"Saya Save yaaa, nomer ponsel anda!" katanya tanpa rasa tak enak.
Dia polisi, dan saya adalah seorang korban tindakan kriminal hari ini. Kenapa dia menyimpan nomor ponsel pribadiku, untuk apakah?
"Untuk apa?" tanyaku langsung.
Aku adalah tipe wanita yang tak suka basa-basi.
Dia tertegun sesaat setelah mendengar perkataanku. Dia mengurungkan niatnya, yang akan mengambil ponsel pribadinya di kantong celana yang ia kenakan.
"Untuk melaporkan kepada anda, jika kasus ini ada perkembangan!" katanya.
"Tidak usah!" ujarku santai. "Saya melaporkan kasus ini, hanya untuk mencairkan dana asuransi!" lanjutku.
"Ohhhhhh begitu!" gumamnya lirih.
Awalnya aku tidak memperhatikan petugas polisi itu. Tapi kini aku sadar, bahwa petugas polisi yang menemaniku mengisi data laporan kasus kejahatan di kantor polisi ini, ternyata cukup tampan dan masih muda.
Dia cukup menarik, tapi bagiku yang sudah mati rasa. Tentu biasa saja.
"Anda bisa menyimpan nomor saya!" ujarnya.
Padahal aku sudah ingin mengangkat bokongku untuk meninggalkan kantor polisi ini.
"Untuk apa?" tanyaku lagi.
Di ponselku sudah banyak sekali nomor ponsel pribadi anggota polisi. Sebagai pengusaha yang merantau di daerah orang, badan keamanan negara yang satu ini adalah sebuah alat negara yang bisa kuandalkan.
"Anda bisa menelpon saya! Jika anda sedang dalam bahaya!" katanya dengan gimik yang begitu antusias.
Biasanya aku yang selalu meminta nomor pribadi pada polisi-polisi yang kutemui. Tapi kenapa polisi yang satu ini malah menawarkan nomor ponselnya secara cuma-cuma kepadaku.
"Ok!" jawabku akhirnya.
Dia menyebutkan nomor ponsel pribadinya dan aku menulisnya ponselku.
"Terima kasih!" ucapku sebelum meninggalkan kantor polisi.
.
.
.
.
Lima hari kemudian.
"Mbak, Eza!" sapa seseorang.
Mengganggu fokusku yang sedang antusias, karena memperhatikan menu masakan Padang di sebuah rumah makan favoritku.
Karena merasa namaku dipanggil, aku segera menoleh ke arah asal suara.
Aku terkejut saat melihat orang yang menyapaku itu.
Dia adalah petugas polisi yang membantuku mengisi data laporan, di kantor polisi beberapa hari yang lalu.
Kenapa aku merasa dia lebih tinggi dari sebelumnya...
Dia juga lebih tampan, padahal kemarin ataupun saat ini. Aku melihatnya dalam balutan seragam kebesarannya sebagai seorang abdi negara.
"Mas... Doni!" kataku terbata, karena aku harus membaca name tag di baju seragamnya.
"Mbak ingat nama saya?" tanyanya, dia tersenyum cukup lebar. Entah kenapa aku merasa dia senang karena aku mengingat namanya, padahal aku tidak mengingat apa pun tentang dirinya.
Karena aku juga bukan wanita yang suka berbohong. Aku menjelaskan kesalahpahamannya dengan menyentuh salah satu sisi dadaku, untuk memberi gesture bahwa aku mengingat namanya karena name tag yang ada di seragamnya.
"Ohhhhh!" gumamnya sedikit kecewa.
"Kasus anda yang kemarin?!"
"Sudah beres kok!" ujarku.
Kalian benar, aku memberikan sejumlah uang pada anggota yang bertugas menyelidiki kahsus yang kulaporkan. Hanya menginginkan uang asuransi, aku tidak perlu pelaku kejahatan. Hidupku hanya tentang, bagaimana menghasilkan uang.
"Jadi 34.000 rupiah, Mbak!" ujar sang kasir memutus obrolan kami.
Aku segera memberikan selembar uang 50.000-an kepada mbak-mbak kasir. 16.000 kembaliannya pun aku simpan kembali ke saku celana kolorku.
Astaga penampilanku, Aku belum mandi dari kemarin. Kaos oblong hitam gambar bebek kuning berciuman yang kukenakan saat ini, sudah dua hari kukenakan. Karena aku tidak mempunyai banyak kegiatan beberapa hari ini.
Aku tidak menyisir rambutku saat aku ingin keluar tadi, apalagi memulas wajah polosku dengan produk make up.
Aku malu sekali.
Bagaimana bisa aku bertemu dengan polisi tampan ini, disaat kondisiku benar-benar seperti korban bencana alam.
