Wahaiii pagi yang bercahayakan mentari, tetaplah bersinar menyinari bumi pertiwi. Wahaiii hati yang terlampau tersakiti, janganlah menangis, tetaplah tersenyum menabur kebaikan*
Mirawati menarikan jari jemari tangannya dengan pena, hanya untuk sekedar mengisi kekosongan hari harinya, Mira melampiaskan hasrat hati yang di simpannya bertahun tahu.
" Mira anakku, sarapan dulu nak!".
" Iya Ma, sebentar lagi, tanggung".
* Wahaiii kumbang jalang, betapa kejamnya dirimu.
kao buai aku dalam rayumu, lalu kao campakan diriku, setelah kao isap sari maduku*
* Wahaiii pesisir angin, hempaskanlah dan bawalah daku dalam desiran pantai dan deburan ombak, hanyutkanlah jiwaku dalam ketenangan, dan tenggelamkan hatiku dalam buih buih kerinduan yang bukan sekedar khayalan*
* Oohhh wahaiii rindu yang mendayu, sampaikan kehangatan dalam diamku, kepada pemilik hatiku, sampaikan bahwa aku sampai detik ini masih menunggu*
Tak terasa air mata Mirawati menetes, di sekanya air mata agar tak terjatuh, di kuatkanlah hatinya.
Sudah hampir lima tahun lamanya Mirawati menutup diri, karena baginya tidaklah mudah untuk bisa jatuh cinta, sekalinya dirinya bisa mencintai justru Mirawati harus menderita karena di tinggalkan Adzam.
Adzam sendiri sebenarnya sangat mencintai Mirawati, namun karena ke egoisannya, dia berusaha mencari pelarian, tidak itu saja Adzam justru menggali lukanya sendiri dengan mempercayakan saudara sepupunya untuk menjaga dan mengawasi Mirawati di saat dirinya berada di negri orang.
Adzam memutuskan untuk bekerja di luar negri, tanpa memberitahukan Wirawati sebelumnya, sehingga Mirawati di buat kelimpungan merasa cintanya terkatung katung apalagi kondisi hubungannya selama ini mengalami pasang surut, hal itu semakin membuat Mirawati tak karuan dan prustasi hingga kondisi kesehatannya terganggu.
Waktu itu Mirawati sudah masuk sekolah tingkat SMA, kondisinya masih labil, alih alih ingin mencari kepastian akan keberadaan Adzam, justru dirinya malah terjerat dengan permasalahan yang berkepanjangan.
Hadirnya sosok Muhdi sepupuh Adzam, yang awalnya dia pikir akan membantunya dalam berkomunikasi jarak jauh dengan Adzam, justru malah semakin membuat keadaan kacau balau.
Bermula ketika Adzam menitipkan salam melalui Muhdi padanya, semenjak itu Muhdi dan Mirawati menjadi dekat, Muhdi kerap rajin mengiriminya pesan dan juga perhatian. Bentuk perhatian Muhdi lama kelamaan di rasakan Mira seakan ada yang mengganjal, hatinya selalu bertanya tanya apa maksud Muhdi. Seiring waktu Muhdi meminta Mirawati bertemu dan keduanya pun melakukan pertemuan. Dari pertemuan dengan Muhdi, Mirawati mendapati sebuah fakta yang mengejutkan dari Muhdi, yang membuat Mirawati hancur dan rapuh.
Muhdi mengatakan bahwa sebenarnya Adzam diluar negri tidak sendiri, melainkan pergi dengan seorang wanita yang disebutnya sebagai pacar Adzam, tidak itu saja Muhdi mengatakan, bahwa dirinya pernah melihat seorang wanita berkunjung kerumah Adzam dan mengakui kalao wanita tersebut juga pacarnya. Sontak mendengar hal itu Mirawati menjadi syok, namun dirinya mencoba menguatkan. Setelah pertemuan itu, kondisi kesehatan Mirawati menjadi terganggu. Sosok Muhdi seoalah menjadi pahlawan baginya. Bagaimana tidak Muhdi dengan gencarnya memberi perhatian pada Mirawati, seiring waktu Mirawati seakan lebih mempercayai apa yang dikatakan Muhdi, mengingat dirinya dengan Adzam sempat berkisruh saling melukai.
Satu tahun kemudian tepatnya saat Mirawati sudah lulus dari sekolah SMA nya, Muhdi menyatakan perasaannya dan kerap mengajak Mirawati keluar hingga sebuah tragedi terjadi, dan Mirawati tidak bisa menghindari lagi sampai kemudian Mirawati memutuskan untuk menerima Muhdi dan mencintainya.
Waktu terus berlalu, awal hubungan yang dirasa nyaman, seketika berubah menjadi malapetaka.
