Alena adalah anak semata wayang dari keluarga yang kaya raya. Ayahnya seorang pengusaha sukses. Sudah banyak bisnis yang digelutinya. Mulai dari Restaurant, makanan ringan, sampai produk Make up.
Begitupun Ibu Alena. Ibu Alena adalah designer kondang yang mempunyai butik terkenal dan memiliki cabang-cabang di seluruh kota.
Alena sekarang berumur 29 tahun. Kegiatannya sekarang yaitu membantu ayahnya membangun bisnis. Alena sering menjadi model utama Usaha Make Up Ayahnya. Karena wajahnya yang cantik dan putih membuat polesan make up sangat indah terlukis di wajahnya.
Alena orangnya perfeksionis. Apa yang dilakukannya harus sempurna begitupun dalam mencari pendamping hidup. Karena tipe lelaki yang diinginkan Alena begitu tinggi banyak lelaki menyerah untuk mendapatkan Alena. Sehingga di usia 29 tahun ini Alena belum mempunyai pendamping hidup.
Ayah Alena telah mencoba menjodohkan beberapa lelaki dari anak rekan kerjanya namun tak satupun diterima Alena.
Ibunya pun sama seperti ayahnya. Ibu Alena mengenalkan anak teman arisannya yang juga sederajat dengan keluarga Alena tetapi Alena tak menerimanya.
Menurut Alena semua laki-laki itu tak bisa membuat Alena jatuh hati kepadanya.
Keluarga Alena terus menekan Alena untuk mencari pendamping hidup karena khawatir usianya yang hampir berkepala 3. Tekanan dari keluarga membuat Alena sangat frustasi.
Alena bingung harus berbuat apa untuk mewujudkan keinginan orang tuanya. Alena menelfon sahabat karibnya bernama Linda agar dapat membantunya.
"Hallo Linda, aku ada masalah, bisakah kau membantuku?".
"Iya Alena masalah apa?".
"Begini Lin, Orang tua ku ingin mantu dari ku. Mereka khawatir dengan usiaku yang sebentar lagi akan 30 tahun. Bagaimana ini Lin. Aku belum mempunyai pacar atau lelaki yang sedang dekat denganku. Apakah kamu ada solusi?". Dengan gelisah Alena meminta bantuan kepada Linda.
"Oh kalau masalah itu aku ahlinya. Ayo ikut aku malam ini ke klub malam. Nanti aku kenalin kamu sama temenku".
"Benarkah Lin!!! Seneng sekali aku dengernya. Tapi apakah dia akan sesuai dengan seleraku? Kau tau sendiri kan tipeku yang seperti apa?". Alena bertanya karena ragu pilihan Linda.
"Kamu tenang aja nona perfeksionis. Temenku ini pasti sesuai dengan selera mu. Lihat aja nanti". Jawab Linda meyakinkan Alena.
*****
Malam pun tiba Alena dengan pakaian glamornya bersama Linda tiba di klub malam termewah di ibu kota.
Linda menunjuk meja tempat teman lelakinya yang akan diperkenalkan kepada Alena. Namun disana tak hanya ada satu laki-laki tetapi banyak sekali.
Alena merapihkan rambutnya dan berjalan anggun menuju meja tersebut. Terlihat sosok tampan menatap wajah Alena dalam.
"Len dialah laki-laki yang akan aku kenalkan kepadamu". Linda menunjuk laki-laki yang menatapnya dari tadi.
Linda menarik Alena untuk lebih dekat ke laki-laki itu.
"Aldo perkenalkan ini temen aku Alena". Linda mendorong Alena semakin dekat dengan Aldo.
"Oh kamu Alena, Aku Aldo". Aldo menyodorkan tangan ingin bersalaman dengan Alena.
Alena pun menyodorkan tangannya juga sebagai respon balik sambil menunduk dan malu-malu.
Linda menggerakkan kepalanya dan menggernyitkan alisnya sebagai kode untuk menanyakan pendapat Alena terhadap laki-laki itu.
Alena mengacungkan jempol sebagai tanda setuju dengan perjodohan Linda. Aldo terlihat tampan dengan badan yang tinggi dan kekar sesuai dengan kriteria Alena. Gayanya yang stylish menambah nilai plus terhadapnya.
Aldo mendekat dan melihat wajah Alena. Alena tersipu malu karena Aldo semakin dekat.
"Kau sangat cantik". Ucap Aldo merayu Alena
Alena merasa terbang atas ucapan Aldo. Aldo meraih tangan Alena yang dari tadi gemetaran karena gugup.
"Alena kau sangat cantik, maukah kau menjadi pacarku?" Aldo menatap Alena menantikan jawaban darinya.
"Aduh nggak kecepatan nih langsung pacaran". Alena bertanya kepada Aldo yang masih memegang erat tangannya
"Buat apa lama-lama. Aku mau to the point dan langsung mendapatkan jawaban darimu".
Apakah aku benar-benar mempesona sampai membuatnya langsung menembakku. Ternyata mencari jodoh tidak terlalu sulit buat saya. hahahaha. Alena berbicara sendiri di dalam hatinya.
"Iya aku mau menjadi pacarmu. Aku mau hubungan kita lebih dalam". Alena menjawab dengan malu-malu
"Kamu mau tapi aku nggak. Hahaha kan aku hanya bertanya kepadamu. Tapi aku nggak kasih tahu kalau aku suka atau tidak kepadamu". Aldo tertawa terbahak-bahak
"Apa maksudmu. Kenapa kau bicara seperti itu". Alena tercengang mendengar ucapan Aldo.
"Namaku Alfredo sering di panggil Aldo. orang yang pernah kamu tolak waktu dulu. Aku kaget mendengar cerita Linda kalau kamu sekarang sedang mencari pasangan hidup. Bukannya kamu dulu sering menolak laki-laki? termasuk aku yang kau tolak dengan kejam di depan bokap ku".
"Oh ternyata kamu Alfredo. Ta.. tapi kenapa wajah dan penampilanmu berubah total dibanding dulu".
"Oh itu, memang aku dulu tak berpenampilan menarik. Menggunakan kacamata dan memakai behel. Tubuhku kurus ceking bak papan sekeping. Tapi semenjak kau menolakku aku bertekad mengubah penampilanku. Aku nge-gym dan perawatan di klinik kecantikan".
"Oh ternyata". Alena tertegun mendengar ucapan Aldo.
"Tapi sekarang coba lihat dirimu. Karena terlalu pemilih sampai sekarang kau belum mendapat pasangan. hahaha rasain lo. jangan harap bisa menjadi pacarku". Aldo tertawa terbahak-bahak. Suaranya terdengar ke seluruh club sampai semua orang ikut tertawa.
