Hai perkenalkan namaku Nadine Putri Atmaja, melalui tulisan ini aku akan menceritakan seseorang yang dapat membuatku jatuh ke dalam pesonanya, ia bernama Arsyanendra Putra Malvino.
Seorang pria yang sangat sempurna, bagaimana tidak? Terlahir dari keluarga berada yang sangat kaya raya membuatnya dikelilingi oleh barang-barang yang serba mewah. Jika kalian melihat penampilannya, dari atas hingga ke bawah itu harganya setara dengan mobil sport keluaran terbaru.
Sedangkan aku? Aku hanyalah anak seorang petani di desa yang secara kebetulan bertemu dengannya yang notabene tuan muda kaya raya.
Jika ditanya apakah enak memiliki kekasih yang sempurna? Jawabanku enak tetapi secara bersamaan juga pahit. Apalagi kami yang berbeda kalangan.
Lika-liku perjalanan cinta kami pun tak bisa dibilang mulus, selalu saja ada pertengkaran yang membuat kami harus putus-nyambung. Namun meskipun begitu ia adalah lelaki yang tidak main tangan, lembut dan selalu menghargai wanita. Itu yang membuatku luluh untuk kembali pada pelukannya.
Mungkin cukup seperti itu saja perkenalan tentang dirinya, sekarang aku akan mengajak kalian melihat bagaimana harta kekayaan dapat membuat seseorang memandang rendah orang lain.
Seperti waktu itu, saat aku berada di pesta ulangtahun sepupu Arsya, semua orang memandang ke arahku remeh.
"Jika bukan karena Arsya disampingmu mungkin kamu masih menjadi upik abu." Ucap sepupu Arsya bernama Bianca
Ah iya kebetulan arsya sedang tidak berada disisiku, tepat saat kami sampai disini ia berpamitan kepadaku untuk buang air kecil. Katanya kebelet
Aku bingung harus menjawab apa sehingga aku lebih memilih terdiam ketimbang menanggapi ucapannya.
"Tuh kan diem aja, berarti apa yang diomongin Bianca bener kan?" Sahut Nasya, teman Bianca.
"Kenapa kalian tidak suka padaku, memangnya salah aku apa?" Tanyaku kepada kedua gadis itu.
"Karena lo miskin." Ucapan sarkas itu berasal dari Laura, gadis yang baru saja datang, dia sangat tidak menyukai Nadine, alasannya klasik sekali karena Nadine adalah pacar Arsya, yang mana itu adalah pria yang ia sukai.
"Gue heran sama si Arsya, kenapa dia bisa milih cewek kek lo sih? Kampungan banget, mana miskin lagi." Ucap Nasya pedas.
Jika kalian berpikir aku akan menangis karena kata-kata pedas nan sarkas para gadis itu, kalian salah besar! Aku sudah terlalu sering mendengar kata-kata itu sehingga lambat laun telingaku pun menjadi terbiasa mendengarnya bahkan hatiku sudah kebal terhadap penghinaan itu.
"Maaf, aku mau ke toilet dulu sebentar." Ucapku karena sudah tak tahan lagi dengan kantung kemih ku yang sudah penuh.
"Tunggu," ucap Laura menghentikan langkahku, dia berjalan mendekatiku dan saat sudah berada di hadapanku ia membisikan kalimat yang membuatku seketika mematung.
"Putusin Arsya, kalau lo gak mau sih gue gak masalah. Tapi lo harus menanggung konsekuensinya, gue bakal bocorin ke tante Raya kalau lo bukan anaknya dan fakta bahwa lo hanyalah anak haram suaminya dengan ibu lo yang pelacur."
Dunia seakan berhenti berputar, kalimat itu Seperti bom atom untukku, yang bisa meledak kapan saja.
"Kamu gak berhak ikut campur urusan pribadiku Laura!" Ucapku marah
"Berhak gak berhak bakal gue lakuin selagi hal itu berhasil membuat lo putus darinya."
Setelah itu Laura menyenggol bahuku, dikarenakan posisi ku yang berada di pinggir kolam menjadikan tubuhku terhuyung hingga akhirnya terjatuh ke dalam kolam.
Aku tidak berniat menyelamatkan diri, karena pikiran ku yang kosong akibat perkataan laura menjadikanku ingin mati saja saat sebuah pemikiran tentang apa yang akan terjadi padanya jika ia mengetahui rahasia besar itu?
Aku tidak sanggup membayangkannya, namun entah kenapa pikiranku tiba-tiba saja menayangkan sekelebat adegan itu.
Disaat aku mulai kehabisan nafas, tiba-tiba seorang pria melompat ke dalam kolam dan ia berusaha membawaku ke permukaan.
Dia Arsya, kekasihku. Sebelum kegelapan menyergapku, aku berusaha mengucapkan 3 kalimat yang sukses membuatnya menegang.
"Aku mau putus." Ucapku sebelum kegelapan datang menghampiri.
-Tamat-