Cuti kenaikan tingkat kali ini, Chalik bersama 2 orang teman satu wisma-nya bersepakat untuk menikmati keindahan Gunung Ijen.
Mereka bertiga ditambah 3 orang Praja lainnya, sangat tertarik dengan kisah-kisah yang diceritakan teman sekelas mereka yang bernama Weliahmadi (biasa dipanggil Weli), asal pendaftaran Banyuwangi.
Weli beberapa kali bercerita dengan antusias, tentang kawah Ijen yang merupakan danau air asam terluas di dunia, tentang blue fire¹ yang fenomenal dan merupakan salah satu keajaiban dunia versi Weli, tentang tambang belerang yang tidak pernah habis dan tentu saja tentang betapa Gunung Ijen merupakan salah satu Gunung terindah di Indonesia, dimana suasana matahari terbit di puncaknya sudah sangat tersohor di manca negara apalagi di masyarakat lokal, sehingga membuat Banyuwangi dijuluki Sunrise of Java². (terjemahan = ¹api biru, ²matahari terbit-nya pulau Jawa)
Inilah salah satu kenikmatan bersekolah kedinasan yang bersifat nasional. Siswanya jadi punya teman dari seluruh nusantara. Maka seperti kebanyakan Praja lainnya, setiap ada libur sekolah, Chalik pun memanfaatkannya untuk berpetualang dan menikmati keindahan alam Indonesia, terutama di tempat-tempat yang sebelumnya hanya bisa dia nikmati melalui layar maya.
“Sugeng enjing rencang-rencang sedoyo. Sarapane wis siap.. ayo gek ndang mangan. Mugi-mugi dinten niki diparingi rezeki seko Gusti Allah SWT..” Sapa Weli kepada teman-temannya.
“Yang artinya?” tanya Chalik yang memang tidak mengerti bahasa Jawa sama sekali.
“Sugeng enjing itu artinya selamat pagi. Kalau rencang-rencang sedoyo itu kawan-kawanku semua. Sarapane wis siap, ayo gek ndang mangan itu mengandung arti Sarapan sudah siap.. ayo segera makan. Dan Mugi-mugi dinten niki diparingi rezeki seko Gusti Allah SWT itu harapan semoga hari ini kita selalu diberi rezeki dari Allah SWT..” jawab Weli dengan pipi yang memerah, sedikit merasa malu karena ternyata sapaannya tidak dimengerti teman-temannya.
“Penjelasan yang sangat terperinci.. Weli, kamu cocok jadi komentator bola..” kata Chali ngebayol, yang disambut dengan gelak tawa teman-temannya yang lain.
Dini hari ini, rombongan mereka (terdiri dari 3 orang Muda Wanita Praja, termasuk Chalik, dan 4 orang Muda Praja lainnya, termasuk Weli, yang merupakan tuan rumah) sudah bersiap untuk berangkat dari kediaman orang tua Weli yang tidak terlalu jauh lokasinya dari Gunung Ijen, yaitu di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso. Mereka ingin melihat fenomena blue fire atau api biru yang konon hanya terjadi pada pukul 2-4 pagi.
Di dalam mobil, Weli menuturkan kalau jalur pendakian Gunung Ijen masih berupa jalan kecil berpasir yang menanjak di tengah hutan belantara yang padat dan rimbun.
“Walau setiap hari ada saja turis yang mendaki Gunung Ijen, namun di dini hari seperti saat ini, suasana pendakian masih relatif sepi. Jadi kalau-kalau kalian terpisah dari rombongan, harap tetap tenang ya teman-teman! Dan teruslah berjalan naik, kalau bisa tetap bersama pendaki lain, karena pada akhirnya toh akan bertemu juga dengan rombongan di puncak gunung. Memang kebanyakan pendaki memiliki motivasi untuk menyaksikan keindahan matahari yang muncul malu-malu dari balik Gunung Merapi.” jelas Weli.
Chalik dan teman-temannya memulai pendakian dengan penuh semangat. Rasa kantuk yang sempat menggantung sudah hilang tersapu kesegaran udara yang relatif rendah temperaturnya. Helaan nafas mereka bahkan dapat dilihat seperti asap rokok tipis.
Ketika akhirnya bisa menatap langsung si-api biru, Chalik sangat terpesona dan sempat terpana beberapa saat dengan pemandangan tersebut.
Sangking terpesonanya, mereka sempat terdiam dan tidak terlalu memperhatikan penjelasan panjang lebar Weli: “Guys, kita sangat beruntung loh bisa melihat fenomena dunia yang sangat langka ini. Kalau tidak salah, hanya ada dua di dunia yang seperti ini.. Infonya, lokasi kedua berada di Islandia sono.. Menurut seorang Fotografer asal Perancis, Olivier Grunewald, api berwarna biru tersebut berasal dari pembakaran gas sulfur, yang muncul dari patahan gunung dengan tekanan tinggi dan bersuhu tinggi, mencapai 600°C, dimana gas itu akan terbakar saat terpapar udara luar. Teorinya, proses pembakaran ini yang menghasilkan api berwarna biru.”