Alena menoleh ke Linda meminta pertanggung jawaban atas kejadian ini. Linda berjalan mendekati Alena dan Aldo. Linda menggandeng tangan Aldo dan ikutan tertawa.
Alena terkejut melihat sikap sahabatnya itu.
"Kau tahu tidak Alena, sebenarnya lelaki yang pernah kau tolak dulu adalah tunanganku sekarang". Linda berbicara sambil menahan tawa.
"Tak ku sangkah kau ikut mempermalukan ku Linda". Alena dengan tegas membentak Linda
"Aku sudah muak dengan sikap Lo yang perfeksionis Alen, sampai berteman pun kau ingin mencari teman yang sempurna. Aku lelah harus menjadi teman yang sempurna untukmu. Selalu ada jika kau kesusahan, selalu ikut bahagia ketika kau bahagia, dan selalu mengikuti keinginanmu. Aku sudah muak dengan semua itu". Linda mengungkit pertemanan mereka selama ini.
Apa yang dikatakan Linda dan Aldo membuat hati Alena remuk berkeping-keping. Air mata tergenang di kelopak mata Alena. suara tawa dari setiap orang yang ada di dalam club membuat hati Alena semakin sakit. Alena tak tahan melihat semua itu.
Dengan Air mata yang menetes di pipinya Alena berdiri dan teriak. "Malam ini aku sewa club ini dengan biaya 10x lipat asalkan semua orang disini pergi dari club ini".
Mendengar itu, manager dari club tersebut langsung berlari mendekati Alena. Dia tersenyum sumringah dan bersalaman kepada Alena sebagai tanda menyepakati ucapan Alena.
Semua pelanggan disuruh pergi oleh pak manager termasuk Linda dan Aldo.
"Apa-apaan ini, kami juga sebagai pelanggan disini". Jerit Aldo yang protes atas keputusan manager club
"Maafkan kami, hari ini kami harus menutup club ini. Anda bisa mencari club lain". Jawab Manager kepada Aldo.
Dengan wajah yang kesal akhirnya Linda dan Aldo meninggalkan club malam itu.
Alena duduk di depan bartender. Ia menangis sekencang-kencangnya sampai airliner Alena yang tertempel di kelopak matanya berantakan. Wajah Alena benar-benar kusut saat ini. Ia memesan banyak sekali minuman sebagai penghilang kesedihan.
"Tambah lagi minum nya". Jerit Alena yang mulai mabuk.
Sehabis menangis sejadi-jadinya, Alena memesan taxi untuk pulang kerumahnya.
*****
Taksi melaju dengan begitu cepat menuju rumah Alena.
"Terima kasih pak. Ini uangnya. Kembaliannya ambil saja". Ucap Alena yang mabuk kepada sopir taxi.
Alena berjalan sempoyongan menuju ke gerbang pintu rumahnya. Belum sempat Alena membuka gerbang pintu, terlihat tukang jualan nasi goreng lewat di depan rumahnya membuat Alena ingin memanggilnya.
"Woi nasi goreng gue mau pesen". Jerit Alena kepada tukang Nasi goreng itu.
"Oke neng aku kesana". Sambil mengayun gerobak tukang nasi goreng menuju ke depan gerbang Alena.
Alena dengan keadaan mabuk dan jalan yang melantur mengajak tukang nasi goreng itu bicara. "Hei tukang nasi goreng. Gue pesen semua nasi goreng Lo. Nih kartu ATM gue. lo gesek aja".
"Waduh nggak bisa pakai ATM neng. tunai aja neng". Ucap tulang nasi goreng
"Hmmm". Alena hanya bergumam. Dia meratapi isi dompetnya yang telah kosong tak ada uang sepeserpun.
Kepala Alena benar-benar pusing karena pengaruh minuman di club malam tadi. Alena terpaksa memegang pundak tukang nasi goreng untuk menahan keseimbangannya.
Alena terkejut saat memegang pundak tukang nasi goreng itu. Pundaknya begitu kekar dan besar. Alena mengangkat kepalanya dan menatap tukang nasi goreng itu. Betapa terkejut Alena melihat wajahnya yang tampan bak model di majalah. Postur tubuhnya yang tinggi membuat Alena semakin terpesona
"perfect,... perfect,..". Ucap Alena sambil memukul-mukul wajah tukang nasi goreng.
Alena menyodorkan HP dan menyuruh tukang nasi goreng memasukkan nomor hp nya ke handphone Alena. Tukang nasi goreng yang kebingungan menurut saja atas perintah Alena. Tak lama itu Alena pingsan tepat disebelah tukang nasi goreng.
Paginya Alena sudah terbangun di atas kasur kamarnya. Alena memegang kepalanya yang masih pusing.
"Oh pusing sekali kepalaku". Alena berdiri menuju cermin di kamar mandinya.
Alena syhok melihat wajahnya yang kacau. Airliner yang luntur, lipstik yang cemong, dan rambut yang kusut membuat Alena terkejut.
Alena segera membasuh wajahnya dan membenahi pemandangan yang kacau itu. Ketika sedang membasuh wajah ingatan Alena tentang kejadian semalam muncul.
"Oh my God". Alena beranjak dari kamar mandi dan langsung mencari HP nya untuk memastikan apakah ingatannya itu nyata.
Alena membuka HP. Dia mencari satu persatu kontak yang ada di HP nya. Ditemukannya nama Tukang Nasi Goreng Ganteng.
"Ah ternyata benar kejadian semalam. Mama,... mama....". Alena menjerit memanggil ibunya.
"Ada apa Alen, kok jerit-jerit?". Ibunya Alena datang dengan tergesa-gesa karena teriakan anaknya
"Ma kenapa aku bisa ada di kasur ini? Seingerku semalam aku sedang memesan nasi goreng di depan dan tiba-tiba pandanganku gelap. Saat bangun aku udah ada di kasur". Jelas Alena takut terjadi apa-apa dengan dirinya.
"Oh semalam ada laki-laki. Kyknya pedagang kaki lima. mengendongmu ke rumah. Katanya kami pingsan di dekat tempat dagangannya". Mama menjelaskan kejadian semalam.
"Oh syukurlah, aku tidak diapa-apain".
"Lagian kamu itu kan cewek, harus lebih hati-hati. Kan udah mama peringati, kalau pulang malam harus ajak temen. Ini sendirian mabok lagi. Bikin orang khawatir aja. Untung Tukang Nasi Goreng itu baik mau nganterin kamu ke rumah". Ibu Alena menasihati Alena panjang lebar.
"Iya ma. Aku juga gak ada rencana mau pulang sendirian. Semalam Linda tiba-tiba ada urusan yang mengharuskannya pulang duluan". Alena tidak ingin menceritakan kejadian semalam di club malam tentang sahabatnya yang berkhianat. Bisa-bisa akan jadi panjang.
