dara berusaha menolak sambil menjauhkan tangan Dion dari kepalanya.
Tentu saja ia tak boleh percaya seratus persen dengan lelaki itu.
"Lo itu sebenarnya kenapa sih?" tanya Dion yang masih penasaran dengan sikap aneh adiknya.
"Gue baik-baik aja kak! Udah deh, kakak tidur aja, ini udah malem. Besok kita sekolah", tegas Dara seraya bangkit dari kasurnya lalu berjalan menuju pintu untuk mempersilakan Dion agar keluar dari kamarnya.
Dion berdecak kecil sebelum menuruti isyarat dari Dara.
"Lo boleh menghindar sekarang, tapi jangan salahin gue kalo suatu saat gue maksa lo buat ngomong soal masalah lo", ancam Dion yang terlihat sungguh-sungguh.
Membuat Dara sedikit bergidik ngeri. Ia tau betul ini belum saatnya untuk jujur. Karena ia sendiri pun belum yakin dengan apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Dara segera mengunci pintu kamar. Dia butuh privasi sekarang. Hanya dirinya sendiri yang bisa ia percaya untuk saat ini.
***
"Hai Dara", sapa Ririn, teman sebangkunya yang tiba-tiba datang sambil membawa satu cup es krim.
"Nih buat lo", Ririn menaruh es krim itu di atas meja Dara.
"Makasih"
"Sama-sama"
Dara pun membuka tutup pada cup es krim itu.
"Wah es krim matcha", seru Dara dengan mata berbinar.
"Minta dong", pinta Julian yang tiba-tiba datang lalu menyendok es krim tanpa pemiliknya sadari.
" Eh, gue aja belum makan. Lo udah main sendok aja!"omel Dara.
"Hammm", Dara berdiri dan langsung memakan es krim yang sudah ada didepan mulut Rangga.
Membuat lelaki itu kaget bukan kepalang.
"Gila lo, gercep amat! " sahut Julian berusaha mengatur nafasnya yang dag dig dug ser.
Mungkin satu inci lagi bibir mereka akan bersentuhan.
"Biarin. Es krim gue", balas Dara sambil merebut sendok es krim dari tangan Rangga.
"Au ah dasar pelit", Julian pun berbalik sambil menarik ponsel dari sakunya berniat untuk main game karena bel masuk kelas belum berbunyi.
"Hueekk... "
"Eh, kenapa lo, Ra?!" Julian terkejut saat mendengar gadis dibelakangnya seperti ingin muntah.
"Kaget gue", Ririn tak kalah terkejutnya.
"Gak tau nih. Rasanya mual banget. Huueekk..!" Dara kembali ingin memuntahkan sesuatu namun seperti tertahan membuat perutnya menjadi kram.
Ia pun segera bangkit dari kursinya lalu berlari keluar kelas.
"Dara, tunggu! " teriak Ririn.
"Kenapa tu cewek?" tanya Julian heran.
Bahkan teman-teman sekelasnya tak kalah herannya melihat tingkah Dara barusan.
Ririn dan Julian segera menyusul Dara.
Dara berjalan tertatih sambil berpegangan pada tembok disepanjang koridor. Kamar mandi yang terlihat dekat menjadi terasa sangat jauh. Sekarang bukan hanya mual, kepalanya pun ikut pusing. Hingga kakinya terasa kesemutan karena perutnya yang semakin kram.
Murid-murid yang ada di koridor menatap Dara dengan tatapan bertanya-tanya.
"Dara lo kenapa?" Julian datang dari arah belakang disusul oleh Ririn.
"DARA!!" seru Ririn heboh, ia terkejut saat sahabatnya mendadak pingsan.
Mereka pun segera membawanya menuju UKS. Mengabaikan tatapan penuh tanya dari orang-orang sekitar. Bahkan bisikan-bisikan setan mulai terdengar.
Ririn berusaha menyadarkan Dara dengan memberi minyak aromaterapi pada hidung, leher, dahi, mata, telinga.
"Jangan-jangan Dara hamil lagi!?" celetuk Julian tiba-tiba.
"Hus, ngawur lo", sahut Ririn sambil menoyor kepala Julian.
"Dara bukan cewek kayak gitu tau", bela Ririn menampik pendapat Julian yang gak difilter itu.
"Trus mual-mual itu? Bukanya itu tanda-tanda orang bunting ya?" Julian kembali membuat Ririn nethink.
"Apapun itu, kita tanya Dara langsung aja", balas Ririn mencoba berpikir rasional.
"Engghhh.. " erang Dara yang mulai tersadar dari pingsannya karena bau-bauan yang sangat menyengat dan rasa panas yang ada di sekitar wajahnya.
"Dara, lo lagi tekdung ya?" tanya Julian spontan.
Membuat Ririn menatapnya horor.
"M-maksud lo? " tanya Dara yang langsung terlonjak bahkan rasa panas di wajah sirna begitu saja.
Walau sebenarnya saat ini nyawa Dara pun belum terkumpul sepenuhnya.
