Aku termangu disudut, air mata mengalir deras menganak sungai dipipiku, Rasa perih menjalar di pipi. Tidak! tidak hanya di " pipi juga dihatiku,
Tubuhku memang merasa sakit, tapi hatiku berjuta juta lebih sakit.
Aku memegang dadaku, menghirup dalam dalam udara dinsekeliling.
" Mengapa kau terus mengulang pertanyaan yang sama kepadaku, aku muak menjawabnya."
Bentak Hasbi suamiku dengan Wajah menakutkan.
" Apa salahku bertanya!, Aku hanya penasaran mengapa setiap malam kamu pulang larut Mas?, tapi kamu selalu mengabaikan aku!" aku berkata dengan suara parau. Karena tangisan.
" Apa pernah kau menjawab, Pergi pagi pulang sore, pergi magrib pulang jam dua pagi bahkan sekarang kamu.jarang pulang,Lalu dimana kesalahanku hingga kamu.berhak menamparku!?"
Rasa sakit mendera sekujur tubuhku, rasanya aku ingin membalas rasa sakit ini, tapi sungguh hatiku tak.pernah tega.
Aku menatap Mas hasbi yanh duduk diranjang mengabaikanku.begitu saja, solat ucapanku hanya angin lalu baginya.
Tangan nya sibuk memainkan phonsel tanpa rasa bersalah sedikit pun.
hati ku tercabik cabik, rasa geramenderaku.begitu kuat.
Entah kekuatan darimana aku menghampiri , merampas phinsel yang dipegangnya dan melemparkan sekuat tenaga ke arah dinding.
Benda itu langsung menjadi kepingan yang berserakan dilantai.
Pria itu bangkit kaget, Emosi semakin.menguasai dadanya.
Dia mengcengkram leherku sekuat Tenang
" Perempuan Laknat..." dia mulai mencaci maki mengeluarkan sumpah serapah yang terpikir oleh otaknya yang memang dipenuhi oleh kotoran.
Uhuk! uhuk!
Aku terbatuk, karena merasa udara semakin.menipis di tenggorokan ku karena cekikan yang semakin.mengetat.
" Bunuh saja aku, Mas..aku sudah muak.hidup didunia ini, aku muak.menderita seperti ini, aku tidak sanggup lagi menghadapi penganiayaan mu."
Aku menatap pasrah padanya.
Tapi Hasbi malah menghempaskan ku dengan kasar ke lantai.
aku langsung menarik kakinya.
" Bunuh aku mas, bunuh! kumohon bunuh aku" Dengan suara marah namun.mengiba aku meminta dia untuk terus menyiksaku"
.Hasbi menendang kakiku sekwncang yang dia.bisa lalu, pergi meninggalkanku dengan rasa sakit dan tangisan meratap.
" Oh tuhan, mengapa nasibku begini??"
Mas hasbi , Suamiku yang menikahiku 14 tahun lalu.
Tak ada satu hari pun aku. bisa bahagia bersama nya, seluruh hidupmu adalah kebohongan, seluruh janjinya adalah palsu. Lima tahun Lalu dia berselingkuh dengan seorang Janda anak satu. Dia membohobgiku padahal aku sedang hamil besar anak kedua kami.
Aku yang seharusnya merasakan perhatian darinya justru terabaikan. Merasakan lelah sendiri, kadang terjatuh akibat kram dan kebas pada kaki. Tapi aku menjalaninya sendiri.
Sampai lahiran pun aku merasakan sakitnya seorang diri, Suamiku sibuk bersama selingkuhanya dan aku tak tahu sama sekali.
Dua bulan kemudian, Kelurga di buat heboh kerana janda itu hamil dan menuntut untuk dinikahi.
Dunia ku serasa runtuh. tak bisa kubayangkan rasa sakit yang akun terima.
Dia bahkan menangisi wanita itu saat semua orang menentang dia agar meninggalkan wanita itu dan fokus padaku dan anak anak kami saja.
Anak ku baru dua bulan kulahirkan dan dia sudah menghamili perempuan lain, Hatiku ku retak, hancur berkeping keping. Serasa dunia ini runtuh menimpaku.
Bahkan diam diam dia begitu perhatian pada janda itu, seolah bayi yang dikandungnya lebih berharga daripada anak yang ku kandung yang jelas jelas sah dari hasil pernikahan yang sah.
" Mas kamu masih berhubungan dengan Wanita itu?" Tanyaku suatu hari melihat gelagatnya selama ini.
" Siapa yang bilang?, tidak!, aku tidak pernah berhubungan lagii dengan dia"..
Jawabnya saat aku bertanya.
Tentu hatiku lega, tapi jelas dia berbohong.
Suatu hari aku mengetahui dia msih berhubungan dengan wanita itu.
Aku mulai lelah dan.menyerah, Aku pasrah dia mengbikan mereka. Karena jika meributkanya tubuhku akan menjadi sasaran amukan Hasbi.
Sering wajahku membiru, tangan dan kakiku terkilir akibat pukulan dan kekerasan fisik yang aku terima.
Tubuhku semakin kurus dan pucat, belum lagi lelah karena mengurus satu balita dan seorang bayi seorang diri.
Sementara suamiku, dia tak perduli.
Dia hanya tahu memberi duit, Soal rumah tangga dia tidak perduli, bahkan dia lebih banyak menghabiskan waktu diluar dari pada dirumah.
Lima tahun.kemudian. Aku tak tahu kapan hubungannya dengan janda yang dia hamil itu berakhir.
Tiba- tiba sikapnya berubah drastis, Saat itu adalah kehamilan anak yang ketiga.