"Hmm yaudah, lain kali hati-hati". Ucap Ibu Alena.
Alena sangat dimanja oleh kedua orang tuanya. Apa yang diinginkan Alena selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Termasuk bersenang-senang di club malam.
*****
Tiba-tiba HP Ibu Alena bergetar. Nomor tak dikenal menelfon. Raut wajah Ibu Alena yang awalnya biasa saja berubah menjadi khawatir. Ibu Alena terus mendengar penjelasan si penelfon dengan tangan yang gemetaran. Tak lama itu HP di genggaman Ibu Alena terlepas dan diiringi dengan tangisan sejadi jadinya.
"Ma.. Ada apa ma? kenapa menangis". Alena sangat khawatir melihat ibunya yang terus menangis.
"Papa mu Len,... papamu".
"Ada apa ma? kenapa dengan papa?".
"Papamu masuk rumah sakit akibat serangan jantung".
"Papa,..". Suara Alena gemetaran. Alena benar-benar terkejut mendengarnya. Air mata mengalir di pipi Alena.
Alena dan Ibunya bergegas ke rumah sakit. Mereka berjalan tergesa-gesa ke ruang ICU tempat papa Alena di rawat.
Terlihat laki-laki berbaring lemas dengan bantuan okesigen melihat kearah mereka. Tak lain dan tak bukan dia adalah ayah Alena.
Tangisan Alena dan Ibunya semakin jadi ketika melihat ayahnya sudah terbaring dengan peralatan medis yang tertempel di tubuhnya.
Tangan Papa Alena melambai-lambai lemas menyuruh Alena mendekatinya.
Alena dengan kaki yang masih gemetaran berjalan mendekati papanya. Ayahnya melepas bantuan oksigen sementara untuk berbicara dengan Alena.
"Alen,.. Papa udah semakin tua. Tidak bisa sepenuhnya menjagamu lagi. Sakit ini sebagai peringatan untuk papa kalau papa adalah manusia biasa dan bisa tiada kapan saja. Sebelum papa tiada papa sangat ingin melihatmu menikah Len. Papa ingin ada yang menjagamu". Papa Alena berbicara dengan tersengal-sengal.
"Jangan bilang seperti itu papa. Papa harus sehat dan temenin Alen". Alena semakin sedih mendengar ucapan Papanya.
"Papa juga ingin menjadi kakek dan buyut dari anak dan cucu mu Len. Tapi kita ini manusia biasa yang hanya bisa berencana. Apalagi saat ini kamu belum menikah papa sangat sedih memikirkannya. Papa takut tak sempat melihat Anak dan cucumu nanti".
"Papa jangan bicara seperti itu. Papa tenang saja, aku udah punya calon suami untuk papa. Besok aku bawakan untuk berkenalan dengan papa. Maka dari itu papa harus cepat sembuh agar bisa hadir di pernikahan Alen". Alena terpaksa berbohong ke papanya agar papanya tak lagi sedih dan segera sembuh.
Papa Alena tersenyum. Dan memasang lagi oksigen ke hidungnya. Papa mengusap-usap kepala Alena sambil tersenyum.
*****
Alena yang telah berjanji kepada ayahnya untuk membawakan calon mantu menjadi kepikiran. Alena yang kehabisan akal langsung mencari kontak si tukang nasi goreng. Alena mencari tempat yang sunyi dan menelfon laki-laki itu.
Suara laki-laki terdengar di Handphone Alena.
"Halo... ini siapa?" Laki-laki itu bertanya.
"Hallo Aku Alena, benarkah ini tukang nasi goreng yang membantuku saat aku mabuk semalam?".
"Oh kamu yang mabuk semalam. Iya benar aku yang berjualan kemarin di depan rumahmu".
"Ada yang ingin saya bicarakan. Penting sekali. Menyangkut nyawa seseorang".
"Hah,.. loh kenapa ini". Jawab tukang nasi goreng khawatir.
"Pokoknya besok pagi kamu tunggu di depan rumahku". Alena segera menutup telfonnya tanpa memberikan penjelasan yang jelas.
*****
Besok paginya Alena sudah menunggu di dalam mobil tepat di depan gerbang rumahnya. Terlihat laki-laki mengendarai sepeda menuju ke rumahnya. Semakin dekat wajah laki-laki itu semakin jelas. Ternyata dia adalah si tukang nasi goreng.
"hmm pantas saja dia sangat kekar. ternyata kendaraan butut itu menjadi kendaraannya". Alena berbicara sendiri.
Alena Membuka kaca mobilnya. "Cepet masuk". Ucap Alena kepada si tukang nasi goreng.
Tukang nasi goreng dengan wajah yang ketakutan memasuki mobil Alena.
Alena sambil mengendarai mobil memulai pembicaraan. Ia menjelaskan semuanya tentang papanya yang sedang sakit. Ia ingin si tukang nasi goreng membantunya dengan pura-pura menjadi calon suaminya.
"Apa!!!. Jerit si tukang nasi goreng
"Aku tidak mau berbohong kepada orang tua. Kau cari laki-laki lain saja untuk membantumu". Ucap si tukang nasi goreng
"Hmm kau sangat jahat, kasian sekali papaku di rumah sakit terus kepikiran anaknya yang belum ada suami". Alena menghentikan mobilnya sambil menagis.
Tukang nasi goreng menatap prihatin Alena. Dia berada dalam kondisi kebingungan. Alena menangis dan suaranya menjadi semakin besar. Si tukang nasi goreng semakin kebingungan dan akhirnya bersuara.
"I,... iya deh iya. Aku bantui. Tetapi jika terjadi apa-apa kedepannya, aku tak bertanggung jawab". Jelas si tukang nasi goreng
Tangisan Alena berubah menjadi senyuman setelah mendengar ucapan si tukang nasi goreng.
Sebelum ke rumah sakit Alena mampir dulu ke toko pakaian. Ia membeli berbagai macam pakaian untuk si tukang nasi goreng. Pakaian yang lebih keren dan rapih.
Tak hanya itu Alena juga mengajaknya ke salon untuk merapihkan rambutnya yang berantakan.
Si pemangkas rambut bertanya nama si tukang nasi goreng itu. "Namanya siapa? bang".
"Ha,.. Nama? Namaku Bima". Ucap Si tukang nasi goreng.
"You are so hendsome. Gaya rambut macam apapun cocok untuk mu". Jelas si pemangkas rambut.
Alena tersadar bahwa selama perjalanan Alena tak tahu nama si tukang nasi goreng.
Alena juga menyuruh Bima memakai pakaian yang telah dibelinya. Sungguh takjub Alena melihat Bima, dengan kemeja warna biru Dongker dan sepatu yang mengkilat serta rambut yang rapih, Bima terlihat seperti seorang model.
