"Kakak janji gak bakal pergi."
"Benar kan? Aku takut sendirian... "
"Tentu. Aku janji tak akan membiarkan mu sendiri, Fang. "
Dua kakak beradik mengaitkan jari kelingking mereka sambil tersenyum manis. Mereka adalah Kai dan Fang, kakak beradik yang kini hidup sebatang kara.
Orang tua mereka meninggal akibat kecelakaan. Beruntung mereka selamat kala itu. Kini mereka tinggal bersama paman dan bibi nya. Namun, hidup mereka tidak bahagia kali ini.
Paman dan bibi mereka sangat kejam. Ayah Kai dan Fang adalah pemilik sebuah perusahaan besar di Jakarta. Sebagai putra sulung, Kai yang akan mengambil alih perusaan itu nantinya, dan semua warisan ayah dan ibunya tentu jatuh pada mereka berdua.
Karena itulah kedua paman dan bibi mereka mengincarnya.
Pemikiran dan niat keji untuk memanfaatkan anak kecil seperti mereka demi harta dan kekayaan. Fang saat ini masih berusia 4 tahun, jadi masih belum mengerti tentang semua ini. Tapi Kai yang saat ini sudah berusia 16 tahun tentu mengerti niat jahat paman dan bibi nya.
Prioritas nya saat ini adalah adik nya. Ia tak akan membiarkan paman dan bibi nya melakukan hal buruk pada adik kecilnya itu.
Ia sudah lama berencana pergi dari tempat itu bersama adiknya, namun sayang sekali niat nya selalu berhasil di gagalkan.
Besok adalah hari ulang tahun nya yang ke 17, hari dimana ia pikir paman dan bibi nya akan merenggut semua yang di miliki mereka. Tapi tentu Kai tak akan membiarkan itu terjadi.
"Kakak jangan pulang terlalu lama ya..." Ucap Fang kecil sambil memegang seragam sang kakak.
Senyuman kecil terbentuk di wajah nya. Tangan nya terulur mengusap pucuk kepala sang adik. "Kakak bakal pulang cepat kok! Kamu tenang aja ya..." Ucap Kai sambil tersenyum.
"Hm! Janji ya!"
"Janji!" Ujar Kai. Setelahnya ia melangkahkan kakinya keluar rumah. Sang adik tampak melambaikan tangan nya dari depan pintu.
Sekolah Kai tidak jauh dari rumah, jadi ia hanya perlu berjalan kaki beberapa menit untuk sampai di sana. Namun, ia tak menyadari jika kali ini dirinya gak berjalan sendiri.
Kai melambatkan langkahnya. Entah mengapa perasaan nya jadi tidak enak. Dalam pikiran nya terbayang ekspresi sang adik yang menunggunya pulang. Tapi... Sepertinya ada yang ia lupakan.
"Hmph!"
Namun, secara tiba tiba ada yang membungkam mulutnya dari belakang. Perlahan pandangan nya mulai mengabur. Ah, sepertinya ada obat bius di kain yang digunakan untuk membungkam nya.
******
Kai membuka matanya. Ia memandang sekitarnya, terlihat jelas dia sedang ada di gudang sekarang. Ada yang menculiknya.
"Menyebalkan! Aku harus cari cara keluar dari sini."
Ia mencari pintu gudang itu dan mencoba mendobrak nya. Tapi sayang, hasilnya sia sia. Pintu itu terlalu keras untuk di dobrak.
"Bagaimana ini? Bagaimana caraku keluar dari sini?"
Prok prok prok
Kai menoleh melihat seseorang masuk. Dan saat itu juga ia membulatkan mata nya. Ternyata itu adalah paman dan bibi nya.
"Mau apa kalian hah?!" Tanya Kai.
Senyuman licik tercetak di wajah mereka berdua. "Mudah saja, serahkan semua warisan orang tua kalian dan kau akan bebas. Atau jika tidak... Paman nya menunjukkan sebuah foto sang adik yang terikat di sebuah gudang. Yang lebih mengejutkan nya lagi adalah, pakaian adiknya yang basah dan cairan yang ada di sekitarnya. Apa itu minyak?
" Apa yang kalian lakukan pada Fang?!"
"Hm... Mungkin membakarnya hidup hidup. Kau sendiri sudah melihatnya bukan? Jadi pilihan ada di tangan mu. Mau serahkan semua warisan itu atau kau harus kehilangan adik kesayangan mu itu."
Kai terdiam. Warisan itu adalah satu satunya jaminan masa depan nya dan Fang. Tapi apa gunanya semua itu jika ia harus kehilangan adik satu satunya itu?
Ia baru saja melupakan hal terpenting yang pernah ia buat dengan adiknya. Janji bahwa ia tak akan membiarkan adiknya sendirian. Janji bahwa ia tak akan pergi meninggalkan nya. Ia lupa jika ia meninggalkan adiknya bersama dua orang keji dan haus kekayaan seperti mereka.
Ia benar-benar menyesal telah melupakannya.
"Baiklah, tapi jangan apa apakan adik ku!"
Paman dan bibi nya tersenyum puas. "Baiklah."
Mereka menyerahkan sebuah dokumen pada Kai, bahwa ia akan menyerahkan semua warisan nya dan adiknya pada paman dan bibi nya.
Ia tak ada pilihan lain selain menandatangani nya daripada harus kehilangan adik kesayangan nya, dan satu satunya orang yang masih ia anggap sebagai keluarga.
"Oke, dimana adikku sekarang?" Tanya Kai setelah menandatangani dokumen itu.
Setelahnya paman dan bibi nya mengantarkan Kai ke gudang tempat Fang di sekap. Begitu pintu di buka, Kai langsung berlari memeluk sang adik dengan cepat.
Ia menyesal telah melupakan janji itu dan meninggalkan adiknya sendirian. Penyesalan yang juga tak akan pernah bisa ia lupakan. Sejak hari itu, Kai tidak pernah lagi meninggalkan Fang sendiri. Walau sesulit apapun hidup yang mereka jalani, mereka terus bersama. Dan itu yang paling penting bagi Kai.
"Asal kami selalu bersama, semuanya pasti akan baik baik saja."
.
.
.
TAMAT