Panasnya matahari yang terik membakar kulit tak menyurutkan luapan emosi anak-anak berseragam itu. Mereka saling serang dan membalas ataupun sekedar pertahanan saja.
Simpang Lima yang indah tamannya rusak karena injakan kaki para peserta tawuran yang meluas ke pusat kota. Awalnya mereka hanya melakukan itu di pinggiran sungai yang jauhnya 2km dari pusat kota, entah kenapa menjadi melebar dan menggangu aktifitas sekitarnya. Anak-anak berseragam putih abu-abu kini telah hadir anak berseragam putih biru. Ada juga warga yang melerai namun mendapatkan balasan serangan yang tidak jelas. Entahlah apa yang diinginkan oleh mereka.
Tidak jauh dari keramaian itu Arina duduk di halte bus, bersamaan dengan orang-orang yang juga akan menggunakan transportasi umum. Arina bukanlah hendak berpergian namun dia hanya menunggu seseorang, yakni sang kekasih. Raffi tadi berpamitan kepada Arina ada keperluan yang harus dilakukan, dan gadisnya disuruh untuk menunggu di halte bus itu. Dengan menitipkan tas miliknya. Raffi sendiri berboncengan menuju ke pusat kota.
Tidak lama kemudian ada suara-suara menggema di udara. "Serbu...!" bersamaan suara derap langkah kaki banyaknya jumlah cowok berseragam putih abu-abu menghambur berlari saling menyerang. Dan Arina meringis melihatnya, antara takut dan bingung. Para calon penumpang ikut berlari menghindari massa yang tawuran Arina pun bangkit dari bangku. Dikenakannya tas ransel Raffi dan ia pun bermaksud pergi. Namun belum selangkah ia berjalan seorang pria berseragam putih abu-abu menariknya dan mendekapnya erat-erat. " Kamu tidak apa-apa? " Tanyanya. Arina melihatnya kepalanya menetes darah. Ya ada perang batu, batu-batuan berterbangan segal penjuru. Dia terluka, menolong aku? Batin Arina. Cowok itu mengajaknya berlari ke arah gang kecil ada yang mengikuti mereka dua orang.
"Rully kamu terluka." Seru Daffa lantangnya dari belakangnya. Cowok yang dipanggil Rully masih berlarian sambil menggandeng tangan Arina.
"Motornya ada di warung itu! Cepat kita ke sana !" Seru Arif cowok yang berkacamata minus. Mereka berlarian menuju ke arah gang sempit. Sampailah mereka di depannya warung makan yang dikatakannya tadi. Mereka bergegas naik motornya. "Kamu yang di depan. Kepala ku pusing!" Perintah Rully. Arina hanya diam. Dia merogoh tasnya dikeluarkan handuk kecil, tadi ia ada pelajaran olahraga. Handuknya ia kenakan untuk membersihkan wajah jika sehabis olahraga dia selalu mencuci muka dengan sabun agar tidak terlihat kusam wajahnya.
"Ini untuk menyeka darahnya." Kata Arina gemetar. Baru kali pertama dia melihat luka yang seperti itu. Baju Rully sudah berganti warna merah, cowok itu hanya tersenyum. Mereka mengendarai motor berboncengan. Karena cuma ada dua motor model satria. Untungnya Arina pernah naik motornya kakaknya yang khusus cowok jadi ia mengerti bagaimana cara mengoperasikan mesin itu.
"Ikuti aku ada klinik dekat sini." Titah Arif.
Berjalan pelan-pelan motor melaju, karenanya mereka melewati jalanan kampung padat penduduk jadi harus ada sopan santun. Tiba-tiba di perjalanan tubuhnya Arina terasa berat, rupanya Rully menyenderkan kepalanya di bahu mungil itu.
"Jangan mati... kumohon kuatlah!" Teriak Arina panik. Rully bukan mau pingsan dia hanya mencium aroma tubuhnya yang wangi dan menggodanya. Karenanya ia melakukan hal itu.
"Cepat... cepat!" Apa tidak bisa lebih cepat lagi?" Tanya Arina gusar. Kedua anak lelaki didepannya cuma diam masih menggunakan kecepatan pelan karena mereka di perkampungan penduduk yang pada. Tibalah di depan klinik kecil.