Dia sama sekali tak terlihat seperti biasanya. Alena tak sempat berkedip, dia terus terpelongo melihat Bima.
*****
Mereka melanjutkan perjalanannya ke rumah sakit. Senyum di bibir Alena terus terlukis sepanjang perjalanan. Ia terus berfikir betapa senangnya Papany ketika melihat calon mantunya yang ganteng ini.
Sampailah Alena di ruang rawat inap papanya. Terlihat papa Alena yang sedang disuapi obat oleh mamanya. Alena berjalan sambil menggandeng Bima masuk ke ruang rawat inap papanya.
"Papa bagaimana keadaanmu?". Ucap Alena mendekati papanya.
"Papa masih lemes Alen, tapi udah lumayanan di banding kemarin. Siapa itu laki-laki di samping mu?" Tanya papa kepada Alen.
"Ini pacarku pa. Aku mau menepati janjiku kemarin untuk membawa calon mantu untuk papa. Perkenalkan namanya Bima".
"Umur mi berapa?". Tanya papa kepada Bima.
"Umurku 27 Tahun pak". Jawab Bima
"Ya ampun aku saja tak tahu kalau dia lebih muda dari padaku". Gerutu Alena di dalam hati.
"Pekerjaanmu apa?". Papa Alena to the point bertanya kepada Bima.
"Aku dagang nasi goreng pak". Ucap Bima dengan jujurnya.
Alena langsung mencubit pinggang Bima untuk memberi kode agar dia tidak bicara jujur. Namun Bima terlampau polos sehingga tidak mengerti kode itu.
"Apa nama restaurant mu dan terletak di mana? ". Papa melanjutkan pertanyaannya.
"Owalah restaurant. Aku hanya pedagang kaki lima pak. boro-boro punya restauran, Gerobak aja aku masih kredit bayarnya". Jawab Bima dengan polosnya.
Alena menepuk jidatnya menyerah. Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia menyesal mengapa dia tak mempersiapkan sekenario agar bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan papanya. "Fiks papa akan makin kepikiran kalau seperti ini".
Tak disangka respon ayah berbalik dari dugaan Alena. Ayah tersenyum dan menepuk pundak Bima.
"Papa dulu juga dari pedagang kaki lima Bim. Papa terus berusaha sampai akhirnya punya restaurant sendiri. Dan sekarang papa bisa membuka usaha-usaha lainnya dari keuntungan yang papa kumpulkan. Asalkan kamu fokus dan terus berusaha insyaallah kamu bisa punya restauran juga". Ayah tersenyum sambil mengelus pundak Bima.
"Papa mu dulu pekerja keras sekali. Mama menyukainya dulu karena papa orangnya bertanggung jawab. Walaupun papamu dulu hanya pedagang kaki lima mama kepincut karena kepribadiannya". Mama bernostalgia dengan masa lalunya karena kisahnya serupa dengan Alena.
Alena bernafas lega, tak disangka respon orang tuanya positif terhadap Bima.
Bima terus berbaur dengan orang tua Alena. Bima terlihat sangat sopan menghadapi orang tuanya. Papa Alena terlihat gembira seperti bukan orang sakit saja. Dia terlihat bersemangat berbagi cerita kesuksesannya dulu kepada Bima. Karena latar belakang mereka dulu sama, sama-sama dari pedagang kaki lima pembicaran mereka jadi nyambung dan sesekali papa tertawa bercerita dengan Bima.
Alena tersenyum melihat papa bisa tertawa lepas. Harapan Alena agar papanya bisa sembuh meningkat.
Dibalik itu, Bima terus kepikiran. Betapa sedih orang tua Alena jika tahu kalau hubungan mereka hanya pura-pura. Senyum Bima sepanjang hari diselimuti penyesalan.
*****
Alena mengantar Bima pulang. Alena mau mengantarnya sampai kerumah Bima.
"Nggak usah repot-repot neng, sampai disini aja". Ucap Bima yang masih kaku dengan Alena.
"Apa!!! Neng? Kamu harus terbiasa panggil aku sayang. Mengerti!!". Alena memerintahkan Bima untuk memanggilnya sayang.
"Waduh aku nggak terbiasa panggil orang kayak itu". Ucap Bima yang terkejut.
"Harus di biasakan. Dan Karena kamu sudah mau menolongku aku akan mengantarmu sampai kerumah". Alena berbicara tegas.
Bima tak bisa membantah lagi dia hanya menuruti apa yang diperintahkan Alena.
*****
Sampailah Bima di depan gang. Karena jalannya begitu sempit mobil Alena tak bisa masuk ke jalan menuju rumah Bima. Hanya rumah pak RT yang bisa di masuki mobil. Bima berinisiatif untuk menumpang halaman depan rumah pak RT untuk memarkirkan mobil Alena.
"Sampai situ aja neng, jalannya nggak muat kalau sampai dalam". Bima menunjuk halaman rumah pak RT.
"Masih sebut aku neng!!". Raut wajah Alena berubah marah.
"Oh iya,. Sa,.. sayang". Bima bicara dengan sangat susah.
Akhirnya Alena menyetujui untuk memarkirkan mobilnya di halaman rumah pak RT.
Alena dan Bima keluar mobil dengan pakaian yang masih rapih. Kemeja Bima masih rapih dan bersih. Dan rambutnya masih keren.
Bima mengetuk pintu pak RT untuk meminta izin menitip mobil Alena sebentar. Pak RT terkejut melihat penampilan Bima yang begitu rapih dan beda dari biasanya.
"Oh mau numpang boleh kok. Tapi jangan lama-lama. BTW kamu dari mana rapi amat?". Pak RT bertanya sambil terus melihat Bima dari atas sampai kebawah.
"Oh tadi ada urusan penting pak yang mengharuskan saya berpakaian seperti ini". Bima nyengir sambil menggaruk kepalanya yang nggak gatal.
"Ngapain kamu turun dari mobil itu. Kamu tadi habis ketabrak mobil itu ya sehingga diantarnya". Pak RT melanjutkan pertanyaannya dengan rasa ingin tahu yang tinggi.
"Oh ini,.. ini,..". Bima bingung mau menjelaskannya bagaimana.
Belum sempat Bima bicara Alena langsung memotongnya.
"Oh Bima tadi habis bertemu orang tua ku. Orang tua ku mau melihat calon mantunya". Alena dengan angkuhnya berjalan mendekati Bima dan merangkul tangannya.
Bima terkejut atas tindakan Alena. Bima semakin terlihat nggak keenakan.
Alena terpaksa berbohong ke pak RT karena kesal atas ucapannya yang meremehkan Bima. Seolah-olah tak menyangka Bisa turun dari mobil Alena.
