Siang yang terik tak bersahabat dengan sekitarnya, bersama debu yang berterbangan dan simpang siurnya kemacetan jalanan tak mematahkan semangatnya, Sheila memacu mobilnya dengan kecepatan sedang, hari ini sudah ke empat kalinya dia mengikuti saran temannya. Ikutan kencan buta, bukannya tidak laku karena buluk, namun ia asyik kerja dan dunianya hanya kerja dan kerja. Boss nya sang casanova selalu memberikan kesulitan dan tantangan tersendiri dengan berbagai macam perintah absurd nya benar-benar membuat dia tambah kesal. Dan parahnya Itu tidak berkaitan dengan pekerjaannya dan ia harus yes Boss, semuanya demi pemasukan di kantongnya agar semuanya aman terkendali. Setidaknya si Boss royal dalam tipsnya. Dan amat sangat membantu kelancaran keuangannya.
Di parkirkan mobilnya dan dia mengaca di spion untuk mengecek make up nya, bergegas dia turun dari mobil dan masuk ke dalamnya Cafe. Dia berjalan dengan menyusuri wajah orang-orang yang duduk di kursi. Nampak seorang pria dengan ciri-ciri yang dimiliki oleh teman kencannya, seperti yang di tuturkan Vanessa.
"Halo. Maafkan saya agak terlambat. Tetapi ini rasanya sudah jam yang pasti sesuai saat kita janjian ketemuan.13.30 ?" Sapa Sheila. Namun. lelaki itu hanya diam dan menatap nya. Alisnya berkerut memperhatikan raut wajahnya.
"Sheila Wijaya Kusuma. Dan Anda?" Sheila mengulurkan tangannya dan disambut lelaki itu.
"Adnan Januzaj" Jawabnya dan dia menyandarkan punggungnya dengan tangan dilipat diatas meja, menunjukkan kesan maskulin. Oh, God dia begitu gagah seperti si Boss ku sang Casanova, batinnya. Begitu menawan dan.. baru sesaat dia duduk, braakkk!! Suara mejanya di gebrak. Sheila terjenkit terkejut. Dia menatap wanita dengan pakaian sexy dan ketat, dengan hand bag branded nya di lengannya yang satu bersedekap menatap mereka.
"Apakah dia orangnya? Kekasih mu? Jadi ini sebabnya kau menolak untuk jalan sama aku?" Cecar si wanita itu. Sheila terperangah mulutnya menganga menatap wajah sang wanita sempurna di depannya. What's this? Teman kencannya sudah memiliki kekasih? Penggemar? batin Sheila.
"Kenapa? Kamu keberatan? Aku suka dia kenapa tidak di coba ?" jawabnya santai.
"Brengsek Lo! Tunggulah sampai Daddy tahu tentang hal ini!" Diapun berlalu. Sheila mengatupkan bibirnya, antara bingung dan linglung matanya mengerjap-ngerjap menatapnya Adnan.Terdengar suara lagu Bruno mars terdengar, itu adalah notifikasi panggilan gawainya. "Maafkan aku", Sheila menunduk hormat pada Adnan Januzaj yang duduk di bangku depannya. Nomor baru tak dikenalnya.
"Halo?" Dia menyapa ragu setelah menekan tombol hijau.
"Sheila, ya?' Sebuah suara jelas dari belakangnya, gadis itu berbalik duduknya menatap seorang lelaki peranakan Tionghoa dengan ciri-ciri yang sama dengan lelaki yang duduk di depannya. Sejenak dia bingung. Lelaki itu mendekati Sheila.
"Maaf, Aku terlambat. Aku ada rapat darurat di rumah sakit, tadi ada pasien yang harus dilakukan operasi secepatnya namun ada kendala sedikit. Aku Devan, sahabatnya Rudy?" Sapanya memperkenalkan diri dengan segala penjelasannya. Sheila menerima uluran tangannya kikuk.
Dia melirik pria yang duduk di depannya, lantas siapa Adnan Januzaj ? batinnya. Oh tidak. Dia sudah salah mengenali teman kencannya. Sheila menunduk matanya. Lelaki itu sepertinya mengerti dan bangkit berdiri serta berlalu begitu saja tanpa permisi. Devan langsung mengambil alih tempat duduknya dan memesan makanan dan minuman karena di depannya mereka mejanya kosong,.
