PROLOG
.
.
.
Hari ini sial sekali, belum cukup di rumah Desi dimarahi kakaknya sekarang dia dimarahi guru karena terlambat masuk sekolah. Ditambah lagi teman yang sering berangkat sekolah bersamanya hari ini tidak bisa sekolah karena sakit.
" Sial kali sih hari ini." Desi menggerutu kesal dan menghentakkan kakinya.
Rasanya Desi ingin berteriak sekeras mungkin untuk mengeluarkan rasa kesalnya. Tapi dia takut dimarahi guru dan juga disangka orang gila oleh seluruh penghuni sekolah. Sampai itu terjadi, bisa bisa kakaknya yang galak seperti kak Ros itu memarahinya sepanjang hari dan memotong uang jajannya. Hah, nasib anak bungsu yang harus selalu nurut sama kakak, pikirnya.
Desi berjalan dengan kepala menunduk menuju kelasnya.
BRUK !
Tiba tiba seseorang berlari menabrak Desi sampai membuatnya terjatuh ke lantai.
" Aduh !" Desi meringis kesakitan, matanya menatap ke depan dan melihat seorang laki laki seumurannya yang juga sedang meringis kesakitan. Sepertinya mereka jatuh bersama, Desi menyeringai saat merasa bukan hanya dirinya saja yang merasakan sakit.
" Lo kalo jalan liat pakai mata dong ! Jangan lupa kakinya digunain juga ! Udah tahu ada orang jalan di depannya malah seenaknya aja ditabrak. Lo kira gue udara yang tembus pandang ?!" Desi membentak laki laki di depannya.
Victor tertegun menatap Desi. Bukan karena terpesona paras cantiknya ataupun jatuh cinta pandangan pertama seperti di novel romansa, tetapi karena ini pertama kalinya Victor dimarahi seorang gadis.
" Ngapain lo diem ?! Bisu lo ? Selain nggak pakai mata ternyata lo juga nggak pakai mulut." Desi benar benar kesal dengan laki laki di depannya saat ini. Bukannya meminta maaf laki laki itu hanya diam mematung menatapnya.
Desi beranjak bangun dan berjalan meninggalkan laki laki itu begitu saja. Biarkan saja laki laki itu berdiri sendiri karena Desi tidak akan mau berbaik hati membantunya. Enak saja, sudah menabraknya dan tidak meminta maaf kok malah dia yang membantunya berdiri bukan sebaliknya.
BRUK !
" Sial ! Apa nasib sial gue nggak ada habisnya hari ini !" Desi berteriak kesal karena lagi lagi dia ditabrak orang.
" Dasar kesialan ! Datang seenaknya ke nasib orang !" Desi kembali berteriak tanpa memperdulikan orang yang menabraknya.
" Sorry ya gue nggak sengaja nabrak lo. Sini gue bantuin bangun." Astra mengulurkan tangannya kearah Desi.
Desi mendongak dan melihat sebuah tangan terulur di depannya. Dengan kasar dia menerima uluran tangan itu untuk beranjak berdiri.
" Lo kal..." Desi tertegun melihat orang yang menabraknya. Ucapan pedas yang siap dilontarkannya sekarang menjadi hilang saat mengetahui siapa orang di depannya saat ini.
Dia Astra ? batinnya. Desi berusaha meredam rasa kesalnya dan mencoba tersenyum seperti biasanya.
Astra mengerutkan keningnya melihat Desi yang sekarang tersenyum paksa menatapnya. " Gue antar ke UKS yuk. Lo jatuh tadi pasti sakit, gue minta maaf banget karena udah nabrak lo barusan."
Desi cepat cepat menggelengkan kepalanya. Rasa sakitnya ini tidak seberapa dibandingkan rasa senangnya setelah bertemu Astra, laki laki yang disukainya sebulan yang lalu. Rasanya Desi ingin berteriak senang karena berhasil bertatap muka dengan orang yang biasanya dia lihat secara diam diam.
Jadi hari ini dia sial atau beruntung ya ? tanya Desi dalam hati.