Tiba-tiba wanita dari balik pintu rumah pak RT keluar dengan linangan air mata di kelopak matanya.
"Kak Bima aku tak menyangka begitu cepat kau melupakanku". Gadis itu menatap Bima dalam.
"Bukan seperti, ini tak seperti yang kau bayangkan putri. Kakak bisa jelaskan". Bima mencoba menjelaskan ke salah pahaman Putri.
Alena ikut terkejut melihat putri bicara seperti itu. Alena berjalan mencoba melepas rangkulannya dan berjalan mundur. Karena Alena tidak melihat kebawah sepatu Alena masuk kelubang dan membuatnya hampir terjatuh.
Bima dengan responsipnya langsung menangkap Alena dan bilang "Hati-hati sayang". Bima terkejut akan ucapannya. Dia langsung menutup mulutnya yang telah terbiasa memanggil Alena dengan ucapan sayang.
Putri semakin sedih mendengarnya. Dia langsung masuk dan menutup pintu dengan keras.
Pak RT langsung menyuruh Bima untuk segera pulang karena melihat anaknya yang sedih akibat Bima. Pak RT langsung menyusul Putri masuk ke dalam rumah.
*****
Sepanjang jalan Alena nggak merasa enak akan kejadian tadi. Alena ingin bertanya agar mengetahui kejadian tadi dengan jelas.
"Bim,. kenapa tadi putri bersedih? Kalau kejadiannya bakal seperti ini aku tak akan bertindak aneh-aneh. Maafkan aku". Ucap Alena dengan menunduk karena merasah bersalah.
"Tak apa-apa say,.. ups,.. Alena. Memang hubungan kami sudah hancur dari awal". Jelas Bima
"Hubungan? Apakah kalian dulu pernah dekat?". Alena bertanya dengan penasaran.
"Iya, Dulu Putri adalah kekasihku. Aku sangat mencintainya begitupun dengan Putri, dia mencintaiku balik. Aku ingin serius menjalin hubungan dengan dia. Aku mencoba melamarnya. Putri sangat senang mendengarnya. Aku dan Ibu datang kerumah pak RT bermaksud melamar anaknya. Namun sayangnya pak RT menolak lamaran ku dengan alasan kalau aku tidak akan bisa cukup menafkahi anaknya. Tanggunganku yang masih banyak karena adik-adikku yang masih kecil-kecil, dan mamaku yang hanya tukang cuci membuat pak RT menolak lamaran ku". Wajah Bima terlihat sedih karena mengingat hal itu.
Alena menepuk pundak Bima. "Jangan sedih Bim... maafkan aku mengungkit masa lalu mu".
"Nggak papa alen. yang lalu biarlah berlalu. Apa yang diucapkan pak RT ada benarnya juga".
"Kamu harus terus semangat Bim. kamu harus membuat pak RT menyesal telah menolakmu dengan terus berusaha meningkatkan finansial mu". Jawab Alena dengan mudahnya.
"Bagaimana caranya Alen, aku sudah berusaha semaksimal mungkin namun masih sulit meningkatkan finansial ku".
"Nanti besok aku kasih tahu, tapi kamu harus janji membantuku menghadapi papaku yang ingin mantu". Jawab Alen dengan senyum sumringah
"Baiklah. Lagian aku udah terlanjur membantumu dari awal. ibarat pribahasa udah keburu basah duluan". Bima menghela nafas menyetujui kesepakatan Alena.
Alena sangat pintar mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Sampailah mereka di rumah tua dan rapuh. Ternyata rumah itu adala rumahnya Bima. Alena menelan luda sampai berbisik di dalam hatinya "Pantas saja dia ditolak sama pak pak RT".
"Ayo mau mampir dulu nggak Len". tawar Bima
"I,.. iya boleh". Alena menjawab dengan ragu.
*****
Ada seorang wanita lusuh menyambut Alena. "Yaampun siapa gadis cantik yang kamu bawa ini Bim? cantik tenan".
"Aku pacarnya Bima Tante".Jawab Alena dengan senyum hangat.
Bima menoleh sambil menghela nafas ke arah Alena. Alena hanya tersenyum membalas tatapan Bima.
Ekspresi terkejut terlihat diwajah ibu Bima. "Yaampun Bima kamu ini bagaimana? baru ditolak orang udah cari yang lain. Mana cantik lagi. Bagaimana jika orangtuanya menolakmu lagi?".
Lagi-lagi Alena memotong pembicaraan. "Tenang aja Tante, mama dan papaku sangat suka dengan Bima Tante. Tadi Bima habis bertemu mama papaku".
"Kenapa kamu nggak cerita-cerita sama ibuk Bima". Ibu Bima memukul Bima karena kesal dia tak diberitahu oleh anaknya.
Bima hanya bisa menerima pukulan ibunya tanpa bisa berbicara sepatah kata pun.
*****
Ibu Bima dan Alena berbincang-bincang di teras rumah. Sampai akhirnya hari menunjukkan jam 5 sore. Alena harus pulang ke rumahnya. Alena berpamitan kepada ibu Bima. Bima mengantar Alena sampai menuju mobilnya. Alena melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan. Bima yang bingung membalas lambaian tangan Alena. Tanpa di sadari Pak RT mengintip dari balik jendela rumahnya.
*****
Besok paginya Alena sudah standby di depan rumah Bima. 2 Adik Bima yang masih mengantuk membukakan pintu untuk Alena. Melihat wajah Alena mereka terkejut.
"Hah,.. ada bidadari,...". Mereka terpelongo melihat Alena yang cantik sudah berdiri di depan Alena.
"Hallo adik-adik, Apakah kakakmu udah bangun?". Tanya Alena dengan senyum manis di bibirnya.
Adik Bima langsung berlari menuju kamar Bima. "Kak,... bangun kak, ada wanita cantik mencari kakak".
Bima yang mengantuk segera bangun. "Pasti Alena. Edo, Ana kalian suruh kakak cantik itu tunggu sebentar. Kak Bima mau mandi dulu".
"Dia pacar kakak ya?". Tanya Edo kepada kakaknya
"Hush,.. ngerti apa kamu pacar-pacaran, sana suruh kak Alena tunggu bentar".
"Oke kak,..". Edo dan Ana langsung melaksanakan perintah Kakaknya.
*****
Bima yang sudah mandi memasuki kamarnya untuk berpakaian. Edo dan Ana sudah berdiri di kamar dengan memegang kemeja dan celana di tangannya.
"Kakak, tadi kak Alena suruh kami untuk memberikan ini ke kakak". Ucap Ana kepada kakaknya.
"Hmmm,...". Bima paham akan maksud ucapan adik-adiknya.