“Okeh guys, kita harus mulai bergerak ke arah puncak neh, soalnya matahari kemungkinan ga berapa lama lagi bakal muncul, dan kalau kita mau lihat sunrise, kita harus mulai bergerak!” arahan Weli tidak terlalu jelas didengar Chalik dan dia sempat tertinggal, namun segera tersadar ketika letupan api biru tersebut mulai memudar. (terjemahan = matahari terbit)
Namun dia tidak lagi bisa melihat teman-temannya, karena alam memang masih gelap-gulita. Bahkan ketika dia menolehkan kepalanya ke sekitar, mencari sosok-sosok pendaki lainnya, dia mendapati dirinya hanya tinggal sendirian di lokasi tersebut.
Berbekal penerangan dari senter di kepala-nya, Chalik berjalan ke arah atas. Berharap segera dapat bertemu dengan teman-temannya, atau paling tidak sesama pendaki lainnya.
Tetapi setelah berjalan mendaki lebih dari satu jam, tetap saja dia hanya sendirian. Dan ketika lampu kepalanya tiba-tiba meredup dan akhirnya mati, sementara nafas kelelahan menyerang, bersamaan dengan pepohonan yang terasa semakin rapat mengurungnya, Chalik pun akhirnya menyerah. Dia terduduk di sebuah onggokan tanah di pinggir jalan setapak tersebut dan berdoa. Memohon petunjuk dan kelegaan hati, agar dapat terbebas dari rasa takut yang semakin menghantuinya.
Dalam keheningan doa-nya, Chalik tiba-tiba mendengar suara langkah kaki lambat dan gemerisik kain dari arah bawah. Lalu ketika ia menoleh, terlihat samar-samar seorang nenek tua bertongkat yang berjalan ke arahnya dan tanpa menyapa sepertinya akan terus berjalan melewatinya.
Walau tanpa senyum, wajah si-nenek terlihat ramah, jadi Chalik memberanikan diri menyapa: “Sugeng enjing nenek..” (terjemahan = selamat pagi)
“Wilujeng enjing, kenging menapa panjenengan piyambak wonten mriki?” tanya si-nenek yang tidak terlihat terkejut disapa, namun segera menghentikan langkahnya persis di depan Chali, yang kini telah berdiri agak menunduk sopan. (terjemahan = selamat pagi, kenapa kamu sendirian di sini?)
“Maaf nenek, saya tidak bisa bahasa Jawa, cuma tau kasih sapaan selamat pagi saja.. apakah nenek bisa bahasa Indonesia?” tanya Chalik malu.
“Oh kirain wong Jowo, taunya turis toh?” kata si-nenek tersenyum, lalu menambahkan: “Kenapa bisa sendirian di sini nduk?”
“Sepertinya saya tertinggal dari rombongan saya nek dan akhirnya tersesat sendirian..” jawab Chalik sedih.
“Ngono wae, kalau anak ini percaya sama nenek, biar dianter ke puncak gunung.” kata si-nenek lagi.
“Kalau tidak merepotkan nenek, saya ya terima kasih banget loh nek!” kata Chalik mulai bersemangat lagi.
“Ya wes, taro tangan kowe di pundak nenek dan tutup mata ya! Jangan buka mata apapun yang terjadi sampai Nenek bilang buka matamu, ngertos?” perintah si-nenek.
Chalik yang pasrah, hanya bisa mengangukkan kepala, meletakkan tangan kanannya di pundak kiri si-nenek dan menutup matanya sambil kembali berdoa.
Tidak berapa lama kemudian, Chalik merasakan tangannya seperti disentuh tangan si-nenek dan tanpa sadar ia membuka matanya, lalu ia melihat banyak pendaki sudah dalam posisi beristirahat, ada yang duduk selonjoran, ada yang foto-foto (karena cahaya matahari pagi memang sudah mulai terlihat), ada juga yang tampak mengantri di sebuah bangunan (mungkin toilet).
Ternyata Chalik sudah berada di puncak gunung Ijen, namun sejauh matanya memandang, ia tidak bisa menemukan sosok nenek yang telah menolongnya tadi. Walau merasa takjub namun juga seram, dalam hati Chalik sempat bersyukur kepada Tuhan yang telah mengirim penolong sehingga ia bisa selamat, keluar dari kesendirian dan ketakutan serta bisa kembali ke peradaban manusia.
Chalik terus berjalan sambil celingukan mencari rombongan teman-temannya dan akhirnya sosok mereka terlihat di pinggiran ujung pagar kawah. Walau pemandangan aga tertutup kabut tipis, mereka tampak kagum memandangi keindahan kawah yang mulai terlihat hijau diselingi warna kuning di beberapa tempat.
“Hi guys.. kalian kog tega-teganya ninggalin saya sendirian seh?” tanya Chalik sambil mendekat.
Keenam temannya tampak memandangi Chalik dengan keheranan. Dan akhirnya Weli berkata: “Maaf, apa kami seharusnya mengenal-mu?”
Chali syok bukan kepalang, wajahnya memucat. ‘Apakah pengalaman mistis ini belum berakhir?’ batinnya nelangsa.
***