Mirawati di buat terkejut dengan kehadiran Adzam yang hadir secara tiba tiba, dimana ketika itu Wirawati pulang dari kuliahannya, sesampainya dirumah betapa terkejutnya dirinya, di dapatinya sosok Adzam sedang bercengkrama bersama Ibunya, sesaat Mirawati tertegun, lain dengan Adzam dia tetsenyum manis ke arah Mirawati yang baru pulang dari kampusnya. Sontak Mirawati merssa bingung, dirinya tidak lagi dapat bertutur sapa dengan Adzam layaknya pacar, Mirawati bersikap dingin karena dalam dirinya sudah ada Muhdi, dia berpikir tidak mungkin dirinya harus menyakiti Muhdi toh Muhdi sudah menjadi kekasihnya.
" Hai Mira,,, apa kabarmu!, kenapa dirimu seperti tidak senang dengan kedatanganku, aku sengaja menemuimu sebelum aku kembali lagi ke luar negri", Adzam berupaya untuk mendekati Mirawati, namun wanita yang sebelumnya dia pikir akan kegirangan justru bersikap dingin, seoalah keberadaannya tidak lah Mirawati harapkan.
Mirawati masih dalam posisi mematung, hatinya di penuhi dengan kebingungan.
" kenapa Muhdi tidak tetus terang, kalo sekarang ini aku pacarnya?", bathin Mirawati.
"Apa yang harus aku katakan pada Adzam, aku tidak mungkin menyakiti hati Muhdi, dia sekarang pacarku bukan Adzam, salahnya Adzam kenapa harus pergi tanpa kata dan pergi dengan wanita lain?", bathinku lagi.
" Mir, kamu kenapa?" tanya Adzam.
Aku sontak kaget, " Aku tidak kenapa kenapa, maaf Adzam aku harus masuk kekamarku dulu," pintaku.
"Baiklah, aku tunggu", jawabnya.
Aku berlalu meninggalkan Adzam diruangan tamu, lantas aku temui Mama ku,
" Ma gima ini, bagaimana bisa dia kesini, aku sekarang pacarnya sepupuhnya", tanyaku pada Mama, yang juga terlihat bingung.
" Sebaiknya kamu hubungi Muhdi dan tanyakan padanya", jawab Mama.
Aku mencoba menghubungi Muhdi dari layanan telepon, saat terhubung aku pun langsung menanyakan keberadaan yang terjadi.
" Mas , Adzam ada disini, tolong jelaskan aku bingung harus gimana", tanyaku pada Muhdi.
" Aku juga bingung Mira, Adzam tiba tiba memberi kabar mau pulang hanya ingin bertemu denganmu, aku tidak bisa berbuat apa apa", Muhdi bukannya memberi solusi malah membuatku prustasi.
" Kenapa kamu tidak katakan, kalao sekarang aku ini pacar kamu, dan bukannya kamu bilang mau bertanggung jawab, dan akan menghadapi Adzam kalao terjadi sesuatu, kenapa sekarang kamu jadi pengecut", ucapku penuh amarah.
" Tenanglah dulu Mira, nanti kita cari jalan keluar, sekarang kamu temui saja Adzam", jawabnya.
" Pengecut kamu Mas, kamu berengsek", hardikku memaki namun suaraku tidaklah meledak ledak meski sebenarnya sangat ingin, karena aku sadar ada Adzam sedang menunggu.
Sebisa mungkin aku bersikap tenang, meski kenyataannya aku tidak bisa membohongi diri sendiri, ku lihat Mama sedang mengobrol dengan Adzam, sempat ku dengar dirinya mau kembali lagi keluar negri, dia mengambil cuti jadi tidak lama.
Aku terduduk, dan Mama beranjak meninggalkan kami.
" Mir, aku melihat sepertinya kamu tidak rindu padaku, sepertinya kamu tidak menginginkan aku datang, kamu sepertinya sudah berubah, apa di kampus kamu ,??" kata kata Adzam terhenti karena aku menimpalinya.
" Aku biasa saja, dan aku berubah karena dirimu sendiri", sahutku, dan dalam hatiku," karena sekarang ada sepupumu yang jadi pacarku".
Adzam terdiam, wajahnya tidak lagi seceria saat pertama bertemu.
" Apa maksudmu Mir?", Adzam mulai merasa keheranan dengan sikapku.
" Maksudku, sekarang kita sudah tua, bukan lagi kaya dulu, aku sekarang butuh seorang yang dapat memberiku kepastian, dulu mungkin aku masih anak ingusan yang terus memburu cintamu meski menyakitiku, sekarang usiaku sudah tua, aku butuh pendamping hidup, bahkan dirimu juga tentu berpikir sama, kamu tentu sudah memiliki pilihan untuk dirimu jadikan pendamping hidupmu", celotehku tanpa berpikir apa akibatnya.
" Mira sungguh aku tidak mengerti dengan dirimu sekarang ini, sepertinya cukup aku mengerti satu hal, kalau dirimu tidak mengharapkan kehadiranku, sebaiknya aku pulang, tolong sampaikan pada Mama mu", sahutnya sembari beranjak meninggalkan rumahku.