"Maksud gue lo lagi 'hamil' ya?" Julian mengulangi pertanyaannya dengan kalimat yang lebih mudah dipahami dengan penekanan pada kata hamil.
Ririn pun langsung membekap mulut Julian yang bar-bar gak ada akhlak itu agar tidak memperburuk suasana.
"G-gue?! Hamil?! " Dara malah bertanya balik, tak kalah terkejutnya dengan kedua temannya.
'Apa gue beneran hamil?' batinnya.
Pikiran Dara sudah mulai overthinking. Bahkan apa yang terjadi dengannya barusan itu membuatnya semakin frustasi.
"Dara?"
"G-gue cuma tiba-tiba masuk angin aja", sahut Dara terbata.
Ia pun segera meraih ponselnya lalu mengirimkan chat pada kakaknya.
Kak Dion
Gue tunggu di rooftop. SEKARANG!
Read.
Setelah mengetahui pesannya dibaca, Dara pun langsung pergi menuju tempat yang maksud. Mengabaikan kepalanya yang sedikit pusing dan perutnya yang terasa tidak enak. Beruntunglah minyak sialan itu berhasil membuatnya lebih baik.
"Eh, mau kemana--"
Kedua temannya benar-benar bingung dengan tingkah gadis itu. Mereka hanya pasrah mengikuti kemana Dara akan pergi.
"Ada apa?" tanya Dion yang sudah duluan ada di atap sekolah.
Plakk
Dara menampar pipi Dion dengan keras. Membuat kedua temannya melongo tak percaya.
"Lo kenapa sih?! " tanya Dion sedikit membentak.
"Kenapa? Kakak masih nanya kenapa?!" mata Dara sudah mulai berkaca-kaca, mungkin efek dari minyak yang dioleskan pada matanya tadi.
Dion mengernyit bingung.
"Gue hamil kak"
Kata-kata itu bagai sebuah pisau yang menghujam jantungnya dan membuatnya berhenti berdetak.
Dion, Julian dan Ririn langsung syok mendengar penuturan Dara.
"H-hamil?! Sama siapa? " tanya Dion yang mencoba bersikap tenang.
"Siapa?! Hiks.. " Dara sudah mulai menangis.
"Lo--gak ngerasa kak? Hiks.. " tanya Dara lagi yang berusaha menyadarkan kakaknya.
"A-apa? Jangan ngadi-ngadi deh lo.. " Dion menggeleng karena merasa tatapan Dara menunjuk pada dirinya.
"Dasar brengsek! Hiks.. " maki Dara sambil memukuli dada Dion.
"T-tunggu, maksud lo gue yang hamilin lo?" Dion menghentikan aksi Dara dengan memegangi tangannya.
Julian dan Ririn mendengarkan percakapan itu dengan seksama. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan hak mereka untuk mencampuri masalah mereka berdua.
"Dara jawab!" bentak Dion karena adiknya terus menangis tanpa memberi penjelasan.
"Bentar, mata gue perih kak..hiks.. Kakak ingat gak waktu pulang dari bar--hiks--Lo apain gue?"
"Gue gak apa-apain lo", balas Dion.
Kemudian ia melirik bekas kissmark yang mulai memudar di leher adiknya.
"Ya.. Hanya cipika cipiki, sama bikin karya dikit, cuma 2 biji. Udah itu doang gak lebih. Suwer", ralat Dion tangannya menunjukkan V sign.
"Gak lebih?" tanya Dara memastikan.
"Enggak Dara. Dengerin gue--"
Dion memegangi kedua pundak Dara lalu menatap lekat iris mata coklat adiknya.
"Gue sayang sama lo, gak mungkin gue lakuin hal gila itu sama orang yang gue sayang. Yang ada gue bakal lindungin lo", lanjut Dion yang terdengar tulus.
Julian dan Ririn yang mendengar itu jadi terheran-heran. Karena ucapan itu lebih terdengar seperti lelaki yang menyatakan perasaannya pada wanita yang ia cintai dari pada kata sayang dari seorang kakak ke adiknya.
Dara terdiam mendengar perkataan Dion, ia jadi bimbang. Sepertinya kakaknya berkata jujur.
"Lo yakin kalo lo beneran hamil?" Dion ingin meluruskan dugaan itu.
"Gue ngerasa pusing sama mual", balas Dara yang mulai menghentikan tangisnya.
Entah tatapan Dion yang berubah lembut membuatnya sedikit tenang. Atau efek panas dari minyak tadi sudah memudarkan diri?
"Emang udah lo test?"
Dara menggeleng.
"Ya ampun, Dara. Lo nuduh gue sampe nampar gue cuma karna tuduhan yang gak ada kebenarannya?! Mungkin lo cuma masuk angin", Dion sampai tepok jidat dibuatnya.
"T-tapi.. "
"Sekarang kita ke rumah sakit. Kita cek kebenarannya", final Dion kemudian membawa Dara pergi dari sana.
Mengabaikan kedua teman adiknya yang masih terbengong-bengong karena belum bisa mencerna situasi.
"Jadi, Dara beneran bunting apa kagak?"