"Saya duluan ya, Mas!" ucapku.
"Bukankah waktu itu, Anda benar-benar menyimpan nomor ponsel saya?" tanyanya.
Aku mengangguk perlahan, karena aku juga tidak ingat. Apa aku benar-benar menyimpan nomor ponsel polisi ini atau tidak waktu itu.
"Anda bisa menghubungi saya kapanpun! Bahkan saat anda tidak dalam keadaan bahaya!" katanya.
Aku memutar bola mataku, dan mencoba untuk mencerna kalimat yang baru saja dia katakan.
Apa ini lampu hijau??? Tapi lampu hijau untuk hal apa?
"Baiklah!" aku mengangguk mengerti. "Ya sudah, saya dulunya!" ujarku.
Aku sering mendapatkan perlakuan seperti ini dari laki-laki. Dari berbagai kalangan, usia dan juga profesi.
Aku tidak pernah merasa diriku ini cantik, bahkan aku jarang berkaca karena aku takut saat melihat wajahku sendiri.
Aku tidak mengerti kenapa ada orang yang mengejarku seperti itu. Mungkin para laki-laki itu sedang Gabut saja.
Dikiranya aku cewek gampangan...
Sebenarnya iya, tapi aku menyembunyikannya supaya tidak terlihat murahan.
Untuk beberapa jam, setelah pertemuan di sore yang amat naas itu. Aku masih memikirkan sosok polisi yang, menurutku fisiknya adalah tipe idealku.
Tetapi keesokan harinya aku sudah lupa, apa karena aku mempunyai aktivitas yang lumayan padat.
.
.
.
.
Tiga hari kemudian.
"Lapor polisi aja!" ujarku dengan raut wajah ngeri.
Semalam anak tetangga kosanku memergoki seseorang mengubur bangkai di kebun kosong, yang terletak di sebelah kosanku. Karena hari sudah malam, jadi para rombongan pemuda itu tidak terlalu peduli.
Tapi lahan itu akan digali untuk pembuatan pondasi banguan, jadi mau tak mau mereka harus mengurus tentang bangkai yang dikubur oleh orang semalam.
"Gue rasa itu mayat bayi, Mbak!" ujar pemuda yang mengaku semalam memergoki. "Soalnya orang itu kek ketakutan dan celingak-celinguk! Pasti takut jika ketahuan orang lain!" statement bujang tanggung itu.
Cara bicaranya sangat meyakinkan, bahkan aku yang sangat pandai menempatkan diri dalam situasi apa pun saja sangat percaya dengan apa yang dikatakan oleh anak tetanggaku yang masih berusia 15 tahun itu.
Karena suasana agak riuh karena banyak orang yang berkumpul di area itu, Pak RT yang awalnya ingin pergi ke sawah pun berhenti di sana.
"Ada apa ini?" tanyanya seraya menghentikan laju sepeda motor buntutnya.
"Ada orang yang mengubur mayat bayi Pak, semalam!" jawab salah satu warga.
Pak RT tentu saja tercenggang, wajahnya yang berwibawa seketika berubah menjadi seperti orang bego.
"Kamu yakin, Yan?" tanya Pak RT pada warga yang tadi menjawab pertanyaannya.
"Aji sama Eko semalam melihat orang itu...
Pak Pian tetangga depan kontrakanku dan juga Aji anaknya, serta Eko teman akrab Aji menjelaskan dengan detail seperti apa kejadian yang terjadi tadi malam.
Aku yang ikut mendengar cerita yang diutarakan oleh ketika seorang itupun, juga sempat merasa merinding.
"Ya udah kalau gitu, saya ke tempat Pak Kades dulu! Untuk membicarakan masalah ini. Pokoknya kalian jangan sentuh dulu area tanah itu!" ujar Pak RT.
Kelang satu jam aku mendengar area tanah yang berada di dekat kontrakanku kembali ramai. Jadi aku yang berada di dalam kontrakan Kembali keluar untuk menyaksikan keramaian yang cukup riuh itu.
Sebenarnya sih aku hanya ingin memastikan apa yang sebenarnya dikubur oleh orang aneh itu, di tanah kosong yang berada di dekat kontrakanku saat tengah malam seperti itu.
Saat aku sampai dikerumunan aku melihat wajah yang tidak asing.
'Bukankah dia polisi yang waktu itu?' tanyaku dalam hati.
Lelaki tinggi dengan wajah oriental yang tampan, tapi meskipun wajahnya terlihat seperti orang keturunan cina tetapi matanya tidak sipit.
Tanpa sengaja aku benar-benar memperhatikan setiap detail wajah dan juga gestur tubuhnya.
