Udara pagi terasa lebih dingin dari biasanya. Dengan langkah malas, aku berjalan menuju sekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumah.
Hah..
Lagi asyik-asyiknya bermimpi di balik selimut, suara ibu yang menggema di kamarku berhasil membuatku tersentak seketika. Tadi, aku mimpi bertemu idolaku sekaligus panutanku.
Aku penasaran tentang hal ini. Kenapa ya, mimpi tidak bisa dilanjutkan? Setiap kali terbangun dari mimpi indah, ingin melanjutkan mimpi yang tadi itu tidak bisa.
Langkahku terhenti setelah aku menyebrang jalan lewat zebra cross. Aku berpikir. Apakah ada yang tertinggal? Sepertinya tidak. Tapi, aku merasa ada yang janggal. Aku merasa seperti sedang diawasi.
Aku menoleh ke belakang, tidak ada siapapun. Perasaanku mulai tidak nyaman. Suasana di sini cukup sunyi, aku takut kalau sampai terjadi apa-apa padaku.
Aku mempercepat langkahku menuju sekolah. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku sampai dengan selamat.
Kusapa teman-temanku yang sedang piket membersihkan kelas. Setelah itu, aku pun duduk sambil menunggu bel masuk berbunyi.
***
"Hari ini, kita kedatangan murid baru. Silakan masuk!" Ucap seorang guru yang sekarang berdiri di depan kelas.
Murid baru? Pandangan kami seketika terarah pada pintu. Seseorang berjalan masuk ke dalam kelas.
"Halo semuanya. Perkenalkan aku-" Laki-laki itu tiba-tiba menghentikan ucapannya setelah menatapku.
Menyebalkan sekali. Kenapa dia harus pindah ke sini sih?!
"Perkenalkan aku Ravan, pindahan dari SMA 4. Salam kenal semuanya.." Ucapnya melanjutkan kata-katanya yang terpotong tadi.
Aku memalingkan pandangan, tapi bukan berarti aku tidak menghargainya. Aku sudah tahu tentang identitasnya.
Dia Ravan–mantan pacarku–orang yang ingin aku lupakan. Tapi, setelah aku berhasil move on, dia kembali dengan cara pindah sekolah.
Sialnya lagi, Bu guru memintanya duduk di belakangku. Dia sering menanyaiku dengan dalih bertanya soal pelajaran dan tentang sekolah ini.
Aku menghembuskan nafasku, aku sudah bosan menghadapinya. Selain dia itu egois, dia juga suka membanding-bandingkan. Kedua sifat itu yang sangat tidak aku suka.
Akhirnya, jam istirahat pun tiba. Aku segera berlari ke kantin untuk menyusul sahabatku dari kelas sebelah. Namun, belum juga sampai depan kelas, tanganku sudah ditarik olehnya.
"Qila, kenapa kamu berubah?" Tanyanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.
Aku menatapnya datar. "Maaf, aku tidak mengenalmu." Ucapku dengan nada dan ekspresi datar. Biarkan saja kalau dia sakit hati, toh dia juga pernah menyakiti perasaanku.
"Aku.. Aku mau minta maaf. Aku sadar, kehidupanku sangat berbeda setelah kamu pergi. Jadi, kumohon. Kembalilah seperti dulu.." Dengan nada memelas, dia berucap. Sorot matanya menampilkan keputusasaan.
"Bukan urusanku." Masih dengan nada datar, aku membalasnya demikian sembari menyentak tangannya yang menggenggam pergelangan tanganku.
Dengan cepat, aku berbalik dan berlari secepat yang kubisa menuju ruangan klub sastra. Aku mengacuhkan teriakan murid-murid lain yang melarangku untuk lari di koridor sekolah.
'Dikejar setan,' mungkin begitulah yang mereka pikirkan setelah melihatku berlari seperti itu dan sembunyi di klub sastra.
Kenapa aku memilih sembunyi di sana? Karena aku yakin, dia tidak mengetahui tempat ini karena dia baru pindah hari ini.
Sia-sia saja aku berusaha keras melupakannya dengan berbagai cara jika pada akhirnya dia kembali. Dan aku baru menyadari, kalau orang yang mengawasiku tadi pagi adalah dia. Yah, aku yakin.
Kenapa tidak bilang saja ingin balikan? Biar aku langsung tahu niatnya yang sebenarnya. Meskipun dia bilang begitu, aku tetap tidak akan memberinya kesempatan kedua untuk menebus kesalahannya dulu. Aku bukanlah orang yang mudah melupakan kesalahan orang lain.
-End-
***
Halo man-teman! Masih ingat denganku? Mitsuki come back dan mulai bikin cerpen lagi ^^