"Ayo masuk!" Seru Arina sambil membantu Memegangi handuknya untuk menghambat keluarnya darah begitu mereka memakirkan motor nya.
"Permisi, bapak ibu? " Teriak Arina lalu menyuruh Rully duduk di bangku ruang lobi. Keluarlah seorang lelaki paruh baya dengan badannya yang tambun
"Cepat-cepat pak. Tolong" Arina berteriak lagi.
Lelaki itu bergegas kembali masuk lalu keluar seraya menyeret troli berisi perlengkapan medis. Arina, Arif dan Daffa menjauh melihat Rully di obati.
"Apakah parah? Apakah perlu transfusi darah?" Tanya Ayana.
Kedua cowok disampingnya saling menatap.
Transfusi darah? Mereka hanya sekedar tersenyum saling berpandangan.
"Tenanglah. Lukanya tidak begitu dalam. Dan hanya mendapatkan beberapa jahitan saja karena robek terkena benda tumpul. Santai saja tak perlu panik." Jawab lelaki paruh baya itu sambil terus menggerakkan tangannya. Mengobati Rully yang sedikit merasakan perih obat antiseptik.
"Sudah selesai. Lelaki itu kemudian menuliskan resep dan memberikan tagihan berobat.
Mereka berjalan keluar. Diparkiran depan klinik tersebut Arina memasang muka datarnya.
"Hanya luka kecil? Lalu kenapa kamu sandaran di bahu aku?" Teriaknya tidak terima di jahili oleh Rully.
"Maaf. Habis kamu wanginya banget. Aku suka." Celetuk Rully. Sementara kedua temannya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku mereka.
"Aku antar pulang ya?" Tawar Rully.
"Aku mau balik ke tempat tadi. Aku sudah janjian sama temanku. Tidaklah kamu lihat tas ku ada dua?" Sakars Arina. Rully mengangguk mengerti. Kemudian mereka kembali ke tempat semula. Yang disambut oleh beberapa anak seragam sekolah putih abu-abu.
"Arina? Kenapa kamu bersama dengan mereka?" Sam mengernyitkan dahi begitu melihat kekasihnya bersama anak-anak rival sekolah nya.
"Dia tadi menyelamatkan aku dari hujan batu. Dia yang terkena jadinya. Maaf". Katanya manja.
"Kalian aku lepaskan. Karena sudah menjaga cewekku. Terimakasih." Kata Sam sambil menggandeng tangan Arina.
Rully masam seketika sepertinya tidak terima, pasalnya ia baru mau pdkt ternyata ceweknya musuh.
Mereka saling menatap lalu berbalik membubarkan diri. Sungguh sial cewek manis itu sudah ada yang punya, batin Rully. Lupakan dan masih ada yang lainnya, kata hatinya bermonolog pada dirinya sendiri.
Sementara Arina merasakan tidak nyaman karena sudah membuat kericuhan karena kecerobohannya. Andaikan ia hati-hati maka dia tidak melukai perasaan orang lain dan dirinya sendiri tidak disalahkan. Walaupun Sam tidak berkomentar namun ia juga dapat mengerti Sam kesal dan mungkin ia akan kehilangan kepercayaan darinya. Sam hanya terdiam membonceng kan Arina. Mereka sampai di depan pintu masuk gerbang rumahnya.
"Maafkan aku, aku tidak menjagamu. Aku tahu kamu bisa terluka karena kecerobohan ku. Maaf". Sam membelai rambutnya yang panjang.
"Aku juga. Yang tidak berpikir panjang, langsung saja mengikutinya." Mereka saling menatap berpegangan tangan.
"Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu di tempat umum yang bisa saja melukaimu". Lanjutnya. Arina terdiam dan mengangguk mengerti.
"Aku maafkan. Janji jangan lagi ikutan hal seperti itu." Pinta Arina. Sam mengangguk mengerti kemudian dia mencium kedua tangannya Arina.
"Aku pulang,ya?" Sam pun berpamitan.
"Hati-hatilah." Arina yang masih berpegangan tangan Sam meremasnya dengan lembut. Sam kemudian melepaskan dan melajukan motornya menjauhi rumah tersebut. Arina merasakan kehangatan atas sikap positif kekasih hatinya.