Bagaimana dia bicara kepada orang lain, bagaimana dia menjalankan tugasnya sebagai polisi meskipun saat ini dia sedang tidak berseragam.
Cieeee... aku terpesona padanya, tapi aku masih belum sadar.
"Kayaknya kita harus lapor ke kantor deh!" kata Doni pada temannya yang kurasa juga berprofesi sebagai polisi.
"Ya udah, kalau gitu aku telepon ke kantor dulu!" ujar teman Doni.
Lelaki dengan tinggi badan yang tidak jauh beda dari Doni itu, berjalan ke arahku. Dia mungkin mencari tempat yang lebih sunyi untuk melaporkan kejadian ini, kepada atasannya atau temannya yang sedang bertugas di kantor Kepolisian.
Di situlah Doni melihat keberadaanku, aku yang dari tadi memperhatikannya segera mengalihkan pandanganku dengan cara mengajak berbincang seseorang yang berada di dekatku berdiri.
"Mbak Eza, tinggal di dekat sini?" tanya Doni yang ternyata sudah berada di depanku.
"Akkkuuu...ngooontrak di situ!" ujarku sedikit terbata karena gugup, sambil kutunjuk bangunan kontrakan empat pintu yang kutempati.
Baru beberapa detik yang lalu aku memandangi lelaki ini dengan pemikiran yang mesum. Meski dia tidak bakal tahu apa yang berada di dalam kepalaku ketika melihatnya tadi, namun aku merasa malu sekali.
Tetapi rasa gugupku seketika hilang karena dia menanyakan beberapa hal yang menyangkut tentang apa yang terjadi di tanah kosong itu. Jadi aku bisa lupa tentang hasrat gilaku kepada dirinya.
Selang berapa saat ada dua mobil polisi yang datang, Doni segera menghampiri mobil polisi itu dan berbincang-bincang dengan orang yang keluar dari mobil polisi tersebut dengan sangat keren menurutku.
Bukan cuma kali ini aku melihat polisi memasang garis polisi, tapi entah kenapa hari ini aku merasa sangat antusias untuk menonton adegan yang menurut orang lain mungkin lebih ke arah tragedi.
Aku baru tahu kenapa menjadi polisi adalah cita-cita yang sangat didambakan oleh banyak pemuda. Mereka terlihat sangat keren, terlalu keren. Terutama dia...
Sadarlah Eza, sadarrrr kamu nggak boleh semudah itu jatuh cinta... Ingat masa lalumu ketika kau gampang jatuh cinta semacam ini.
Aku mengalihkan perhatianku kesetiap gerak-gerik petugas polisi lain dalam menjalankan evakuasi. Ternyata cukup rumit juga mereka harus mempersiapkan semuanya sebelum menggali lubang yang diduga bagai kuburan bayi.
Setelah semua perlengkapan seperti sarung tangan, kantong jenazah dan juga beberapa plastik yang berbeda ukuran. Serta kotak-kotak yang tidak kutahu apa isinya disiapkan.
Barulah mereka menggali tanah mengunduk itu dengan hati-hati.
"A1, positif ini mayat!" kata salah satu polisi yang memeriksa isi di dalam lubang galian itu.
Polisi itu segera berdiri dan ada dua polisi lain yang yang mendekati lubang galian, dengan hati-hati sekali mereka mengangkat sebuah kain putih sudah penuh dengan bercak darah.
Saat mereka ingin membuka kain putih itu, aku memejamkan mataku. Aku memang sangat pemberani, tapi aku sangat takut ketika dihadapkan dengan hal-hal seperti ini.
"Ini mayat kucing, Ndan!" kata salah seorang petugas polisi yang membuka buntelan kain putih itu.
"Hehhhh?!" Komandan Polisi yang mempunyai tubuh tambun dengan wajah melankolis yang tegas itu seketika jadi bloon dalam beberapa detik.
Aku membuka mataku, tapi aku tak bisa melihat mayat kucing yang di bungkus kain putih tadi karena sebuah punggung yang amat lebar menghalangi pandangan mataku.
"Astaga!" aku bisa mendengar suara tegas Komandan Polisi tambun tadi meski mataku tak dapat melihat apa yang terjadi di depanku.
Hampir semua orang di sana tertegun sejenak, lalu tertawa lirih tertahan. Tidak mungkin para polisi menertawakan diri mereka sendiri. Apa lagi para warga yang menonton kejadian ini, tidak mungkin menertawakan para oknum penegak hukum.
"Udah nggak usah lihat!" si pemilik punggung selebar lapangan sepak bola itu menghadap ke arahku. Karena aku terus saja ingin melongok mencari mayat kucing yang mengemparkan warga desa tempatku berdiam saat ini.