"Bolehkah ku bertanya? Mhmm... Siapakah lelaki itu yang duduk sama kamu barusan?" Tanya Devan.
"Entahlah, kita juga hanya duduk saja tadi ruangannya penuh, dan aku juga baru menyadari jika sudah pada kosong bangkunya di Cafe ini." Sheila terpaksa berbohong karena keteledoran dia dan sifat pede nya. Tidaklah mungkin ia jujur, kan malu nanti apa komentarnya.
Devan hanya mengangguk. Mengerti. Mereka pun mengobrol dan makan minum hingga jam yang ditentukan mereka berpisah, Sheila kembali ke kantor nya demikian juga Devan harus ke rumah sakit.
Sesampainya di meja kerjanya ia masih termenung, lelaki itu keren banget juga macho seperti si Boss. Wajahnya indo blasteran bodoh nya kenapa dia tidak bertanya ciri-ciri teman kencannya, oh God untungnya dia tidak mengalami adegan drama Korea yang dilabrak dengan rambutnya ditarik.. sudah tergidik hanya membayangkannya saja.
Dia langsung menyalakan laptop dan memulai pekerjaannya yang tertunda memilih berkasnya dan membaca laporan serta masih banyak lagi. Beruntung si Boss lagi keluar kota, dia sedikit santai tidak ada.pekerjaan mengurusi teman kencannya. Tak terasa sudah pukul setengah delapan dia keluar dari kantor. Pulang ke apartemen dan bersantai sejenak, ia hampir lupa jika dirumahnya stock bahan makanan kosong. Dia memutuskan mampir di minimarket yang dilaluinya berbelanja bahan makanan yang sehat. Sheila rajin memasak dan bersih-bersih. Bahkan ia sering membawa bekal ke kantor, dengan jam padat dari sang Boss dan juga dapat menghemat waktu dan tenaga.
Diletakkan barang belanjaan kemudian dia bergegas menuju ke kamar mandi membersihkan dirinya, setelah itu ia memasak dan menata belanjaannya kemudian dia beristirahat.
Di rumah makan. Vanessa makan malam dengan Rudy. Rudy adalah pacarnya Vanessa yang baru. Dan Vanessa type wanita modern dan simpel, ia hanya ingin berkencan tanpa ikatan serius. Pacar nya dulu dia putuskan karena mengajak menikah, ia trauma karena dulu ia pernah di cecar habis tentang kepribadian nya oleh calon mertua tidak hanya itu saja status sosialnya juga di ungkitnya. Secara keseluruhan Vanessa tinggal sendiri dan yatim piatu, dan kebetulan bertemu dengan Sheila di bangku sekolah mereka bersahabat hingga sekarang. Bedanya Sheila anak dari keluarga minoritas namun ia berhati lembut dan lurus. Juga orangtuanya sederhana dan baik hati. Keluarga Sheila juga yang memberikan tempat berteduh baginya. Sekarang ia membalas budi dengan cara mencarikan jodoh yang baik untuk nya. Hanya itu saja yang bisa dilakukan olehnya. Sheila juga tinggal sendiri karena orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan. Rumah peninggalan orangtuanya dijual Sheila dan digantikan apartemen, mereka berdua tinggal bersama. Vanessa tidak pernah membawa masuk teman kencannya, takut membahayakan Sheila. Sheila sudah mengetahui hubungan bebas Vanessa tidak berkomentar dan tidak mengungkitnya.
Seusai makan malam romantis Vanessa pulang ke apartemen Rudy karena lelaki itu sudah meminta Vanessa menemaninya. Mereka baru berpacaran beberapa bulan lalu, namun sudah merasa cukup puas dan senang. Vanessa keluar dari kamar mandi dengan kimono mini nya ia melakukan rutinitas skin care nya. Rudy menghampiri dan mencium bibir Vanessa dan meremas pantatnya menekankan ke organ intimnya Rudy, pada saat dia akan berjalan ke arah kasur. Mereka saling berciuman bertukar Slavina, saling menuntut dan saling melepaskan pakaiannya sendiri. Terjadilah pergumulan panas di atas ranjang. Rudy tidak berhenti melepas ciuman di seluruh tubuh Vanessa yang putih penuh dengan jejak kiss mark. Vanessa juga tak mau kalah melakukan hal yang sama, melakukan penyatuan itu dengan penuh semangat hingga akhirnya mereka mendapatkan klimaks berkali kali.