*
*
*
Part 1
" Assalamualaikum, astagfirullah adek !" Mayang berteriak kesal melihat adiknya yang masih tidur.
" Desi Delvia Ningsih, bangun sekarang atau kakak siram kamu pakai air !" lanjut Mayang dengan teriakkan yang membahana.
Desi terkejut mendengar teriakkan itu dan langsung melompat turun dari tempat tidurnya lalu tanpa sengaja melihat kakaknya yang sedang melotot kearahnya.
Mampus ! batin Desi. Sepertinya kak Ros marah lagi hari ini.
" Apa kamu melotot kearah kakak ?!" Mayang bertanya dengan nada keras.
Desi mengusap dadanya yang berdetak kencang karena terkejut. Awalnya dia mengira jika teriakkan dari kakaknya itu adalah suara bencana alam tapi ternyata bencana untuknya.
" Ngapain berdiri di situ terus ? Kamu udah bangun atau lagi ngelindur ?" Mayang menatap Desi tidak suka. Dia sangat membenci gadis pemalas seperti adiknya ini.
" Aku mandi." Desi langsung berlari ke kamar mandi. Walaupun dia mengenal kakaknya dari kecil tetapi rasa takut setiap kali dimarahi kakaknya masih tetap ada. Kakaknya benar benar galak melebihi ibunya, apalagi kata kata pedasnya yang terkadang membuat Desi tidak tahan mendengarnya. Karena itulah mungkin Desi selalu menuruti apa yang kakaknya perintahkan.
Mayang berdecak dan membereskan kamar adiknya. Matanya terasa sakit melihat barang yang berserakan dimana mana, dalam hati dia bertanya tanya kapan terakhir kali adiknya itu membereskan kamarnya. Setelah selesai Mayang keluar dari kamar adiknya.
" Loh adek mana kak ?" tanya Asih.
" Lagi mandi." Mayang mengambil roti dan mengoleskan selai keju kesukaan adiknya lalu membuat dua gelas jus wortel.
Asih tersenyum melihat wajah kesal putri sulungnya. " Kamu marah ya sama adek ?"
Mayang hanya menggelengkan kepalanya sambil terus membuat jus.
" Kalian kan tumbuh bersama, seharusnya kalian saling memahami. Kakak yang lebih dewasa jangan terlalu keras sama adeknya begitu pun sebaliknya, adek juga harus nurut sama kakaknya. Emangnya kalian mau ribut terus sampai tua ?" Asih mencoba memberikan pengertian untuk Mayang. Putri sulungnya itu memiliki sikap disiplin dan juga keras kepala yang selalu bertentangan dengan sifat dan sikap putri bungsunya.
Mayang tidak berbicara apapun dan membawa dua gelas jus wortel ke meja makan. Diamnya itu membuat Asih mengerti kalau putri sulungnya saat ini sedang marah kepadanya.
" Pagi bunda." Desi tersenyum lebar dan mencium pipi bundanya tetapi saat melihat wajah datar kakaknya senyum di wajah Desi hilang seketika.
" Pagi sayang, ayo duduk dan sarapan." Asih menarik kursi di sebelahnya.
Mayang memberikan meletakkan segelas jus wortel dan roti berselai keju di depan adiknya. " Makan dan olahraga bareng kakak."
Desi tertegun menatap roti dan jus di depannya lalu beralih menatap kakaknya. Rasa takutnya perlahan lahan mulai mengurang dan Desi mulai menampilkan senyumannya.
" Jangan senyum sama kakak kayak gitu, nanti dikira orang kamu belok." ucap Mayang.
Desi mengalihkan tatapannya lalu mulai memakan roti di depannya. Bahkan setelah habis marah pun kakaknya masih membuatkan sarapan kesukaannya.
Mayang meletakkan sendok makannya lalu meminum jusnya kemudian beranjak pergi tanpa berbicara apapun.
Desi terkejut dan melihat kakaknya yang pergi begitu saja meninggalkan meja makan. Kenapa setiap kali mereka makan bersama selalu berakhir kakaknya yang pergi tanpa menghabiskan makanannya. Desi melihat kakaknya hanya memakan beberapa suap saja tadi.