Bima memakai baju pemberian Alena. Bima menemui Alena yang sudah berpakaian rapih. Alena langsung memfoto Bima tanpa aba-aba.
"Perfect". Ucap Alena melihat foto.
"Sekarang ayo kita ke dapur". Alena menyuruh Bima menunjukkan dapurnya.
Alena menyuruh Bima memasak nasi goreng di dapurnya. Bima hanya mematuhi perintah Alena tanpa tahu apa maksudnya. Bima yang sibuk masak terus di foto Alena. Semua Aktifitas Bima dari mengambil garam sampai menghidangkannya difoto dan direkam Alena.
Alena terus tersenyum melihat hasilnya. Bima menyodorkan nasi goreng buatannya ke Alena.
"Makanlah Alena". Ucap Bima sambil meletakkan masakannya di dekat Alena.
"Kau ini aku lagi diet". Ucap Alena yang sibuk melihat hasil jepretan nya.
"Jadi kalau kamu tak mau memakannya mengapa menyuruhku untuk masak?". Ucap Bima yang kebingungan.
"Oh ini aku mau membuat akun Instagram untuk kamu. Agar masakan mu bisa dipromosikan lebih luas lagi". Ucap Alena sambil mengotak atik HP nya.
Bima hanya terduduk karena masih kebingungan apa yang akan dilakukan Alena.
"Eh untuk posting makanannya aku harus bisa mendeskripsikan nasi goreng ini. Aku harus mencicipinya". Alena mengambil sendok untuk mencicipi nasi goreng Bima.
Alena mencicipi makanan buatan Bima. "Bim ini enak, sangat enak. Masakan ini sangat menjual sekali. Rasanya lezat beda dengan nasi goreng lain". Ucap Alena sambil makan.
Bima tersenyum mendengar ucapan Alena. Bima semakin PD setelah mendengar ucapan Alena.
Alena membatalkan niatnya untuk diet dan menghabisi masakan Bima.
Setelah menghabisi nasi goreng buatan Bima, Alena melanjutkan aktivitas nya menyelesaikan postingan iklan di akun yang dibuatnya.
Alena memperlihatkan postingannya kepada Bima. Bima yang kebingunang membaca postingan buatan Alena: Yuk dipesan Nasi Goreng Bima rasanya mantap jiwa. Sekali cicip pasti mau nambah terus. Lezatnya beda dari yang lain. Dijamin ketagihan. Ada promo untuk 30 pelanggan pertama. Beli satu gratis satu.
Disisipkan berbagai foto Bima yang sedang masak di postingannya.
"Apa Promo!!". Bima kaget melihat kata promo. Bima takut dia menjadi rugi akibat kata promo.
"Tenang saja Bim, Promo ini untuk satu bulan pertama saja. Saat ini kita mencari pelanggan dulu. Nanti dibulan depannya. Promo di close". Ucap Alena santai.
Alena sangat pintar berbisnis. Dia sudah terbiasa menghadapi hal-hal seperti ini karena dari dulu Alena mengikuti ayahnya dalam berbisnis. Alena selalu hadir dalam pertemuan mitra kerja ayahnya untuk menambah wawasannya.
Tak sampai 2 jam, Ada Ojek Online datang ke rumah Bima.
"Benarkah ini alamat nasi goreng Bima?". Tanya Ojek Online kepada Bima
"Iya bener". Jawab Bima
"Ini ada yang order nasi goreng 1". Ucap Ojek Online menunjukkan orderannya.
"Oke ditunggu ya pak, Beli satu gratis 1 untuk 30 pelanggan pertama. Pelanggan bapak termasuk pelnggan pertama". Ucap Alena menyambut Ojek Online tersebut.
"oh kalau begitu saya mau pesan juga untuk anak dan istri saya dirumah". Ucap ojek online yang kegirangan karena promo tersebut.
"Oke pak, ditunggu ya orderannya". Jawab Alena sopan
Bima dan Adik-adinya membungkus pesanan tersebut. Ojek Online menerima dengan senang.
Tak lama kemudian muncul ojek online-ojek online lainnya yang mau order nasi goreng Bima. Sampailah ke pelanggan 31. Dengan berat hati Alena memberitahu kalau promonya sudah habis. karena tidak termasuk ke 30 pelanggan pertama di hari ini.
Karena mendengar hal tersebut Ojek Online tersebut menelfon pelanggannya. Mendengar itu pelanggannya tak jadi memesan nasi goreng. Alena menerima dengan lapang dada.
"Tak apa Bim, ini baru permulaan" Ucap Alena menyemangati Bima.
Hari ini orderan habis hanya sampai 30 orderan. Bima khawatir dia merugi jika seperti ini terus.
Namun melihat Alena yang semangat terus memposting status di Instagramnya, Membuat Bima melanjutkan rencana Alena untuk terus memberikan promo ke pelanggan.
*****
Seminggu kemudian Pelanggan semakin banyak yang memesan. Lebih dari 30 pesanan tercapai. Akhirnya banyak yang mengenal nasi goreng Bima. Alena senang melihatnya. Banyak gadis-gadis remajah yang datang langsung untuk order nasi goreng. Mereka sengaja datang untuk melihat Bima masak.
Akhirnya Ide Alena muncul melihat gadis-gadis itu. Alena meminta tolong bodyguard nya untuk memindahkan peralatan dapur ke halaman rumah Bima agar semua orang bisa melihatnya memasak.
Otot Bima yang kekar mengaduk nasi goreng membuat semua gadis meleleh.
"Kalian boleh bebas memfoto chef Bima dengan sesuka hati, asalkan jangan lupa di posting di ig kalian dan di tag ke ig nasi goreng Bima juga ya". Ucap Alena menunjukkan keahlian marketingnya.
"Ahhh,.. oke,.. memang kami mau fotoin Chef ganteng ini kak". Semua gadis menjerit mendengar ucapan Alena.
Bima pun mengerti maksud Alena dan mendalami perannya. Bima berfose maskulin dan macho, dia mengangkat ototnya dan senyuman manis di tebarkannya selama masak. Semua gadis histeris melihat Bima. Sepertinya Bima sudah pandai berpose.
4 Bulan berlalu, Pelanggan Bima semakin banyak. Ratusan orang memesan. Malahan ada yang mau makan di tempat langsung. Karena lahan yang kurang memadai hal itu tak bisa dilakukan.
Nasi goreng Bima sekarang sudah sangat terkenal. Karena Bima yang tampan bak model dan masakannya yang enak sungguh menjadi nilai plus di mata pelanggan. Bima menambah varian nasi gorengnya. Ada nasi goreng ati empela, nasi goreng ayam, nasi goreng daging sapi, nasi goreng daging kambing, nasi goreng dengan berbagai level kepedasan, dan masih banyak lagi.