Aku diam mematung, setelah beberapa menit, aku merasakan kesedian yang menyeruak dalam dadaku, aku pun menangis saat itu, tanpa menghiraukan Mamaku yang hendak mendekatiku, aku berlari ke kamar, kembali ku hubungi Muhdi.
" Mas, aku tidak mau tao, bagaimanapun kamu harus katakan tentang hubungan kita, inibsemua juga gara gara kamu", pintaku melalui sambungan telpon.
" Mir,,, tidak untuk sekarang, aku harap sementara kamu bersikap baik padanya, butuh waktu Mir, aku tidak tega, bagaimana senangnya dia pas mau ambil cuti, dia memberitahuku kalao dirinya sangat ingin menemuimu dan merindukanmu, aku jadi bingung , tolong Mir mengertilah posisiku," jawabnya.
" Aku tidak mau tao, kaloo kamu tidak ada keberanian mengatakan kebenaran, maka biarkan aku yang akan mengatakannya,".
"Mir,,,, Mirrr ku mohon," terdengar suara penuh kecemasan, namun aku sudah tidak perduli lagi, aku merasa telah di permainkan, maka segera ku tutup telpon tanpa mendengarkan kelanjutan yang ingin dia sampaikan padaku.
Setelah telpon terputus, aku beranjak menuju meja belajar, ku ambil pena dan kertas, ku tulis di sana kebenaran yang terjadi selama Adzam pergi meninggalkanku, ku uraikan apa apa yang ku ketahui tentang Adzam dari Muhdi, dari awal sampai kemudian terjalin hubungan dengan Muhdi, setelah ku rasa cukup, surat itu ku akhiri dengan rangkaian kata
* Aku sesungguhnya masih mencintaimu, namun apa dayaku, saudaramu yang brengseklah yang mengatakan kalao dirimu pergi bersama wanita lain, hingga aku menerima saudaramu yang brengsek itu untuk jadi penggantimu*
Semenjak kejadian itu, hubunganku dengan Muhdi juga Adzam menjadi brantakan, aku prustasi, , terdengar kabar Muhdi pun prustasi karena Adzam mempertanyakan kebenaran surat yang ku berikan padanya, begitu juga Adzam sangat marah besar terhadap Muhdi bahkan hubungan mereka menjadi renggang.
" Huuhhhh", aku menghela napasku mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu, sungguh menguras energi, hati dan pikiran.
Namun aku sedikit lega karena Adzam sempat kembali menghubungiku, bahkan bisa di bilang kami sama sama menyadari kalao kami benar benar saling mencintai, di momen pertemuan kami itu, kami sama sama mencoba untuk saling mengikhlaskan jika kami tidak di pertemukan kembali, Adzam sudah tidak ingin keberadaannya berdekatan dengan keluarga Muhdi, dia lebih memilih untuk menjauh, secara otomatis dia lebih memilik wanita di sebrang sana.
*Sementara diriku, masih belum bisa membuka hatiku untuk pria lain, aku tidak bisa dengan mudahnya jatuh cinta. Sosok Adzam sangat brarti untuk ku, hanya dialah yang mampu membuatku jatuh cinta, hanya dia yang bisa membuatku menangis karena cinta, teringat bagaimana romantisnya dirinya, bagaimana dirinya memanjakanku, menggendongku, bagaimana dirinya membuatku cemburu*
"Haahhhhh,,,",ku coba untuk melepas asaku, ku coba untuk bangkit dan beranjak dari kamar, ku temui Mamaku yang sudah menyiapkan hidangan
makanan, ku santap makanan dengan tanpa rasa, karena hatiku tidak bisa bohong kalao aku masih mencintai Adzam.
" Mir,,,, sebelumnya aku minta maaf, karena aku tidak bisa mengikat janjiku padamu, aku khawatir tidak bisa menepatinya, maka dari itu aku pergi tanpa memberitahukanmu, jujur aku katakan, tidak ada wanita yang aku cintai melebihi cintaku padamu, kamu tahu bahkan aku tidak memiliki kemampuan untuk memutuskan hubungan di saat lelahnya hatiku, hati kita. Sekerasnya hatiku, namun aku masih bisa melunakan hatiku untukmu, aku sadar bahkan dirimu sendiri mengetahuinya jika aku sering melirik wanita lain, tapi hanya sebatas mata memandang, tidak dengan hatiku.
Mir,,, di saat hatimu lelah memikirkanku atao mengingatku, sebaiknya dirimu fokus dengan masa depanmu, ingatlah lama kelamaan umur kita bukan lagi memuda, melainkan menua, benar dengan kata katamu, kita sudah tua, kita tidak menyadari umur kita sudah tua, sudah tua, jagalah baik baik dirimu, menikahlah dengan laki laki yang tepat, aku mencintaimu," pesan Adzam yang terlambat aku terima, akupun menyimaknya, semuanya tinggal kenangan tak bisa di ulang.