Sheila berangkat lebih awal dari sebelumnya, ia harus menyiapkan sarapan pagi buat si Boss lagi. Dan siangnya akan keluar meninjau lokasi dan sekaligus makan siang bersama, sedikit senang biasanya si Boss mencari tempat yang unik dan enak makanan nya. Dia pikir akan menyenangkan semoga saja si Boss kali ini tidak lagi berulah, itu adalah doanya. Seperti yang telah dijadwalkan mereka pergi ke tempat lokasi proyek, dengan mobil mewahnya si Boss. Nyaman, sejuk dan cepat lajunya tampa berisik seperti mobilnya. Mereka bertemu investor dan makan siang bersama. Sheila merasa puas, seusai makan siang mereka kembali ke kantor sheila kembali dengan berbagai berkasnya. Si Boss masuk ke dalam ruangan nya. Hingga saat jam usai kerja.
Sheila kembali ke apartemennya. Besuk adalah weekend dan Devan sudah mengirimkan pesan singkat mengajak kencan besuk, ia akan menjemputnya di apartemennya. Sebenarnya dia sudah tidak berminat untuk mencari teman kencan, namun Vanessa kekehnya memaksanya untuk berkencan. Yang pertama kali kencan dengannya sosok lelaki yang banyak bicara katanya dosen, pantas saja jika ketemu selalu ada saja yang dibahas. Dia sampai mengantuk mendengar semua bahan pembicaraan yang dikatakan membosankan. Sedangkan yang kedua ternyata orang yang narsis, dan lumayan anak orang kaya juga. Yang ketiga seorang akuntan yang pendiam irit bicaranya dan perfeksionis. Harapan dia yang terakhir ini, semoga dia lelaki yang baik. Dan biasa-biasa saja dan bukan orang kaya yang banyak tingkah. Sheila sengaja membeli gaun baru, selain menambah koleksinya ia juga ingin tampil cantik di depan Devan. Dia menyusuri butik-butik di mall ternama itu. Dan meneliti gaun yang dapat ia kenakan kerja dan juga untuk kegiatan santai. Ia memutuskan masuk ke butik ternama, mungkin saja nasib baiknya ada diskon dan juga baju yang oke. Who know? Sebuah tangan kekar tiba-tiba menarik tubuh Sheila. "Sayang kok lama datangnya?" suaranya seraknya mampir ditelinga dia serta harum parfum maskulin begitu dominan. "Kamu...Kamu siapa? " Tanyanya. Lelaki itu mengerutkan keningnya menatapnya lekat.
"Aku Adnan Januzaj. Kita berkencan beberapa hari lalu sayang. Kamu lupa?" kata lelaki yang mendekap tubuh mungil sheila. Wanita itu diam mengerjap-ngerjap menatapnya bingung.
Adnan Januzaj sempat geram dalam hatinya. Baru kali pertama ini aku di lupakan sama wanita. Yang ada para wanita itu semuanya mengejar dia dan bersedia melakukan apapun untuk naik ke atas ranjangnya, batinnya bermonolog dalam hati.
"Kamu siapa aku tidak mengenalmu" , sekali lagi sheila bertanya. Dan Adnan Januzaj memilih mencium bibir wanita cantik itu. Mhmm. Beberapa detik Adnan Januzaj melumat bibirnya yang tipis.
"Adnan. Siapa dia?" suara melengking tinggi dari seorang wanita dengan tubuh sexy dengan gaun minimnya berdiri didekatnya.
"Pergilah! Kamu hanya mengganggu kencan kami saja." Usir Adnan Januzaj tampa basa-basi lagi. wanita itu langsung balik badan berjalan dengan menghentakkan kakinya.
"Dasar gila. Kenal saja tidak main nyosor aja." Hardik Sheila dengan menambahkan tamparan ke pipinya Adnan Januzaj. Ia pun berlalu keluar dari butik itu. Tujuan dia adalah pulang mod nya sudah hilang karena kejadian itu.