Aku menangis semalam suntuk dikamar. Besok paginya aku sudah di bandara dengan mata yang sembab.
Kekecewaan dan amarah yang menjadi dendam. Bercongkol didada ini.
Bingung dengan keadaan yang begitu cepat membolak balikan nasibku.
Menghabiskan tiga minggu, hampir sebulan, Aku berada di Barcelona. Entah kenapa aku memilih kota ini yang ternyata pilihan tepat.
Mengeksplor tempat wisata dan aku menemukan sesuatu yang lebih menyenangkan.
Bertemu keluarga Martines. Keluarga pemilik kebun zaitun.
Aku berkenalan dengan Alia Martines. Ia tak sengaja menyenggolku. Aku mengumpatinya dengan bahasa indonesia. Aku dalam mode senggol bacok.
"Indonesian?" Aku hanya menganggu malas menghadapi orang asing
"Astaga, sudah lama aku gak ketemu saudara sekampung, yaampun kangen"
"Hai aku Alia, very nice too meet you"
Dia menjulurkan tangannya. Aku meraih dan "Arnas, Lilithe Arnas" menarik sedikit sudut bibirku.
Hatiku masih kacau balau.
"Wow Lilith, Queen of the devil, sang penggoda huh" aku tertawa. Untuk pertama kali setelah kejadian itu.
"Kau berbelanja?" Aku melirik ke barang yang aku beli di supermarket tadi. Aku mengiyakan, kangen juga masakan indonesia.
Aku menemukan toko asia disini dan kalap. Ya walau aku betah disini, tetapi lidahku selalu kembali ke asal.
"Mau mampir, aku mau masak soto lamongan" aku melihat mata Alia berbinar.
"Ayoook... "Alia mengandengku bersemangat. Menarikku lebih tepatnya.
Alia mengamati apartemenku, sedangkan aku berjibaku membelah ini ayam kampung.
Harusnya aku tak usah sok sokan pengen otentik. Hhh... otentik, otentik tahik hutcing...
Done!
Mengedarkan pandangan, melihat Alia sudah sibuk dengan salah satu novelku.
Ternyata Alia sudah lama tinggal di Barcelona. Ia menceritakan padaku saat berjalan menuju apartemenku.
Ia juga berjanji akan menemaniku berkeliling mengunjungi tempat yang akan membuatku suka, katanya.
"Alia? Kamu alergi seafood? Udang, maybe?" Aku bertanya, karena bumbu spesial yang aku siapkan mengandung udang dan ikan.
"Nggak." Masih fokus pada lembaran novel. Kemudian menutup novelku.
"Kita mau buat soto, right? Soto lamongan, yang aku tahu pake ayam kan?" Alia menatapku, dahinya mengernyit dalam. Aku menganguk.
"Apa... kita mau buat soto lamongan seafood?" Hah! Tanyanya yang membuatku ikut bingung juga melihat muka bingungnya.
"Hhh... Memang pake ayam. Aku cuma mastiin kamu nggak ada alergi, karna bumbu yang aku siapin ada udang sama ikannya." Jelasku lelah sambil mengambil beberapa sendok bumbu andalan yang aku bawa dari indonesia.
"Kamu buat bumbu sendiri. Waah akhirnya aku punya sahabat yang bisa masakan indonesia"
"Kamu tahu aku udah bosen dengan zaitun" Alia tertawa. Sarkas, keluarganya mempunyai berhektar-hektar kebun zaitun di Andalusia.
"Aku ingin masakan padang, rendang, gule tunjang, ayam pop, lontong sayur, pokoknya mau yang berbumbu" frustasinya.
Senang melihat tingkah wanita itu, sudah lama aku tak bicara sebanyak ini. Entah, aku merasa dekat, seperti teman lama. Hhh... teman lama... lupakan Ar! Lupakan!
"Arn, are you okay?" Ah dia melihatku, aku menepuk pipiku, menyemangati diriku.
"Kalau kau mau cerita, aku menyediakan kupingku tapi tidak gratis, aku mau choipan sama kaloci buat sogokannya" Aku terbahak. Alia, wanita periang yang cerewet.
Aku pernah sepertinya. Dulu...
"Kamu tahu kaloci? Wow!" Alia memutar bola matanya, menatapku malas.