Dia jadi semakin jarang pulang, bahkan Enggan tidur berdekatan denganku.
bahkan lama kelamaan dia memilih tidur dikamar yang berbeda denganku.
Aku heran dan tak.menduga apa apa.
Tetapi yang namanya istri pasti bertanya, tanya, dari sikapnya siapa pun tahu dia punya wanita lain.
Tapi bukankah sejak dulu dia sudah berselingkuh, pasti kalian berkata begitu.
Dengan janda yang dia hamili, mereka berhubungan hanya melalui sambungan phonsel karena jarak yang berjauhan, beda kabupaten , Jadi aku tak terlalu perduli.
Tapi kali ini sikapnya luar biasa berubah, bahkan aku merasakan dia bukan lagi orang yang kukenal, dia serasa sangat asing bagiku..
Ada apa? itulah pertanyaan yang ku ajukan setiap hari, bahkan memicu pertengkaran diantara kami, Karena dia jarang pulang dan sering bermalam diluar dengan.berbagi macam alasan yang tidak masuk di akal.
Jika aku melarang maka akan terjadi pertengkaran hebat dan berakhir dengan kekerasan fisik ditubuhku.
Hatiku sakit...tapi aku belajar tabah dan memaafkan,
Duabtahun berlalu dalam tanya dan pertengkaran tiada henti.
Drrrttt..drttty
Phonsel Mas hasbi bergetar saat kami sekeluarga sedang Nonton televisi.
Mas hasbi segera. menjawab
* Iya iya bentar lagi aku kesana," Jawabnya. sambil mematikan panggilan
" Siapa Mas..?" Tanya ku setelah mas Hasbi menjawab terdengar Wajar di telingaku
Tapi entah mengapa perasaanku nggak enak, seperti ada sesuatu yang janggal yang kutangkap dadi obrolannya tersebut.
" Teman.." Mas hasbi.menjawab rasa penasranku.
" Mana sini aku lihat" Pintaku sambil meraih paksa phonselnya, sungguh aku curiga.
Mas Hasbi segera tersukut Emosi merasa aku.mencurigainya.
Dia.menyerahkan phonsenya terpaksa, di iringi makan kotor menyembur dari mulutnya setajam pisau bedah.
Aku mengabaikan makiannya dan langsung menelpon nomor yang baru saja masuk ke phonsel suamiku.
Tak menunggu lama, terdengar jawaban dari seberang telpon
" Siapa ini?" Tanyakku setengah mendesak.
Sempat hening sesaat.
" Saya yang punya nomor ini kak, kakak siapa? " Dia balik tanya.dari suaranya dia adalah seorang perempuan.
" Kamu yang barusan hubungi nomor suami saya bukan?" Tanyaku lembut.
" Bukan kak, tapi tadi hapeku dipinjam kak, "
Jelasnya.
" Siapa yang minjam aku.boleh ngomong dengan dia ?" Tanyaku sambil menatap wajah suami ku yang diam menyimak, entah apa yang ada dipikiranya.
" Orangnya udah pergi kak"
" Kamu kali yang telpon ya? udah jujur aja, kanu suka dengan suamiku?" Tanyaku tanpa basa basi.
" Kalo suka aku iklas kok ngasih dia buat kamu" Kataku tajam melihat ke arah hasbi.
" Bukan kak, bukan aku.!! aku berani sumpah aku bukan selingkuhan suami kakak!" Sahut wanita diseberang emosi.
" Yah sudah, ..jika bukan kamu." ketusku dan mematikan phonssl.
Aku semakin yakin suamiku selingkuh aku hanya perlu bukti menangkapnya.
Aku menyerahkan phonsel kembali padanya.
Hafi hari berlalu dalam sepi dan lelah.
Lelah fisik, pikiran dan hati.
Setiap hari berusaha tegar, belum lagi, keluarnya yang selaku menghina, ipar iparku yang sok pintar bahkan ikut mengatur rumah tanggaku, sungguh aku lelah dengan semua ini.
Aku masih duduk disudut memeluk lutut sambil terisak.
jam dua pagi dia baru pulang
Aku menanyainyainya, hingga terjadi pertengkaran hebat berakhir dengan lebam dan memar di wajahku
Mungkin karena kesabaranku dan doa yang tak pernah putus pada Tuhan, Bangkai yabg disembunyikan suamiku terbongkar.
Aku menemukan wanita yang menjadi gundiknya selama ini.
" Pilih aku atau wanita ini mas?" Tanyaku dingin, Setelah lelah berkata kata dan mencaci maki mereka berdua meluapkan emosiku selama lima tahun terakhir.
" Aku menginginkan kalian berdua " Ucapnya tanpa perasaan, wanita itu tersenyum puas penuh kemenangan padaku.
Hatiku sudah hancur, luka, berdarah,bernanah dan menjadi borok disana.
Apakah suamiku tidak tahu bertapa sakit rasanya.
menangis? tidak aku tidak menangis..aku terlalu lelah, aku harus mengakhiri semua ini.
Kurasa bukan hasbi yang di beri pilihan, tapi aku...
Aku yang harus memilih .
Aku memilih pergi bersama ketiga anak ku.
Sudah kurelakan laki laki itu bersama wanita yang di sangat disukainya, aku rela mengalah. Karena aku sudah lelah.
Selamat tinggal Mas Hasbi..
meninggalkan hasbi yang bersujud dikakiku memohon maaf sepenuh hati.
Tapi keputusanku sudah bulat, Aku harus pergi...
hingga aku muak mempercayainu