Bima menjadikan Alena sebagai manager. Walaupun kecil, Bima sudah bisa menggaji Alena.
Gaji yang diberikan ke Alena sangat kecil dibandingkan dengan pekerjaannya membantu bisnis papanya. Namun karena ini merupakan hasil kerja keras dia dan Bima Alena dengan senang hati menerimanya.
Saat ini ada yang masih mengganjal di fikiran Alena yaitu mengenai lahan yang masih sempit untuk memenuhi keinginan pelanggan agar bisa makan langsung ditempat.
Alena ingin membantu Bima dengan meminjamkan uangnya agar bisa membangun restauran.
Namun ditolak Bima langsung. Bima ingin Usahanya berkembang perlahan-lahan. Biar dia bisa menikmati prosesnya.
Kali ini tak seperti biasa Bisa memegang teguh pendiriannya. Alena kesal mendengar pemikiran Bima yang kuno.
Mereka yang kelelahan dan pembawaan yang kesal terduduk menatapi uang yang terkumpul.
Keuntungan selama 4 bulan sangat banyak. Melebihi harapan Bima. Tapi keuntungan itu masih belum cukup untuk membuat restauran.
Ibu Bima yang kebingungan melihat Bima dan Alena yang masih mempertahankan egonya masing-masing membuka pembicaraan.
"Bagaimana kalau kita bangun kecil-kecilan dulu di tanah warisan bapak". Ucap Ibu Bima.
"Oh tanah itu, Kirain aku udah ibuk jual untuk dijadikan mas kawin melamar putri kemarin". Ucap Bima
"Emang ibuk mau menjualnya, tapi kemarin ibu mau menunggu jawaban dari keluarga putri dulu baru mau menjualnya. Karena kamu ditolak ibu nggak jadi menjual tanah itu".
Alena menatap ke ibu Bima dan bertanya. "Emang tanahnya ada dimana Bu?".
"Di depan jalan gang ini Alen". Ucap ibu Bima
"Astaga ibuk,.. untung belum dijual, tanah tersebut merupakan aset berharga. tempatnya strategis lagi karena di pinggir jalan. Dengan keuntungan segini dan lahan tanah yang tersedia, kita bisa membangun tempat makan kecil-kecilan agar pelanggan bisa makan langsung ditempat buk". Ucap Alena girang
"Kalau seperti itu aku setuju". Ucap Bima yang mulai sepakat dengan pemikiran Alena.
Akhirnya kedai nasi goreng di bangun Bima. Alena merekrut beberapa pegawai untuk membantu Bima.
Alena sangat sibuk akhir-akhir ini. Alena yang biasanya foya-foya, bersenang-senang di club malam kini telah berubah. Dia sangat menghargai uang karena telah banyak belajar betapa sulitnya mendapatkan uang selama dia mengembangkan usaha nasi goreng dengan Bima dari nol. Dan karena sibuk Alena tak sempat untuk bersenang-senanh di club malam.
Saat pelanggan sangat ramai di tambah rekruitmen pegawai yang begitu banyak membuat Alena kelelahan. Alena berdiri karena mau mengambil air minum namun pandangannya menjadi gelap. Alena pingsan tepat di meja interviewnya.
Bima bergegas mengangkat Alena ke kamar Bima, Bima meminta tolong ibunya untuk melanjutkan tugas Alena menginterview pelamar.
Bima menaruh minyak angin ke kepala Alena dan mendekatkan minyak angin tersebut ke hidung Alena agar Alena bisa menghirup udaranya dan tersadar. Alena akhirnya membuka mata dengan tubuh yang masih lemas.
Terlihat wajah Bima yang sangat khawatir. Mata Bima berair karena sedih melihat Alena yang kelelahan. Bima menyodorkan air putih ke Alena.
"Len kamu nggak papa kan? Apakah kamu kelelahan?". Bima bicara sambil memegang kepala Alena untuk memastikan badannya apakah telah pulih.
Melihat Bima yang khawatir membuat jantung Alena deg-degan. Apalagi tangan Bima yang menempel di kening Alena membuat jantungnya semakin berdebar kencang.
Wajah Alena memerah akibat malu karena kepalanya di sentuh oleh Bima.
"Kenapa wajahmu merah Len, sepertinya kamu belum pulih total".
Mendengar itu Alena sontak melepaskan tangan Bima yang masih menempel di jidatnya. Alena tersadar rasa ini tak seharusnya. Karena di hati Bima ada Putri anaknya pak RT.
Alena berdiri dan ingin pulang saja karena kelelahan. Selama di rumah pikiran Alena kacau. Menghabiskan waktu bersama Bima membuat benih-benih cinta tumbuh di hati Alena.
Bima yang bersemangat, energetik, serta bertanggung jawab karena dia menjadi tulang punggung keluarga untuk membantu adik-adiknya bersekolah membuat Alena semakin kagum kepadanya. Kini Alena mengerti laki-laki yang dia anggapnya sempurna dan perfect bukanlah yang tampan dan kaya melainkan yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan sayang keluarga. Pantas saja selama ini tak ada laki-laki yang dapat meluluhkan hatinya. karena sangat sulit menemukan laki-laki seperti Bima.
Tapi Alena sadar bahwa perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan, karena Bima hanya mencintai Putri. Alena ingin menyelamatkan semuanya agar dia tidak terlarut-larut dalam perasaan cinta ini. karena semakin lama akan semakin sulit Alena melupakannya.
Saat ini papa Alena berangsung-angsur pulih. Papa Alena terus menanyakan tanggal pernikahan anaknya.
Alena hanya bisa menjawab. "Sabar ya pa, jika waktunya pas nanti Alena kasih tahu". Alena tersenyum dibalut kesedihan. Dia kepikiran bagaiman papanya ini tahu kalau hubunganga dengan Bima selama hanya pura-pura. orang tuanya pasti sangat terpukul.
Kepala Alena Samapi pusing memikirkannya. Alena tidak masuk kerja selama 3 hari tanpa kabar sedikitpun.
Bima kepikiran Alena. Hari ini ia menutup kedainya karena tak fokus berjualan mengkhawatirkan Alena.
Bima dengan berpakaian rapih dan membawa buah menjenguk Alena. Alena yang sednag galau diruang tamu terus mengotak atik remot TV nya mengganti Chanel tontonannya. Alena terkejut saat Bima sudah berdiri di ruang tamu.
"Lihat Alen, siapa yang datang". Mama Alena memberitahukan ke Alena kalau Bima datang untuk menjenguknya.
Alena terkejut dan merapihkan rambutny yang kusut. Bima duduk di depan Alena sambil memandanginya.
"Alena kenapa kau tak datang ke kedai selama 3 hari ini, aku sangat khawatir". Ucap Bima kepada Alena.