"Kau kira aku hidup di gua yang tak ada peradaban, hei! aku masih punya keluarga di indonesia. Juga salah kan explore instagramku. Kenapa yang ditampilin jajanan indo yang bikin aku ngiler." Panjang lebar.
"Curhat buuu... makanya pulang..." aku melihat mendung disana.
"Nggak bisa." Aku menatap lurus menuntutnya lebih banyak bercerita.
"Panjang ceritanya, lain kali aku ceritakan. Okay" ah dia sama sepertiku, Malas mengorek luka hati. Pantas aku merasa nyambung dengannya.
"Waahhh wangi..." Aku tergelak melihatnya menghirup aroma soto langsung dalam panci. Dekat sekali.
"Awas rambutmu jatuh kesitu" Alia menjauh tak rela.
"Al, tolong ambilkan telur rebus dikulkas, aku menyiapkan alat makannya" pintaku, ya Alia benar, kami seperti saudara. Saudara perantauan.
"Cepat! Cepat! Cepat! Cepat, Arn!" Alia sudah duduk di kursi dengan rapi, saat melihatku mulai meracik soto dalam mangkuk.
Ia mengebrak-gebrak sendok ke meja makan seperti bocah, aku menggeleng, berapa sih usianya. Sangat berisik.
"Chill, Alia" Tak sabaran sekali wanita ini. Aku menyodorkan semangkuk soto yang telah kuracik lengkap pada Alia.
Tinggal meletakkan potongan lemon dan telur pada mangkukku.
Aku tersenyum melihat semangkuk soto lamongan ala chef Arnas di tanganku. Jadi juga.
Aku melihat kearah Alia yang terdiam, matanya berkaca. Kenapa?
"Makan Alia, hei, Makan drama Queen" Alia menyeka sudut matanya.
"Kangen" lirihnya, Ia menyendok kuah, menghirup kuahnya, kulihat air matanya menetes dipipi. Ia tersedu.
Aku mengeser kursiku mendekat padanya. Kutepuk punggungnya perlahan. Alia tersenyum. Senyuman penuh kesedihan. Tangisannya makin kencang. Memelukku. Ada apa?
Setelah sedikit tenang, masih sesengukan, Ia menarik kerah sweaternya mengusap air matanya. What! Kulirik bergantian antara tisu didepanku dan Alia.
Kudengar dia menarik nafas berat karena banyak ingus yang menyumbat hidungnya.
Alia menarik lagi kerah sweaternya, aku melihat itu dengan ngeri.
Tanganku meraih tisu didepanku dengan cepat, kutempelkan ke hidungnya.
SROOOOTTTT...
"Astaga Alia jorok banget!" Kuhempaskan tisu dengan banyak ingus ke tangannya.
"Wanita macam apa iniii...Tuhaaan" aku beranjak dari kursiku ke wastafel, mencuci tanganku.
"Kenapa kau pertemukan kami" Omelku terus
"Aku menyesal Tuhan, mengundangnya kemari" Kudengar kekehannya. Aku tersenyum, Lega.
Mendekat padanya. Menuang air pada gelasnya. Lalu menyerahkannya "Ini minum dulu"
Alia mengangguk dan meneguknya hingga tandas.
"Maaf... maklumlah, bumil dan mood yang naik turunnya" Alia menyedot sisa ingus nya.
"Kamu? Hamil?" Kejutku tak percaya, ia terlihat masih nampak seperti anak SMA.
"Hahaha... ini anak keduaku Arn"
"HAH!" Melebarkan mataku, semakin terkejut.
Kupindai ia dari atas ke bawah, sama sekali tak terlihat.
"Beneran, kamu emak-emak anak satu"
"Ck! Anak dua, Arn!" Decaknya tak suka,
PLAK!
"Aaw..."
Alia mengeplak bahuku, kencang, lalu mengelus perutnya dengan sayang yang terlihat buncit, sedikit.
"Makasih ya Moma sotonya babyyy boom boomnya Mamá sukaa... Say helo to Moma Arn..."
"Nanti kaloci sama choipan nyusul ya Moma, dedek boom boomnya mau" aku menatap binaran mata bahagia itu, pertanda buruk.
Okey! Aku mendapat teman baru, sedang prego juga mood swingnya, lengkap dengan ngidam gilanya, happy for you Ar! Perasaan mulai tak enak...