" Habisin sarapan kamu ya, kak Mayang udah nunggu itu." Asih mengusap lembut rambut putri bungsunya tanpa menyadari Mayang yang melihatnya dari jauh dengan tatapan marah.
###
Desi membungkuk setelah berhasil mengelilingi taman selama setengah jam. Kemudian dia kembali menegakkan tubuhnya dan mengatur napas sebelum berjalan pelan menuju pohon untuk tempatnya duduk. Desi melihat Mayang yang masih sanggup berlari dengan hijab melambai terkena angin. Andai saja Desi memiliki keberanian lebih untuk mendekati kakaknya mungkin mereka tidak akan seperti ini.
" Kak aku berhenti dulu, capek." Desi mengeraskan suaranya agar Mayang mendengar suaranya.
Mayang hanya melambaikan tangannya dan melanjutkan larinya. Desi tersenyum karena di tengah kesibukkan kakaknya tanpa sadar menunjukkan sifat aslinya.
" Permisi."
Desi menoleh dan melihat seorang laki laki seumurannya. " Ada apa ya ?"
Laki laki itu terlihat malu saat ingin berbicara tetapi segera menyembunyikannya dibalik senyum canggungnya. " Gue dapet hukuman dari teman teman gue untuk ngasih minuman ke cewek. Tapi sebagian besar di sini orang dewasa semua dan hanya lo yang gue lihat seumuran. Jadi lo bisa bantuin gue dengan nerima minuman ini ?"
Laki laki itu mengulurkan sebotol minum yang berisi susu strawberry dingin. " Tenang aja ini botol tutupnya masih disegel kok. Jadi lo nggak usah khawatir." lanjutnya.
Desi tersenyum dan menerima botol minuman itu. " Terima kasih ya. Kapan kapan kalo kita jumpa lagi gue ganti minumannya."
" Nggak usah, lo udah mau nerima minuman dari gue aja gue udah bersyukur. Gue yang harusnya bilang terima kasih karena lo udah mau nolong gue bebas dari hukuman teman teman gue." laki laki itu tersenyum manis.
Desi mengangguk. " Kalo gitu kembali kasih buat lo."
Mayang memandang minuman di tangannya lalu membuangnya ke tempat sampah. Dia berjalan menghampiri Desi yang sedang berbicara dengan laki laki seumurannya.
" Ehem !"
Desi tersenyum melihat kakaknya. " Kakak udah selesai larinya ?"
Mayang hanya mengangguk acuh lalu duduk di sebelah Desi.
" Kalo gitu gue pergi dulu, sekali lagi terima kasih udah bantuin gue." laki laki itu pergi dengan tersenyum manis.
Desi tidak menghiraukannya dan kembali menatap kakaknya yang sedang minum. " Minuman untuk aku mana kak ?"
Mayang berhenti minum dan melirik minuman di dekat paha adiknya. " Beli sendiri."
" Tapi aku mau dibeliin kakak." pinta Desi.
Mayang menatap kesal adiknya. " Nggak usah manja. Punya tubuh sempurna itu digunain, lagian kakak bukan pembantu kamu yang bisa disuruh seenaknya."
Desi menunduk sedih, matanya sudah berkaca kaca menahan tangis.
" Ayo pulang." Mayang beranjak pergi meninggalkan adiknya tanpa menoleh melihat Desi yang sedang berusaha untuk tidak menangis.
Setelah kakaknya tidak terlihat lagi Desi baru menangis. Dia sengaja tidak meminum minuman dari laki laki asing itu karena dia yakin kakaknya akan membelikannya minum. Tetapi kenapa kakaknya membeli minum untuk dirinya sendiri. Apa kakaknya memang selama ini tidak menyayanginya.
Padahal Desi yakin kakaknya bisa berubah seperti dulu saat mereka masih kecil. " Kakak adek minta maaf." gumamnya.
Desi menatap botol minum kakaknya yang tergeletak begitu saja di sebelahnya.