Alena hanya terdiam mendengar pertanyaan Bima
Alena ingin mengakhiri semuanya. Alena mengajak Bima untuk pergi keluar karena tak ingin kedua orangtuanya mendengar percakapan mereka.
Sampailah mereka di coffe dekat rumah Alena. Alena memulai pembicaraan
"Begini Bim, sepertinya aku ingin mengakhiri ini semua. Usahamu sudah mulai maju, kamu tak membutuhkanku lagi. Dengan uangmu yang sekarang kamu udah pantas melamar Putri. Seperti ucapan mu di awal, mengenai papa ku. Aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menjelaskan perlahan-lahan kepada papa kalau kita tak sebenarnya jadian. Meskipun berat mereka pada akhirnya harus mengetahui semuanya". Ucap Alena dengan wajah menunduk dan tangan yang mengepal gelisah.
"Uangku memang sudah cukup untuk melamar anak orang, aku memang ingin menikah". Jawab Bima menatap Alena dalam.
"Iya Bim kamu sudah bisa menikahi Putri". Jawab Alena dengan menahan kesedihannya.
"Aku memang mau melamar anak orang tapi bukan putri". Jawab Bima
"Oh ternyata udah ada gadis lain lagi". Ucap Alena dengan lemas.
"Iya, udah ada gadis lain yang kucintai dan akan ku lamar. Dia memang terlihat sombong namun sebenarnya baik hati. Dia membantuku dari nol sampai bisa seperti sekarang". Jawab Bima sambil tersenyum menatap Alena.
Alena bingung atas penjelasan Bima.
Bima memegang kepala Alena dan menggosoknya. "Dia itu kamu Alena. Wanita yang kucintai itu kamu".
Alena terkejut atas pernyataan Bima barusan. Dia tak menyangka wanita yang dicintai Bima adalah dirinya. Alena menangis karena terharu atas ucapan Bima.
"Mau kah kau menjadi istriku". Bima berlutut dan menyodorkan cincin indah kepada Alena.
Jantung Alena berdegup kencang tak seperti biasanya. Air matanya menetas lagi karena terharu. Ia mengambil cincin itu dan bilang "Iya Bim aku mau".
"Yes". Ucap Bima kegirangan.
Bima ingin memeluk Alena karena belum mukhrim akhirnya Bima memeluk kursi kosong di sampingnya
"Kamu nggak usah menjelaskan ke orang tuamu lagi kalau kita pura-pura. Karena saat ini yang awalnya pura-pura menjadi kenyataan". Ucap Bima yang masih kegirangan atas jawaban Alena.
*****
Jodoh memang tak ada yang tahu. Si gadis kaya yang sombong akhirnya menikah dengan penjual nasi goreng.
Akhirnya orang tua Alena mempunyai menantu. Mereka menyambut Bima dengan senang.
Alena dan Bima melangsungkan pernikahan. Wajah kedua mempelai berseri-seri sepanjang resepsi. Mereka seperti dua insan yang sedang dimabuk cinta. Senyum di bibir mereka tak pernah luntur sepanjang acara.
*****
Lima tahun berlalu. Usaha nasi goreng Bima sudah semakin meningkat. Awalnya hanya kedai kecil sekarang sudah menjadi restauran besar. Cabangnya sudah tersebar di seluruh kota. Alena sudah tak pernah ke club malam lagi. saat ini dia memiliki 2 orang anak. Anak pertama berumur 4 tahun dan anak ke dua baru berumur 2 tahun. dia sekarang menjadi ibu yang perhatian dan istri yang patuh terhadap suaminya.
Tak sengaja saat Alena mampir di Restaurant suaminya. Anak pertama Alena terlepas dari genggaman tangannya dan berlari. Tak sengaja Farhan anak pertama Alena menabrak seorang pelanggan membuat minuman di genggama pelanggan tersebut tumpah.
"Maaf, dia tak sengaja". Ucap Alena memohon maaf atas tindakan anaknya.
"Bagaimana sih kamu mengurus anak". Ucap laki-laki itu.
Ketika dilihat wajah laki-laki itu ternyata dia adalah Aldo. Betapa terkejutnya Alena melihat laki-laki yang pernah mempermalukannya ada di hadapannya.
"Oh ternyata kamu". Ucap Aldo melihat Alena.
"Aku minta maaf atas perbuatan anakku ini, lain kali aku akan mendidiknya lebih disiplin lagi". Ucap Alena dengan rendah hati meminta maaf.
"Oh ini anakmu, ternyata kamu sudah menikah, ada juga yang mau sama kamu". Ucap Aldo sambil tersenyum mengejek.
"Iya ada, siapa yang tak mau menikah dengan wanita cantik dan berhati tulus seperti istriku ini". Ucap Bima yang datang dari belakang.
Sungguh terkejut Aldo melihat Bima dari belakang langsung merangkul istrinya. Aldo terpelongo menatap wajah Bima yang tampan.
Bima memanggil salah satu stafnya untuk mendekat. "Dinda coba kamu ganti air minum dan makanan yang dia pesan dengan yang baru".
"Baik Bos, akan segera aku laksanakan". Ucap staff Bima dengan segan.
Aldo semakin terkejut mendengarnya. Dia baru mengetahui ternyata Bima adalah pemilik Restaurant terkenal. Aldo hanya menunduk merasa tidak enak hati.
"Kamu nggak usah bayar. Ini sebagai ganti rugi atas kesalahan anakku. Dan kalau tak salah kau yang kemarin mau mengajukan kerjasama dengan restaurant ku ini kan. Saat ini aku sudah bisa memutuskan jawabannya". Bima bicara sambil menatap Aldo tajam
"Anda Pak Bima ya, eh,.. eh,.. iya pak kemarin perusahaan kami mengajukan kerjasama sama dengan restaurant bapak, Baguslah jawabannya sudah bisa bapak putuskan. Bagaimana pak ?". Aldo dengan PD nya menanyakan jawaban Bima atas kerjasamanya. Saat pengajuan kerjasama Aldo menyuruh stafnya bertemu Bima sehingga di tak tahu wajah pemilik Restaurant terkenal di Indonesia ini.
"Maaf aku tidak mau melanjutkannya. aku tak mau bekerja sama dengan orang yang suka mengecilkan dan mempermalukan orang lain. Masih banyak perusahaan lain yang ingin berkerja sama dengan restaurant saya. maka dari itu hubungan kerjasama kita sampai disini saja". Bima tersenyum dan langsung menggendong anaknya dan merangkul istrinya. Ia pergi meninggalkan Aldo yang saat ini menjadi tontonan pelanggan lain.
Aldo keluar tanpa menghabiskan makanan yang ia pesan. Ia malu berlama-lama karena jadi perbincangan pelanggan-pelanggan lain.
-selesai-